Kegiatan dakwah
Makalah
  • Puasa Hari Asyura dan Keutamaannya
  •  

    Puasa Hari Asyura dan Keutamaannya

    صوم يوم عاشوراء وشيء من فضائله

    Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Aku bershalawat kepada utusan yang menjadi rahmat bagi seluruh alam Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kepada keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba'du …

    Pertama-tama, hal yang berkaitan tentang keutamaan puasa hari ayura (10 Muharam) adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam :

    «إني لأحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله»

    "Sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lalu."

    Ini merupakan sebuah keutamaan yang agung, pahala yang besar dari sebuah amal yang ringan yakni hanya dengan berpuasa beberapa jam namun mendapatkan gugurnya dosa setahun penuh; yaitu berpuasa sehari di musim ini yang hanya dalam waktu beberapa jam dan sedikit kepayahan. Ini adalah sebuah keutamaan dan sebuah kebaikan di mana hendaknya setiap muslim bersegera melaksanakannya dan memohon balasan di sisi Allah Azza waJalla.

    Keutamaan ini bisa diraih dengan berpuasa pada hari asyura (10 Muharam-saja) menurut pendapat yang benar dari ulama. Adapun menurut ulama yang lain, bahwasanya dibolehkan mengikutkannya dengan puasa pada hari yang lain; dan sebagian ulama yang lain memandang makruh apabila berpuasa pada tanggal 10 muharam saja. Yang benar adalah menyendirikan puasa asyura (10 Muharam saja) tidaklah tercela, bahkan merupakan sunnah, karena demikianlah hari puasa yang dimaksud. Sesungguhnya ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  sampai di kota Madinah menemukan orang-orang Yahudi sedang berpuasa, dan dahulu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga berpuasa sebelum diangkat menjadi Nabi karena hari itu merupakan hari yang diagungkan orang-orang Quraisy yakni hari di mana Ka'bah dipasang kain Kiswah lalu mereka berpuasa dan Nabi-pun berpuasa. Lalu tatkala beliau tiba di Madinah dan melihat orang-orang Yahudi berpuasa, maka beliaupun bertanya kepada mereka seraya berkata: "Hari apa ini?!" Merekapun menjawab: "Ini adalah hari di mana Allah Ta'ala menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari musuhnya Fir'aun, lalu Musa berpuasa". Maka Nabi-pun berkata: أنا أحقُّ بموسى  "Aku lebih berhak atas Musa dari pada kalian" . Dan dalam riwayat yang lain أنا أولى بموسى منكم  "Aku lebih berhak atas Musa dari kalian semua". Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya berpuasa.

     
    Dalam puasa tersebut terdapat keutamaan yang hendaknya seorang mukmin bersegera melaksanakannya. Sebagaimana para sahabat radhiyallahu 'anhum mendapati Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  sangat menganjurkan dan mendorong mereka agar berpuasa pada hari tersebut. Lalu mereka berpuasa dan mengajak anak-anak mereka berpuasa sebagaimana terdapat dalam Shahih al-Bukhari dari jalan Khalid bin Dzakwan dari ar-Rabi' binti Mu'awwidz bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seorang utusan kepada kaum Anshar dan memerintahkan supaya berpuasa Asyura; Lalu ia berkata: Lalu kamipun berpuasa dan mengajak anak-anak kami berpuasa serta membuatkan mereka mainan dari bulu. Apabila salah satu dari mereka menangis karena meminta makanan, maka kami berikan mainan tersebut, seperti itulah sampai datang waktu berbuka. Hal ini menunjukkan tingginya perhatian mereka, di mana puasa tersebut tidak hanya dikerjakan orang dewasa saja, namun anak-anakpun turut berpuasa.  

    Oleh karena itulah aku mengajak diriku dan saudara-saudaraku serta orang-orang bertanggung jawab di rumah masing-masing, supaya mendorong anak-anak mereka berpuasa meskipun mereka belum akil baligh. sebagaimana dalam sebagian riwayat: walaupun mereka belum bisa membedakan baik dan buruk. Demikian pula yang disebutkan al-Hafidz Ibnu Hajar: bahwasanya dahulu mereka juga mengajak anak-anak yang masih menyusu. Namun riwayat ini lemah. Adapun riwayat yang mengatakan bahwa mengajak anak-anak yang telah mampu berpuasa yang sebagaimana hadis Rabi'ah radhiyallahu 'anha, terdapat dalam shahih al-Bukhari.  

    Oleh karena itu hendaknya kita mendorong serta menumbuhkan kecintaan mereka bukan karena paksaan yang merupakan Sunnah namun karena dorongan atas amal shalih, dengan kemudahan berupa waktu siang yang pendek dan udara dingin.  

    Adapun yang berkaitan dengan khilaf-dan bukan waktunya dibahas disini-tentang Asyura, apakah ia senin ataukah selasa? Di sini terdapat perbedaan pendapat yang kuat diantara pakar dan ulama. Bahkan ahli falak dan yang mengikuti perkembangannya berselisih apakah dia hari senin ataukah selasa. Yang pasti untuk negara kita (Saudi), Mahkamah Agung telah memutuskan bahwa ia jatuh pada hari senin disebabkan tidak nampaknya bulan pada malam sabtu; dengan demikian awal bulan jatuh pada hari ahad, yang selanjutnya hari Asyura jatuh pada hari selasa besok, insya Allah Ta'ala.


    Dan saya sampaikan: dalam masalah yang diperselisihkan bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, dan perbedaan pendapat yang ada dalam masyarakat kembali kepada perkataan para ulama, dan hendaknya seseorang tidak mencela orang lain sebelum jelas kebenarannya. Hal itu karena semuanya menuju tujuan yang sama yaitu kebenaran. Adapun kebenaran tidak mengharuskan adanya kesepakatan seluruh manusia dalam permasalahan tertentu, dan untuk mendapatkan sesuatu atau amalan tertentu. Hal itu dikarenakan adakalanya terjadi perbedaan dalam berijtihad dan berpendapat. Dalam hal ini, maka siapa yang mengatakan bahwasanya jatuh pada hari senin sebelum adanya penjelasan dari lembaga khusus tentunya mereka memiliki argumen, dan siapa yang mengatakan jatuh pada hari selasa tentunya mereka juga memiliki argument. Akan tetapi setelah Mahkamah Agung menyampaikan keterangan, maka selesailah permasalahan, dan semuanya menjadi jelas dengan adanya keterangan dari lembaga yang berwenang.  Namun sebelumnya sebagian mereka bersikeras dan berkata: "mengapa”? Disinilah engkau akan dapati Tarik-menarik dan permusuhan dalam banyak hal. Dan ini merupakan contoh bagi kita bagaimana menyikapi perbedaan, kadang kala jika salah seorang dari kita memiliki pendapat, maka ia memaksakan pendapatnya pada dirinya, dan ini adalah sesuatu yang alami dan ia benar dalam hal itu. Namun, jika ia memaksakan pada orang lain maka hal ini menyelisihi jalan yang benar yakni jalannya para ulama. Karena tidak pantas bagi seseorang memaksakan ijtihadnya kepada orang lain dalam masalah yang bersifat ijtihadi. Bahkan seorang mujtahid yang membahas sesuatu dan mencapai hasil tertentu tidak boleh baginya memaksa manusia agar sependapat dengannya; lalu bagaimana halnya dengan orang yang hanya mengikuti suatu pendapat yang ia ambil dari pendapat salah seorang mujtahid memaksakan manusia agar sependapat dengannya?!   

    Para sahabat berbeda pendapat di masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan tidak memaksakan orang yang berbeda pendapat dengannya dalam masalah yang terdapat khilaf yang bisa diterima. Nabi melarang perpecahan dan mencelanya sebagaimana yang terjadi dalam beberapa kesempatan. Namun beliau mengizinkan dalam beberapa kesempatan yang lain. Sebagaimana sabda beliau setelah perang Ahzab dan perginya tentara gabungan kaum kafir: «لا يصلين أحدكم العصر إلا في بني قريظة»

    "Janganlah sekali-kali kalian shalat ashar melainkan setelah sampai pada Bani Quraidhah"

    Maka para sahabat berbeda pendapat dalam memahami perkataan Nabi tersebut. Apakah yang di maksud Nabi shallallahu 'alaihi wasallam supaya para sahabat bersegera dalam berjalan dan jangan sampai terlambat menuju Bani Quraidhah, ataukah yang dimaksud adalah benar-benar jangan melaksanakan shalat ashar melainkan jika telah sampai pada Bani Quraidhah walaupun matahari telah terbenam? Mereka terpecah dalam dua pendapat ini, sehingga di antara mereka ada yang melaksanakan shalat ketika telah masuk waktu shalat dan khawatir keluar dari waktunya. Dan di antara mereka ada yang mengakhirkannya dan tidak melaksanakan shalat melainkan setelah sampai di Bani Quraidhah. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui perbedaan pendapat tersebut. Dan apakah beliau mencela salah satu dari mereka?! Jawabnya adalah 'tidak', bahkan tidak ditemukan beliau mengatakan : kelompok yang melakukan ini benar, atau kelompok yang melakukan itu benar. Adapun apa yang terjadi tidak terdapat penjelasan di dalamnya.

    Di sini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa apa yang terkandung dalam lafadz tersebut masuk dalam masalah ijtihad dan memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Hendaknya seseorang tidak memaksakannya pada orang lain, dan tidak membawa masyarakat pada satu pendapat, apalagi meninggalkan jarak yang jauh terhadap mereka yang berbeda dengannya selama kita berharap kebenaran, walaupun kita berbeda hasilnya, hal itu tidaklah masalah.

    Mereka yang berbeda pendapat dalam hal shalat tersebut terjadi pada zaman Nabi dan semua berharap kebenaran, yakni mereka yang shalat sebelum sampai (di Bani Quraidhah) dan  mereka yang shalat setelah sampai, semua mengharapkan kebenaran. Namun mereka berbeda pendapat dalam mencapai kebenaran tersebut, kebenaran atas apa yang mereka harapkan. Aplikasi atas anjuran Nabi dalam sabda beliau «لا يصلين أحدكم العصر إلا في بني قريظة»

    Demikian pula banyak yang berbeda pendapat dalam penentuan awal bulan. Salah satu kelompok berkata demikian, dan kelompok yang lain berkata demikian, dan tidak akan berhenti –dan setelah berhenti maka selesailah masalah-semuanya menginginkan kebenaran. Dan semuanya berharap keutamaan hari ini dengan puasa, walaupun mereka berbeda pendapat dalam menentukan hari ini. Kondisi perbedaan pendapat dalam penentuan hari ini juga tidak merusak persaudaraan sama sekali.

     

     

    Detail
    0
    250
  • Hari Asyura
  • Hari Asyura

    مقال الشهر: اليوم الصالح عاشوراء

     

    Hari Asyura (10 Muharram) adalah hari yang baik, demikianlah Bani Israil mensifati hari tersebut ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada mereka mengapa mereka berpuasa. Mereka menjawab: "Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh-musuh mereka sehingga Musa berpuasa. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: :

    «فأنا أحق  بموسى منكم»

    "Aku lebih berhak atas Musa dari kalian"

    Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu.

    Hari Asyura adalah hari yang baik, di mana Allah tampakkan kebenaran dan Allah hilangkan kebatilan sebagaimana firman Allah Ta'ala:

    {فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

    "Maka terbuktilah kebenaran dan segala yang mereka kerjakan jadi sia-sia". Q.S. al-A'raf: 118

    Bagaimana tidak menjadi hari yang baik, padahal telah tampak kebenaran dengan terpeliharanya dunia dan nilai-nilai kemanusiaan.

    Hari Asyura adalah hari yang baik di mana Allah menolong para waliNya. Allah selamatkan Musa beserta kaumnya pada hari itu dan Allah hinakan musuh-musuhnya, hingga Allah  tenggelamkan Fir'aun dan tentaranya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

    :{فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ}

    "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk. Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya kiamat. (Lalu kepada malaikat diperintahkan), "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras."  Q.S. Ghafir: 45-46

    Hari Asyura adalah hari yang baik, di mana pada hari itu orang-orang yang beriman menyebut-nyebut kebaikan yang telah Allah berikan berupa pertolongan bagi saudara-saudara mereka seiman. Demikianlah persaudaraan atas dasar iman mampu melampaui batas ruang dan waktu; sehingga bersatulah ahlul iman meski berbeda bangsa, nabi, nasab, maupun zaman mereka.

    {إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً}

    "Sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu". Q.S. al-Anbiya: 92

    Seorang mukmin bergembira dengan kemenangan saudaranya walau mereka berada pada zaman yang jauh berbeda, dialah yang paling berhak bahagia dibanding siapapun juga karena ikatan iman melebihi ikatan apapun. Demikianlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata "Aku lebih berhak atas Musa dari kalian" kepada Bani Israil atas apa yang mereka katakan kepada beliau tentang hari baik di mana Allah menolong Musa pada hari itu. Ya, demi ayah dan ibuku di tanganNya, beliau lebih berhak atas Musa dari pada orang-orang Yahudi.

    Hari Asyura adalah hari yang baik, barang siapa berpuasa maka akan diampuni dosa-dosanya setahun yang telah lalu. Sebagaimana hadis yang terdapat dalam shahih Muslim dari Abu Qatadah bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

    «وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله» .

    "Adapun puasa hari asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu." H.R. Muslim

    Hari asyura adalah hari yang baik, yang dikenal keutamaannya dengan puasa pada hari ke sepuluh bulan Muharram walaupun hanya berpuasa satu hari saja. Tatkala Nabi sampai di kota Madinah beliau menemukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, lalu beliau bertanya kepada mereka: "Hari apakah ini sehingga kalian berpuasa?" Mereka menjawab: Ini adalah hari yang agung, hari di mana Allah selamatkan Musa beserta kaumnya, dan tenggelamnya Fir'aun beserta kaumnya. Lalu Musa berpuasa sebagai bentuk syukur, dan kamipun berpuasa. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kami lebih berhak atas Musa dari pada kalian." Lalu Rasulullah berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.

    Hari asyura adalah hari yang baik di mana dahulu sebelum hijrah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa bersama kaumnya. Kaum Quraisy sangat mengagungkan hari tersebut dengan berpuasa karena pada hari itu mereka mengganti kain kiswah ka'bah.

    Hari Asyura adalah hari yang baik di mana Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sangat menganjurkan berpuasa pada hari itu, lalu para sahabat berpuasa dan mengajak anak-anak mereka untuk berpuasa sebagaimana hadis yang terdapat dalam Shahih Bukhari dari jalan Khalid bin Dzakwan dari Rabi' binti Muawwadz berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seseorang pada pagi hari di hari Asyura (10 muharam) ke salah satu perkampungan anshar, lalu berkata: 

    «من أصبح مفطرا فليتم بقية يومه، ومن أصبح صائما فليصم»

    "Barangsiapa yang tidak berpuasa di pagi hari, hendaknya ia menyempurnakan sisa hari ini dengan berpuasa. Dan barangsiapa yang berpuasa pada pagi harinya, hendaklah ia tetap berpuasa." Lalu Rabi' berkata: Kemudian kami berpuasa setelah itu, dan kami mengajak anak-anak kami berpuasa, sampai-sampai kami buatkan untuk mereka mainan dari bulu. Apabila salah satu dari mereka menangis karena ingin makan, maka kami berikan mainan itu sampai waktu berbuka tiba. Hari asyura adalah hari yang baik yang sangat berharga dengan pahala yang telah Allah berikan di dalamnya berupa keselamatan Musa beserta kaumnya, dan kebinasaan Fir'aun beserta bala tentaranya. Hari asyura juga merupakan hari istimewa dengan disyariatkannya berpuasa, dan dihapuskannya dosa orang-orang yang berpuasa pada hari itu, dosa satu tahun yang telah lalu. Semoga Allah memperbaiki hari-hari dan amalan kita … amin

     

    Detail
    0
    297
  • MENYAMBUT DATANGNYA BULAN RAMADHAN
  • Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Aku bersalawat dan salam kepada pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, pelita bercahaya, Nabi kita Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya, dan orang-orang yang setia mengikuti sunahnya dengan baik sampai hari pembalasan.
    Amma ba’du.
    Maka nikmat Allah yang agung dan kasih sayangNya yang besar, Allah antar hamba-hambaNya sampai di musim-musim kebaikan dan kebajikan. Tidak diragukan lagi musim-musim kebaikan adalah kesempatan yang dibuka Allah Ta’ala  untuk para hambaNya. Ia merupakan medan perlombaan, di mana saling berlomba di dalamnya manusia meraih kasih sayang Allah Ta’ala. Mereka berlomba di dalamnya meraih keutamaannya dan kebaikannya dan kepada besarnya pahala dan banyaknya pemberianNya Jalla wa ‘Ala. Pemenang di perlomboaan ini adalah orang yang memperbanyak kebaikan, dan bersegera menuju kebajikan.
    Oleh karena itu saya ucapakan selamat kepada diri saya dan saudara-saudaraku kaum muslimin di mana saja atas karunia nikmat yang besar ini. Yang Allah Ta’ala hadiahkan kepada kita semua. Yaitu Allah ijinkan kita sampai pada bulan yang diberkahi ini. Bulan puasa dan shalat malam. Bulan ketaatan dan berbuat baik dan kebajikan. Bulan yang telah Allah Ta’ala pilih. Ia khususkan dengan sejumlah kekhususan kauniy dan syar’iy. Maka sebesar-besar kekhususan bulan ini secara kauny : Dia adalah bulan yang telah Allah Ta’la pilih, dan Dia jadikan sebagai waktu diturunkan Al Quran. Allah berfirman :
    ﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ﴾[البقرة:185]
    “Bulan Ramadhan yang telah diturunkan di dalamnya Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan furqon (pembeda yang baik dan benar), maka barang siapa yang mendapati diantara kalian bulan ini maka berpuasalah” Q.S. Al Baqarah : 185
    Ini adalah kekhususan kauny yang telah Allah Ta’ala jadikan sebab adanya puasa. Allah berfirman :
    ﴿فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ﴾
    “maka barang siapa di antara kalian yang mendapati bulan ini maka berpuasalah”
    Setelah menyebutkan sebab dipilihnya bulan ini, yaitu turunnya Al Quran kepada Nabi kita Muhammad salallahu ‘alahi wa salam di bulan yang diberkahi ini, begitu juga bulan ini terkumpul pula beraneka macam kekhususan kauny  yang lain, yaitu : Sesungguhnya Allah menyiapkan untuk para hamba untuk bisa bertemu denganNya, kemudian dibukakan pintu-pintu surga dan ditutup di dalamnya pintu-pintu neraka dan diikatnya para setan. Kesemuanya itu disiapkan di musim yang mulia ini sehingga manusia bisa bertemu dengan Rabb semesta alam. Dan ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Tirmidzy, Nabi salallahu alaihi wa salam  bersabda : “Dan menyeru orang yang memanggil setiap malam :
    «وينادي مناد في كل ليلة: يا باغيَ الخير أقبل، ويا باغيَ الشر أقصر»
    “ Wahai orang yang mengharapkan kebaikan kemarilah, wahai orang yang menginginkan kejelekan berhentilah”
    Dan dari karunia Allah Ta’ala  adalah kesempatan kita mendapati musim ini. Maka sudah sepantasnya bagi seorang hamba bersyukur kepada Allah Ta’ala dengan datangnya musim-musim kebaikan. Ramadhan bisa menjadi pelindung atau sebab kecelakaan. Kalian bisa keluar darinya dengan keuntungan, kemenangan dan kejayaan ataupun bisa keluar seseorang dalam keadaan merugi. Oleh karena itu dalam hadis yang shahih bahwasanya beliau (Rasulullah) bersabda :
    «رغم أنف امرئ أدرك رمضان فلم يغفر له»
    “Celakalah seseorang yang mendapati Ramadhan tetapi tidak mendapat ampunan untuknya”
    Bagaimana tidak mendapat ampunan, sedangkan dia di bulan Ramadhan? Maka barangsiapa yang berpuasa karena iman  dan berharap (pahala) maka akan diampuni dosanya yang telah lampau. Bagaimana mungkin tidak akan diampuni untuknya ?
    «ومن قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه»
    ”barangsiapa yang berpuasa karena iman dan berharap (pahala) maka akan diampuni dosa yang telah lampau”
    Bagaimana ia tidak diampuni sedangkan Nabi salallahu alaihi wa salam bersabda :
    «من قام ليلة القدر»
     “Barangsiapa yang sholat malam di malam lailatul qadr”.
    Dan ia adalah satu malam di bulan ini
    «إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه»
    “dengan penuh keimanan dan berharap pahala maka akan diampuni dosa yang telah lampau”
    Sungguh merupakan kerugian yang sangat besar jika berlalu hari-hari dan malam-malam begitu saja sedangkan kita dalam kelalaian dengan musim-musim yang besar ini dan waktu serta medan yang manusia sedang berlomba di dalamnya meraih kasih sayang Allah. Maka sudah sepantasnya bagi kita untuk menyemangati diri dengan agungnya kesempatan ini. Dan kita isi dengan penuh rasa keyakinan adanya kebaikan sehingga kita berlomba dalam kebaikan. Allah telah berfirman :
    ﴿فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ﴾
    “Maka berlomba-lombalah kailan dalam kebaikan” Q.S. Al Maidah : 48.
    Dan hanyalah seseorang yang bersegera dalam kebaikan ketika dia merasa bahwa ia adalah kesempatan yang akan hilang. Dan bukanlah suatu perkara yang dianggap penting jika belum didapatkan hari ini bisa diraih besok. Umur adalah kesempatan yang terbatas. Dan musim-musim kebaikan kesempatan dalam segi khusus. Jika telah hilang maka hilanglah kebaikan yang banyak. Jika tidak bisa diraih kecuali dengan berlomba meraih kebaikan dn masuk dalam rombongan orang-orang yang dikatakan Allah Jalla wa Alla di dalamnya :
    ﴿وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ﴾[الواقعة:10]
    “Dan orang –orang yang beriman yang palingdahulu” Q.S. Al Waqi’ah : 10.
    Maka hal itu sudah cukup memotifasi untuk mengilangkan kerugian. Bagaimana dan kita di awal bulan ini?
    Saya menyeru kepada diri pribadi dan semua saudara-saudaraku untuk menyiapkan di malam hari niat-niat yang baik dan komitmen yang lurus untuk menyambut bulan ini dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh serta belajar apa yang bisa mendekatkan dengannya kepada Allah Ta’ala. Kita sibukkan diri kita dengan ilmu bagaimana menterjemahkan apa yang dimaksud dengan puasa karena iman dan berharap pahala dan mendirikan sholat malam dengan penuh iman dan berharap pahala, dengan membaca Al Quran dan memperbanyak macam ibadah dalam pintu-pintu kebaikan karena menginginkan pahala dan balasan dari Allah Ta’ala.
    Dan agar kita tahu bahwasanya karunia  Allah sangat banyak dan kebaikannya sangat besar. Dan apa yang diberikan seorang hamba hanyalah sesuatu yang sedikit tapi ia dapatkan darinya kebaikan yang banyak. Dan sungguh Nabi salallahu alaihi wa aalihi wa salam  ketika menjelaskan bagaimana agungnya karunia Allah Jalla fi Ulahu
    «ومن تقرب إلي شبراً تقربت إليه ذراعاً، ومن تقرب إلي ذراعاً تقربت منه باعاً، ومن أتاني يمشي أتيته هرولة»
    “Dan barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaKu satu jengkal, maka Aku mendekat kepadanya satu hasta, dan barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaKu dengan satu hasta Aku mendekat kepadanya satau depa, dan barangsiapa mendatangiKu dengan berjalan maka Aku mendatanginya denga berlari”
    Dan itulah karunia Allah. Dan sudah seyogyanya diri kita memperlihatkan kepada Allah kebaikan, kita sambut dengan komitmen-komitmen yang lurus dan niat-niat yang jujur dan amal-amal soleh, maka ia adalah kesempatan.
    Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung Tuhan Arsy  yang mulia ini dan untuk kalian agar bisa beramal soleh. Dan menjadikannya bulan yang penuh kebaikan dan keberkahan di atas keislaman dan keluarganya, mudah-mudahan (Allah) tolong kita bisa berpuasa dan mendirikan sholat malam dengan penuh keimanan dan berharap pahala.

    بمناسبة قدوم شهر رمضان.

    Detail
    0
    419
  • SEPUTAR BULAN RAMADHAN
  • Segala puji Rabb semesta alam, aku bershalawat dan memberi salam kepada pemberi kabar gembira dan pembawa peringatan serta pelita yang bercahaya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya dan para sahabatnya serta pengikut sunahnya dengan benar sampai datangnya hari pembalasan.
    Tidak disangsikan lagi seorang mukmin rindu akan masa kebaikan, kesempatan baik, waktu ampunan dan rahmat. Allah berfirman :
    {وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْوَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ}
    “Dan bersegeralah menuju ampunan Allah dan surga yang luasnya melebihi langit dan bumi”
    Sebagaimana Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Tinggi juga berfirman :
    {سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ}
    “Bersegeralah menuju ampunan Tuhan kalian”
    Ramadhan merupakan salah satu bulan di mana terdapat berbagai macam sebab-sebab mendapatkan ampunan. Bervariasinya sebab diberikannya pemberian, hadiah dan karunia dari Rabb Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah. Ia berikan dari sesuatu yang kecil dengan yang lebih besar.
    Sudah menjadi suatu yang pasti, jiwa rindu kepadanya. Karena itu adalah bulan dihapuskannya kesalahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    «من صام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم منذنبه»
    “barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan berharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lampau”
    Dan ini berlaku untuk amalan di siang hari.
    «ومن قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدممن ذنبه»
    “dan barangsiapa shalat malam di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan berharapa pahala, maka diampuni dosanya yang telah lampau”
    Dan ini berlaku untuk amalan di malam hari. Kemudian sempurnalah keutamaan, bertambahlah kedermawanan. Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :
    «من قام ليلة القدر»
    “barangsiapa yang salat malam di waktu lailatul qadar” suatu malam di bulan ini.
    «إيماناً واحتساباًغفر له ما تقدم من ذنبه»
    “dengan penuh keimanan dan berharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lampau”
    Tidak diragukan lagi, jiwa ini sangat rindu dengan datangnya musim yang diberkahi ini. Di mana Allah mengobral karuniaNya. Walaupun tidak ada puasa di dalamnya, tapi Nabi telah mengabarkan sesuai dengan yang diriwayatkan dari Allah Yang Maha Suci lagi Maha Terpuji berfirman :
    « الصيام لي وأنا أجزي به»
    “Puasa itu untukKu, dan Aku yang akan membalasnya”
    Itu tentu saja sudah cukup. Sampai sebuah dzikir mengingat Allah ia peroleh balasan yang besar. Dan Allah menambahkan (puasa) di dalamnya.
    Jika dikatakan kepadamu : (ini adalah seorang raja) maka ini hanya berupa klaim berupa ketinggian dirinya dan kemuliaan urusannya. Maka bagaimana jika yang menambahkan kemuliaan itu adalah Rajanya para raja Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, Maha Suci lagi Maha Terpuji.
    Tidak diragukan lagi itu adalah musim yang besar dan penuh berkah. Walaupun tidak ada keutamaan selain keutamaan-keutamaan yang telah disebutkan pasti itu sudah cukup membuat jiwa rindu bertemu dan berkumpul dengannya. Allah memberi dari yang sedikit dengan yang banyak.
    Kita akan paham dengan merenungi perkataan Ma’la bin Al Fadhl : (Para salaf -orang terdahulu- berdoa kepada Allah enam bulan sampai datangnya Ramadhan, dan berdoa enam bulan agar amalan mereka diterima)
    Jadi hati mereka selalu tertambat dengan bulan ini, ketika menyambutnya ataupun ketika meninggalkannya dan berlalunya Bulan Ramadhan.
    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

    حول شهر رمضان

    Detail
    0
    362
  • MAAF SAYA SEDANG PUASA
  • الحمد لله وصلى الله وسلم وبارك على رسول الله، وعلى آله وصحبه.
    أما بعد.
    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam serta keberkahan atas Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.
    Puasa bertujuan mewujudkan ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla, dan inilah tujuan dari puasa. Allah berfirman :
    {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}
    “wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian”
    Sebagian orang berkata : apa yang dimaksud dengan ketakwaan? Takwa adalah memaksimalkan diri dalam ketaatan dan meninggalkan maksiat dengan penuh harap atas balasan Allah dan khawatir akan adzabNya.
    Ini merupakan definisi takwa secara sederhana, orang yang bertakwa adalah orang  yang mengerjakan ketaatan dan menjauhi yang diharamkan, dimana dia melakukan itu semua karena rasa takut dan penuh harap. Bukan karena kebiasaan atau karena malu. Melakukan kewajiban bukan karena adat atau karena dilakukan banyak orang, akan tetapi karena ikhlas untuk Allah semata. Ini merupakan makna umum yang Allah inginkan melalui puasa. Dengan demikian sudah sepantasnya seorang yang berpuasa mengetahui hikmah disyariatkannya puasa untuk dirinya dan pengaruhnya dalam akhlak dan perbuatannya sehingga menjadi orang berhasil meraih sebesar-besar pahala.
    Orang-orang yang berpuasa -menahan diri dari makan dan minum- sangatlah banyak, tetapi balasan antara satu orang dengan yang lain berbeda sebagaimana bedanya langit dan bumi. Hal tersebut terjadi karena apa yang terlintas dalam hati mereka dari keikhlasan dan kebenaran iman. Apa yang teraplikasikan dari hati berupa amal perbuatan. Apa yang ada dalam hati tercermin dalam perbuatan nyata dari kebenaran dalam beramal dan jauhnya dirinya dari kejelakan.
    Dalam shahih Bukhari dan Muslim Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi (Puasa adalah pelindung)
    Makna dari pelindung adalah apa yang menghalangi manusia dari kejahatan dan kerusakan. Ini memberikan faidah bahwa puasa memberikan imunitas, sebagaimana seseorang yang masuk dalam benteng pertahanan yang melindunginya dari kerusakan dan kejelekan serta buruknya akhlak.
    Untuk itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    (( فإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث ولا يصخب ولا يجهل، فإن امرؤ سابه أوشاتمه فليقل: إني امرؤ صائم))
    “maka jika hari ketika kamu berpusa tidak berkata kotor, kasar, dan tidak berbuat kebodohan. Maka jika ada orang yang menghinanya atau menjelek-jelakannya, maka balaslah dengan mengatakan :”saya sedang berpuasa”
    Yaitu dia tertahan untuk membalas keburukan yang sama karena sedang berpuasa. Ini menjelaskan bahwa puasa adalah akhlak dalam hati yang diterjemahkan dalam amal perbuatan. Ia akan menahan diri untuk berbuat jahat kepada orang lain walaupun (ketika dia membalas) ini termasuk dalam keadilan terhadap diri sendiri.
    Allah berfirman (dalam hal keadilan terhadap diri sendiri) :
    {وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ}
    “Maka jika kalian menghukum, hukumlah mereka sesuai dengan apa yang mereka lakukan kepada kalian”
    Allah juga berfirman :
    {وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا}
    “dan balasan kejelekan adalah kejelekan yang setimpal”
    Pun demikian, seorang yang berpuasa diperintahkan untuk meninggalkan itu semua dengan mengatakan : “saya sedang berpuasa”, Ia tahan lisannya dari membalas ocehan orang yang bodoh. Menahan perbuatan yang menjatuhkan kepada keburukan.
    Sudah sepatutnya puasa kita adalah gambaran keimanan dan kebenaran keyakinan akan balasan dari Allah Ta’ala.
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Kitab Sahihain dari hadis Abu Hurairah bersabda :
    «من صامرمضان إيماناً واحتساباً؛ غفر له ما تقدم من ذنبه»
    “Barangsiapa berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang lampau”.
    Dan ini adalah yang saya isyaratkan sebelumnya tentang tingkat perbedaan balasan kebaikan manusia dilihat dari kesungguhan hati dalam membenarkan dan  kejelasan. Untuk itulah sudah menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan diri kita yakni selalu introspeksi diri dalam memerikasa dua hal ini “keimanan dan berharap pahala”
    Keimanan terwujud dengan pengakuan diri. Jika seseorang mengakui kewajiban puasa maka ia telah beriman dengan syariatnya. Rasa ihtisab (mengharap pahala) adalah dengan menginginkan di masa yang akan datang balasan yang besar di sisi Rabb semesta alam. Sesungguhnya balasan akhir dari puasa adalah sangat besar. Balasan itu masuk dalam kandungan Firman Allah Jalla wa ‘Ala :
    {إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ}
    “Sesungguhnya balasan orang yang bersabar adalah balasan yang tidak ada batasnya”
    Cukuplah kiranya hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    «كل عمل ابن آدم له، إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به »
     (Allah berfirman) “Setiap amalan Bani Adam adalah untuknya, kecuali puasa, maka ia adalah untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya”
    Diantara yang perlu diperhatikan orang yang berpuasa, adalah beberapa nasehat yang disampaikan para salaf : (Sudah sepantasnya hari di mana kamu berpuasa berbeda dari hari engkau tidak berpuasa. Perbedaan ini bukan terlihat dari kemalasan, kelemahan dan lambatnya melakukan pekerjaan, ataupun terlambat dari kewajiban dan keburukan akhlak. Dan itulah keadaan kebanyakan orang yang memperturutkan hawa nafsunya. Dan menjadikan puasa sebagai kesempatan melakuakan kebiasaan yang negatif. Ia berargumen bahwa ia berpuasa. Dan puasanya telah membuat lelah dan capek. Maka ini adalah sebuah kekeliruan).
    Seharusnya puasa menjadikan manusia berakhlak mulia, lebih bersemangat mengerjakan semua kewajiban, menunaikan hak. Ia meyakini ketaatan kepada Allah di masa puasa akan mendapat pahala yang lebih besar daripada di hari biasa. Walaupun puasa memang mengurangi kekuatan seseorang, tetapi orang yang berpuasa tetap melaksanakan ketaatan kepada Allah dan ini adalah sebab turunnya pahala. Sebagaimana dalam hadis shahih dari hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya :
    «أجرُكِ على قدر نفقتكِ ونصبكِ»
     “pahalamu adalah sesuai kadar harta yang engkau infakan  dan kelelahanmu”
    artinya : sesuai dengan kadar apa yang engkau keluarkan dari hartamu dan kadar kesungguhan dalam mengeluarkan tenaga berupa kesungguhan dan kelelahan yang dicurahkan untuk mencapai ketaatan kepada Allah Jalla wa ‘Ala.
    Maka inilah beberapa hal penting yang sudah sepatutnya tidak hilang dari hari-hari seorang yang berpuasa. Dan kesimpulannya : seyogyanya hari puasa berbeda dengan hari biasa. Bukan menurun, justru bertambah, berkembang, lebih baik, bertakwa dan beriman.
    Dan semoga shalawat Allah dan salamNya serta keberkahan selalu tersampaikan kepada baginda Nabi kita Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya dan para sahabatnya.


    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh
    (يوم صومك مختلف عن يوم فطرك)

    Detail
    0
    457
  • Pembatal Puasa Kontemporer
  • Menyikapi Pembatal Puasa Kontemporer

    Segala puji bagi Allah Rab semesta alam. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du

    Puasa adalah salah satu rukun islam, dan salah satu syiar agung yang Allah wajibkan bagi umat Islam sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an dan sunnah serta ijma (kesepakatan) para ulama.

    Wajib bagi setiap mukmin maupun mukminah untuk memahami hukum-hukum seputar puasa supaya mendapat ridha Allah Ta’ala. Karena sesunggunya Allah tidak menerima suatu amal kecuali amal shalih, dan tidak termasuk amal shalih melainkan apabila dikerjakan dengan penuh keikhlasan karena Allah semata dan sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan cara mengkaji kitab-kitab para ulama klasik maupun kontemporer yang membahas tentang berbagai permasalahan seputar puasa, hukum yang berkaitan dengannya, sunnah-sunnahnya serta hal-hal yang dianjurkan selama berpuasa. Barangsiapa yang mau mengkaji semua itu maka ia akan memahami hukum-hukum yang berkaitan dengannya. Apabila mendapat kesulitan dan membutuhkan penjelasan lebih lanjut hendaklah bertanya pada ahli ilmu sebagaimana perintah Allah dalam al-Qur’an “Maka tanyakanlah kepada ahlu dzikri(ulama)apabila kamu tidak memahami.”

    Puasa tegak atas dua rukun, yakni yang pertama adalah niat; dan yang ke dua adalah menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkannya. Seorang muslim hendaknya mengetahui apa saja yang termasuk pembatal puasa sehingga ia dapat menahan diri darinya. Allah Ta’ala telah menjelaskan kaidah pembatal puasa dalam firmanNya: “Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (Q.S. al-Baqarah : 187). Kriteria pembatal puasa adalah apa-apa yang Allah perintahkan untuk menahan diri darinya pada saat berpuasa. Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat al-Qur’an seperti jima’ (bersenggama), makan, dan minum, dan yang disebutkan dalam sunnah yang mulia seperti haid dan nifas, muntah dengan disengaja sebagaimana disepakati paraulama. Dengan demikian ada lima pembatal puasa seperti yang telah disebutkan.

    Selain lima hal di atas terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang batal tidaknya puasa seseorang. Adapun sebab perbedaannya kembali pada dalil,atau perbedaan pendapat tentang shahihnya, atau dalam memahami dalil tersebut,  atau kecocokan indikasi hukum yang sesuai dengan peristiwa terkini dan masalah kontemporer.

    Pembaca referensi fikih dan penjelasan buku hadisbanyak mendapati permasalahan yang banyak. Perbedaan pendapat di kalangan ulama  seperti hijamah (bekam), memasukkan obatmelalui hidung, serta memakai celak dan yang sejenisnya. Seiring perkembangan teknologi yang turut andil mengubah gaya hidup manusia juga ditemukan hal-hal yang masuk kategori pembatal puasa meski terjadi perbedaan diantara ulama kontemporer yang sebagian besar berhubungan dengan dunia pengobatan dan kedokteran seperti sprayer (alat semprot) untuk pengobatan dada, serta berbagai jenis pemeriksaan yang dilakukan untuk diagnosa dan operasi, suntikan dengan berbagai jenisnya, obat tetes mata, hidung dan telinga, tranfusi darah, berbagai jenis pencucian ginjal, serta anestesi (bius) dan lain-lain.

    Perlu disebutkan di sini bahwa setiap masalah yang ada terdapat banyak pendapat, dalil-dalil, diskusi, penelitian dari para ahli fiqih dan ilmuwan serta panitia dewan syariat guna memperjelas hukum apakah hal tersebut termasuk pembatal puasa ataukah tidak, yang pada akhirnya melahirkan putusan hukum.

    Dan yang perlu diperhatikan dalam menyikapi perbedaan pendapat ulama tentang pembatal puasa yang bersifat kontemporer adalah tidaklah sesuatu itu dihukumi sebagai pembatal atau tidak kecuali berdasarkan dalil. Ini adalah kaidah yang telah disepakati para ahli ilmu sebagaimana yang telah Allah dan RasulNya jelaskan dalam masalah pembatal puasa. Oleh karenanya tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan sunnah. Apabila seorang muslim mampu mencapai pada pengambilan hukum atas masalah-msalah kontemporer, maka wajib baginya untuk bersungguh-sungguh dalam ijtihadnya. Namun jika dirinya tidak mampu karena tidak memiliki keahlian dalam hal itu, maka wajib baginya untuk kembali kepada para ulamasebagaimana yang telah Allah perintahkan : “maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” Apabila ditemukan perbedaan pendapat tentang apakah sesuatu itu termasuk pembatal puasa atau tidak, maka jika memungkinkan untuk mengambil pendapat yang paling rajih (kuat) maka itulah yang utama, namun jika tidak maka hendaknya ia mengambil pendapat orang yang paling alim diantara mereka. Dan jika mereka memiliki tingkat keilmuan yang sama, maka pendapat mayoritas ulama lebih dekat pada kebenaran. Wallahu a’lam


    مفطرات الصيام المعاصرة
     

    Detail
    0
    478
Twit
Solat
  • Bagaimana Wanita Shalat Berjamaah?
  • Bagaimanakah tatacara shalat berjamaah bagi kaum wanita, apakah mereka membentuk satu shaf (barisan), kemudian di antara mereka menjadi imam di shaf yang sama? Berikanlah fatwa kepada kami? Semoga AllahTa’ala membalas Anda dengan kebaikan.

    كيف تصلي النساء جماعة هل يصطففن في صف واحد

    Segala puji hanya milik Allah, semoga shalawat dan salam, serta keberkahan senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya, Amma ba’du.

    Jawaban atas pertanyaan Anda,maka kami katakan dengan memohon taufik dari Allah Ta’ala :

    Mayoritas ulama dari kalangan madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali serta selain mereka berpendapat, bahwa imam shalat wanita berdiri di tengah mereka (jamaah wanita dalam satu shaf -pent), berdasarkan hadis riwayat imam Baihaqi dan selainnya dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah RadhiyallahuAnhuma,bahwa mereka berdua pernah mengimami kaum wanita dan mereka berdiri di tengah jamaah wanita.

    Sebagian ulama lainberpendapat, dan ini salah satu pendapat dalam Madzhab imam Ahmad dan pendapat imam Ibnu Hazm, bahwaImam wanita berdiri di depan makmum wanita sebagaimana berdirinya imam laki-laki.

    Menurut pendapat saya, diperbolehkan imam wanita berdiri di depan jamaah kaum wanita (sebagaimana imam laki-laki -pent), namun yang lebih afdhal adalah ia berdiri di tengah mereka (dalam satu shaf -pent), berdasarkan atsar ’Aisyah dan Ummu Salamah RadhiyallahuAnhuma di atas.

    Saudara Kalian,

    Khalid bin Abdullah Al-Mushlih,

    22/11/1424 H

    Detail
    0
    766
  • Shalat Tahajjud Pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
  • Pada bulan Ramadhan, shalat malam dibagi menjadi dua macam, Shalat Tarawih dan Shalat Tahajud. Apakah pembagian ini ada dasarnya? Terlebih lagi, orang-orang membedakan keduanya, baik secara tempat, waktu, maupun lama shalatnya, mereka meringankan (memendekkan) Tarawih dan memanjangkan Tahajud. Saya juga membaca sebuah tulisan yang ditulis oleh Syeikh Athiyyah Muhammad Salim mengenai Tarawih, yang aku pahami dari tulisan tersebut, ini merupakan perkara yang baru, tidak ada dasarnya sebagaimana yang ditulis oleh para Ulama Hambali?

    صفة صلاة التهجد في العشر الأواخر من رمضان

    Bismillahirrahmanirrahim Aku tidak mengetahui dasar pembagian ini dari Sunnah, atau dari perbuatan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Bisa jadi mereka meringankan shalat tarawih karena lemahnya semangat orang-orang sekarang. Atau bisa jadi ada dasarnya sebagaimana pendapat ulama fiqih madzhab Hambali, dimana mereka berpendapat tidak disukainya ada shalat Sunnah di antara Shalat Tarawih. Apakah shalat tarawih yang dimaksud ini? Apakah engkau shalat sunnah sendiri sementara ada Imam? Orang yang membenci Sunnah kami bukanlah termasuk golongan kami. Kemudian, sebagaimana yang disebutkan oleh ulama Fiqih, dimana mereka mengkritik (tidak menyukai) dilakukannya shalat sunnah secara berjamaah setelah shalat tarawih atau witir, baik jeda antara kedua shalat tersebut panjang maupun pendek. Ulama Fiqih Syafi’iyah menyebutkan, bahwa shalat tarawih disebut tarawih karena mereka beristirahat setelah melakukan shalat dengan berthawaf satu kali putaran sempurna di antara shalat tarawih. Hal ini disebutkan dalam Hasyiyah Qalyubi dan Hasyiyah ‘Umairah, dan juga sebagaimana disebutkan Al-Qasimi dalam Akhbaru Makkah (2/155). Wallahu a’lam. Saudara kalian, Khalid bin ‘Abdullah Al-Muslih 17/09/1424 H

    Detail
    0
    790
  • Shalat Di BelakangAhlulBid’ah
  • Apakah diperbolehkan bagi saya untuk shalat di belakang Syaikh yang terus terang berkata bahwa dia berakidah Asy’ariyyah, dan memperbolehkan bertawasul dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dia berdalil dengan hadits tentang orang buta yang menjelaskan bagaimana menjadikan orang yang hidup sebagai sebab terkabulnya do’a. Tolong beri kami petunjuk. Jazakumullah khairan.

    الصلاة خلف أهل البدع

    Bismillahirrahmanirrahim Shalat di belakang orang tersebut tetap sah. Asy’ariyyah adalah golongan yang paling dekat dengan Ahlus sunnah dalam mengikuti petunjuk salaful ummah. Aku tidak mengetahui ada ucapan satu orang pun dari ulama terpercaya yang melarang shalat di belakang orang golongan Asy’ariyyah. Adapun tawasul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika hal tersebut sama dengan apa yang disebutkan dalam hadits tentang orang buta, maka yang seperti itu diperbolehkan oleh sebagian ulama. Ini merupakan masalah ijtihadiyyah. Adapun, jika maksud tawasul kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah dengan beristighasah (meminta pertolongan di saat genting) dan berdoa kepada beliau, dan tidak kepada Allah Ta’ala, maka ini merupakan perbuatan syirik akbar (besar). Tidak boleh shalat di belakang orang yang melakukan perbuatan saperti ini. Wallahu a’lam. Saudara kalian, Khalid bin Abdillah Al-Mushlih 23/09/1424 H

    Detail
    0
    817
  • Hukum Shalat di Diskotik?
  • Kami adalah mahasiswa di kota Beijing. Kami pergi shalat Jum’at di salah satu kedutaan negara Islam yang menyediakan ruangan khusus untuk shalat Jumat. Suatu ketika salah seorang mahasiswa pergi untuk menunaikan shalat Ashar di tempat itu, karena ia sedang dekat tempat itu. Setelah berwudhu, ia masuk ke ruangan itu dalam mendapati wanita-wanita yang sedang mendengarkan musik dengan keras dan menari di dalam ruang itu. Ketika ia menanyakan ke mereka, “Bukankah ini masjid yang digunakan shalat Jumat?”Mereka menjawab, “Tempat ini hanya digunakan shalat pada shalat Jum’at saja. Namun pada waktu yang lain, kadang Anda dapati orang yang mendengar musik, menari, atau menyantap makanan.” Apakah diperbolehkan shalat di tempat semacam ini? Dimana ini adalah satu-satunya tempat yang kami mampu mendengar khutbah berbahasa Arab?

    مصلى يستخدم كمرقص فما الحكم؟

    Alhamdulillah, shalawat dan salam serta keberkahan senantiasa tercurah untuk Rasulullah, keluarga dan sahabat beliau. Amma ba’du.

    Yang nampak bagiku, tidak mengapa shalat di tempat itu, jika memang tidak ada tempat yang lebih baik darinya. Tempat yang tidak digunakan maksiat kepada AllahTa’alabukanlah syarat sah shalat. Mayoritas shahabat berpendapat, bahwa boleh shalat di gereja meskipun terdapat kekufuran kepada AllahYang Maha Agungdi dalamnya. Sebagaimana pula bahwa hukum asalnya adalah boleh shalat di setiap tempat selama tidak terdapat dalil akan larangan shalat padanya.

    Hal ini berdasarkan riwayat Bukhari (no. 335), dan Muslim (no. 513), dari hadits Jabir bin AbdillahRadhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Diijadikan untuk diriku tanah sebagai masjid dan alat bersuci, maka siapapun orang dari umatku yang menjumpai waktu shalat, hendaklah shalat (di tempat tersebut).”Ini adalah lafazh Al-Bukhari.

    Dalam lafazh Muslim, “Maka laki-laki manapun yang mendapati waktu shalat, hendaklah ia shalat dimana pun ia berada.”

    Saudara Kalian,

    Khalid Al-Mushlih

    28/12/1424 H

    Detail
    0
    705
  • Membicarakan Urusan Dunia di Dalam Masjid
  • Apa hukumnya membicarakan urusan dunia di dalam masjid?

    حكم الكلام في أمور الدنيا داخل المسجد

    Alhamdulillah, shalawat dan salam,serta keberkahan senantiasa tercurah untuk Rasulullah, keluarga dan sahabat beliau, amma ba’du.

    Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, menjadi beberapa pendapat:

    Pertama: Membicarakan urusan dunia di dalam masjid, selama tidak mengandung dosa, hukumnya mubah(boleh). Ini adalah pendapat madzhab Syafi’i dan Zhahiri.

    Kedua: Membicarakan urusan dunia di dalam masjid, selama tidak mengandung dosa, hukumnya makruh. Ini adalah pendapat madzhab Maliki dan Hambali.

    Ketiga: Membicarakan urusan dunia di dalam masjid, walaupuntidak mengandung dosa, hukumnya haram. Ini adalah pendapat madzhab Hanafi. Sebagian mereka memahami keharaman ini jika tujuan duduk di masjid memang untuk membicarakan hal itu. Jika membicarakan dunia muncul tiba-tiba dan tidak diniatkan dari awal, hukumnya makruh.

    Perbedaan pendapat ini berlaku jika pembicaraan dan perbincangan di dalam masjid tersebut tidak menyebabkan mafsadat, seperti mengganggu orang yang sedang membaca Al-Qur’an, orang yang shalat, atau yang sedang beribadah. Jika kondisinya mengganggu seperti tadi, maka tidak ada perselisihan dalam keharamannya. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang mengeraskan bacaan Al-Qur’an apabila mengganggu orang lain. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallau 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah sebagian kamu mengeraskan bacaan dalam shalat, sehingga terdengar kepada sebagian yang lain.”(HR. Ahmad, no.5326).

    Juga diriwayatkan pula dari hadits Al-Bayadhiy Farwah bin ‘Amr dalam Ahmad (no. 18543) dan Malik (no. 178).Larangan ini datang dari berbagai jalur hadits, yaitu hadits shahih sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar danAl-‘Iraqi.

    Yang lebihkuatmenurutkudari duapendapat di atas, boleh membicarakan urusan dunia di dalam masjid apabila hal itu diperlukan,dan tanpa disengaja dari awal. Ia tidak menjadikan masjid sebagai tempat membicarakan urusan duniawi. Hal itu berdasarkan riwayat Muslim (no. 670), dari hadits Jabir bin SamurahRadhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Nabi Shallallau 'Alaihi wa Sallamtidak beranjak dari tempat shalat shubuhnya hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamberdiri (meninggalkan tempat shalat). Sedangkan para sahabat biasa berbincang-bincang (bercanda) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliauShallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya tersenyum saja.”

    Terdapat beberapa hadits yang melarang menjadikan masjid sebagai tempat untuk membicarakan urusan duniawi, di antaranya yang diriwayatkan Imam Thabrani dalam Mu’jamnya (no. 10452), dari hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallau 'Alaihi wa Sallambersabda, “Akan ada di akhir zaman, suatu kaum yang duduk-duduk di masjid berkelompok-kelompok, di depan mereka adalah dunia. Maka janganlah kalian duduk-duduk bersama mereka, karena sesungguhnya Allah tidak memiliki hajat (tidak melimpahkan kebaikan) pada mereka.”Ini adalah hadits dha’if (lemah).

    Ibnul Jauzi berkata dalam Al-Ilal Al-Mutanahiyah: “Hadits ini tidak shahih dari RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tertuduhnya adalah Bazii'", Ad-Daraquthniy berkata: “Tidak diriwayatkan hadits dengan riwayatnya dan selainnya, Bazii' matruk.” Ibnu Hibban berkata: “Ia menambah-nambahkan hal-hal yg tidak benar dari para perawi tsiqah seakan-akan ia mu'tamad pada riwayat mereka.”Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I'tidal berkata: “Ibnu 'Adiy berkata: Ia memiliki hadits-hadits munkar yg tiada penguat atasnya.” Bazii' ini adalahAbu Khalil Al-Khushaaf, rawi yang meriwayatkan dari Syaqiq bin Salamah, dari Ibnu Mas'ud.

    Saudara kalian,

    Khalid Al-Mushlih

    06/01/1425 H

     

    Detail
    0
    1786
  • Ruku’ Dengan Isyarat Dalam Shalat Sunnah
  • Apa hukum sujud dan ruku’ hanya sekedar memberikanisyarat saja bagi orang yang shalat sunnah dalam keadaan duduk, dan ini dilakukan disetiap rakaat tanpa ada ‘udzur (alasan)?

    الإيماء في صلاة النافلة

    Segala puji bagi Allah, Shalawat, salam dan keberkahan atas Rasulullah, keluarga dan sahabatnya,amma ba’du.

    Jawaban dari pertanyaan anda seraya memohon taufiqkepada AllahTa’ala, kami katakan:

    Adapun ruku’ dalam keadaan duduk tanpa adanya ‘udzur ketika melaksanakan shalat sunnah,maka hukumnya boleh. Terdapat dalam Shahih Muslim dari hadits ‘AisyahRadhiyallahu ‘Anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alahi wa Sallam dahulu apabilashalat dalam keadaan berdiri,maka beliau ruku’ dalam keadaan berdiri, dan apabila beliau shalat dalam keadaan duduk, maka beliau  ruku’ dalam keadaan duduk.”

    Terdapat juga dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari AisyahRadhiyallahu ‘Anha, “Bahwa ia tidak pernah melihat RasulullahShallallahu ‘Alahi wa Sallam shalat malam dalam keadaan duduk sama sekali,sampai beliau lanjut usia. Beliau membaca ayat dengan keadaan duduk dan apabila beliauakanruku’,beliau segera berdiri, beliau membaca ayat berkisar 30 sampai 40 ayat,kemudian ruku’.”Dalam riwayat yang lain:Kemudian beliau ruku’,lalu sujud,dan melakukan hal yang sama pada rakaat yang kedua.”

    Sebagian ulama berpendapat,bahwa beliau ruku’ dengan posisi duduk dikarenakan adanya udzur.sebagian ulama lain berpendapat hadits ini menjelaskan bolehnya ruku’ dalam keadaan duduk, adapun ruku’ dalam keadan berdiri ini menjelaskan keutamaan, karena ruku’ dalam posisi berdiri akan menyempurnakan kekhusyu’an dan ketundukan daripada ruku’ dalam posisi duduk.

    Oleh karenanya, dibolehkan ruku’ dengan isyarat merunduk ketika ruku’ tanpa adanya ‘udzur pada shalat sunnah, berdasarkan keumuman hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Shalatnya lelaki dalam keadaan duduk bernilai separoh shalat dalam keadaan berdiri.”Hadits ini terdapat di dalam Shahih Muslim dari hadits Abdullah bin UmarRadhiyallahu ‘Anhuma.Adapun perkatan NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam:“Dalam keadaan duduk” adalah membandingkan dua keadaan yaitu berdiri dan ruku’nya.

    Adapun sujud dengan isyarat tanpa ada udzur,maka tidak diperbolehkan.Inilah pendapat yang benar dari dua pendapat pata Ulama, merupakan pendapat mayoritas ulama,sebab tidak adanya riwayat kecuali dalam keadaan udzur.Dan, karena isyarat menghilangkan tujuan dari sujud, yaitu menempelkan jidat di tanah. NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan ketika sujud dengan tujuh anggota tubuh, sebagaimana hadits Ibnu AbbasRadhiyallahu ‘Anhu di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Ia berkata, “Aku diperintahkan untuk melakukan sujud dengan tujuh anggota tubuh, yaitu kening (beliau menunjuk hidungnya), kedua tangan, kedua lutut dan jari-jari kedua kaki.”

    Apabila seseorangmemberi isyarat saja, sementara ia mampu melakukan sujud,maka dia tidak melakukan sujud sesuai perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamdengan tujuh anggota tubuh, maka memberikan isyarat saja ketika sujud dalam keadaan mampu tidak diperbolehkan.Wallahu ‘Alam.

     

    Detail
    0
    604
Thaharah
  • Hukum bertolak dari Mina bagi orang yang sedang dalam keadaan darurat sebelum hari kedua belas
  • Apakah diperkenankan keluar dari ibadah haji (keluar dari Mina) pada hari ke sebelas, hal tersebut melihat perbedaan jadwal safar, dikarenakan bulan Dzul qa’dah genap (30 hari), sehingga keadaan menuntutku untuk bertolak pada hari ke sebelas?

    حكم انصراف المضطر من منى قبل يوم الثاني عشر

    Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam, aku bershalawat dan bersalam atas Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh para sahabatnya. Amma ba’du.

    Yang wajib bagi orang yang sedang haji adalah hendaknya dia bertakwa kepada Allah Ta’ala dalam melaksanakan manasik hajinya, dan hendaknya dia menyempurnakannya, sebagaimana  Allah perintahkan dalam firmannya :

    ﴿وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ﴾ (البقرة:196)

     

    Artinya :”Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah”. QS Al Baqarah : 196.

    Karena termasuk dari penyempurnaan ibadah haji adalah penyempurnaan manasik-manasik, kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnahnya, dan Allah telah memerintahkan untuk berdzikir (menyebut)-Nya pada hari-hari berbilang, Allah berfirman :

    ﴿وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ﴾ (البقرة:203)  

    Artinya :”Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang”. QS Al Baqarah 203.

    Yaitu hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12 dan 13), menurut pendapat seluruh ahli tafsir, sebagaimana telah disebutkan oleh lebih dari satu ahli ilmu. Kemudian Allah Ta’ala izinkan setelahnya untuk ta’ajjul (bersegera meninggalkan Mina) pada dua hari dari hari-hari tasyriq, Allah Jalla wa Ala berfirman :

    ﴿فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ﴾ (البقرة:203)

    Artinya :”Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya.”. Al Baqarah : 203.

    Dan Ta’ajjul (bersegara) di sini yaitu dengan bertolak pada tanggal 12 dari bulan Dzul Hijjah, sesuai dengan kesepakatan para ahli ilmu, sehingga bermalam di Mina pada dua malam ke sebelas dan dua belas menjadi kewajiban, begitu pula wajib melempar tiga jumrah pada dua hari tersebut, karena semua hal tersebut merupakan dzikir kepada Allah Ta’ala yang diperintahkan dalam ayat di atas. Maka tidak boleh bagi seorang haji bertolak meninggalkan Mina dan Ta’ajjul  (bersegera) sebelum hari itu; ini adalah hukum asal yang tertera dalam dalil-dalil. Adapun bagi orang yang dalam keadaan terdesak untuk bertolak pada hari ke sebelas, maka para ahli ilmu berbeda pendapat tentang implikasi dari bertolaknya dia, dalam dua pendapat secara umum :

    Pendapat pertama : Bahwa bagi orang yang terdesak sehingga bertolak pada hari ke sebelas wajib membayar dam (seekor kambing); bisa karena disebabkan dam yang dibayar karena setiap kewajiban yang ditinggalkan, karena dia bertolak sebelum waktu yang di izinkan, sebagai dalil dari pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Malik dan lainnya dari sahabat Ibnu Abbas –semoga Allah meridlai keduanya- secara mawquf:

    «مَنْ نَسِيَ مِنْ نُسُكِهِ شَيْئاً أَوْ تَرَكَهُ؛ فَلْيُهْرِقْ دَماً»

    Artinya :”Siapa yang lupa sehingga tidak melakukan sebagian manasiknya atau tidak mengerjakannya; maka hendaknya dia mengalirkan satu darah (menyembelih hewan ternak)”.

    Atau hal tersebut wajib dibayar disebabkan dam yang dituntut akibat terhalang dari mengerjakan seluruh kewajiban yang dia tidak mampu; karena dia dihukumi sebagai orang yang terhalang, dan ini sesuai dengan madzhab Al Hanabilah bagi orang yang terhalang dari mengerjakan kewajiban, sebagaimana mereka berpendapat dengan kewajiban membayar dam bagi orang yang terhalang dari mengerjakan kewajiban.

    Pendapat ini juga telah dinukil dari Syaikh kita Ibnu Baz –semoga Allah merahmatinya-, dan juga pendapat yang mungkin bisa difahami dari sebagian fatwa Syaikh kita Ibnu Utsaimin –semoga Allah merahmatinya-.

    Pendapat kedua : Bahwa tidak wajib membayar dam bagi orang yang terdesak untuk bertolak pada hari kesebelas secara mutlak; berdasarkan firman Allah Ta’ala :

    ﴿فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ ﴾ (التغابن:16)

       Artinya :”Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”. At Taghobun : 16.

    Dan dalam “Ash Shahihain” (Al Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah secara marfu’:

    «وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ»

    Artinya :”Dan jika aku perintahkan kalian dengan suatu perintah maka laksanakanlah sesuai dengan kemampuan kalian”.

    Maka tidak wajib membayar dam bagi seseorang yang terdesak sehingga dia bertolak dari Mina sebelum hari kedua belas, karena dia memiliki uzur (alasan), pendapat ini sejalan dengan pendapat madzhab Al Hanafiah, Al Malikiyah dan Asy Syafi’iyah, yang menyatakan bahwa tidak wajib membayar dam akibat meninggalkan suatu kewajiban dikarenakan suatu uzur, dan pendapat ini juga yang telah difatwakan oleh Syaikh kita Ibnu Baz dan Syaikh kita Ibnu Utsaimin –semoga Allah merahmati keduanya-; terkait permasalahan orang yang tidak mampu datang ke Muzdalifah hingga berakhir waktu untuk tinggal di dalamnya, sehingga beliau berdua menggugurkan baginya kewajiban bermalam di Muzdalifah disebabkan uzur tersebut, dan tidak mewajibkan baginya untuk membayar fidyah.

    Ibnu Nujaim telah menyebutkan secara tekstual pada pembahasan meninggalkan melempar Jumrah karena uzur, bahwa seorang wanita jika dia meninggalkan melempar Jumrah karena sesak, maka tidak ada suatu kewajiban apapun baginya, sebagaimana pendapat madzhab Al Hanafiah. Yang menjadi musykil dari pendapat ini adalah bagaimana mengkompromikannya dengan atsar Ibnu Abbas yang telah lalu, sebagaimana tersebut dalam ucapan beliau:

    «مَنْ نَسِيَ مِنْ نُسُكِهِ شَيْئاً أَوْ تَرَكَهُ؛ فَلْيُهْرِقْ دَماً»

    Artinya :”Siapa yang lupa sehingga tidak melakukan sebagian manasiknya atau meninggalkannya (tidak mengerjakannya); maka hendaknya dia mengalirkan satu darah (menyembelih hewan ternak)”.

    Sehingga beliau wajibkan pembayaran dam atas permasalahan meninggalkan kewajiban secara lupa, padahal lupa merupakan uzur (alasan); kemusykilan ini bisa dijawab, bahwa Ayub As Sikhtiyani, salah satu perawi atsar Ibnu Abbas berkata : Aku tidak tau beliau (Ibnu Abbas) berkata “meninggalkan” atau “lupa””, sehingga Malik memberi isyarat pada nukilan perkataan Ayub ini bahwa perkataan dia :”atau”, adalah disebabkan keraguan, bukan bermaksud pembagian, sebagaimana kata “lupa” dalam bahasa arab terkadang juga bermakna “meninggalkan”, seperti firman Allah Ta’ala :

    ﴿الْيَوْمَ نَنْسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا﴾ (الجاثية:34)   

    Artinya :”Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini”. Al Jatsiyah : 34.

    Dan termasuk argumen yang menguatkan pendapat ini adalah bahwa telah datang dalam As Sunnah, rukhsoh (keringanan) pada masalah meninggalkan wajib tanpa tuntutan membayar dam, sebagaimana rukhsoh yang diberikan Nabi kepada para penggembala dan orang yang mengambil air untuk tidak bermalam di Mina, dan beliau tidak mewajibkan atas mereka pembayaran dam; maka perkataan Ibnu Abbas difahami hanya bagi mereka yang meninggalkan satu dari kewajiban-kewajiban haji dengan tanpa uzur.

    Dan bisa juga dikatakan : Bahwa wajib bagi orang yang terdesak bertolak pada hari kesebelas untuk mewakilkan melempar Jumrah hari kedua belas, jika hal tersebut memungkinkan; dan jika tidak mampu mewakilkan, maka gugurlah kewajiban melempar dan tidak ada tuntutan apapun, karena uzur.

    Adapun dalil hal tersebut adalah bahwa telah datang As Sunnah yang menjelaskan hukum perwakilan bagi orang yang tidak mampu melempar, sebagaimana tertera dalam Al Musnad dan As Sunan dari hadits Jabir:

    «حَجَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَعَنَا النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ، فَلَبَّيْنَا عَنِ الصِّبْيَانِ، وَرَمَيْنَا عَنْهُمْ»

      Artinya :”Kita dahulu melaksanakan ibadah haji bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan wanita dan anak-anak ikut serta bersama kami, kemudian kita bertalbiah untuk anak-anak, dan kita melempar untuk mereka”.

    Ibnu Abdil Barr berkata:”Mereka (para ulama) tidak berselisih, bahwa siapa yang tidak mampu untuk melempar karena uzur, maka dilemparkan untuknya (diwakilkan pelemparannya) walaupun dia dewasa”.

    Dan termasuk argumen yang menguatkan hal ini adalah, bahwa pada dasarnya perwakilan itu disyariatkan dalam ibadah haji, di saat dalam kondisi lemah (tidak mampu), demikian pula di syariatkan perwakilan pada bagian-bagiannya.

    Sebagian Ahli ilmu berpendapat : Bahwa wajib atas orang terdesak, yang ingin bertolak pada hari ke sebelas, untuk memajukan melempar Jumrah hari kedua belas bersamaan dengan melempar hari kesebelas, dan dalil akan hal tersebut adalah apa yang tertera dalam rukhsah Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada para penggembala agar mereka melempar pada hari An Nahr (kesepuluh), kemudian mereka melempar pada hari esoknya untuk dua hari (hari kesebelas dan hari kedua belas), kemudian mereka melempar pada hari An Nafar  terakhir (hari ke tiga belas). Dan sebenarnya pendapat ini memiliki bobot penilaian; akan tetapi yang musykil adalah bahwa rukhsoh mengumpulkan dua hari melempar dalam satu hari pada hari ke sebelas adalah bagi mereka yang mampu melempar pada hari ke tiga belas.

    Dan pendapat yang paling dekat dengan kebenaran adalah, dikatakan : Bahwa seseorang yang terdesak untuk bertolak pada hari kesebelas; maka gugur darinya bermalam pada malam kedua belas karena uzur, maka jika dia mampu untuk mewakilkan pelemparan hari ke dua belas, wajib baginya untuk mewakilkan, jika tidak maka gugur darinya, karena uzur, dan wajib baginya thawaf wada’ sebelum dia meninggalkan kota Makkah, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

    «لاَ يَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ»

    Artinya :”Janganlah seseorang diantara kalian bertolak (meninggalkan Makkah), hingga dia menjadikan masjidil haram adalah akhir dari momen dia”.

    Perkataan beliau shallallahu alaihi wasallam “seseorang” adalah nakirah (kata yang bersifat umum) dalam konteks larangan, sehingga mencakup siapapun yang ingin bertolak meninggalkan Al Haram setelah dia melaksanan ibadah haji, adapun permasalahan jika masih tersisa amalan-amalan haji yang dia wakilkan karena tidak mampu mengerjakannya, tidak menghalangi dia untuk melakukan thawaf wada’, seperti juga halnya seseorang yang mewakilkan orang lain yang menyembelihkan untuknya sembelihan haji tamattu’ pada hari ketiga belas, kemudian dia bertolak pada hari kedua belas, maka diathawaf wada’ sebelum dia meninggalkan (kota Makkah). Wallahu a’alam, shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, juga keluarga dan seluruh sahabat beliau.

    Ditulis oleh

    Prof. DR Kholid Bin Abdullah Al-Muslih

    Anggota dewan fatwa di Kota Al-Qaseem

    Dan guru besar fikih di Universitas Al Qaseem

    3/12/1436 H

    Detail
    0
    280
  • Apakah Darah Yang Keluar Dari Wanita Hamil Termasuk Darah Haidh?
  • Apakah darah yang keluar dari wanita hamil termasuk darah haidh?

    هل يعتبر الدم النازل من المرأة الحامل دم حيض؟

    Segala puji hanya milik Allah Rabb Semesta Alam.Shalawat,salamdan keberkahansemoga selalu terlimpahkepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du.

                Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala,jawaban atas pertanyaan Anda adalah:

    Darah yang keluar dari wanita hamil itu tidak lepas dari dua keadaan:

    Keadaan pertama: darah yang mengalir sesuai kebiasaan, seperti haidh yang datang sebelum masa kehamilan. Ada dua pendapat Ulama dalam masalah ini. Mayoritas Ulama berpendapat bahwa itu adalah darah rusak (penyakit) yang tidak menghalangi untuk shalat atau puasa. Sedangkan Imam As-Syafi’i dan sekelompok Ulama yang lain termasuk madzhab Hambali, berpendapat bahwa itu adalah darah haidh yang menghalangi dilaksanakannya shalat dan puasa.

    Yang kuat dari dua pendapat ini adalah bahwa itu merupakan darah rusak. Sudah terbukti secara medis, bahwa orang yang hamil itu tidak bisa haidh. Sehingga darah yang keluar bersamaan dengan masa kehamilan itu bukanlah darah haidh, akan tetapi hanya darah kotor. Itu adalah darah kotor yang tidak menghalangi untuk shalat dan puasa.

    Keadaan kedua: Darah yang keluar dengan tiba-tiba dan tidak teratur atau tidak biasa. Jika itu adalah darah yang keluar tiba-tiba, maka itu adalah darah rusak yang tidak menghalangi dilakukannya shalat.

    Jika darah itu keluar berdekatan dengan masa melahirkan, maka sebagian Ulama berpendapat bahwa itu dianggap sebagai darah nifas, sehingga menghalangi untuk shalat dan puasa. Yang benar, itu bukanlah darah nifas. Itu adalah darah rusak yang tidak menghalangi dilakukannya shalat dan puasa. Darah nifas itu keluar setelah melahirkan.

    Detail
    0
    439
  • Mengusap Kaos Kaki Yang Tidak Menutupi Mata Kaki
  • Apakah hukum mengusap kaos kaki yang tidak menutup kedua mata kaki? Dan apakah hukum mengusap kaos kaki yang tipis?

    المسح على جوارب لا تغطي الكعبين

    Segala puji hanya milik Allah Rabb Semesta Alam.Shalawat,salamdan keberkahansemoga selalu terlimpahkepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du.

                Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala,jawaban atas pertanyaan Anda adalah:

    Kaos kaki yang menutupi kaki tidak disyaratkan (menurut pendapat yang benar dari para Ulama) untuk menutup semua bagian kaki. Akan tetapi cukup menutup mayoritas bagian kaki. Maksudnya, mayoritas bagian kaki hendaknya ditutup, meskipun ada bagian lain yang kelihatan, karena disebabkan pendeknya kaos kaki atau karena kaos kaki yang sobek dan berlubang. Semua ini tidak berpengaruh atas sahnya mengusap kaos kaki. Inilah yang benar.

    Allah Azza wa Jalla telah berfirman dalam ayat wudhu, dalam surat Al-Ma`idah:

    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُم

    Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian akan melaksanakan shalat maka cucilah muka, dan kedua tangan sampai ke siku, dan usaplah bagian kepalamu dan juga kakimu.” (QS. Al-Ma`idah: 6).

    Dan dalam bacaan yang lain kata “arjulakum” dibaca dengan “arjulikum”. Maka cukup dengan mengusap kaki, jika saat itu kondisinya sedang tertutup. Dan tidak disyaratkan penutup itu harus menutupi semua bagian dengan rapat, sehingga tidak ada sedikitpun bagian yang terlihat.

    Oleh karena itu, jika kaos kaki yang dikenakan pendek hanya sebatas sampai mata kaki atau berlubang, maka tidak mengapa untuk mengusapnya. Begitu juga untuk kaos kaki yang tipis. Tidak mengapa mengusapnya, karena kaos kaki itu sudah menutupi kaki. Tidak ada dalil yang mengharuskan kaos kaki yang tebal atau kaos kaki yang menutup bagian kaki dengan erat sehingga tidak nampak sedikitpun bagian dari kaki. Oleh karena itu, jika kaos kaki yang digunakan itu tipis dan berlubang yang menampakkan kulit kaki, maka tetap boleh mengusapnya, karena tidak ada dalil yang melarangnya.

    Detail
    0
    607
  • Wudhu Disertai Dengan Adanya Warna Pacar Di Tangan Atau Kepala
  • Apakah hukum wudhu dengan adanya warna pacar di kedua tangan dan kepala?

    الوضوء مع وجود الحناء في اليد والرأس

    Segala puji hanya milik Allah Rabb Semesta Alam.Shalawat,salamdan keberkahansemoga selalu terlimpahkepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du.

                Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala,jawaban atas pertanyaan Anda adalah:

    Yang wajib dilakukan adalah menghilangkan semua hal yang ada di tangan, yang dapat menghalangi sampainya airwudhuke kulit. Adapun kepala, maka itu cukup mudah. Jika seorang wanita mewarnai kepalanya dengan daun pacar, maka dia bisa mengusapnya dengan penutup atau kain yang ada di atas kepala. Atau bisa juga dengan mengusapnya secara langsung. Adapun yang ada di tangan, maka harus dihilangkan.

    Bagi orang yang melakukan hal itu berulang kali dan dia tidak tahu berapa kali dia melakukannya, apalagi dia melakukannya karena tidak mengetahui hukum yang ada, maka tidak ada konsekuensi apapun untuknya. Tidak harus mengganti shalat. Tidak perlu membayar kaffarah(penebus dosa). Yang ada adalah agar dia senantiasa memperhatikan masalah ini di hari-hari yang akan datang.

    Detail
    0
    371
  • Wudhu Disertai Dengan Adanya Warna Dan Cat
  • Apakah hukum wudhu disertai dengan adanya warna seperti cat, pada bagian anggota wudhu? Apakah orang yang mengetahui hal itu setelah shalat, diharuskan untuk mengulangi shalatnya?

    الوضوء مع وجود بعض الصبغة و البويا

    Segala puji hanya milik Allah Rabb Semesta Alam.Shalawat,salamdan keberkahansemoga selalu terlimpahkepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du.

                Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala,jawaban atas pertanyaan Anda adalah:

                Yang wajib dia lakukan adalah mengulang shalat jika cat itu berada di bagian anggota tubuh dan menghalangi sampainya airwudhu. Yang demikian itu karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika melihat seorang laki-laki dan di kakinya ada bagian seukuran kuku yang belum terkena air, maka beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Kembalilah dan baguskanlah wudhumu”. Dan dalam riwayat Tirmidzi: “Kembalilah, sempurnakanlah wudhumu dan ulangilah shalatmu”. Dia wajib mengulang wudhu dan mengulangi shalatnya.

    Dan para makmum yang shalat bersama orang tersebut, tidak mendapatkan konsekuensi apapun. Shalat yang mereka lakukan tetap sah.

    Detail
    0
    603
  • Tidak Mencuci Rambut Ketika Mandi Junub
  • Apakah hukum tidak mencuci rambut pada saat mandi junub, karena adanya kesulitan ketika melakukannya?

    ترك غسل الشعر أثناء غسل الجنابة

    Segala puji hanya milik Allah Rabb Semesta Alam.Shalawat,salamdan keberkahansemoga selalu terlimpahkepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du.

                Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala,jawaban atas pertanyaan Anda adalah:

    Mengusap saja tidak cukup, meskipun ada kesulitan yang didapatkan. Akan tetapi:

                Jika bukan karena adanya kesulitan, niscaya semua orang akan menjadi pemimpin

                (Sehingga) kedermawanan bisa menjadikan miskin, dan keberanian bisa menyebabkan peperangan

    Ketika Ummu SalamahRadhiyallah ‘Anha bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia berkata: “Sesungguhnya aku mengikat rambut kepalaku, apakah aku harus mengurainya saat mandi junub?” Maksudnya, dia mengikat (mengepang rambutnya), lalu bertanya: Apakah dia harus mengurai ikatan tersebut?. Artinya, mengurai rambut ini untuk mandi junub? Dan dalam riwayat yang lain: “Dan haidh.” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak. Kamu cukup menyiramnya sebanyak tiga kali siraman.

    Menyiram disini bukan mengusap. Yang harus dia dilakukan adalah dengan mengguyurkan air. Akan tetapi saat mandi junub, dia tidak harus memasukkan atau meratakan air ke bagian dalam rambutnya, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  tidak memerintahkannya untuk melepas ikatan rambutnya. Dia hanya menyiramkan air di atas rambut. Jika dia hanya mengusap, maka dia tidak melakukan apa yang wajib dilakukan pada saat mandi.

    Ini adalah permasalahan yang sangat penting. Karena mandi itu merupakan kunci shalat. Allah Ta’ala berfirman:

    وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

    Jika kalian junub, maka mandilah.” (QS. Al-Maidah: 6).

    Sehingga kalian bisa mendapatkan pahala yang kalian harapkan dalam shalat, dan agar kewajiban atas kalian bisa ditunaikan.

    Saya nasihati saudari yang bertanya agar tidak menyepelekan masalah mandi ini. Tidak cukup dengan mengusap, akan tetapu harus meratakan air dan menyiramnya di atas kepala.

    Detail
    0
    748
muamalat
  • APAKAH KEADAAN DARURAT INI MEMBOLEHKAN RIBA?
  • Saya mendapat kesulitan yang sangat susah dalam masalah keuangan. Ibuku bersikeras agar aku mengembalikan kepadanya uang yang aku pinjam. Aku tidak mengetahui kalau keadaan darurat seperti membolehkan apa yang dilarang, yaitu meminjam dari bank. Bank tersebut tentu mengambil riba. Maka aku shalat dua rakaat. Saya meminta kepada Allah ketetapan dalam hal itu. Kemudian saya pinjam uang dari bank tersebut. Apa pendapat Anda wahai syaikh kami? Apakah istikharah yang dilakukan untuk hal yang haram dibolehkan dalam keadaan darurat?

    هل هذه ضرورة تبيح الربا ؟

    Segala puji bagi Alla. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba’du.

    Ini tidak termasuk dalam keadaan darurat yang membolehkanmu mengambil riba, karena Allah telah berfirman :

    ﴿وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ﴾ (البقرة:280)

    “Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan”Q.S. Al Baqarah : 280.

    Maka tidak wajib bagimu mengembalikan pinjaman dengan jalan haram. Dan bagi pemberi hutang agar bersabar sampai ada kemudahan. Dan ketahuilah ada beberapa ulama yang berpendapat : Sesungguhnya riba tidak dibolehkan walau dalam keadaan darurat. Pendapat yang benar bahwasanya ia seperti hal yang diharamkan yang lain menurut saya. Tetapi sepantasnya agar diketahui bahwasanya darurat tidak bisa dibolehkan dalam hal yang haram kecuali dengan dua syarat :

    Pertama            : Telah jelas bahwa perbuatan haram itu memang untuk menghilangkan keadaan yang sangat menyulitkan.

    Kedua              : Diyakini bahwa perbuatan yang diharamkan memang dalam keadaan darurat.

    Adapun istikharah tidaklah dilakukan kecuali dalam hal yang wajib dikerjkan bukan dalam masalah meninggalkan keharaman dan yang makruh. Karena istikharah adalah memilih dua hal yang baik. Dan hal yang diharamkan wajib meninggalkannya dan tidak kebaikan di dalamnya. Atau kebaikan yang tdak diketahui keburukan di dalamnya. Tapi jika maksud istikharah dalam hal yang diharamkan sedangkan ada sebab yang membolehkannya atau ketika menimbang antara dua hal yang diharamkan maka ia disyariatkan dalam hal ini istikharah.

    Dan Allah Maha Mengetahui.

    Saudaramu.

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    Detail
    0
    376
  • JUAL BELI BARANG RIBA
  • Saya berharap dari Anda untuk berkenan menjawab beberapa pertanyaan kami secara rinci karena kebutuhan yang mendesak agar bisa mengetahui jawaban dikarenakan sensitifitas dan kebingunanku setiap hari dan juga para temanku. Semoga Allah membalas kebaikan kapadamu dan Allah jadikan manfaat denganmu dan ilmumu. Jika hukum riba terbatas pada beberapa komoditi khusus, dan hadis Nabi juga sudah membatasi dalam sabdanya : ( الذهب والفضة والتمر والبر والشعير والملح والزبيب ) “Emas, perak, kurma, gandum, jelai, garam dan kismis” Dan jika ada perbedaan macam dalam jenis yang sama seperti dalam kurma contohnya tidak boleh ada perbedaan dan penangguhan penyerahan barang. Jika berbeda jenis seperti penukaran kurma dengan gandum maka dibolehkan perbedaan kuantitas dan diharamkan penundaan penyerahan barang. Jika ada jual beli antara barang yang yang berlaku hukum riba dengan selainnya maka dibolehkan perbedaan kuantitas dan penundaan penyerahan barang. Di mana disebutkan para ulama alasan pengharaman dalam komoditi riba adalah : bisa ditimbang dalam logam mulia (emas dan perak) dan bisa ditakar dan dimakan sebagai makanan pokok dalam komoditi yang lain. Apakah hukum ini berlaku dalam setiap makanan yang mungkin ditakar dan ditimbang dari golongan komoditi yang masuk dalam hukum riba? Seperti minyak, susu segar, susu yoghurt, beras, roti yang dibuat dari gandum dan sebagian jenis buah-buahan dan sayuran? Dan apakah besi yang bisa ditimbang bisa disamakan hukumnya seperti logam mulia (emas dan perak) ? Dan maksud dari semua pertanyaan ini : Jika semua jenis ini yang berlaku hukum riba nasiah, apakah pembelian komoditi ini dengan cara pembayaran yang diakhirkan termasuk riba nasiah? Khususnya banyak orang yang membeli banyak komoditi kebutuhan rumah tangga dari toko dengan cara pembayara di akhirkan dan melunasi hutangnya setiap awal bulan. Dan jenis yang dijual di toko sangat banyak seperti keju, susu, tepung, roti dari tepung, beras dan yang lain. Dan ketika ada larangan untuk melakukan yang seperti ini maka sangat menyulitkan khususnya bagi golongan masyarakat yang memiliki pendapatan yang terbatas dan gaji yang kecil, dan seyogyanya tidak ada peluasan lingkup pengharaman dalam masyarakat. Dan bagaimana cara membedakan jenis yang berlaku hukum komoditi yang boleh dibayar tidak kontan dan yang tidak boleh di mana banyak komoditi barang yang dibeli dari kebutuhan pokok makanan bisa ditakar dan ditimbang. Demikian pula banyak pemilik toko perbelanjaan membeli dengan cara grosir dari barang dagangannya berupa mentega, nasi dan yang lain dengan cara pembayaran yang diakhirkan. Apakah perbuatan mereka dibolehkan? Apa solusi bagi pemilik toko yang tidak memilki sarana selain cara seperti ini? Saya mohon kesediaan Anda bisa menjelaskan : Bagaimana cara membedakan komoditi yang berlaku hukum riba dengan yang tidak masuk dalam kondisi yang saya sebutkan ? Apa hukum membeli dari toko-toko dengan cara berhutang yang dihitung di akhir bulan dengan cara seperti ini? Apa hukum penjual membeli barang dagangan dengan cara grosir dengan cara berhutang? Apakah hukum besi seperti emas dan perak dalam penjualan yang harus ada serah terima antara penjual dan pembeli?

    مسألة في بيع الأصناف الربوية بالنقدين آجلا

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya, dan keselamatan untuk mereka.

    Amma ba’du.

    Jual beli barang yang berlaku hukum riba ada empat : kurma, sya’ir (jelai), gandum dan garam dengan logam mulia yang berbeda baik berupa emas dan perak dan yang termasuk di dalamnya maka dibolehkan dalam barang yang terdapat hukum riba secara Ijma dan tidak ada perselisihan dalam hal itu.

    Yang tidak diperbolehkan adalah dalam jual beli nasiah (tidak kontan)  yaitu barang yang berlaku riba dengan barang riba yang memiliki kesamaan alasan diharamkan riba seperti gandum dengan kurma. Harus ada taqabudh (saling terima barang) begitu pula dalam sya’ir  dengan garam, sebagaimana pula berlaku antara emas dengan perak. Adapun jika empat komoditi tadi dijual dengan emas atau perak secara tidak tunai maka boleh tanpa ada perbedaan pendapat.

    Adapun hukum besi, maka hukum yang benar dibolehkannya jual beli tanpa tunai karena ia  tidak termasuk dalam emas dan perak.

    Saudaramu.

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    11/11/1424H

    Detail
    0
    316
  • HUKUM MENJUAL MINUMAN KERAS DAN DAGING BABI
  • Apa hukum menjual minuman keras dan daging babi di negeri kaum muslimin?

    حكم بيع الخمر و لحم الخنزير

    Segala puji bagi Alla. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba’du.

    Tidak dibolehkan menjual minuman keras dan juga daging babi. Karena keduanya diharamkan dalam Al Quran dan Sunah serta Ijma. Dan telah diriwatkan dalam Shahih Bukhari (No 2236) dan Muslim (No 1851) dari Yazid bin Abi Hubaib dari Atho’ bin Abi Robah dari Jabir bahwasanya dia mendengar Nabi salallahu alaihi wa salam  bersanda :

    إن الله حرم بيع الخمر والميتة والخنزير والأصنام

    ”Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr (minuman keras), bangkai, daging babi dan berhala”

    Pengharaman ini berlaku wajib bagi orang Islam baik di negeri kaum muslimin maupun di negara kafir. Baik pembeli muslim atau kafir.

    Wallahu A’lam.

    Saudaramu.

    Prof . Dr. Kholid Al Mosleh

    28/3/1425 H.

    Detail
    0
    232
  • CARA PEMASARAN INI DIHARAMKAN
  • Kami dari perusahaan perdagangan menjual komoditi yang dibolehkan menurut syariat. Penghitungan kentungan perusahan ada dua cara : Pertama : Penghitungan secara bulanan. Kedua : Penghitungan secara tahunan. Dalam penghitungan bulanan, perusahan memberikan bonus kepada para pembeli produk senilai 600 Riyal untuk setiap pembeli. Sedangkan setiap tahun perusahan memberikan bonus bagi setiap pembeli dengan cara memberikan fee dan hadiah akhir lebih dari 5000 Riyal Saudi berasal dari keuntungan perusahaan khusus. Ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah barang dagangan dan tingkat penjualan meningkat. Perlu diketahui yang kami muliakan Syaikh, bahwasanya hadiah yang dibagikan perusahaan bukan karena saham bukan pula hak yang diperoleh karena investasi untuk para pembeli. Tetapi ia adalah hadiah semata dan ongkos dari keuntungan perusahaan secara khusus. Perusahaan membagikannya sebagai penghargaan untuk pembeli dan sebagai cara melariskan barang dagangan dan menambah keuntungan. Berdasarkan yang kami sebutkan maka sesungguhnya perusahaan tidak melakukan undian dalam pemberian fee dan hadiah yang mengakibatkan gharar. Bahkan setiap pengecer berhak atas hadiah ini dari perusahaan ketika selesai tutup buku bulanan dan tahunan. Sebagaiman bisa kami sampaikan bahwa perusahaan menggunakan metode perantara. Dan para pemasar tidak harus membeli produk. Seandainya saja ia bisa menghadirkan pembeli, maka ia berhak mendapat fee sebesar 75 Riyal untuk setiap pembeli sebagai ongkos menghadirkan pembeli. Pertanyaan saya : Apa hukum pekerjaan seperti ini ? Semoga Allah menjadikanmu bermanfaat dan semoga Allah luruskan langkamu di atas jalan kebaikan petunjuk.

    طريقة التسويق هذه محرمة

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya, dan keselamatan untuk mereka.

    Amma ba’du.

    Cara pemasaran yang ditanyakan tidak dibolehkan. Hal itu karena sesungguhnya hakikat fee tunai ini dalam muamalah termasuk dalam harga barang yang dibeli. Pembeli sudah membayar agar mendapatkan barang ketika membeli. Kemudian ia mendapat bonus uang tunai setelah tutup buku bulanan dan tahunan. Dan dalam cara yang menarik pembeli seperti ini terdapat dua macam riba : Riba Fadl dan Nasiah.

    Adapun riba Fadhl bisa terlihat ketika pembeli membayar semisal 500 Riyal untuk mendapatkan barang dagangan yang ada bonus  hadiah tunai di dalamnya senilai 600 Riyal perbulan  dan lebih dari 5000 Riyal setelah sempurna perhitungan satu tahun.

    Adapun riba Nasiah dikarenakan adanya penundaan penyerahan fee tunai ini setelah sempurna putaran satu bulan dan tahunan.

     

    Jumhur ulama berpendapat haramnya ketika pembeli secara tunai beberapa Riyal untuk mendapatkan barang yang ada bersama bonus uang tunai Riyal dalam waktu itu juga. Maka bagaimana jika bonus ini ditunda seperti dijelaskan dalam contoh maka tidak ada perselisihan pendapat di kalangan ulama tentang keharamannya. Dan tidak bisa merubah hukum permasalahan walaupun dinamakan uang tunai ini  fee atau hadiah atau nama yang lain,  karena pada hakikatnya bonus itu disyaratkan untuk pembeli dalam akad setelah sempurna perputaran keuangan tunai. Maka wajib meninggalkan cara seperti ini dan mencari cara yang menarik yang lain.

    Semoga Allah memberikan keberkahan dan meluruskan langkahmu.

    Saudaramu.

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    25/10/1424 H

    Detail
    0
    240
  • MEMBELI RUMAH DARI KREDIT BANK
  • Saya ingin membeli sebuah rumah dengan cara meminjam dari bank Islam. Pihak bank meminta kepadaku untuk membayar seperempat harga rumah dan sisa pembayaran diangsur dalam cicilan bulanan. Ketika kita memilih tempo waktu yang lebih lama maka bertambah pula biaya angsuran. Bisa diketahui bahwa pihak bank tidak memiliki rumah yang dijual dan sayalah yang mencari dan memberikan informasi kepada bank tentang rumah. Kemudian pihak bank mebayar biaya pembelian kepada pemilik rumah dan menjualnya kepadaku dengan cara angsuran sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Apa hukum jual beli seperti ini?

    شراء البيت أقساط من البنك

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya, dan keselamatan untuk mereka.

    Amma ba’du.

    Muamalah seperti ini diperselihkan oleh para ulama. Menurut saya jual beli seperti ini tidak boleh kecuali dengan  2 syarat :

    Pertama : Tidak ada syarat kewajiban bagimu untuk membeli rumah ini dari pihak bank.

    Kedua : Pihak bank tidak menjual kepadamu kecuali sudah memiliki dengan kepemilikan sempurna.

    Saudaramu.

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    13/10/1425 H

    Detail
    0
    243
  • GAJI DOSEN DAN BONUS LEMBUR
  • Seseorang bekerja sebagai dosen di sebuah universitas menanyakan : Ada diskusi dalam hal yang sudah menjadi kebiasaan di fakultas kami dan fakultas lain tentang ketidakhadiran dosen setiap hari kecuali saat jam mengajar dua atau tiga hari. Sedangkan sisa hari digunakan untuk persiapan materi dan persiapan tema dalam perkuliahan pasca sarjana dan yang semisalnya. Dan ada yang menanyakan tentang masalah kehadiran setiap hari. Maka ada yang mengatakan : Pekerjaanmu bukan dilihat dari waktu kehadiran saja tetapi dilihat dari semua yang menjadi tuntutan darimu dalam masa menyelesaikan program studi pasca sarjana secara khusus. Dan aturan pekerjaan menyatakan bahwa ia tidak ada hak untuk mengajar dalam masa ini (pendidikan pasca sarjana). Ia bertanya : 1. Apa hukum gaji yang ia ambil selama masa pendidikan (pasca sarjana). 2. Apa hukum bonus tambahan yang diberikan kampus yang dinamakan uang lembur. Sedangkan dia tidak hadir kecualai dua hari saja dan ia pulang dalam waktu yang biasa dilakukan. Apa hukum harta yang didapat dengan cara seperti ini ?

    حكم مرتب معيد الجامعة و أجرة الوقت الإضافي

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya, dan keselamatan untuk mereka.

    Amma ba’du.

    Adapun apa yang terkait dengan uang yang diambil dari upah pekerjaan maka tidak ada masalah. Karena dalam pekerjaan seperti ini berlaku tidak diwajibkannya kehadiran setiap hari sebagaimana pekerjaan yang semisalnya.

    Adapun uang tambahan tidak boleh diambil jika tidak ada pekerjaan tambahan yang sebenarnya yang membolehkan diambilnya uang seperti ini.

    Saudaramu.

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    26/10/1424H

    Detail
    0
    367
Puasa
  • Apa hukum mengkhususkan malam lailatul qadr dengan beberapa ibadah?
  • Apa hukum mengkhususkan malam lailatul qadr dengan beberapa ibadah?

    ما حكم تخصيص ليلة القدر ببعض العبادات؟

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

    Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala kami akan menjawab pertanyaanmu, kami katakan:

    Berkaitan dengan pengkhususan malam lailatul qadr; yang disyariatkan pada malam lailatul qadr yang dijelaskan oleh sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah bangun malam. Di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

    «من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه.»

    "Barangsiapa yang bangun malam lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu." Bangun malam mengandung sejumlah amal ibadah yang paling penting, paling nampak, dan paling agung setelah memuji, menyanjung, meng-agungkan, dan memuliakan Allah Ta'ala dan membaca Al-Qur`an adalah berdoa. Itulah amal ibadah yang paling penting. Oleh karena itu diriwayatkan di dalam Sunan At-Tirmidzi dari hadits Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwasanya dia berkata, "Wahai Rasulullah, apa pendapat-mu jika aku mengetahui malam lailatul qadr, apa yang harus aku ucapkan?" Beliau menjawab, "Ucapkanlah, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai kemaafan. Maka maafkanlah aku." Meskipun pada isnad hadits di atas terdapat komentar, akan tetapi dia layak untuk dijadikan sebagai hujjah. Itu menunjukkan tentang sambutan para shahabat Radhiyallahu Anhum pada malam itu untuk berdoa. Karena yang dipahami oleh Aisyah Radhiyallahu Anha dari kemuliaan malam itu adalah bahwa dia waktu untuk berdoa. Oleh karena itu dia bertanya, "Apa yang harus aku ucapkan?" Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: "Ucapkanlah, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai kemaafan. Maka maafkanlah aku."

    Jadi, yang disyariatkan pada malam itu adalah bangun malam dan bersungguh-sungguh men-carinya dengan shalat, mengagungkan dan memuliakan Allah Ta'ala, dan memperbanyak doa, terutama doa yang menggabungkan antara kebaikan dunia dan akhirat. Karena sesungguhnya apabila seorang hamba memperoleh kemaafan, maka sungguh dia telah memperoleh karunia yang agung, pahala yang besar, dan kebahagiaan yang puncak di dunia dan di akhirat. Karena sesungguhnya keburukan yang menimpa manusia di dunia adalah disebabkan kemaksiatan-kemaksiatan mereka. Sehingga apabila Allah Ta'ala telah memaafkannya, maka mereka akan selamat dari musibah-musibah yang besar. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    ﴿وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ﴾ [الشورى:30]

    Artinya: "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Asy-Syura: 30).

    Adapun di akhirat, maka sesungguhnya orang yang dimaafkan oleh Allah Ta'ala, dialah orang beruntung yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    ﴿فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ﴾ [آل عمران:185].

    Artinya: "Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung." (QS. Ali Imran: 185). Kita memohon kepada Allah Ta'ala agar mengantarkan kita semua pada malam yang mulia itu dan memberikan kita kemudahan untuk memperoleh sesuatu yang membuat jiwa-jiwa kita menjadi tenang seperti ketaatan, kebaikan, karunia, dan kenikmatan dari Rabb Maha Derma dan Maha memberi.

    Apakah pada malam itu ada keharusan umrah? Jawaban: Tidak boleh mengkhususkan umrah pada malam itu, sebagaimana tidak boleh mengkhususkan menyembelih pada malam itu dan tidak boleh mengkhususkan sesuatu pun amalan pada malam itu seperti menyembelih, nadzar untuk menyembelih, atau lain sebagainya; karena hal itu tidak diriwayatkan dari kaum salaf. Akan tetapi malam itu adalah waktu untuk semua ibadah dan untuk semua ketaatan. Maka barangsiapa yang bersungguh-sungguh pada malam itu dengan berbagai macam ketaatan dan berbagai jenis kebajikan, maka dia berada di atas kebaikan dan semoga amalannya diterima tanpa menyakini bahwa amal tersebut pada malam itu secara khusus memiliki keistimewaan tertentu. Adapun jika dia berkata, "Saya semakin semangat untuk bershadaqah di malam itu." Maka kita katakan, "Itu baik." Atau dia berkata, "Saya semakin semangat untuk membaca Al-Qur`an di malam itu." Maka kita katakan, "Itu baik." Atau dia berkata, "Saya semakin semangat untuk melakukan suatu kebajikan di malam itu." Maka itu baik. Akan tetapi yang dilarang adalah mengkhususkan amalan tertentu. Oleh karena itu diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu:

    «لا تخصُّوا يوم الجمعة بصيام ولا ليلته بقيام.»

    "Janganlah kalian khususkan hari Jumat dengan ibadah puasa dan malam harinya dengan ibadah shalat." Beliau melarang pengkhususan, yaitu seseorang meyakini keutamaan suatu amalan tertentu di suatu malam tertentu. Dalam hal ini harus tauqif (mengikat suatu amal dengan dalil); dan kita telah sebutkan perkara yang disyariatkan di dalam lailatul qadr.

    See more at: http://www.almosleh.com/ar/index-ar-show-16776.html#sthash.0a2TbaVZ.dpuf

    Detail
    0
    1
  • Apa hukum mendahulukan puasa tathawwu' atas qadha puasa?
  • Apa hukum mendahulukan puasa tathawwu' atas qadha puasa?

    ما حكم تقديم صيام التطوع على القضاء؟

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

    Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala kami akan menjawab pertanyaanmu, kami katakan:

    Jumhurulama berpendapat bahwa puasa tathawwu' sebelum mengqadha puasa adalah boleh. Dengan demikian orang yang berpuasa tathawwu' sebelum mengqadha puasa Ramadhan tetap mendapatkan pahala. Qadha puasa dalam kondisi ini merupakan perkara yang lapang, karena dia dimulai dari bulan Ramadhan sampai Ramadhan yang akan datang. Jadi seseorang boleh mengqadha puasa yang dia tanggung dan bergegas mengqadha puasa.

    Disini saya ingin mengingatkan saudara-saudara sekalian, bahwa orang yang memiliki kewa-jiban qadha puasa, maka lebih afdhal baginya untuk mengqadha puasa di sepuluh (hari pertama dari bulan Dzul Hijjah); dan itulah yang diperintahkan oleh Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu. Karena sesungguhnya dia pernah memerintahkan orang yang memiliki kewajiban qadha puasa agar segera mengqadhanya di sepuluh (hari pertama dari bulan Dzul Hijjah), karena itu termasuk di antara amalan yang paling dicintai untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Di dalam Ash-Shahih dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Allah Ta'ala berfirman, "Barang-siapa yang memusuhi wali-Ku, sungguh Aku umumkan peperangan kepadanya..." lalu Dia berfirman, "Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari perkara-perkara yang telah Aku wajibkan kepadanya..." Jadi, amalan yang paling afdhal untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala di sepuluh (hari pertama dari bulan Dzul Hijjah) adalah melaksanakan kewajiban; dan qadha puasa Ramadhan termasuk dari pelaksanaan kewajiban. Akan tetapi di tahun yang datang, yang paling utama adalah memulai dengan qadha puasa, apalagi di hari-hari tersebut lantaran agungnya pahala yang diperoleh dengan melaksanakan kewajiban di hari-hari itu. Jadi melaksanakan kewajiban di hari-hari tersebut lebih agung daripada melaksanakannya di hari-hari yang selainnya.

    Pembawa acara: Permasalahan itu tidak diketahui oleh banyak orang, yaitu tentang keutamaan antara amalan-amalan dengan cara itu. Banyak orang mengira bahwa selama dia memiliki kewajiban qadha puasa, maka yang lebih utama adalah dia memulai dengan puasa nafilah agar dia dapat menggabungkan antara keduanya. Padahal yang lebih afdhal adalah dia meng-qadha puasa terlebih dahulu.

    Syaikh: Itulah yang dipahami oleh Umar Radhiyallahu Anhu, dimana dia memerintahkan orang-orang agar mengqadha puasa di sepuluh hari pertama dari bulan Dzul Hijjah.

    See more at: http://www.almosleh.com/ar/index-ar-show-16777.html#sthash.IibI0Y8A.dpuf

    Detail
    0
    202
  • Apa hukum mendahulukan puasa enam hari dari bulan Syawal sebelum mengqadha puasa?
  • Apa hukum mendahulukan puasa enam hari dari bulan Syawal sebelum mengqadha puasa?

    ما حكم تقديم صيام الست من شوال قبل القضاء؟

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

    Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala kami akan menjawab pertanyaanmu, kami katakan:

    Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    ﴿وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ﴾ [البقرة:185]

    Artinya: "Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu." (QS. Al-Baqarah: 185). Pada ayat yang sebelumnya:

    ﴿فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ﴾ [البقرة:184]

    Artinya: "Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain." (QS. Al-Baqarah: 184). Barangsiapa yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka dia wajib mengqadhanya.

    Namun, apakah boleh berpuasa tathawwu' sebelum mengqadha puasa? Itu ditinjau secara umum. Karena permasalahan puasa enam hari dari bulan Syawal sebelum mengqadha puasa bercabang dan berasal dari keumuman itu. Jumhur ulama berpendapat bahwa sah berpuasa tathawwu' sebelum mengqadha puasa. Akan tetapi mereka berselisih pendapat. Ada yang berpendapat bahwa perkara tersebut sama selama perkaranya luas, sehingga boleh memulai puasa tathawwu' tanpa ada kemakruhan. Sedangkan mayoritas mereka berpendapat bahwa makruh memulai puasa tathawwu' sebelum mengqadha puasa, karena seyogiyanya seseorang menyibukkan diri dengan qadha puasa karena itu lebih wajib. Ada juga sekelompok ulama yang berpendapat bahwa tidak boleh memulai puasa tathawwu' sebelum mengqadha puasa; dan itu adalah madzhab Imam Ahmad Rahimahullah.

    Adapun jumhur ulama dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi'iyah, mereka berpen-dapat sah memulai puasa tathawwu' sebelum mengqadha puasa.

    Adapun permasalahan puasa enam hari dari bulan Syawal, maka ada sebuah hadits dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

    «من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهر.»

    "Barangsiapa yang puasa Ramadhan, lalu mengiringkannya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka dia seperti puasa satu tahun penuh." Apakah hadits itu keluar dari pendapat jumhur ulama, yaitu boleh memulai puasa tathawwu'sebelum mengqadha puasa? Sekelompok ulama berpendapat tidak boleh memulai puasa enam hari dari bulan Syawal. Yaitu seseorang tidak mendapatkan keutamaan puasa enam hari dari bulan Syawal kecuali setelah selesai dari mengqadha puasa, bersandarkan kepada sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: "Lalu mengiringkannya dengan enam hari dari bulan Syawal." Pendapat tersebut dinyatakan oleh sekelompok ulama fikih kalangan Hanabilah dan kalangan Syafi'iyah.

    Sekelompok ulama lainnya berpendapat bahwa "lalu" di dalam hadits itu bukan untuk ta'qib yang berarti menyempurnakan seluruh puasa Ramadhan, baik pelaksanaan maupun pengqa-dhaan. Melainkan yang dimaksud adalah bahwa enam hari itu datang setelah puasa Ramadhan untuk penyempurnaan, yaitu penyempurnaan pahala; karena kalimat dahr yang dimaksud disini adalah tahun. Jadi, puasa Ramadhan menandingi puasa sepuluh bulan dan puasa enam hari dari bulan Syawal menandingi puasa dua bulan. Sehingga dengan demikian dia telah puasa dahr yang artinya bahwa seakan-akan dia puasa setahun penuh. Oleh karena itu mereka berkata, "Tidak ada perbedaan antara puasa enam hari dari bulan Syawal sebelum mengqadha puasa atau mengqadha puasa lalu berpuasa enam hari dari bulan Syawal. Karena tujuannya berhasil dicapai."

    Selanjutnya, sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Barangsiapa yang puasa Ramadhan." Barangsiapa yang mempuasakan mayoritas Ramadhan dan tidak berpuasa di beberapa hari karena suatu udzur, maka dia tidak disifati bahwa dia tidak puasa Ramadhan. Misalnya, saya puasa Ramadhan, lalu saya safar dan tidak puasa dua hari, apakah saya bisa dikatakan telah puasa Ramadhan atau tidak? Ya, saya bisa dikatakan telah puasa Ramadhan meskipun saya punya tanggungan qadha; karena sesungguhnya itu tidak dapat keluar dari penyifatan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: "Barangsiapa yang puasa Ramadhan."

    Dengan demikian, pendapat yang saya pandang lebih rajih (kuat) dari dua pendapat di atas dan lebih dekat kepada kebenaran adalah boleh puasa enam hari dari bulan Syawal sebelum mengqadha puasa. Pada pendapat itu terdapat kelapangan bagi para wanita yang butuh meng-qadha hari-hari mereka umumnya. Juga terdapat kelapangan bagi orang-orang yang memiliki udzur yang ingin memperoleh keutamaan tersebut namun waktu mereka sempit untuk meng-qadha puasa sebelum puasa enam hari dari bulan Syawal. Akan tetapi dari sisi arahan kami katakan, "Seyogiyanya kita memulai dengan mengqadha puasa. Yaitu lebih afdhal memulai dengan mengqadha puasa lalu puasa enam hari dari bulan Syawal." Akan tetapi jika ada orang berkata, "Saya ingin memulai dengan puasa enam hari dari bulan Syawal." Maka saya tidak punya sandaran dalil yang menghalanginya untuk melakukan hal tersebut. Wallahu a'lam.

    See more at: http://www.almosleh.com/ar/index-ar-show-16778.html#sthash.0mGoJH45.dpuf

    Detail
    0
    221
  • Apa hukum menyetubuhi istri di saat puasa kafarat jima' di bulan Ramadhan?
  • Apa hukum menyetubuhi istri di tengah-tengah puasa kafarat jima' di bulan Ramadhan?

    ما حكم جماع الزوجة أثناء صيام كفارة الجماع في رمضان؟

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

    Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala kami akan menjawab pertanyaanmu, kami katakan:

    Dalam kafarat jima' di siang Ramadhan, ketika seseorang tidak mampu memerdekakan budak dan beralih ke puasa, tidak disyaratkan untuk tidak mendekati istrinya. Bahkan dia tetap boleh menikmati istrinya, akan tetapi di malam hari dan bukan di siang hari.

    Adapun berkaitan dengan kafarat zhihar, maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'alatelah mensyaratkan:

    ﴿فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا﴾ [المجادلة:4]

    Artinya: "Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur." (QS. Al-Mujadilah: 4). Maksudnya adalah bahwa tidak boleh bersetubuh dan menikmati istri kecuali setelah selesai dari puasa kafarat. Itu berkaitan dengan zhihar.

    Adapun berkaitan dengan kafarat orang yang menyetubuhi istrinya di siang Ramadhan, maka dia hanya diwajibkan berpuasa jika tidak mampu memerdekakan budak dan dia tetap boleh menikmati istrinya pada apa yang Allah Ta'ala mubahkan baginya di malam hari.

    See more at: http://www.almosleh.com/ar/index-ar-show-16779.html#sthash.9D3kjtIT.dpuf

    Detail
    0
    248
  • Apa hukum seorang wanita keluar untuk shalat Tarawih?
  • Apa hukum seorang wanita keluar untuk shalat Tarawih?

    ما حكم خروج المرأة لصلاة التراويح؟

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

    Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala kami akan menjawab pertanyaanmu, kami katakan:

    Seorang wanita keluar untuk menghadiri shalat, baik shalat nafilah ataupun shalat fardhu, termasuk di antara perkara-perkara yang sudah ada di zaman salaf shalih. Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

    «لا تمنعوا إماء الله مساجد الله.»

    "Janganlah kalian larang hamba-hamba perempuan Allah untuk mendatangi masjid-masjid Allah." Yaitu para wanita. Al-Ima` artinya budak perempuan lawan dari Al-Abid yang artinya budak lelaki. Al-Ima` jama' dari Amah. Amah artinya budak perempuan yang menyembah Allah Azza wa Jalla.

    «لا تمنعوا إماء الله مساجد الله.»

    "Janganlah kalian larang hamba-hamba perempuan Allah untuk mendatangi masjid-masjid Allah." Yaitu janganlah kalian larang mereka untuk mendatangi masjid-masjid. Larangan itu mencakup setiap kedatangan ke masjid, baik masjid itu didatangi olehnya untuk shalat fardhu ataupun untuk shalat nafilah. Bahkan sampaipun jika dia mendatangi masjid untuk menuntut ilmu, sebagaimana hal itu dikatakan oleh sekelompok ulama. Bahwa sesungguhnya dia tidak boleh dilarang untuk menghadiri majlis-masjlis ilmu di masjid.

    Jadi, larangan di dalam hadits itu mencakup setiap kedatangan ke masjid, baik untuk shalat fardhu ataupun shalat nafilah. Termasuk di antaranya shalat Tarawih. Jadi dia tidak boleh dilarang jika berkeinginan untuk datang ke masjid. Dahulu di antara salafus shalih ada yang menghadiri shalat tersebut dari kalangan kaum lelaki dan kaum wanita, sebagaimana hal itu disebutkan di dalam kitab-kitab Sirah dan dinukil dari amalan para salafus shalih. Bahkan di dalam hadits yang tadi kita sebutkan, yaitu hadits Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu:

    «لا تمنعوا إماء الله مساجد الله.»

    "Janganlah kalian larang hamba-hamba perempuan Allah untuk mendatangi masjid-masjid Allah." Bahwasanya istri Umar Radhiyallahu Anhu selalu menghadiri shalat (di masjid). Lalu dia ditanya, "Kenapa kamu menghadiri shalat (di masjid) padahal Umar cemburu dan tidak suka jika kamu keluar rumah?" Dia menjawab, "Akan tetapi kenapa dia tidak melarangku?" Maksudnya, dia berdalil dengan diamnya Umar bahwa Umar telah mengizinkannya. Lalu dikatakanlah kepadaya, "Sesungguhnya dia tidak melarangmu karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

    «لا تمنعوا إماء الله مساجد الله.»

    "Janganlah kalian larang hamba-hamba perempuan Allah untuk mendatangi masjid-masjid Allah."

    See more at: http://www.almosleh.com/ar/index-ar-show-16780.html#sthash.0fyimE6l.dpuf

    Detail
    0
    12
  • Apa hukum mengikat beberapa mathla' dengan mathla' Mekah dalam hal puasa dan lain sebagainya?
  • Apa hukum mengikat beberapa mathla' dengan mathla' Mekah dalam hal puasa dan lain sebagainya?

    ما حكم ربط المطالع بمطلع مكة في الصيام وغيره؟

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

    Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala kami akan menjawab pertanyaanmu, kami katakan:

    Para ulama memiliki pembahasan panjang lebar tentang permasalahan ini -yaitu permasalahan ketetapan bulan-. Hukum asal dalam permasalahan ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

    ﴿فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ﴾ [البقرة:185]

    Artinya: "Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu." (QS. Al-Baqarah: 185). Jadi hukum itu berkaitan dengan menyaksikan bulan; dan menyaksikan bulan dilakukan dengan melihat hilal lantaran hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma:

    «صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته.»

    "Bepuasalah karena melihatnya dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya." Di dalam hadits yang lain disebutkan:

    «لا تصوموا حتى تروه، ولا تفطروا حتى تروه.»

    "Janganlah berpuasa sampai kalian melihatnya; dan janganlah berbuka (berhari raya) sampai kalian melihatnya." Juga dengan menyempurnakan bilangan bulan Sya'ban lantaran Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda:

    «فإن غُمَّ عليكم أو غُبي عليكم –كما في حديث ابن عمر- فأكملوا عدة شعبان ثلاثين يوماً.»

    "Jika dia tertutup atau terhalang atas kalian -sebagaimanayang tercantum dalam hadits Ibnu Umar- maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya'ban tiga puluh hari."

    Itulah cara-cara untuk menetapkan bulan. Cara-cara tersebut apakah berlaku khusus bagi daerah dan pihak tertentu atau dia berlaku umum? Dimana apabila hilal itu terlihat di suatu tempat, apakah penglihatan itu berlaku umum bagi seluruh penjuru negeri?

    Dalam hal ini para ulama memiliki dua pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa masing-masing daerah melihat hilalnya sendiri-sendiri, dan itu biasa dikenal dengan ikhtilaf mathali'. Ini adalah madzhab Imam Syafi'i Rahimahullah.

    Jumhurulama berpendapat bahwa apabila hilal itu terlihat di suatu daerah, maka itu berlaku umum dan hukumnya mengena ke seluruh negeri Islam. Itu adalah madzhab para ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah.

    Jadi, para ulama berselisih pendapat tentang permasalahan itu.Namun secara realitas praktis, permasalahan ini belum terselesaikan; dantidak ada ruang untuk ijtihad sehubungan dengan individu, terutama individu-individu yang berada di negara-negara Islam. Sehingga mereka harus mengikutiapa yang diumumkan oleh negara-negara mereka. Di dalam hadits yang telah diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan yang lainnya dari hadits Aisyah Radhiyallahu Anha dan dari hari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

    «الصوم يوم تصومون، والفطر يوم تفطرون، والأضحى يوم تضحون.»

    "Puasa adalah hari kalian berpuasa. Idul fitri adalah hari kalian berbuka. Idul adha adalah hari kalian berkurban." Di dalam riwayat kedua beliau bersabda:

    «الصوم يوم يصوم الناس، والفطر يوم يفطر الناس، والأضحى يوم يضحي الناس.»

    "Puasa adalah hari orang-orang berpuasa. Idul fitri adalah hari orang-orang berbuka. Idul adha adalah hari orang-orang berkurban." Itu menunjukkan bahwa seseorang mengikuti daerah yang meliputinya. Jadi, apabila orang-orang berpuasa, dia harus berpuasa. Apabila orang-orang berhari raya, dia harus berhari raya.

    Oleh karena itu kita katakan secara realitas praktis, "Sesungguhnya setiap negara mengikuti rukyah yang diumumkan atau pihak-pihak yang mengabarkan tentang ketetapan bulan."

    Permasalahan menyatukan negara-negara Islam dalam satu mathla' adalah madzhab fikih, bahkan itu adalah madzhab jumhur ulama. Akan tetapi madzhab-madzhab tersebut hanyalah teori yang tidak dapat diterjemahkan dalam realitas praktis selama perkaranya tetap masih seperti ini, yaitu bahwa setiap negara memiliki pihak berwenang yang mengumumkan tentang rukyah hilal dan mengabarkan orang-orang tentang masuk dan keluarnya bulan.

    See more at: http://www.almosleh.com/ar/index-ar-show-16781.html#sthash.Agm4Ch3J.dpuf

    Detail
    0
    219
aqeedah
  • Perkataan kita untuk ahli kitab : Saudara kita
  • Apa hukum perkataan sebagian orang ketika membicarakan tentang kaum Yahudi dan Nashrani dengan mengatakan: ”Saudara kita,” apakah diperkenankan mengucapkannya dengan maksud “saudara dalam kemanusiaan”? dan apakah pada firman Allah Ta’ala:

    ﴿وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوْداً﴾ (الأعراف:65 وهود:50)

    Artinya: ”Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud.” QS. Al-A’raf (Tempat tertinggi): 65 dan Hud: 50.

    Apakah terdapat dalil disyariatkannya perkataan tersebut?

    قولنا لأهل الكتاب: إخواننا

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan barakah Allah atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau.  
    Amma ba’du
    Al-Ukhuwwah (persaudaraan) pada dasarnya bermakna orang yang memiliki hubungan denganmu dalam persalinan; kemudian pemakaiannya menjadi luas untuk setiap yang memiliki hubungan dengan orang lain dalam satu kabilah, pekerjaan, agama, muamalah, kecintaan dan berbagai makna dan kepentingan lainnya; ketika persaudaraan agama merupakan ikatan dan hubungan paling kuat, maka Allah Ta’ala jadikan hubungan ini khusus untuk orang beriman bukan selain mereka, Allah Ta’ala berfirman:

    ﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾ (الحجرات: 10).

    Artinya: ” Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).
    Asy-Syafi’i berkata dalam kitab Al-Umm (6/40): ”Allah jadikan tali persaudaraan antara sesama orang yang beriman, dan Allah putus hubungan antara orang yang beriman dan orang kafir”. Persaudaraan ini tidaklah tetap melainkan untuk orang yang memiliki keimanan, Allah Ta’ala berfirman:

    ﴿فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآياتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ﴾(التوبة: 11).

    Artinya: ”Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At-Taubah :11).
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam kitab Syarh Al-'Umdah (hal. 73): ”Allah kaitkan persaudaraan dalam agama dengan taubat dari kesyirikan, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan sesuatu yang dikaitkan dengan syarat, maka akan tiada manakala syaratnya tidak terpenuhi, maka siapa yang belum mengerjakan syarat tersebut dia bukan saudara dalam agama dan siapa yang bukan saudara dalam agama maka dia kafir.”

    Adapun seperti disebutkan dari penyandaran persaudaraan kepada bukan muslim, seperti firman Allah Ta’ala:

    ﴿وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوداً﴾ الأعراف : 65.

    Artinya: ”Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud.” (QS. Al-A’raf:65).

    ﴿وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحاً﴾ الأعراف : 73.

    Artinya: ”Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh.” (QS. Al-A’raf:73).


    ﴿وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْباً﴾ الأعراف : 85.

    Artinya: ”Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib.” (QS. Al-A’raf: 85).

    Dan ayat-ayat semisalnya, maka persaudaraan ini adalah persaudaraan dalam nasab ataupun sebab, disebut dalam konteks kabar bukan membuat hukum, berbeda dengan konteks persaudaraan keimanan, yang membawa implikasi beberapa hukum dan kewajiban, seperti dalam firman Allah:


    ﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾ (الحجرات: 10).

    Artinya: ”Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat :10).


    Seperti dalam hadits riwayat Al-Bukhari (6591) dan Muslim (2568) dari jalan Abdullah Ibnu Umar –semoga Allah meridlai keduanya- bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

    (الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةَ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ)

    Artinya: ”Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, hendaknya dia tidak menzalimi dan membiarkannya, siapa yang membantu kebutuhan saudaranya niscaya Allah akan selalu memenuhi kebutuhannya”. Dan teks-teks lainnya.

    Maka menurut pendapatku tidak boleh mengungkapkan persaudaraan secara mutlak kepada orang kafir, karena Allah Ta’ala telah memutus hubungan antara orang yang beriman dan orang kafir. Dan juga dalam hal ini terjadi pengkaburan hukum yang mengakibatkan kerusakan dalam hukum, bercampur aduk kewajiban dan melemahnya ikatan persaudaraan keimanan.

    Adapun jika pernyataan tersebut diikat dengan persaudaran satu garis keturunan atau karena satu sebab, dan tidak terdapat kerancuan di dalamnya, sebagaimana disebutkan dalam Ayat-ayat Al-Qur’an yang telah lalu, maka tidak mengapa; karena dapat dibedakan dengan persaudaraan agama yang mengharuskan adanya hak dan kewajiban, begitu pula hukumnya jika maksud dari ucapan tersebut hanya untuk panggilan sebagaimana digunakan oleh sebagian orang; yang penting adalah kehati-hatian pada perkara yang rancu.

    Adapun pernyataan persaudaraan secara mutlak kepada Yahudi dan Nashrani atas dasar kemanusiaan, maka hal ini termasuk dari permasalahan yang tidak ada keraguan lagi bagi orang yang mengetahui ilmu syariat dan faham akan implikasi dari perkataannya, bahwa pernyataan ini tidak boleh, karena syariat Islam yang lurus ini tidak berdiri di atas tali persaudaraan dan ikatan kekeluargaan semacam ini, dengan secara khusus, padahal hubungan kekeluargaan sudah ada pada waktu diturunkannya syariat, akan tetapi panggilan dalam syariat ditujukan secara umum bagi kaum muslimin dan juga kaum kuffar, firman Allah: ”Wahai manusia”, “Wahai anak keturunan Adam”; dan juga jika seseorang memeriksa referensi keislaman pada setiap macam cabang ilmunya dari tafsir, hadits, fikih dan lainnya maka aku kira dia tidak akan menemukan satu kalimat pun dari perkataan ulama Islam dan para imam agama yang berbasa-basi dengan membolehkan menyatakan persaudaraan dengan orang kafir berdasarkan persaudaraan kemanusiaan.

    Termasuk dalil pengharaman menamakan kuffar sebagai saudara bagi kaum muslimin adalah karena hal tersebut akan menjadikan sama antara orang yang sudah Allah bedakan kedudukannya dintara mereka, seperti dalam firman Allah Ta’ala:

    ﴿أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ﴾(ص: 28).

    Artinya: ”Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma'siat?” (QS. Shaad: 28).


    Dan Firman Allah Ta’ala:

    ﴿أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ﴾ (الجاثية: 21).

    Artinya: ”Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu”. (QS. Al-Jatsiyah: 21).

    Dan termasuk dalil yang menekankan keharaman menamakan kuffar sebagai saudara bagi kaum muslimin adalah bahwa para penggerak kerusakan dan kejahatan mereka menjadikan slogan “persaudaraan kemanusiaan” sebagai perantara dan anak tangga dengan tujuan meremehkan persoalan kekufuran, menerima orang kafir, mencintai mereka dan loyal kepada mereka, sebagaimana mereka gunakan juga untuk alat sosialisasi kebanyakan dari pemikiran mereka yang melenceng dan proyek-proyek kejahatan mereka; termasuk kaedah yang telah disepakati adalah sesuatu yang dijadikan alat untuk melakukan perbuatan haram, maka alat tersebut juga haram, maka bagaimana jika kedua-duanya hukumnya haram?

    Pada bagian penutup, penting untuk disampaikan bahwa memutus tali persaudaraan antara orang yang beriman dengan orang kafir tidak menjustifikasi akan bolehnya menyia-nyiakan hak-hak orang kafir yang dijaga, dan tidak berimplementasi kepada pembredelan hak-hak mereka. Hak mereka tetap terjaga dan kehormtan mereka terpelihara, selama mereka masih memiliki suaka Islam, baik dengan dzimmah (tanggungan), perjanjian atau suaka pengamanan.

    Wallahu a’lam.

     

    Saudaramu,
    Prof. Dr. Khalid bin 'Abdullah Al-Mushlih

    03/01/1425 H

    Detail
    0
    602
  • Hukum hijrah ke luar negeri ke negara barat
  • Apa hukum hijrah (berpindah tempat) ke luar negeri, ke Eropa seperti: Kanada dan lainnya dengan niat domisili selamanya?

    حكم الهجرة إلى الخارج إلى دول الغرب

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan barakah Allah atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau.  
    Amma ba’du
    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

    (أَنَا بَرِيْءٌ مِنَ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيْمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِيْنَ)

    Artinya: ”Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah-tengah kaum musyrikin”.


    Hal ini menunjukkan bahwasannya tidak diperkenankan untuk seorang muslim tinggal di antara kaum kuffar sedangkan dia mampu untuk pindah dari tempat mereka, kecuali jika terdapat maslahat atau kebutuhan, dan hal ini pun sekedarnya, adapun pindah ke negara mereka untuk tinggal menetap, maka tidak ada keraguan dalam keharamannya, karena terdapat fitnah padanya.

    Detail
    0
    421
  • Hukum ucapan kita la qaddarallah (semoga Allah tidak mentakdirkannya)
  • Sebagian orang ketika membicarakan kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak disukai berkata: ”Jika memang benar terjadi, la qaddarallah (semoga Allah tidak mentakdirkannya), maka akan...”, Apakah perkataannya menyelisihi syariat?

    حكم قولنا: لا قدر الله

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan barakah Allah atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau.  
    Amma ba’du
    Sebagai jawaban atas pertanyaan Anda, maka kita katakan dan Allah Ta’ala sebagai pemberi taufik:
    Aku tidak menemukan do'a semacam ini sebatas bacaanku dalam kitab-kitab hadits, tidak pula dari perkataan salaful ummah (para sahabat, tabi’in dan atba’ut tabi’in) dan perkataan para Imam, yang aku pahami bahwa orang tersebut meminta kepada Allah Ta’ala agar tidak menimpakan keburukan atasnya di kemudian hari, do'a semacam ini juga terdapat dalam do'a-do'a yang ada dalam kitabullah Ta’ala dan As-Sunnah, seperti firman Allah Ta’ala:


    ﴿رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ﴾ (آل عمران: 194).

    Artinya: ”Wahai Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji." (QS. Ali Imran: 194).
    Dan perkataan Ibrahim dalam doanya:

    ﴿وَلا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ﴾ (الشعراء: 87).

    Artinya: ”Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Asy-Syu’ara: 87).

    Dan doa di akhir surat Al-Baqarah:

    ﴿رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا﴾(البقرة: 286).

    Artinya: "Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.” (QS. Al-Baqarah: 386).


    Dan doa Nabi yang semakna dengannya adalah doa ketika shalat jenazah:

    ((اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ))

    Artinya: ”Ya Allah, jangan Engkau haramkan pahalanya bagi kita, dan jangan Engkau sesatkan kita setelah meningggalnya.” (HR. At-Tirmdzi dan lainnya, dari hadits Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya-)

    Dan banyak do'a semacamnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka hal ini tidak mengapa dan termasuk dalam hal yang disyariatkan dalam berdoa, namun yang membedakan dengan yang telah kita sebutkan adalah doa dengan lafazh ini  la qaddarallah (semoga Allah tidak mentakdirkannya) bermakna meminta kepada Allah agar tidak terjadi, bukan agar tidak melakukan, kedua hal ini berbeda; adapun yang pertama meminta kepada Allah agar tidak terjadi, aku tidak hafal dalil yang menguatkan hal ini dan aku tidak tahu keberadaan doa seperti ini –sepanjang penelitian dan pencarianku-, dan doa yang semakna dengan ini termasuk doa yang yang tidak disyariatkan sebagaimana disebut dalam hadits, karena Ummu Habibah ketika berkata: "Ya Allah, biarkan aku menikmati dengan keberadaan Rasulullah, bapakku Abu Sufyan dan saudaraku Mu’awiyah di sisiku, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

    ((قَدْ سَأَلْتِ اللهَ لِآجَالٍ مَضْرُوبَةٍ، وَأَيَّامٍ مَعْدُودَةٍ، وَأَرْزَاقٍ مَقْسُومَةٍ، لَنْ يُعَجِّلَ شَيْئًا قَبْلَ حِلِّهِ، أَوْ يُؤَخِّرَ شَيْئًا عَنْ حِلِّهِ)).

    Artinya: ”Engkau telah meminta kepada Allah ajal yang telah ditetapkan, dan hari yang telah ditentukan, dan rezeki yang telah dibagikan. Allah tidak akan mempercepat sesuatu sebelum terjadi, atau mengakhirkan sesuatu dari waktu terjadinya.” (HR. Muslim, no. 2663).

    Yang jelas menurutku, bahwa sebaiknya do'a dengan lafazh semacam ini ditinggalkan, dan meminta untuk dipalingkan dari bahaya dan dari sesuatu yang dibenci.

    Wallahu ta’ala a’lam.

    Saudaramu,
    Prof. Dr. Khalid bin Abdullah Al-Mushlih

    Detail
    0
    732
  • Orang yang membantu kuffar dalam peperangan mereka
  • Bagaimana cara membantah orang yang mengkafirkan orang yang membantu kuffar dalam peperangan mereka dengan kaum muslimin?

    من يعاونون الكفار في حربهم

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan barakah Allah atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau.  
    Amma ba’du

    Sebagai jawaban atas pertanyaan Anda, maka kita katakan, dan Allah Ta’ala sebagai pemberi taufik:

    Permasalahan ini merupakan permasalahan yang besar dan berbahaya, terbentuk darinya beberapa hukum, dan aku kira tidak dapat dibahas dalam tingkatan ini dengan cara simpel, baik dari prolog maupun hasil akhirnya, karena menetapkan hukum kafir pada perorangan membutuhkan pemeriksaan pada jenis perbuatannya, apakah perbuatan kekufuran ataukah tidak dilihat dari dalil-dalil syariat; jika telah Anda buktikan bahwa perbuatannya merupakan kekufuran, pemeriksaan yang kedua, Anda butuh untuk membuktikan juga ketepatan aplikasi hukum pengkafiran terhadap seseorang tersebut, yaitu dengan memeriksa terkumpulnya syarat dan terhilangnya penghalang, ini langkah yang ditempuh ketika akan mengkafirkan perorangan, dan perkaranya mudah jika dilihat dari sisi mudahnya mendapatkan informasi tentang satu orang, maka bagaimana jika hal tersebut dilakukan kepada sesuatu yang lebih sulit dan lebih rumit, yang berkaitan dengan interaksi antar negara; maka tentunya yang pertama : harus mendapatkan bukti yang menetapkan kejadiannya secara jelas tanpa ada kerancuan, kemudian memeriksa hukum untuk kejadian ini, selanjutnya memeriksa kelengkapan syarat-syarat dan ketiadaan penghalang.

    Oleh karena itu, saya ingatkan Anda untuk tidak terjatuh dalam permasalahan yang sangat rawan terjadi pada orang yang terlalu cepat dan tergesa-gesa dalam menghukumi kafir tanpa dasar ilmu dan bukti.

    Saya ingatkan juga bagaimana keadaan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersama orang munafik yang kekafirannya jelas terbukti dengan melalui wahyu dari Rabb semesta alam, bagaimana beliau bersama mereka dan bagaimana muamalah beliau dengan mereka.

    Detail
    0
    379
  • Pengkafiran pemerintah
  • Ada beberapa teman perempuanku berkata: ”Selama pemerintah berhukum dengan hukum yang menyalahi syariat Allah, dan telah tertera dalam Al-Qur’an bahwa yang berhukum dengan selain hukum Allah maka dia kafir, maka kita bisa saja mengkafirkan pemerintah”; aku tidak menemukan cara untuk membantah mereka, dan aku juga tidak tahu bagaimana meyakinkan diriku bahwa pernyataan ini salah.

    تكفير الحكام

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan barakah Allah atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau.  
    Amma ba’du
    Sebagai jawaban atas pertanyaan Anda, maka kita katakan dan Allah Ta’ala sebagai pemberi taufik:
    Pengkafiran pemerintah dan orang selain mereka secara mutlak termasuk metode sesatnya Khawarij, yang seharusnya adalah, hati-hati dan tidak terburu-buru dalam masalah pengkafiran, karena permasalahan ini membutuhkan dua perkara:

    Pertama: mencari bukti kebenaran bahwa perbuatan yang telah dilakukan oleh seseorang itu adalah perbuatan yang menjadikan pelakunya kafir.

    Kedua: Terkumpulnya syarat dan terhilangnya penghalang untuk menurunkan hukum pengkafiran pada seseorang.

    Detail
    0
    310
  • Perkataan seseorang : Pertanyaan : “Jikalau hari menghianati perjanjian kita”
  • Aku telah membaca kumpulan syair Imam Asy-Syafi’i, diantaranya terdapat syair:

    وَمَا أَنَا رَاضٍ مِنْ زَمَانِي بِمَا تَرَى**وَلَكِنَّنِي رَاضٍ بِمَا حَكَمَ الدَّهْـُر

    فَإِنْ كَانَتِ الأَيَّـامُ خَانَتْ عُهُوْدَنَـا**فَإِنِّي بِهَا رَاضٍ وَلَكِنَّهَا قَهــر

    Artinya: Dan aku tidaklah ridha dari zamanku dengan apa yang kamu lihat. Akan tetapi aku ridha dengan apa yang telah ditakdirkan zaman. Jikalau hari mengkhianati perjanjian kita, Maka aku ridha dengannya, akan tetapi dia memaksa.

    Apa komentar anda -semoga Allah menjaga Anda- atas perkataan beliau, “Jikalau hari mengkhianati perjanjian kita,” bukankah pelaku dalam waktu itu Allah?

    قول القائل:فإن كانت الأيـام خانت عهودنـا

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan barakah Allah atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau.  
    Amma ba’du
    Sebagai jawaban atas pertanyaan Anda, maka kita katakan, dan Allah Ta’ala sebagai pemberi taufik:

    Telah datang riwayat yang Shahih dari hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    ( لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ )

    Artinya: "Janganlah kalian mencela Ad-Dahr (waktu/zaman) karena Allah adalah Ad-Dahr”.

    Dalam riwayat lain:

    (يُؤْذِيْنِي ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ، وَأَنَّ الدَّهْرَ، بِيَدِي الأَمْرُ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ)

    Artinya: ”Anak adam telah menyakiti-Ku, dia cela Ad-Dahr (waktu), sedangkan Akulah (pengatur) Ad-Dahr itu, berada di tanganku semua urusan, aku putar balikkan malam dan siang.”

    Maka, seorang mukmin dilarang untuk mencela zaman, baik secara khusus ataupun secara umum; tidak pula secara sebagian, seperti mecela jam, hari atau bulan ataupun secara menyeluruh, seperti mencela zaman dan waktu, karena hal ini termasuk dalam larangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

    Adapun bait syair yang Anda sebutkan, maka kita butuh untuk pertama: Mengecek kebenaran bahwa bait syair tersebut milik Asy-Syafi’i. Kemudian, jika memang benar itu perkataan beliau, maka yang menjadi referensi adalah perkataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

    Dan kita katakan, barangkali belum sampai kepada Asy-Syafi’i hadits larangan, atau dapat kita pahami bahwa maksud dari beliau adalah sekedar menginformasikan atau menyampaikan, bukan diartikan mencela atau menghina, karena mensifati zaman dengan ungkapan mengandung celaan bukan dengan maksud mencela, tapi dengan tujuan pemberitahuan itu dibolehkan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

    ﴿فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ﴾ (فصلت: 16).

    Artinya: ”Dalam beberapa hari yang sial.” (QS. Fushshilat: 16).

    Mensifati hari dengan sial di sini bermakna 'aib, tapi tidak bermaksud mencela, hanya mensifati hari dengannya. Wallahu a’lam.

    Detail
    0
    341
NIKAH HAL
  • Menikahi bayi menyusui
  • Aku pernah meng-uploud gambar fatwa Al-Khumaini pada satu group diskusi di internet tentang bolehnya menggauli bayi, dan aku terkejut dengan bantahan seorang rafidli (orang syi’ah) yang menjelaskan bahwa hal tersebut dibolehkan oleh sebagian ulama dalam buku-buku fikih, dan aku tidak bisa membantahnya sampai sekarang, sebelum meminta penjelasan masalah ini dan mengetahui maksud dari ulama kita tentang bolehnya menikahi bayi yang menyusu, dia menyebutkan nama dua buku tapi aku tidak ingat sekarang namanya, tapi aku cek dari salah satu buku aku kira pengarangnya bernama Al-Maqdisi, dan benar aku temukan teks yang dia tulis dan aku tidak menemukan jawaban, penjelasan atau tafsir dari pernyataan tersebut.

    نكاح الرضيعة

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan keberkahan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau. 

    Amma ba’du.

    Yang pertama kali aku nasehatkan adalah janganlah engkau memasuki medan yang tidak engkau kuasai, dari perdebatan atau diskusi, karena salaf dengan ilmu mereka yang sangat banyak dan keyakinan yang sangat kokoh mereka enggan untuk melakukan perdebatan dengan ahli batil, banyak dinukil dari mereka larangan tentang hal itu, maka aku nasehatkan engkau untuk konsisten dengan jalan mereka, adapun apa yang sebagian mereka lakukan itu karena telah jelas bagi mereka maslahat debat dan besarnya manfaat, dan sebagian lain melakukannya karena terdesak, sebagaimana disampaikan oleh Al-Imam Ahmad –semoga Allah merahmatinya-:”Kita diperintahkan untuk diam, namun kita dipanggil untuk melakukan sesuatu yang harus kita lakukan untuk membantahnya dan menjelaskan duduk permasalahannya hingga sirna kerancuan dari perkataan mereka”. Beliau juga berkata :”Kita dahulu diam, hingga kita terpanggil untuk berbicara maka kita sampaikan”, jika memang diharuskan untuk berbicara maka seseorang harus memiliki ilmu yang kuat yang bisa menjawab syubhat (kerancuan) orang yang berusaha memasukkan kerancuan dan menangkal kesesatan mereka.

    Adapun yang berkaitan dengan menikahi anak kecil, maka yang dikatakan oleh Ibnul-Munzir adalah:”Para ahli ilmu yang kita hafal dari mereka telah ijma’, bahwa menikahi –seorang bapak menikahkan- anak gadis kecilnya adalah boleh, jika calon suaminya sekufu”, maka yang dimaksud adalah melakukan akad nikah, adapun jimak dan menggaulinya maka tidak mungkin terjadi kecuali jika telah sampai umur yang mampu dengannya melakukan hal itu, sebagian dari ulama membatasinya dengan umur Sembilan tahun, dan pembatasan ini berlaku dari kebanyakan, jika ternyata seorang perempuan belum mampu melakukannya pada umur sekian maka tidak boleh, karena akan mendatangkan bahaya.

    Adapun nikah mut’ah yang engkau sebutkan, maka tidak difahami melainkan jimak dan permulaannya, karena maksud dari nikah mut’ah adalah hanya bersenang-senang, dia membayar sejumlah uang hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk sesuatu yang dengannya berlangsung sebuah akad pernikahan yang mewujudkan ikatan, hak dan kewajiban, maka jelas berbeda jenis pernikahan yang dikatakan oleh ulama ahlis-sunnah dengan apa yang disampaikan oleh Al-Khumaini semoga Allah membalasnya dengan balasan yang setimpal, wallahu a’lam.

    Saudaramu

    Prof. DR Khalid Al-Muslih

    Detail
    0
    363
  • Bersetubuh dengan isteri di kamar mandi
  • Apa hukum suami menggauli isterinya di kamar mandi?

    جماع الزوجة في الحمام

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan keberkahan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau. 

    Amma ba’du.

    Sebagai jawaban atas pertanyaanmu maka kita katakan dan Allahlah pemberi taufik:

    Hukum jimak di kamar mandi mungkin bisa diambil hukumnya dari “tinggal di dalam kamar mandi melebihi dari kebutuhan”, jumhur ulama berpendapat tentang makruhnya tinggal di dalam kamar mandi melebihi dari kebutuhan, ulama mazhab hanbali berpendapat dengan keharaman hal tersebut; telah disyariatkan bagi seorang muslim untuk berlindung kepada Allah Ta’ala dari setan laki-laki dan setan perempuan, sebagaimana dalam hadits shahihain dari hadits Syu’bah bin Abdul-Aziz bin Shuhaib dari Anas bin Malik berkata : Dahulu Rasulullah jika masuk kekamar mandi berdoa:

    «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِ»

    Artinya :”Ya Allah aku berlindung kepadamu dari setan laki-laki dan setan perempuan”.

    Sebabnya adalah bahwa tempat buang hajat dan termasuk juga kamar mandi adalah tempat untuk sesuatu yang buruk dan dibenci, begitu pula penghuninya, Al-Khubts bermakna keburukan, dan Al-Khaba’its adalah setan-setan.

    Oleh karena itu menurut pendapatku bahwa tidak layak bagi seorang muslim menggauli isterinya di tempat seperti ini, karena tempat ini adalah tempat tinggal mereka (para setan), kemudian beresiko pula terhadap dirinya dan isterinya untuk kemudian diganggu oleh setan-setan, karena mereka dapat menguasai manusia di saat keadaan lemah, baik karena senang, sedih ataupun klimaks, dan sebagaimana diketahui disaat jimak seseorang mengalami keadaan ini, Ibnu Muflih dalam kitab Al-Furu’ menukilkan dari Ibnu Jazlah dari Ibnu Jami’ Ash-shaidawi ketika menyebutkan perihal larangan di kamar mandi, berkata :”Dan hendaknya dijauhi jimak di kamar mandi”, sebagai pengetahuan, maksud dari kamar mandi adalah tempat untuk mandi bukan WC. Ini jawabanku dan Wallahu a’lam.

    Detail
    0
    945
  • Suami dari ibu yang menyusui apakah terhitung mahram untuk isteriku?
  • Aku laki-laki yang telah menyusu pada salah seorang perempuan yang telah menjadi Ibu persusuanku, pertanyaannya adalah : Apakah isteriku juga menjadi mahram bagi suami ibu persusuanku begitu pula anak-anakku? Beri aku fatwa secepatnya dan terima kasih.

    زوج الأم من الرضاعة هل يعد محرما لزوجتي

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan keberkahan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau. 

    Amma ba’du.

    Sebagai jawaban atas pertanyaanmu maka kita katakan dan Allahlah pemberi taufik :

    Ya, jumhur ulama menyatakan bahwa haram dengan persusuan sebagaimana haram dengan perbesanan, dan ini pendapat kebanyakan ahli ilmu dari ulama mazhab dan lainnya, sebagian ulama lainnya berpendapat mempersempit hukum untuk yang haram dengan melalui jalur nasab saja, karena hadits riwayat shahihain dari hadits Aisyah:

    «يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ»

    Artinya :”Haram melalui persusuan sebagaimana haram melalui nasab”. Tanpa menyebut perbesanan, dan ini pendapat Ibnu Taimiah dan Ibnul-Qayyim, dan yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, oleh karena itu isterimu tidak perlu berhijab dari bapak persusuanmu, selama tidak ada kerancuan, jika terdapat kerancuan maka wajib untuk berhijab saat itu.

    Detail
    0
    339
  • Menikah dengan isteri kedua dan enggan bermalam di isteri pertama
  • Aku menikah 16 (enam belas tahun) yang lalu, kemudian aku menikah dengan wanita lain yang memiliki kedudukan yang tinggi, dan aku mencintainya dan dia tidak sanggup menanggung beban kepergianku kerumah isteri pertama, karena takut kehilangan dia maka aku tidak pernah pergi kerumah isteri pertama sama sekali selama lebih dari empat bulan hingga aku putuskan akan mentalak isteri pertama, perlu diketahui bahwa isteri pertamaku telah aku talak sebelumnya sebanyak dua kali, namun dia menerima keadaannya untuk melanjutkan pernikahan dengan tanpa talak, apakah aku berdosa jika tidak menggaulinya selama empat bulan, sebagai maklumat aku tidak membencinya, hanya lebih mengutamakan yang kedua dan tidak mau kehilangan dia, aku berharap kepada anda, tolong jawab pertanyaanku, isteri pertamaku memiliki angan-angan aku akan kembali kepadanya suatu saat nanti, dan rela dengan pernikahan keduaku.

    تزوج بثانية ورفض المبيت عند الأولى

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan keberkahan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau. 

    Amma ba’du.

    Sebagai jawaban atas pertanyaanmu maka kita katakan dan Allahlah pemberi taufik:

    Jika isteri pertamamu telah merelakan haknya dan engkau tahu tidak ada sesuatu yang ditakutkan baik kerusakan ataupun fitnah karena tidak engkau pergauli, maka boleh untuknya pilihan tersebut, hanya aku nasehati engkau untuk bertakwa kepada Allah dan engkau pergauli dia hingga engkau dapat memenuhi kebutuhannya, karena dia memiliki kebutuhan yang sama sepertimu, dan tidak boleh mengharap ridla isteri kedua dengan menanggalkan hak isteri pertama, karena hal ini termasuk dari perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5152) berkata : Telah memberitahukan kepadaku Ubaidullah bin Musa, dari Zakaria yaitu Ibnu Abi Zai’idah dari Sa’ad bin Ibrahim, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

    «لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تَسْأَلُ طَلاَقَ أُخْتِهَا، لِتَسْتَفْرِغَ صَحْفَتَهَا، فَإِنَّمَا لَهَا مَا قُدِّرَ لَهَا»

    Artinya :”Tidak halal bagi seorang isteri meminta talak saudarinya, agar dapat menguasai piringnya (agar madunya tidak mendapat bagian), karena sesungguhnya bagi dia apa yang telah ditakdirkan untuknya”.

    Detail
    0
    337
  • Berbohongnya seorang isteri kepada suaminya
  • Aku seorang isteri, tapi sering terjadi perselisihan dengan suamiku, karena aku memiliki sifat temperamental, aku berusaha untuk tidak terlibat percekcokan dengannya, akan tetapi tetap saja aku yang selalu memulai, alhamdulillah aku berniat untuk taubat dan menyempurnakan kewajibanku kepadanya, akan tetapi terkadang aku pura-pura menampakkan kecintaan dan berinteraksi dengan baik dengannya hanya karena Allah memerintahkannya saja, padahal di saat yang sama, aku sembunyikan di hatiku kebalikan dari semua itu, apakah perbuatan ini haram?? Aku menipu suamiku dengan perasaanku? Pertanyaan yang lain –jazakumullahu khairan- Ibuku adalah ibu rumah tangga yang merangkap profesi sebagai guru pada satu madrasah, tentu beliau memiliki pemasukan bulanan, dan beliau juga menyantuni Ibu dan saudara laki-lakinya, karena kondisi ekonominya lemah, ditambah dengan hutang-hutang, tanpa sepengetahuan suaminya sama sekali, ketika ditanya : Kemana kau belanjakan gaji bulan ini? Maka dia akan membikin cerita di sini dan di sana, yakni untuk membohonginya, apakah perbuatan ini haram? Dan beliau juga memintaku untuk berbohong kepada bapakku juga dengan cara yang mirip dengannya, seperti aku meminta bapakku untuk membelikan makanan tertentu, kemudian bapakku mendatangkannya ke rumah suamiku kemudian aku bayar (tentunya dengan uang yang dikasih oleh ibuku) setelah itu baru aku kirim makanan itu untuk nenekku, semua ini tanpa sepengetahuan bapakku, hanya saja uangnya adalah uang ibuku, apakah perbuatan seperti ini haram? Dan aku sangat berterima kasih sekali –jazakumullahu khairan- karena engkau menjawab dengan cepat pertanyaan kami.

    كذب المرأة على زوجها

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan keberkahan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau.  

    Amma ba’du.

    Sebagai jawaban atas pertanyaanmu maka kita katakan dan Allahlah pemberi taufik:

    Berbohongnya seorang isteri kepada suaminya jika dengan tujuan kebaikan, maka terdapat dalil dari hadits Nabi yang membolehkannya, dalam shahihain (Al-Bukhari dan Muslim) dari hadits Az-Zuhri dari Humaid bin Abdurrahman dari Ummu Kultsum bintu Uqbah berkata : Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

     (لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِيْ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ)

    Artinya :”Bukanlah pendusta yang berusaha memperbaiki hubungan diantara manusia”.

    Az-Zuhri berkata :”Dan aku belum pernah mendengar diperbolehkannya dusta dalam perkataan manusia kecuali pada tiga tempat : Peperangan, memperbaiki hubungan sesama manusia dan perkataan seorang suami kepada isterinya; dan perkataan isteri kepada suaminya”. 

    Detail
    0
    422
  • Apakah seorang isteri berhak mendapat upah dari menyusui anak-anaknya?
  • Apakah seorang isteri berhak mendapat upah dari menyusui anak-anaknya?

    هل تستحق الزوجة أجرة على إرضاعها لأولادها؟

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan keberkahan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau. 

    Amma ba’du.

    Sebagai jawaban atas pertanyaanmu maka kita katakan dan Allahlah pemberi taufik:

    Pendapat kebanyakan dari para ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan satu pendapat pada mazhab Hanbali dan dipilih oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah bahwa seorang isteri tidak berhak mendapatkan upah, karena menyusui anak yang dalam tanggungan bapaknya adalah kewajiban isteri, karena Allah mewajibkan atas para Ibu untuk menyusui anaknya, Allah berfirman :

    ﴿وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ﴾ [البقرة:233]

    Artinya :”Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya”. Al-Baqarah (Sapi):233.

    Ayat ini kabar tapi mengandung perintah, sehingga Allah wajibkan suami untuk memberi makan dan pakaian bagi isteri mereka, dan ini adalah bentuk dari memberi nafkah, Allah Subhanahu berfirman:

    ﴿وَعلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ﴾ [البقرة:233]

    Artinya :”Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Al-Baqarah (Sapi):233.

    Dan nafkah ini wajib selama isteri dalam tanggungan suaminya.

    Detail
    0
    387
التفسير
  • APAKAH KALAM ALLAH HASAN DAN AHSAN
  • Allah Ta’ala berfirman : :﴿ الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه﴾ “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang lebih baik...” Dan Allah berfirman : ﴿واتبعوا أحسن ما أنزل إليكم من ربكم﴾ “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” Apakah difahami dari dua ayat tadi bahwasanya dalam kalam Allah ada yang baik dan ada yang lebih baik? Apa segi perbedaan antara siksa yang kekal, yang pedih, yang besar dan yang menghinakan ? هل يفهم أن في كلام الله الحسن والأحسن

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba’du.

    Jawaban pertanyaanmu dengan memohon taufik dariNya adalah sebagi berikut :

    Jawaban pertanyaan pertama : Ya, jika ada kalam Allah Ta’ala  memiliki tingkatan dalam pembahasannya. Adapun berkaitan sumber kalam (yaitu Allah) maka tidak perbedaan. Hal itu bisa dilihat dalam ayat Kursy yang merupakan ayat yang paling agung dalam Al Quran dikarenakan kemuliaan bahasannya. Begitu pula surat Al Fatihah adalah surat yang paling agung di mana di dalamnya terkandung makna yang agung yang terkumpul di dalamnya walaupun sedikit jumlah ayatnya. Dan semua orang tahu bahwa surat Al Ikhlas adalah surat yang paling utama dan paling baik dari surat Al Lahab, dan itu dikarenakan kandungan maknanya. Dan semuanya adalah kalam Allah.

    Kesimpulannya : Bahwasanya pembedaan tidak dilihat dari sumber kalam dan juga tidak dari segi mukjizat dalam lafal Al Quran. Semua yang ada dalam Al Quran adalah mukjizat. Pembedaan dilihat dari sisi makna yang terkandung dalam surat-surat.

    Jawaban pertanyaan kedua : Ini adalah sifat-sifat yang bermacam-macam dari azab. Azab yang kekal artinya abadi yang tidak akan mungkin hilang. Azab yang pedih : yaitu menyiksa dengan pedih bagi orang mendapatkannya. Azab yang besar : adalah azab yang keras yang tidak akan mungkin mampu (orang menahannya). Azab yang menghinakan : artinya yang menghinakan dan merendahkan orang yang disiksa. Semua sifat-sifat ini bermacam-macam bisa terkumpul dalam satu azab.

    Kita memohon kepada Allah untuk kita dan untukmu keselamatan.

     

    Saudaramu.

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    Detail
    0
    410
  • MAKNA FIRMAN ALLAH
  • Allah berfirman : (ونزعنا ما في قلوبهم من غل اخوانا ) “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara” Apakah yang dimaksud bahwasanya ada yang masuk ke dalam surga dari kaum muslimin dalam hatinya terhadap hasad,iri dan kedengkian di dunia, karena Rasul bersabda : (لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولاتدابروا ) “Janganlah kalian saling hasad, saling marah, saling membelakangi” Saya mohon penjelasan makna dari perkataan Umar bin Khatab : (مروا ذوي القربى ان يتزاورا ولا يتجاوروا ) “Perintahkanlah kepada karib kerabat untuk saling mengunjungi dan jangan saling berbuat kaedzaliman”

    تفسير قوله تعالى (و نزعنا ما في صدورهم من غل)

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba’du.

    Jawaban pertanyaanmu dengan memohon taufik dariNya adalah sebagi berikut :

    Rasa dengki yang engkau tanyakan tentangnya adalah hasil dari permusuhan yang terjadi di antara kaum muslimin. Permusuhan mewariskan dalam hati pemiliknya sebuah dari kedengkian. Ketika surga yang baik tidak akan mungkin masuk ke dalamnya kecuali orang-orang yang baik, maka sungguh Allah akan membaguskan batin mereka. Dan ini adalah apa yang Allah Ta’ala berikan nikmat kepada penduduk surga sebagaimana Allah telah baguskan lahir mereka, dan itu dengan dicabut dari hati-hati mereka pengaruh permusuhan dan kedzaliman. Imam Bukhari meriwayatkan dari hadis Qatadah dari Abu Al Mutawakil An Najy dari Abu Sa’id Al Khudry bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda :

    “Jika orang-orang mukmin dibebaskan dari siksa neraka kemudian mereka ditahan di sebuah jembatan antara surga dan neraka, kemudian mereka dibersihkan dari mereka kedzaliman yang dulu ada di antara mereka di dunia. Sampai mereka bersih dan menjadi baik maka diijinkan kepada mereka untuk masuk ke dalam surga. Maka demi jiwa Muhammad di tanganNya, sungguh seseorang di antara mereka rumahnya di surga adalah lebih baik dari pada rumahnya dulu di dunia”

    Dan ini jelas bahwa kedengkian ini disebabkan karena permusuhan dan kedzaliman yang dulu mereka lakukan di dunia.

    Adapun jawaban pertanyaanmu apakah seseorang masuk surga sedangkan di hatinya dulu ada iri dan dengki? Maka jawabannya adalah iya. Sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil yang sudah disampaikan sebelumnya. Tetapi mereka tidak masuk surga kecuali mereka sudah dibersihkan dari semua kedengkian dan iri hati kemudian barulah mereka dimasukkan ke dalam surga dengan hati yang bersih dan penuh kecintaan. Oleh karena itu Allah berfirman ketika mensifati keadaan mereka di surga :

    (إخوانا على سرر متقابلين)

    “sedang mereka merasa saling bersaudara di atas duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”

    Dan tidak tersisa sedikitpun dari iri dan dengki. Allah berfirman :

    (ونزعنا ما في قلوبهم من غل)

    “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka”

     

    Aku memohon kepada Allah semoga Allah memberikan kesenangan dengan surgaNya.

    Saudaramu.

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    Detail
    0
    443
  • MAKNA FIRMAN ALLAH JANBILLAH
  • Allah berfirman : (أن تقول نفس يا حسرتى علي ما فرطت في جنب الله وإن كنت لمن الساخرين) “agar jangan ada yang mengatakan “Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). Q.S. Az Zumar : 56. Apa maksud kata (جنب الله) janbillah ?Apakah ia termasuk sifat Allah? Dan bagaimana cara menetapkannya? المقصود بقوله تعالى (جنب الله)

    Segala puji bagi Allah. Shalawat, salam dan keberkahan Allah semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba’du.

    Dengan taufik dari Allah Ta’ala, maka jawaban atas pertanyaan saudara adalah :

    Para ulama memiliki beberapa pendapat dalam mengartikan makna janbillah. Ada yang mengatakan artinya “hak Allah”, ada yang mengartikan “perintah Allah”, ada yang mengatakan “arah Allah”. Ada yang mengatakan “bagian samping Allah”.

    Adapun kata janb digabunglan dengan kata Allah tidak berarti menjadi sifat Allah. Syaikh Islam Ibnu Taimiyah menyatakan dalam kitabnya (Jawaban yang benar bagi orang yang mengubah agama Al Masih) hal. 4/416 : (bahkan kadang digabung beberapa makhluk Allah dengan kata Allah, ataupun sifat yang tetap bagiNya, maka tidak menjadi sifat bagiNya ketika yang disandarkan adalah makhluk, semisal rumah Allah, unta Allah, hamba-hamba Allah ...) kemudian beliau mengatakan : (di dalam Al Quran dijelaskan tentang yang dimaksud dengan janb/lambung tidak sama dengan lambung manusia, maka Allah berfirman :

    (أن تقول نفس يا حسرتى على ما فرطت في جنب الله )

    “agar jangan ada yang mengatakan “Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah ...”.

    Mengurangi sesuatu dari sifat Allah ‘Azza wa Jalla bukan ketika seseorang mengatakan : Si fulan telah melalaikan lambung atau bagian samping sisi fulan, maka tidak difahami mereka (orang Arab) bahwa kelalaian ini dalam bagian tubuh seseorang itu, tetapi dimaksudkan bahwa itu adalah perbuatan yang melalaikan kepentingannya dan haknya. Kemudian ia mengatakan : Dan jika diposisikan bahwa penyandaran (kata Al Janb  yang berarti lambung) di sini mengandung makna sifat Allah, maka peryataan di sini seperti pernyataan di semua kata yang disandarkan kepada Allah Ta’ala dari sifat-sifat. Dan tidak mengharuskan dari ungkapan semacam ini kewajiban memberikan makna yang tidak benar.

    Dan dzahir perkataan Syaikh rahimahullah di sini bukan menjadikan Al Janb adalah sifat Allah Ta’ala. Bahkan dalam fatwa yang lain disebutkan secara lebih tegas yang menyatakan tidak adanya petunjuk ayat menunjukkan akan hal itu (6/14).

    Beberapa orang menyatakan : Yang bisa menetapkan (sifat) menunjukkan di sini maka bisa menjadi petunjuk di ayat yang lain.; bahkan ketika mereka mendapatkan dalil-dalil yang menunjukkan sifat, mereka menjadikan setiap ayat yang sebenarnya tidak secara jelas menyatakan kata tertentu disandarkan kepada Allah Ta’ala mereka jadikan penyandaran yang menunjukkan sifat dari sifat-sifat Allah sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala :

    (فرطت في جنب الله ).

    Dan baginya maka sesungguhnya ayat ini bukan bagian dari ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah.

    Wallahu A’lam.

    Saudaramu

    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

    Detail
    0
    386
  • ADAB MEMBACA ALQURAN
  • Syaikh yang kami muliakan, Assalaamualaikum warahmatullah wa barakatuh. Salah seorang teman mengatakan bahwasanya dia mampu membaca Surat Al Kahfi di hari Jumat kurang dari tiga menit! Dia berdalih dengan sempitnya waktu. Ia tidak mensyaratkan bacaan tartil dalam membaca Al Quran. Ia mampu membaca dengan cara konsentrasi. Apakah diperbolehkan cara membaca Al Quran dengan cara seperti ini?

    من آداب قراءة القرآن

    Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam aku sanjungkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

    Waalikumussalaam warahmatullah wa barakatuh.

    Amma ba’du.

    Menjadi kewajiban setiap orang yang membaca Al Quran dengan tidak tergesa-gesa, sesuai dengan firman Allah :

    )وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً(

    “Dan bacalah Al Quran dengantartil” Q.S Almuzammil : 4.

    Dan sesuai dengan sunnah Nabi salallahu ‘alaihu wa sallam; bahwasanya beliau membaca Al Quran dengan tidak tergesa-gesa. Dalam Kitab Sahih Muslim (772) dari sahabat Hudzaifah –Radiyallahu ‘anhu- berkata : Saya shalat bersama Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, ia membuka sholatnya (setelah Al Fatihah) dengan surat Al Baqarah, aku mengatakan dalam diriku : (mungkin) ia akan ruku di ayat ke seratus, tetapi beliau melanjutkan bacaannya. Sampai aku menyangka dalam diriku beliau akan ruku dengan surat tersebut, tetapi beliau terus membaca surat selanjutnya., Beliau meneruskan dengan membaca surat Annisa. Kemudian membaca surat Ali Imran. Beliau membaca dengan pelan. Jika sampai ayat yang terdapat tasbih beliau bertasbih. Jika sampai ayat tentang doa beliau meminta (kepada Allah). Jika sampai ayat agar berlindung beliau meminta perlindungan (dari Allah). H.R. Muslim (733)

    BahkanRasulullah pernah mengulang-ulang satu ayat saja dalam satu malam sampai waktu shubuh.

    Dalam Musnad Imam Ahmad (20983) da An Nasai (1010) dan Ibnu Majah (1350) dari hadis Abu Dzar Radiyallahu ‘anhu berkata : (Nabi shalat malam dengan satu ayat sampai datang waktu subuh, beliau mengulang-ulangnya. Ayat tersebut adalah Firman Allah (إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ)

    “Jika Engkau (wahai Allah) mengadzab mereka maka sesungghnya mereka adalah hamba-hambaMu, tetapi jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya engkau adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” Q.S. Al Maidah : 118.

    Karena maksud dari membaca adalah tadabur dan mengambil pelajaran. Bukan hanya sekedar melewati lafadz-lafadz tanpa memperdulikan makna dan kandungan isinya. Allah Ta’ala berfirman :

    )كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ((ص:29)

    “Itulah kitab yang telah Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad) dengan penuh keberkahan, agar mereka mentadaburi ayat-ayatNya dan agar orang-orang yang berpikir selalu ingat” Q.S. Shad : 29.

    Dan tidak akan mugkin sampai kepada tadabur dan pemahaman Al Quran kecuali dengan tidak tergesa-gesa ketika membacanya. Dalam Kitab Sahih Muslim (822) dari sahabat Abi Wail ia berkata : (datang seorang laki-laki yang bernama Nahik bin Sinan kepada Abdullah yaitu Ibnu Masud –Radiyallahu ‘anhu- kemudian berkata : Aku mampu membaca mufashol (surat-surat pendek) dalam satu rakaat. Abdullah berkata : (Ini seperti membaca sair cepat. Sesungguhnya banyak orang yang membaca Al Quran tidak melewati kerongkongan mereka, tetapi jika (bacaan) itu sampai ke hati maka akan teguhlahlah dia dan memberikan manfaat)

    Para ulama memiliki perbedaan pendapat tentang yang paling utama cara membaca pelan tapi sedikit atau cepat tetapi lebih banyak yang dibaca?

    Jumhur ulama dari para Sahabat dan Tabiin dan ulama setelah mereka melihat bahwa membaca pelan dengan tadabur walaupun sedikit lebih utama daripada membaca cepat dengan banyak halaman yang dibaca. Hal itu diutamakan karena maksud dari membaca Al Quran adalah faham dan mengamalkan isinya. Wallahu ‘Alam.

     

    Detail
    0
    1284
  • MEMEGANG MUSHAF TANPA WUDHU
  • Apakah hukumnya menyentuh mushaf tanpa wudhu ?

    مس القرآن بدون طهارة

    Segala puji bagi Allah. Salawat, salam adn keberkahan Allah semoga selalu tersampaikan kepada rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba’du.

    Dengan taufik dari Allah Ta’ala, maka jawaban atas pertanyaan saudara adalah :

    Allah berfirman dalam KitabNya :

    ﴿فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ * وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ * إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ * فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ * لا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ﴾

    “Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui. Dan (ini) sesungguhnya Al Quran yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfudz), tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan”

    Dan kata ganti dalam firman Allah (لا يَمَسُّهُ) menurut ulama adalah kembali kepada kata yang terdekat yang disebutkan yaitu Lauh Mahfudz. Artinya tidaklah menyentuh Lauh Mahfudz kecuali para malaikat yang diberi tugas menulis di dalamnya ketetapan dan takdir Allah.

    Pendapat yang kedua : Kata ganti kembali kepada Al Quran, dan makna firman Allah (لا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ) adalah : tidaklah boleh menyentuh Al Quran kecuali orang yang bersuci. Ini adalah pendapat yang lemah. Sedangkan pendapat yang lebih kuat ari ulama dan ahli tafsir yang dimaksudkan dalam ayat adalah para malaikat yang bertugas dalam Lauhul Mahfudz. Dan Kitab ang terpelihara tidaklah bisa menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan (malaikat). Ayat yang disebutkan tidak menunjukkan secara jelas bahwa tidak boleh menyentuh Al Quran kecuali orang yang bersuci. Walaupun ada beberapa ulama yang meyatakan ayat tersebut memberikan isyarat bahwa Al Quran tidaklah menyentuhnya kecuali orang yang bersuci. Bagaimana hal itu ?

     Allah berfirman :

    ﴿فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ * لا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ﴾[الواقعة:78-79]،

    dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfudz), tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan”

    Maka apabila yang dimaksud Kitab yang terpelihara tidaklah menyentuhnya kecuali orang yang disucikan, dan di dalamnya terdapat Al Quran. Hal ini memberikan isyarat bahwa Al Quran yang terdapat di dalam Kitab yang terpelihara, maka sudah sepantasnya tidaklah boleh menyentuhnya kecuali orang yang bersuci. Dan petunjuk ini disebut sebagian ulama sebagai dalaltul isyarah  dan bukan dalalah sharihah (petunjuk yang jelas). Tidaklah diambil langsung dari lafadznya ataupun dari pemahamannya. Dan ini diambil dari petunjuk yang termasuk dari fahwal khitab dan isyarat yang bisa diambil pengambilan hukum (wajibnya taharah) dari ayat ini. Walaupun demikian para ulama yang berpendapat wajibnya taharah bagi orang yang menyentuh Al Quran tidaklah berargumen dengan ayat ini. Tapi mereka menyandarkan hukum wajibnya taharah dengan sabda Nabi –salallahu ‘alaihi wa salam-

    «لا يمس القرآن إلا طاهر»

    “Tidaklah boleh menyentuh mushaf kecuali orang yang bersuci”. H.R. Malik dalam Muwatho (469), Al Hakim, dalam Mustadrok (1447), Thabrany dalam Mu’jam Kabir (13039),

    Hadis ini terkait dengan surat Nabi –salallahu ‘alaihi wa salam- yang dkirim ke keluarga Amr bin Hazm, dan ia adalah surat yang terkenal. Imam Ahli Hadis Ibn Abdil Barr : (Umat telah menerima hadis ini, dan tidak memerlukan untuk memeriksa kesahihan sanadnya) artinya : telah diterima dalam syariat apa yang terdapat dalam isi surat tersebut. Dan hal tersebut terkait dengan sabda Nabi :

    «لا يمس القرآن إلا طاهر»

    “Tidaklah boleh menyentuh mushaf kecuali orang yang bersuci”.

    Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak diperbolehkan memegang mushaf kecuali orang yang bersuci.

    Sebagian ulama berpendapat : Hadis terseut tidak menunjukkan secara jelas, karena sabda Nabi «لا يمس القرآن إلا طاهر»“Tidaklah boleh menyentuh mushaf kecuali orang yang bersuci”. Dimaksudkan : “kecuali orang Islam”. Yang dimaksud dalam hadis orang yang bersuci adalah : “seorang muslim”. Mereka memiliki dalil dari hadis sahih yang diriwayatkan Abu Hurairoh,

    أن النبي صلى الله عليه وسلم لما سأل عنه وقال: «أين كنت؟ قال: كنت جنبا فكرهت أن أجالسك، وأنا على غير طهارة، فقال: سبحان الله إن المؤمن لا ينجس»

    bahwasanya Nabi –salallahu ‘alaihi wa salam- ketika bertanya :”Di mana kamu (tadi)?” ia (Abu Hurairoh) berkata : Aku dalam keadaan junub, dan aku merasa tidak enak duduk besamamu, sedangkan aku tidak dalam keadaan bersuci. Maka Nabi berkata : “Maha Suci Allah, sesungguhnya seorang mukmin tidaklah najis” H.R. Bukhari (283) dan Muslim (851)

    Maknanya : Dia (Abu Hurairah) adalah suci.

    Para ulama menyatakan : Hadis ini menunjukan dalam sabda Nabi “Tidaklah boleh menyentuh Al Quran kecuali orang yang bersuci” maksudnya adalah : “Tidaklah bokeh menyentuh Al Quran kecuali orang Islam”

    .Dan yang menjadi pendapat umum dari ahli ilmu adalah pendapat Imam Yang Empat, dan ini merupakan pendapat sebagian besar Fuqoha baik yang lampau maupun kontemporer. Bahwasanya sudah sepatasnya bagi orang yang ingin menyentuh Al Quran agar dia bersuci. Ini berlaku ketika menyentuh langsung kertas mushaf yang terdapat tulisan Al Quran di dalamnya. Ataupun kertas sampul Al Quran yang termasuk dari mushaf.

    Dan ini adalah pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran.

    Adapun sebagian ulama dari kalangan Dzahiriyah dan yang lain berpendapat diperbolehkannya menyentuh mushaf walaupun tanpa bersuci.

    Dan yang paling utama bagi seorang mukmin dalam keadaan bersuci ketika menyentuh Al Quran. Barangsia[a membutuhkan menyentuh Al Quran sedangkan dia tidak dalam keadaan bersuci, maka dia usahakan menggunakan penghalang seperti ujung bajunya, atau sapu tangan, atau menggunakan sarung tangan dan atau yang sejenisnya yang menghalangiya secara langsung ketika menyentuhnya sedangkan dia dalam keadaan tidak berwudhu. Yang dimaksud dengan bersuci adalah wudhu. Dan yang lebih utama juga adalah menghilangkan hadas besar jika dalam keadaan junub. Atau seorang perempuan yang sedang haid maka ia berusaha tidak menyentuhnya kecuali dengan penghalang.

    Saudaramu,

    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

     

    Detail
    0
    583
  • MEMBACA QURAN MELALUI HP TANPA WUDHU
  • Apakah hukumnya membaca Al Quran melalui HP tanpa wudhu

     ما حكم قراءة القرآن عن طريق الجوال من غير طهارة؟

    Segala puji bagi Allah. Salawat, salam adn keberkahan Allah semoga selalu tersampaikan kepada rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba’du.

    Dengan taufik dari Allah Ta’ala, maka jawaban atas pertanyaan saudara adalah :

    Menurut saya, membaca Al Quran tanpa menggunakan mushaf tidak wajib baginya untuk memiliki wudhu ketika menyentuh layar HP. Karena HP bukanlah mushaf, dan tidak ada lembaran-lembaran kertas dan ayat-ayat yang tertulis dalam halaman-halaman sampai bisa dikatakan sebagai mushaf. Ia hanya merupakan perangkat yang tersimpan di dalamnya Al Quran melalui teknologi terbaru yang tidak secara jelas di dalamnya adanya tulisan atau sesuatu yang tertulis sehingga tidak masuk dalam hukum mushaf. Oleh karena menurut saya tidak berlaku di dalamnya hukum mandi/bersuci sebelum menyentuhnya, ataupun ketika masuk ke dalam toilet (membawa HP), ataupun dari sisi wajibnya memuliakannya dan menjaganya. Jika saja HP masuk dalam hukum mushaf maka tidak diperkenankan menaruhnya di tempat yang dihinakan. Hukum HP seperti perangkat yang lain yang terdapat di dalamnya Al Quran dengan teknologi modern. Karena tidak tampak tulisan mushaf ataupun lembaran-lembaran dan yang semisalnya (dengan mushaf).

    Jika kita ingin membantah pendapat tentang hukumnya sama dengan hukum mushaf, maka kita katakan kepada orang yang berpendapat jika di layar televisi muncul tulisan Al Quran maka kita tidak boleh menyentuhya (tanpa wudhu) karena hukumnya sama dengan hukum mushaf. Ini adalh pendapat yang tidak benar. Yang tepat adalah ia tidak masuk dalam hukum mushaf di semua hukumnya. Tidak masuk dalam hukum wajibnya bersuci, ataupun hukum masuk ke dalam toilet, ataupun hukum wajibnya mengagungkannya dan menjaganya.

    Detail
    0
    1426
الزكاة
  • APAKAH GAJI YANG TERLAMBAT WAJIB DIZAKATI
  • Apakah gaji yang terlambat diterima wajib dikeluarkan zakatnya?

    هل في الرواتب المتأخرة زكاة؟

    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah dan keluarganya serta para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Dengan memohon taufik dari Allah Ta'ala maka jawaban atas pertanyaan saudara adalah :

    Dalam gaji yang seperti ini maka tidak ada kewajiban zakat didalamnya, karena termasuk harta yang belum sampai di tangan, dan diantara syarat harta yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah tamamul milki (kepemilikan yang sempurna). Adapun harta sebagaimana dalam pertanyaan belum sampai kepadanya dan masih tersimpan di negara atau masih di bagian yang berwenang, maka ia belum sempurna kepemilikannya dan dengan demikian tidak ada kewajiban apapun atasnya. Sebagai contohnya adalah semua harta manusia di baitul mal atau di kementrian keuangan atau di pihak pemerintah yang disimpan bertahun-tahun maka tidak ada kewajiban atasnya zakat sampai ia mendapatkannya. Sebagaimana yang telah disebutkan para ulama ahli fiqih bahwasanya harta yang masih di tangan departemen negara, seperti baitul mal maka itu seperti yang ditanyakan di sini bahwasanya tidak ada kewajiban zakat di dalamnya; juga tidak bisa di disamakan dengan hutang karena hutang berbeda dari beberapa sisi. Hutang itu bisa diminta dari pihak tertentu, berbeda dengan harta yang ada pada baitul mal atau yang dikhususkan untuk kemaslahatan kaum muslimin secara umum.

    Saudaramu.

    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

    Detail
    0
    698
  • ZAKAT TANAH PEMBERIAN
  • Apakah wajib mengeluarkan zakat atas tanah pemberian?

    هل في أراضي المنح زكاة؟

    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah dan keluarganya serta para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Dengan memohon taufik dari Allah Ta'ala maka jawaban pertanyaan saudara adalah :
    Tanah yang berasal dari pemberian yang dimiliki, kemudian berubah status tanahmereka dalam mengelolanya; Ada di antara mereka yang membiarkan saja dan tidak bermaksud menjualnya dan tidak menginginkan investasi darinya maka tidak ada kewajiban zakat. Hal ini dikarenakan asal dari harta ini tidak ada kewajiban zakat di dalamnya. Hukum asal zakat untuk properti ketika dimaksudkan untuk perniagan jika tidak ditawarkan untuk perdagangan maka tidak ada zakat.

    Oleh karena itu jika ada kesempatan seperti ini kemudian dibiarkan saja dan tidak ditawarkan dan dipasarkan maka tidak ada kewajiban zakat. Tetapi ada kaidah dalam masalah barang yang diperniagakan : Jika ada perintah antara ada kewajiban zakat dalam harta yang bisa menjadi barang niaga dan bisa menjadi tidak wajib; hukum asalnya kembali kepada tidak adanya kewajiban. Apalagi dalam jenis harta yang bisa diniagakan yang terdapat perbedaan pendapat  yang besar dan kuat di kalangan ulama.

    Dengan demikian status tanah yang diberikan orang lain dengan tujuan memberi saja tidak ada kewajiban zakat kecuali jika ditujukan untuk investasi dan ditawarkan untuk dijual karena maksud niaga. Adapun jika dijual hanya untuk memperoleh sejumlah uang atau dijual karena sebab yang lain seperti : Lokasi yang jauh, sudah tidak membutuhkan tanah lagi, karena takut hilang maka tidak wajib zakat dalam kondisi seperti ini.

    Kesimpulannya : Jika pemilik tanah menginginkan penjualannya untuk maksud niaga dan ditawarkan untuk dijual, maka ada kewajiban zakat di dalamnya. Jika tidak dimaksudkan kecuali untuk kepemilikan atau sebagai simpanan untuk persiapan jika ada kejadian yang tiba-tiba seperti musibah dan kebutuhan-kebutuhan, maka tidak ada kewajiban zakat di dalamnya.

    Saudaramu.

    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

    Detail
    0
    660
  • ZAKAT EMAS LIRA
  • Saya memiliki saudari yang memiliki koin Lira senilai emas 85 gram dan telah lewat beberapa tahun dan belum dikeluarkan zakatnya sekitar delapan tahun. Dan ia belum memakainya sama sekali. Apa hukum syariat dalam hal itu?

    هل على هذه الليرات زكاة؟

    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah dan keluarganya serta para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Wajib mengeluarkan zakat Lira ini karena dia bukan perhiasan dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang wajibnya membayar zakat emas. Perbedaan pendapat terdapat pada emas yang dipakai dari perhiasan apakah wajib dizakati atau tidak.

    Maka wajib baginya menilai kadar zakat tahun yang sudah lewat dan dibayarkan zakatnya.

    Saudaramu.

    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

    7/6/1425 H.

    Detail
    0
    892
  • ZAKAT TANAH YANG DITEMPATI
  • Apakah diwajibkan zakat atas tanah yang ditempati.

    هل تجب الزكاة على قطعة الأرض السكنية؟

    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam serta keberkahan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau.

    Jawaban atas pertanyaan saudara, kami katakan-dengan mengharap taufik Allah Ta'ala:

    Masalah zakat bangunan dan zakat harta yang dizakati karena perdagangan, yakni apa-apa yang ditawarkan untuk diperjual-belikan, maka haruslah dilihat kepemilikannya. Apakah kepemilikannya itu diniatkan untuk diperjual-belikan atau tidak. Jika kepemilikan tersebut diniatkan untuk diperjual-belikan maka dalam hal ini wajib dikeluarkan zakatnya atas harta pokok seiring berjalannya tahun, adapun jika kepemilikannya tersebut untuk kemaslahatan atau karena kebutuhan, lalu ditawarkan untuk dijual, atau kepemilikannya tersebut adalah kepemilikan yang bukan merupakan pilihannya, karena warisan sebagai contohnya, atau kepemilikan karena hibah  (pemberian), maka tidak diwajibkan atasnya zakat walaupun ada transaksi perdagangan didalamnya.

    Jadi, perlu dilihat niat kepemilikannya atas sesuatu yang diwajibkan zakat karena perdagangan. Jika kepemilikannya diniatkan untuk dagang dan jual-beli maka yang demikian wajib zakatnya jika telah sampai haul-nya, adapun haulnya adalah haul harta pokok pembelian harta tersebut. Namun jika tidak ada didalamnya niat untuk diperdagangkan, melainkan diniatkan untuk disimpan dan diambil manfaatnya, atau dimiliki namun ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan atasnya, seperti sebagian orang yang memiliki hak milik atas kepemilikan bangunan, atau seseorang yang berkata : aku membelinya sekarang dan kelak setelah beberapa tahun aku akan tahu apa yang akan aku petik; maka yang demikian tidaklah wajib atasnya zakat menurut pendapat yang rajih atau kuat.

    Dan ketika kami katakan wajib zakatnya tergantung haul atas harta pokok, maksudnya adalah misalnya saya memiliki (uang) lima puluh ribu, lalu saya membeli dengannya barang dagangan atau bangunan untuk diperjual-belikan. Lalu (uang) lima puluh ribu tersebut telah berlalu dalam transaksi keuanganku selama tiga bulan, kemudian dengannya pula aku membeli bangunan untuk diperjual-belikan, lalu kapan aku harus mengeluarkan zakatnya? Sebagian orang memulai penghitungan haul dari pembelian tanah dan sebagian lagi memulainya dari pembelian barang dagangan, ini rancu, karena hartanya ada secara fisik, namun berubah bentuk yakni dari uang menjadi bangunan, atau dari uang menjadi barang dagangan. Maka hal ini tidaklah mengubah hukum, namun wajib bagi saya menghitung zakat dari kepemilikanku terhadap suatu harta dan bukan menurut pembelian tanah.lalu aku hitung Sembilan bulan setelah membeli tanah, sampai genap satu tahun penuh yakni genap haul atas harta pokok lalu aku zakati.

    Dan seandainya aku jual tanah tersebut setelah beberapa waktu untuk mendapatkan uang, maka aku cukup mengeluarkan zakat atas harta pokok, tidak dari berubahnya uang menjadi tanah, lalu dari tanah menjadi uang. 

    Dan jika kepemilikan bangunan bukan hasil jual-beli, namun jika didapat dari hibah atau warisan lalu kapan diwajibkan zakat untuk harta seperti ini ?

    Beberapa ulama menyatakan : Jika diniatkan atas harta tersebut perniagaan, maka penghitungan tahun kewajiban zakat sejak diniatkan.

    Sebagian ulama yang lain menyatakan : Tidak ada kewajiban zakat, karena tidak ada pengaruh dengan adanya niat ketika mendapatkan kepemilikan. Niat dianggap berpengaruh ketika mengusahakan sendiri kepemilikan. Ini tidak berlaku dalam harta yang dimiliki secara otomatis sebagaimana dalam harta hibah (pemberian). (Niat) berlaku ketika harta yang dimiliki hasil dari jual beli dan yang semisalnya. Walaupun ia berniat menjualnya tidak ada zakat (dari harta pemberian). Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

    Saudaramu.

    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

    Detail
    0
    506
  • NISAB ZAKAT EMAS DI ZAMAN SEKARANG
  • Berapa nishab zakat emas di zaman sekarang ?

    نصاب الذهب بالحساب المعاصر

    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah dan keluarganya serta para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Dengan memohon taufik dari Allah Ta'ala maka jawaban pertanyaan saudara adalah :


    Nishab zakat emas adalah sesuai dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Kitab Shahih

    ((ليس فيما دون خمس أواق صدقة))،

    (Tidak ada kewajiban zakat emas di bawah lima auqiyah)

    Auqiyah bernilai 20 mistqal. Dan satu mistqal  4,25 gram. Ini adalah berat auqiyah. Dan dihitung sesuai  perhitungan sekarang dengan cara ini. Yakni : dilihat berapa kadar mistqal yang menjadi patokan zakat emas. Maka bisa diketahui bahwa satu dinar – dan dia adalah mistqal- senilai 4,25 gram.

    Sedangkan nishab zakat emas adalah 20 misqal sebagaimana disebutkan dalam hadis, dan dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Nasa'i :

    ((ليس فيما دون عشرين مثقال صدقة))

    "Tidak ada kewajiban zakat (emas) di bawah 20 mistqal"

    20 mistqal artinya 20 mistqal emas dan sama dengan 20 dinar.

    Dan kadar wajib dikeluarkannya zakat adalah 85 gram. Ini secara perhitungan dan merupakan kesepakatan kebanyakan ulama. Ada pendapat yang menyatakan nishab zakat emas lebih sedikit sekitar tujuh puluhan gram. Tetapi yang lebih benar adalah pendapat kebanyakan ulama. Dan ukuran emas yang wajib dizakati minimum ketika mencapai 85 gram.

    Saudaramu.

    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

    Detail
    0
    369
  • KAPAN WAKTU ZAKAT HARTA SEWA
  • Kapan dikeluarkannya zakat untuk harta yang disewa ?

    متى تزكى أموال الإيجارات؟

    Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Dengan taufik Allah Ta'ala jawaban pertanyaanmu adalah sebagai berikut :

    Jika penanya sudah memiliki harta, kemudian (mengamanatkan) dengan masuk ke dalam milik wakilnya, karena kewenangan wakil sama dengan kewenangan pemilik asli. Artinya : saya memiliki perniagaan di suatu negara tertentu atau tempat tertentu, dan saya tidak mengumpulkan harta ini. Yang bisa mengumpulkan harta adalah wakil saya. Kemudian ia memberikan bagiankeuntungan untuksaya. Maka di sini masuk dalam kepemilikanku dengan masuknya dalam rekening wakil saya. Dan kemudian maka zakatku dihitung bukan ketika sampai ke tanganku, karena ketika harta itu berada di tangan wakil tidak berarti menghilangkan hak kepemilikanku; karena sebenarnya ia di tanganku. Dan kekuasaanwakil sama dengan kekuasaanpemilik asli.

    Oleh karena itu permulaan dihitungnya zakat ketika pertama masuk dalam sejumlah harta yang dipegangwakil. Tetapi jika wakil menyatakan : Demi Allah saya menghitung dan mengaturnya ketika dua hari raya saya akan membaginya kepadamu. Maka ini adalah ijtihad darinya, tapi tidak memotong haul. Kecuali jika wakil adalah pengadilan. Karena pengadilan jika menampung harta ini maka disimpan di baitul mal,maka hak kepemilikan menjadi berkurang, dan tidak sama ketika wakil adalah perseorangan. Karena wakil perseorangan mungkin bisa kau tinggalkan dan kamu katakan : Tidak, engkau bagi sekian, dan kamu bisa memerintahkannya untuk mengeluarkan sesuai dengan apa yang masuk dalam harta itu kapan saja. Kemudian jika zakat berada di baitul mal maka zakat tidak bisa dikeluarkan kecuali jika sudah engkau pegang harta itu. Jika wakalah di tangan pengadilan atau di pihak yang tidak mungkin diminta dari pihak pemerintah. Jika wakalah di tangan perseorangan, maka penghitungan zakatnya sesuai dengan wajib jika sudah masuk dalam rekening wakil. Tetapi jika wakil orang yang pailit – dan ini terjadi- atau wakil orang yang berspekulasi, kemudian mengambil hartamu dan menunda pembayaran satu sampai dua tahun, kemudian tidak memberikan kepada pemiliknya dengan alasan sudah mebagi zakatnya, maka hukumnya seperti hukum harta yang berada di tangan orang yang pailit. Kamu hanya berkewajiban mengeluarkan zakat sekali saja ketika sudah berada di tangan, sebagaimana dinyatakan hal itu oleh para ulama.

    Saudaramu.

    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

    Detail
    0
    282
kurban
  • Hukum Mewakilkan Berkuban dan Sembelihan di Negara Miskin dan Terkena Musibah Seperti Suriah
  • Apa hukum mewakilkan penyembelihan hewan kurban di negara miskin dan terkena musibah ?

    ما حكم التوكيل بذبح الأضحية في البلدان الفقيرة والمنكوبة مثل سوريا

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Menyembelih kurban adalah ibadah sunah Nabi yang tetap. Telah banyak riwayat dari Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam dalam pelaksanaannya. Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam pernah berkurban dengan domba yang gemuk dan bertanduk. Dan Allah telah menjadkannya dari syiar agamaNya. Allah berfirman :

     

    ﴿ وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ﴾

    "Dan hewan kurban yang telah kami jadikan untuk kalian termasuk dari syiar-syiar Allah, maka untuk kalian di dalamnya ada kebaikan". Q.S. Al Hajj : 36

     

    Dan makna al-Budn adalah semua hewan kurban  yang   ditujukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Dan yang masuk di dalamnya adalah ibadah penyembelihan hewan kurban.

     

     

    Dan dalam petunjuk Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam tentang penyembelihan hewan kurban dengan tangan beliau sendiri. Ia lakukan untuk dirinya dan keluarganya. Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan hadis dari Anas Radhiyallahu 'anhu bahwasanya ia berkata :

    Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam menyembelih kurban dengan dua domba yang gemuk dan bertanduk. Beliau menyembelih dengan kedua tangannya sendiri. Beliau membaca bismillah dan mengucapkan takbir dengan meletakkan kakinya di leherkambing sembelihannya.H.R. Bukhari (5565) dan Muslim (1966)

     

    Orang-orang terdahulu memuliakan bulan Haji dengan menyembelih kurban sebagai penghormatan terhadap syiar-syiar agama Allah. Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Abu Umamah bin Sahl bahwasanya ia berkata : (Dulu kami menggemukkan binatang kurban dengan penggemukan. Dan kaum muslimin pada saat itu juga menggemukannya) H.R. Bukhari (6653)

     

    Dan maksud dari apa yang disyariatkan Allah Ta’ala dalam meyembelih kurban bertujuan mengagungkan syiar-siar agama Allah Ta’ala dengan menggemukannya, memilih yang terbaik darinya dan menyembelihnya, menyebut nama Allah pada saat menyembelihnya, menyaksikannya dan memakan dagingnya, memberi makan dan menghadiahkannya. Maka sudah sepantasnya menjaga semua maksud dari ibadah ini semua. Bersegera dalam mendapatkan yang mungkin dari ibadah itu. Allah Ta’ala berfirman :

    ﴿لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ﴾

    “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” Q.S. Al Hajj : 37

     

    Dan pertanyaan yang banyak muncul belakangan adalah : Hukum mengirim binatang kurban ke negara yang lebih membutuhkan dan sangat miskin.

     

    Dalam masalah ini para ulama kontemporer memiliki dua pendapat, yaitu :

     

    Pendapat pertama :

    Hal itu dilarang. Ini didasarkan, bahwasanya mengirim kurban keluar mengakibatkan hilangnya maslahat yang banyak yang merupakan tujuan dari ibadah kurban. Dan terjadinya kerusakan yang banyak. Dan seharusnya tujuan memberi makan kepada fakir miskin dan memberikan bantuan kepada yang membutuhkan tidak mengalahkan maksud dan tujuan disyariatkannya ibadah kurban.

    Dan dari sekian banyak ulama  yang jelas berpendapat dengan pendapat ini adalah guru kami Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin. Dan beliau memiliki ceramah yang berisi penyebutan tentang hal yang bisa hilang dari maslahatnya, dan akibat buruk dari pengiriman ke luar hewan kurban. dan beliau berkata dalam ceramahnya : (Dan tidak sepatutnya secara mutlak untuk mengajak masyarakat untuk menyumbangkan uang mereka dengan maksud untuk berkurban di negara lain).

     

    Pendapat Kedua :

    Bolehnya perbuatan ini. Dengan alasan bahwa efek dari pengiriman hewan kurabn terdapat maslahat seperti menangani kebutuhan orang yang kesusahan pangan. Dan Allah telah memberikan kepada mereka bagian dari kurban itu, dimana Allah telah firmankan ketika menjelaskan pembagian sembelihan kurban :

    ﴿ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ﴾

    “Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta”Q.S. Al Hajj : 36

     

    Ada pendapat yang mengatakan pembagian untuk mereka setengah, ada yang mengatakan sepertiga dalam pendapat yang lain. Dan hak orang fakir miskin dalam pembagian kurban bisa sepertiga atau setengah. Dan perintah untuk memakannya merupakan ijin saja (bukan kewajiban) untuk menolak anggapan dan keyakinan sebgaian orang tentang tidak diperbolehkannya memakan sembelihan yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu jumhur ulama berpendapat sunahnya makan dari sembelihan.

     

    Makan binatang yang disembelih hukumnya adalah sunah menurut kesepakatan para ulama. Walaupun memperhatikan sunah makan sembelihan bagi pemberi kurban dari binatang yang disembelih tidak menjadikan justru menghilangkan perhatian apa yang terjadi dari kesusahan seperti kelaparan dan yang sejenisnya. Maka sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam  telah juga memperhatikan hal tersebut dengan melarang menyimpan daging sembelihan kurban lebih dari tiga hari dan melarang mereka untuk menimbun daging sebagai penjagaan dari kelaparan yang melanda masyarakat. Dan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam  telah menjelaskan alasan dilarangnya perbuatan tersebut sebagaimana diriwayatkan dalam Kitab Shahih Muslim, hadis dari ‘Amrah ia berkata : saya mendengar ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata : Daffa yaitu kelaparan masyarakat yang tinggal di pedalaman ketika hari raya kurban di zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi  wa salam bersabda :

    “Simpanlah untuk tiga hari, kemudian sedekahkanlah dengan yang tersisa” Setelah itu para sahabat berkata : (Wahai Rasulullah, masyarakat mengambil bejana-bejana untuk binatang kurban mereka dan ditampung di dalamnya lemak). Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bertanya : “ Mengapa ?” Mereka menjawab : (engkau telah melarang untuk makan daging kurban setelah tiga hari), maka beliau berkata : “Sesungguhnya aku larang kalian karena adanya kelaparan yang melanda. Maka makanlah darinya dan simpan dan bersedekahlah” H.R. Muslim (1971)

     

    Dan dalam kitab Shahih Bukhari dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha  bahwasanya dia berkata ketika mengomentari alasan pelarangan : (Tidaklah apa yang beliau perintakan kecuali di tahun di mana masyarakat mengalami kelaparan, kemudian beliau menginginkan agar orang yang kaya memberi makan kepada yang miskin). H.R. Bukhari (5423)

     

    Dan hukum asal ini menjelaskan bahwa menutup kebutuhan orang fakir miskin bisa mengalahkan hukum dibolehkannya menahan dan menyimpan daging sembelihan lebih dari tiga hari untuk dimakan. Dan Imam Qurthubi Rahimahullah mengambil pendapat ini dengan pernyataan beliau : (Seandainya ia datang kepada penduduk sebuah negeri, dan masyarakat membutuhkan ketika hari raya kurban, dan tidak bisa menutup kebutuhan kemiskinannya kecuali dengan sembelihannya, maka jelaslah bagi mereka untuk tidak menyimpan daging lebih dari tiga hari) Tafsir al-Qurthubi 12/48.

    Dan Ibnu Hajar juga mengomentari dalam batasan tiga hari dalam pernyataannya : (dan pembatasan tiga hari menyesuaikan apa yang terjadi pada saat itu. Dan jika tidak, maka ketika tidak bisa terpenuhinya kebutuhan kecuali dengan menghilangkan semua (tiga hari untuk menyimpan) wajib ketika dihilangkan batasan (tiga hari) tidak boleh menyimpan (daging) meskipun hanya satu malam saja) (Fathul Bari 10/27)

     

    Dan ulama yang jelas mendukung pendapat bolehnya mengirim kurban ke negara miskin dan membutuhkan adalah guru kami Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Dimana beliau mengatakan ketika menjawab pertanyaan seperti ini : (Dan tidak mengapa, baik ia menyembelih untuk keluarganya atau di luar. Tetapi untuk keluarganya lebih utama. Jika ia berkurban di rumahnya dan memakannya serta juga membagikannya untuk tetangga sekitarnya maka itu lebih utama karena mencontoh perbuatan Nabo Shalallahu ‘alaihi wa salam. Kemudian melanjutkan perkataannya : (Dan jika ia menyukai untuk menyembelih sembelihan yang lain di tempat orang miskin di negara lain, maka ia memperoleh pahala dari itu. Dan ini termasuk sedekah) . Fatawa Nur ‘ala Darbi 18/206.

    Dan beliau Rahimahullah menyatakan bolehnya. Dan menjelaskan bahwa yang lebih utama kurban dilaksanakan di negara pemberi kurban dan bersama dengan keluarganya. Dan mengirim sembelihan yang lain untuk para fakir miskin untuk menutup kebutuhan mereka.

     

    Dan jawaban yang paling dekat menurut saya adalah bahwasanya ibadah kurban pada dasarnya dilaksanakan di negeri pemberi kurban. Hal ini karena mengamalkan sunah Nabi dan sebagai bentuk memperlihatkan syiar agama. Tetapi jika ada kebutuhan atau karena darurat untuk mengirimkannya ke negara miskin, atau ada maslahat yang lebih besar maka tidak mengapa. Bahkan bisa jadi lebih disukai karena adanya kelaparan dan keadaan darurat dan kebutuhan yang sangat mendesak walupun pemberi kurban kehilangan kesempatan mendapatkan pahala langsung dari sembelihannya, menyaksikannya, mengucapkan nama Allah dan berdoa ketika menyembelihnya, memakan dan memberi hadiah dari dagingnya bisa tergantikan lebih banyak pahala dari apa yang didapatkannya dari menolong karena darurat orang yang terpaksa, dan mencukupi kebutuhan orang yang membutuhkan serta mendapatkan kemaslahatan orang miskin dari kaum muslimin.

     

    Dan dari bentuk yang dibolehkan adalah, ketika keluarganya menyembelih kurban lebih dari satu ekor hewan kurban, ataupun terkumpul di rumah tersebut banyak hewan kurban yang berasal dari wasiat dan yang sejenisnya, maka sebagai bentuk mengagungkan syiar Allah dengan menampakkannya bisa dengan hanya menyembelih satu ekor saja hewan kurban dari seorang dari anggota keluarga tersebut. Dan ketika ada sisa hewan kurban lainnya, maka dikirim untuk menutupi kebutuhan orang yang membutuhkan dari kaum muslimin.

    Wallahu A’lam.

    Saudaramu

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    5/12/1434 H

    Detail
    0
    225
  • Apa hukum menyembelih kambing yang patah tanduknya ?
  • Apa hukum menyembelih kambing yang patah tanduknya ?

    ما حكم الأضحية بالشّاة المكسورة القرن؟

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Setelah memohon taufik dari Allah, maka jawaban pertanyaan saudara adalah sebagai berikut :

    Sah kurban dengan kambing yang patah tanduknya, tetapi berkurban dengan yang tidak patah tanduknya lebih utama.

    Saudaramu

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    Detail
    0
    5
  • Keutamaan Kurban
  • Apakah shahih hadis Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam tentang keutamaan berkurban ?

    فضل الأضحية

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Setelah memohon taufik dari Allah, maka jawaban pertanyaan saudara adalah sebagai berikut :

    Tidak ada yang shahih hadis tentang keutamaan ibadah kurban kecuali hadis tentang tidak pernahnya Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam meninggalkan ibadah kurban.

    Saudaramu

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    Detail
    0
    204
  • Menyembelih Setengah Unta Untuk Satu Anak Laki-laki dan Perempuan
  • Kami telah menyembelih kurban dengan perhitungan setengah ekor unta untuk satu anak laki-laki dan perempuan seperti akikah, apakah diperbolehkan ?

    ذبحنا نصف بدنة عن ولد وبنت كعقيقة فهل تجزئ؟

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Setelah memohon taufik dari Allah, maka jawaban pertanyaan saudara adalah sebagai berikut :

    Jumhur ulama fikih berpendapat tentang bolehnya sembelihan akikah sebagaimana  bolehnya sembelihan kurban. Dan diperbolehkan dalam kurban menyembelih unta, sapi dan kambing. Dan ulama yang berpendapat demikian berselisih  dalam beberapa hal. Di antara mereka ada yang menyatakan : Dibolehkan ikutnya unta dan sapi dalam hukumnya. Maka sepertujuh bagian unta sama dengan satu kambing. Sepertujuh bagian unta sama dengan satu bagian untuk anak-anak perempuan. Dua pertujuh unta sama dengan bagian seorang anak laki-laki. Ini merupakan pendapat Madzhab Syafii dan Hanafi.

    Sedangkan Madzhab Malikiyah dan Hanabilah tidak memperbolehkan kecuali satu ekor unta sama dengan satu ekor kambing.

    Dan sebagian ulama Malikiyah, Hanabilah dan Dhohiriyah tidak memperbolehkan kurban kecuali dengan kambing, karena Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda :

    عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة

    "Untuk anak laki-laki dua ekor kambing, dan untuk anak perempuan satu kambing"

    Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad dan Tirmidzy dari hadis Umu Karzi Al Ka'biyah, dan sebagaimana hadis Aisyah dan lafadznya :

     ((أمرنا رسول الله أن نعق عن الجارية شاة وعن الغلام شاتين))

    "Rasulullah memerintahkan kami untuk menyembelih bagi anak perempuan satu kambing, dan untuk anak laki-laki dua kambing"

    Dan tidak diragukan lagi bahwa ini lebih hati-hati dan lebih dekat kepada sunah dan amalan para sahabat.

    Wallahu A'lam.

    Saudaramu

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    Detail
    0
    216
  • Menyembelih Kurban Malam Hari Raya
  • Apakah boleh menyembelih hewan kurban malam hari raya ied yaitu setelah terbenamnya matahari hari kesembilan ?

    ذبح الأضحية ليلة العيد

    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Para ulama bersepakat bahwasanya tidak diperbolehkan penyembelihan hewan kurban sebelum terbit fajar. Tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka sebagaimana telah diriwayatkan dalam Shahih Bukhari (No 5500) dan Muslim (No 1960) dari hadis Jundub bib Sufyan Al Bajly bahwasanya Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam melihat ada seekor kambing yang telah disembelih sebelum sholat, kemudian beliau bersabda :

    "Barang siapa yang menyembelih sebelum sholat ied maka sembelihlah sembelihan yang lain sebagai pengganti"

    Dan ada hadis lain yang berasal dari Anas dan Barra bin Azib Radhiyallahu 'anhuma.

    Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kalian.

    Saudaramu

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    Detail
    0
    448
  • Hukum Kurban Bersama Dengan Niat Berbeda
  • Apakah diperbolehkan tiga orang yang berbeda tempat tinggalnya ikut dalam penyembelihan seekor sapi. Salah seorang dari mereka meniatkannya untuk kurban. Sedangkan dua orang yang lain menyembelih bukan untuk kurban tetapi hanya untuk mendapatkan dagingnya saja ?

    حكم الاشتراك في الذبيحة بنوايا مختلفة

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Setelah memohon taufik dari Allah, maka jawaban pertanyaan saudara adalah sebagai berikut :

    Para ulama dalam masalah kurban bersama dalam satu sembelihan sedangkan di antara mereka ada yang meniatkan kurban dan ada yang menginginkan dagingnya saja ada dua pendapat :

    Pendapat pertama :

    Dibolehkannya bergabung dalam satu sembelihan baik ibadah yang wajib ataupun yang sunah.  Boleh baik semuanya meniatkan taqarrub dengan sembelihannya ataupun sebagian meniatkannya hanya ingin mendapatkan dagingnya saja. Dan ini adalah pendapat ulama Syafiiyah dan Hanabilah.

    Mereka berdalil dengan hadis Riwayat Imam Muslim (No 1318) dari Jabir Radhiyallahu 'anhu ia berkata : Kami pergi bersama Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam bertalbiyah untuk haji. Kemudian beliau memerintahkan kami saling bergabung menyembelih dalam satu ekor unta atau sapi. Setiap tujuh orang bergabung dalam satu unta.

    Dalam riwayat yang lain : Kami mengikuti Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam dalam ibadah haji dan umroh, kami menyembelih tujuh orang untuk satu ekor unta.

    Dan hadis ini menunjukan bahwasanya orang yang melakukan ibadah haji umroh ada yang meniatkan haji wajib ataupun sunah sedangkan mereka boleh bergabung dalam satu sembelihan.

    Ketika ada pebedaan niat dalam ibadah mendekatkan diri kepada Allah tidak berpengaruh dalam keabsahan sebuah ibadah, maka bisa juga difahami bolehnya berbeda tujuan dalam sebuah amalan tidak berpengaruh ketika bergabung beberapa orang dalam sahnya satu sembelihan.

    Pendapat kedua :

    Tidak boleh bergabung dalam satu sembelihan  orang-orang yang berbeda niat ibadah mendekatkan diri kepada Allah dengan selainnya. Hal ini dikarenakan sembelihan yang ada satu ekor. Maka tidak boleh sebagian diniatkan ibadah mendekatkan diri kepada Allah dan sebagian yang lain tidak diniatkan ibadah. Ini adalah pendapat ulama Hanafiyah.

    Dan pendapat yang paling dekat yaitu tidak dibolehkannya bergabung beberapa orang dalam satu sembelihan kecuali dengan niatan ibadah mendekatkan diri kepada Allah. Alasannya adalah Izin dari Rasulullah ada dalam jenis ini. Sedangkan niatan yang berbeda dalam jenis ibadah (wajib dengan sunah) tidaklah berpengaruh. Karena semuanya meniatkan ibadah. Sedangkan ketika ada yang hanya menginginkandaging saja, maka berbeda hukumnya.

    Wallahu A'lam.

    Saudaramu

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    Detail
    0
    232
Terbanyak dibaca
  • Hukum membaca sesuatu yang ber-tema-kan sex
  • Apakah diperbolehkan bagiku membaca atau melihat gambar-gambar yang bersifat pornografi, untuk lebih membangkitkan nafsu, karena aku tidak menemukan kepuasan dalam bersetubuh kecuali dengan seperti itu?

    حكم قراءة مواضيع جنسية

    Detail ..
    0
    5071
  • Membicarakan Urusan Dunia di Dalam Masjid
  • Apa hukumnya membicarakan urusan dunia di dalam masjid?

    حكم الكلام في أمور الدنيا داخل المسجد

    Detail ..
    0
    1786
  • TIDAK URUT KETIKA MEMBACA AL QURAN
  • Syaikh yang kami muliakan, Assalaamualaikum warahmatullah wa barakatuh. Apakah dibolehkan membaca Al Quran secara acak tanpa sesuai urutan dalam mushaf? Dan itu diketahui dengan istilah tankis ? التنكيس في قراءة القرآن

    Detail ..
    0
    1659
Terbanyak diunduh
  • Puasa Hari Asyura dan Keutamaannya
  •  

    Puasa Hari Asyura dan Keutamaannya

    صوم يوم عاشوراء وشيء من فضائله

    Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Aku bershalawat kepada utusan yang menjadi rahmat bagi seluruh alam Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kepada keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba'du …

    Pertama-tama, hal yang berkaitan tentang keutamaan puasa hari ayura (10 Muharam) adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam :

    «إني لأحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله»

    "Sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lalu."

    Ini merupakan sebuah keutamaan yang agung, pahala yang besar dari sebuah amal yang ringan yakni hanya dengan berpuasa beberapa jam namun mendapatkan gugurnya dosa setahun penuh; yaitu berpuasa sehari di musim ini yang hanya dalam waktu beberapa jam dan sedikit kepayahan. Ini adalah sebuah keutamaan dan sebuah kebaikan di mana hendaknya setiap muslim bersegera melaksanakannya dan memohon balasan di sisi Allah Azza waJalla.

    Keutamaan ini bisa diraih dengan berpuasa pada hari asyura (10 Muharam-saja) menurut pendapat yang benar dari ulama. Adapun menurut ulama yang lain, bahwasanya dibolehkan mengikutkannya dengan puasa pada hari yang lain; dan sebagian ulama yang lain memandang makruh apabila berpuasa pada tanggal 10 muharam saja. Yang benar adalah menyendirikan puasa asyura (10 Muharam saja) tidaklah tercela, bahkan merupakan sunnah, karena demikianlah hari puasa yang dimaksud. Sesungguhnya ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  sampai di kota Madinah menemukan orang-orang Yahudi sedang berpuasa, dan dahulu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga berpuasa sebelum diangkat menjadi Nabi karena hari itu merupakan hari yang diagungkan orang-orang Quraisy yakni hari di mana Ka'bah dipasang kain Kiswah lalu mereka berpuasa dan Nabi-pun berpuasa. Lalu tatkala beliau tiba di Madinah dan melihat orang-orang Yahudi berpuasa, maka beliaupun bertanya kepada mereka seraya berkata: "Hari apa ini?!" Merekapun menjawab: "Ini adalah hari di mana Allah Ta'ala menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari musuhnya Fir'aun, lalu Musa berpuasa". Maka Nabi-pun berkata: أنا أحقُّ بموسى  "Aku lebih berhak atas Musa dari pada kalian" . Dan dalam riwayat yang lain أنا أولى بموسى منكم  "Aku lebih berhak atas Musa dari kalian semua". Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya berpuasa.

     
    Dalam puasa tersebut terdapat keutamaan yang hendaknya seorang mukmin bersegera melaksanakannya. Sebagaimana para sahabat radhiyallahu 'anhum mendapati Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  sangat menganjurkan dan mendorong mereka agar berpuasa pada hari tersebut. Lalu mereka berpuasa dan mengajak anak-anak mereka berpuasa sebagaimana terdapat dalam Shahih al-Bukhari dari jalan Khalid bin Dzakwan dari ar-Rabi' binti Mu'awwidz bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seorang utusan kepada kaum Anshar dan memerintahkan supaya berpuasa Asyura; Lalu ia berkata: Lalu kamipun berpuasa dan mengajak anak-anak kami berpuasa serta membuatkan mereka mainan dari bulu. Apabila salah satu dari mereka menangis karena meminta makanan, maka kami berikan mainan tersebut, seperti itulah sampai datang waktu berbuka. Hal ini menunjukkan tingginya perhatian mereka, di mana puasa tersebut tidak hanya dikerjakan orang dewasa saja, namun anak-anakpun turut berpuasa.  

    Oleh karena itulah aku mengajak diriku dan saudara-saudaraku serta orang-orang bertanggung jawab di rumah masing-masing, supaya mendorong anak-anak mereka berpuasa meskipun mereka belum akil baligh. sebagaimana dalam sebagian riwayat: walaupun mereka belum bisa membedakan baik dan buruk. Demikian pula yang disebutkan al-Hafidz Ibnu Hajar: bahwasanya dahulu mereka juga mengajak anak-anak yang masih menyusu. Namun riwayat ini lemah. Adapun riwayat yang mengatakan bahwa mengajak anak-anak yang telah mampu berpuasa yang sebagaimana hadis Rabi'ah radhiyallahu 'anha, terdapat dalam shahih al-Bukhari.  

    Oleh karena itu hendaknya kita mendorong serta menumbuhkan kecintaan mereka bukan karena paksaan yang merupakan Sunnah namun karena dorongan atas amal shalih, dengan kemudahan berupa waktu siang yang pendek dan udara dingin.  

    Adapun yang berkaitan dengan khilaf-dan bukan waktunya dibahas disini-tentang Asyura, apakah ia senin ataukah selasa? Di sini terdapat perbedaan pendapat yang kuat diantara pakar dan ulama. Bahkan ahli falak dan yang mengikuti perkembangannya berselisih apakah dia hari senin ataukah selasa. Yang pasti untuk negara kita (Saudi), Mahkamah Agung telah memutuskan bahwa ia jatuh pada hari senin disebabkan tidak nampaknya bulan pada malam sabtu; dengan demikian awal bulan jatuh pada hari ahad, yang selanjutnya hari Asyura jatuh pada hari selasa besok, insya Allah Ta'ala.


    Dan saya sampaikan: dalam masalah yang diperselisihkan bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, dan perbedaan pendapat yang ada dalam masyarakat kembali kepada perkataan para ulama, dan hendaknya seseorang tidak mencela orang lain sebelum jelas kebenarannya. Hal itu karena semuanya menuju tujuan yang sama yaitu kebenaran. Adapun kebenaran tidak mengharuskan adanya kesepakatan seluruh manusia dalam permasalahan tertentu, dan untuk mendapatkan sesuatu atau amalan tertentu. Hal itu dikarenakan adakalanya terjadi perbedaan dalam berijtihad dan berpendapat. Dalam hal ini, maka siapa yang mengatakan bahwasanya jatuh pada hari senin sebelum adanya penjelasan dari lembaga khusus tentunya mereka memiliki argumen, dan siapa yang mengatakan jatuh pada hari selasa tentunya mereka juga memiliki argument. Akan tetapi setelah Mahkamah Agung menyampaikan keterangan, maka selesailah permasalahan, dan semuanya menjadi jelas dengan adanya keterangan dari lembaga yang berwenang.  Namun sebelumnya sebagian mereka bersikeras dan berkata: "mengapa”? Disinilah engkau akan dapati Tarik-menarik dan permusuhan dalam banyak hal. Dan ini merupakan contoh bagi kita bagaimana menyikapi perbedaan, kadang kala jika salah seorang dari kita memiliki pendapat, maka ia memaksakan pendapatnya pada dirinya, dan ini adalah sesuatu yang alami dan ia benar dalam hal itu. Namun, jika ia memaksakan pada orang lain maka hal ini menyelisihi jalan yang benar yakni jalannya para ulama. Karena tidak pantas bagi seseorang memaksakan ijtihadnya kepada orang lain dalam masalah yang bersifat ijtihadi. Bahkan seorang mujtahid yang membahas sesuatu dan mencapai hasil tertentu tidak boleh baginya memaksa manusia agar sependapat dengannya; lalu bagaimana halnya dengan orang yang hanya mengikuti suatu pendapat yang ia ambil dari pendapat salah seorang mujtahid memaksakan manusia agar sependapat dengannya?!   

    Para sahabat berbeda pendapat di masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan tidak memaksakan orang yang berbeda pendapat dengannya dalam masalah yang terdapat khilaf yang bisa diterima. Nabi melarang perpecahan dan mencelanya sebagaimana yang terjadi dalam beberapa kesempatan. Namun beliau mengizinkan dalam beberapa kesempatan yang lain. Sebagaimana sabda beliau setelah perang Ahzab dan perginya tentara gabungan kaum kafir: «لا يصلين أحدكم العصر إلا في بني قريظة»

    "Janganlah sekali-kali kalian shalat ashar melainkan setelah sampai pada Bani Quraidhah"

    Maka para sahabat berbeda pendapat dalam memahami perkataan Nabi tersebut. Apakah yang di maksud Nabi shallallahu 'alaihi wasallam supaya para sahabat bersegera dalam berjalan dan jangan sampai terlambat menuju Bani Quraidhah, ataukah yang dimaksud adalah benar-benar jangan melaksanakan shalat ashar melainkan jika telah sampai pada Bani Quraidhah walaupun matahari telah terbenam? Mereka terpecah dalam dua pendapat ini, sehingga di antara mereka ada yang melaksanakan shalat ketika telah masuk waktu shalat dan khawatir keluar dari waktunya. Dan di antara mereka ada yang mengakhirkannya dan tidak melaksanakan shalat melainkan setelah sampai di Bani Quraidhah. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui perbedaan pendapat tersebut. Dan apakah beliau mencela salah satu dari mereka?! Jawabnya adalah 'tidak', bahkan tidak ditemukan beliau mengatakan : kelompok yang melakukan ini benar, atau kelompok yang melakukan itu benar. Adapun apa yang terjadi tidak terdapat penjelasan di dalamnya.

    Di sini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa apa yang terkandung dalam lafadz tersebut masuk dalam masalah ijtihad dan memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Hendaknya seseorang tidak memaksakannya pada orang lain, dan tidak membawa masyarakat pada satu pendapat, apalagi meninggalkan jarak yang jauh terhadap mereka yang berbeda dengannya selama kita berharap kebenaran, walaupun kita berbeda hasilnya, hal itu tidaklah masalah.

    Mereka yang berbeda pendapat dalam hal shalat tersebut terjadi pada zaman Nabi dan semua berharap kebenaran, yakni mereka yang shalat sebelum sampai (di Bani Quraidhah) dan  mereka yang shalat setelah sampai, semua mengharapkan kebenaran. Namun mereka berbeda pendapat dalam mencapai kebenaran tersebut, kebenaran atas apa yang mereka harapkan. Aplikasi atas anjuran Nabi dalam sabda beliau «لا يصلين أحدكم العصر إلا في بني قريظة»

    Demikian pula banyak yang berbeda pendapat dalam penentuan awal bulan. Salah satu kelompok berkata demikian, dan kelompok yang lain berkata demikian, dan tidak akan berhenti –dan setelah berhenti maka selesailah masalah-semuanya menginginkan kebenaran. Dan semuanya berharap keutamaan hari ini dengan puasa, walaupun mereka berbeda pendapat dalam menentukan hari ini. Kondisi perbedaan pendapat dalam penentuan hari ini juga tidak merusak persaudaraan sama sekali.

     

     

    Detail ..
    0
    250
  • Hari Asyura
  • Hari Asyura

    مقال الشهر: اليوم الصالح عاشوراء

     

    Hari Asyura (10 Muharram) adalah hari yang baik, demikianlah Bani Israil mensifati hari tersebut ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada mereka mengapa mereka berpuasa. Mereka menjawab: "Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh-musuh mereka sehingga Musa berpuasa. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: :

    «فأنا أحق  بموسى منكم»

    "Aku lebih berhak atas Musa dari kalian"

    Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu.

    Hari Asyura adalah hari yang baik, di mana Allah tampakkan kebenaran dan Allah hilangkan kebatilan sebagaimana firman Allah Ta'ala:

    {فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

    "Maka terbuktilah kebenaran dan segala yang mereka kerjakan jadi sia-sia". Q.S. al-A'raf: 118

    Bagaimana tidak menjadi hari yang baik, padahal telah tampak kebenaran dengan terpeliharanya dunia dan nilai-nilai kemanusiaan.

    Hari Asyura adalah hari yang baik di mana Allah menolong para waliNya. Allah selamatkan Musa beserta kaumnya pada hari itu dan Allah hinakan musuh-musuhnya, hingga Allah  tenggelamkan Fir'aun dan tentaranya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

    :{فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ}

    "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk. Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya kiamat. (Lalu kepada malaikat diperintahkan), "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras."  Q.S. Ghafir: 45-46

    Hari Asyura adalah hari yang baik, di mana pada hari itu orang-orang yang beriman menyebut-nyebut kebaikan yang telah Allah berikan berupa pertolongan bagi saudara-saudara mereka seiman. Demikianlah persaudaraan atas dasar iman mampu melampaui batas ruang dan waktu; sehingga bersatulah ahlul iman meski berbeda bangsa, nabi, nasab, maupun zaman mereka.

    {إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً}

    "Sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu". Q.S. al-Anbiya: 92

    Seorang mukmin bergembira dengan kemenangan saudaranya walau mereka berada pada zaman yang jauh berbeda, dialah yang paling berhak bahagia dibanding siapapun juga karena ikatan iman melebihi ikatan apapun. Demikianlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata "Aku lebih berhak atas Musa dari kalian" kepada Bani Israil atas apa yang mereka katakan kepada beliau tentang hari baik di mana Allah menolong Musa pada hari itu. Ya, demi ayah dan ibuku di tanganNya, beliau lebih berhak atas Musa dari pada orang-orang Yahudi.

    Hari Asyura adalah hari yang baik, barang siapa berpuasa maka akan diampuni dosa-dosanya setahun yang telah lalu. Sebagaimana hadis yang terdapat dalam shahih Muslim dari Abu Qatadah bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

    «وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله» .

    "Adapun puasa hari asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu." H.R. Muslim

    Hari asyura adalah hari yang baik, yang dikenal keutamaannya dengan puasa pada hari ke sepuluh bulan Muharram walaupun hanya berpuasa satu hari saja. Tatkala Nabi sampai di kota Madinah beliau menemukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, lalu beliau bertanya kepada mereka: "Hari apakah ini sehingga kalian berpuasa?" Mereka menjawab: Ini adalah hari yang agung, hari di mana Allah selamatkan Musa beserta kaumnya, dan tenggelamnya Fir'aun beserta kaumnya. Lalu Musa berpuasa sebagai bentuk syukur, dan kamipun berpuasa. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kami lebih berhak atas Musa dari pada kalian." Lalu Rasulullah berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.

    Hari asyura adalah hari yang baik di mana dahulu sebelum hijrah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa bersama kaumnya. Kaum Quraisy sangat mengagungkan hari tersebut dengan berpuasa karena pada hari itu mereka mengganti kain kiswah ka'bah.

    Hari Asyura adalah hari yang baik di mana Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sangat menganjurkan berpuasa pada hari itu, lalu para sahabat berpuasa dan mengajak anak-anak mereka untuk berpuasa sebagaimana hadis yang terdapat dalam Shahih Bukhari dari jalan Khalid bin Dzakwan dari Rabi' binti Muawwadz berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seseorang pada pagi hari di hari Asyura (10 muharam) ke salah satu perkampungan anshar, lalu berkata: 

    «من أصبح مفطرا فليتم بقية يومه، ومن أصبح صائما فليصم»

    "Barangsiapa yang tidak berpuasa di pagi hari, hendaknya ia menyempurnakan sisa hari ini dengan berpuasa. Dan barangsiapa yang berpuasa pada pagi harinya, hendaklah ia tetap berpuasa." Lalu Rabi' berkata: Kemudian kami berpuasa setelah itu, dan kami mengajak anak-anak kami berpuasa, sampai-sampai kami buatkan untuk mereka mainan dari bulu. Apabila salah satu dari mereka menangis karena ingin makan, maka kami berikan mainan itu sampai waktu berbuka tiba. Hari asyura adalah hari yang baik yang sangat berharga dengan pahala yang telah Allah berikan di dalamnya berupa keselamatan Musa beserta kaumnya, dan kebinasaan Fir'aun beserta bala tentaranya. Hari asyura juga merupakan hari istimewa dengan disyariatkannya berpuasa, dan dihapuskannya dosa orang-orang yang berpuasa pada hari itu, dosa satu tahun yang telah lalu. Semoga Allah memperbaiki hari-hari dan amalan kita … amin

     

    Detail ..
    0
    297
  • Meletakkan Kaki di Atas Kaset Agama
  • Apakah berdosa meletakkan kaki di atas kaset yang direkam di dalamnya ayat-ayat dan pelajaran agama?

    وضع القدم على شريط ديني

    Detail ..
    0
    420
Like Facebook
Official our channel on YouTube
Berlangganan milis
Yang sedang online
Jumlah : 6
Pengunjung : 208795