Kegiatan dakwah
Makalah
  • Mengapa Harus Optimis?
  • Beragam gangguan mempengaruhi cara hidup, baik dialami sebagian besar orang maupun orang tertentu, entah dalam urusan dunia atau agama. Mengotori jernihnya kehidupan, bahkan terkadang menghalangi perjalanannya. Hidup ini sarat dengan berbagai rintangan dan gangguan:“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al Balad: 4). Penderitaan dunia dan kesulitannya hampir melanda semua orang:
    Setiap orang yang menjumpainya mengeluhkan deritanya
    Duhai, milik siapakah dunia ini?
    Manusia memiliki sikap yang berbeda dalam menghadapi dinamika kehidupan. Ada yang menjadi budak problematika, kerusakan dan krisis duniawi, sehingga dunia menguasai, mengalahkan dan menawan mereka, inilah sikap mayoritas manusia.
    Adapula yang mampu terbebas dari belenggu dan rintangan krisis karena berbagai sebab dan sarana yang dapat meringankan cengkraman duniawi, sehingga rintangan dan halangan duniawi tidak membebani mereka.
    Dan di antara sebab dan sarana yang paling mudah untuk mewujudkan hal tersebut adalah menanamkan optimisme dan harapan cemerlang yang dapat mencegah musibah dan masalah terjadi.
    Hiasilah diri dengan harapan yang mulia
    Duhai, betapa sempitnya hidup ini kalaulah bukan karena harapan
    Nabi kita juga senang terhadap sikap optimis. Dalam shahih Bukhari, dari Abu Qatadah, dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Sikap optimis memukau diriku (yaitu kalimat positif).”
    Maka, tidak heran jika sikap optimis mencegah masa depan yang suram, sebagai jaminan hadirnya kebaikan dan penghargaan terhadap harapan yang dijanjikan.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa kagum dengan sikap optimis. Karena optimis merupakan buah dari prasangka yang baik kepada Allah Ta’ala, dan keyakinan akan rahmat dan kedermawanan-Nya :
    Dan sungguh aku senantiasa berharap kepada Allah
    Hingga aku melihat segala yang Allah perbuat dengan prasangka baik
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa kagum dengan sikap optimis. Karena optimis melapangkan dada, melembutkan hati, dan merupakan sebab kebahagiaan dan hilangnya kesusahan dari manusia. Oleh sebab itu, optimis merupakan salah satu unsur penting dalam kesehatan jasmani dan rohani.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa kagum dengan sikap optimis. Karena optimis memberikan semangat dalam bekerja, membuat kita bersungguh-sungguh dan mengerahkan segala kemampuan demi tercapainya tujuan dan target. Optimis dan harapan merupakan kunci sukses bekerja, dan obat dari kelemahan dan kemalasan.
    Barangsiapa yang kegundahannya menggelayuti harapannya
    Ia akan menanggung beban berat dalam meraihnya
    Pengaruh optimisme akan dirasakan pada tiap pribadi atau masyarakat. Tidak pula hanya terbatas pada sebagian sisi kehidupan saja, tetapi semua sisi kehidupan.
    Contoh optimisme adalah tindakan seorang kepala investasi ekonomi. Para ahli ekonomi mencatat kadar optimisme masyarakat saat mendata kegiatan dan kecenderungan investasi mereka. Dari catatan ini mereka dapat mengukur kemampuan investasi seseorang atau masyarakat.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa kagum dengan sikap optimis. Karena sikap optimis membantu manusia melupakan masa lalu, kegagalan, dan ketergelincirannya. Juga mengurangi beban, tantangan, kesulitan dan ujian yang terjadi di masa kini. Kekhawatirannya akan hilang dan harapan mencapai tujuannya akan meningkat.
    Jika kesedihanku berkecamuk dalam hatiku
    Aku meminta jalan keluar dengan harapan
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menerapkan optimisme sepanjang hidupnya. Sikap optimis beliau tidak pernah menurun dalam perjalanan mencapai tujuan dan maksudnya, bahkan justru meningkat. Inilah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam seluruh lini kehidupannya.
    Di Makkah, ketika siksaan, embargo dan kondisi semakin memprihatinkan, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada para sahabatnya, ketika mereka mengalami ujian yang sangat berat: “Demi Allah, sesungguhnya Allah Ta’ala pasti akan menyempurnakan agama ini, hingga seorang pengendara berjalan dari San'a ke Hadramaut tanpa merasa takut kecuali kepada Allah, atau hanya takut dari serigala yang akan mengancam kambing ternaknya, tetapi kalian ini adalah kaum yang tergesa-gesa.”
    Ketika hijrah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu diusir dan diliputi rasa takut dari segala penjuru. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu: “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40).
    Maka Allah Ta’ala pun membenarkan sabda Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Qur`an menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 40).
    Dan ketika perang Ahzab, musuh dan lawan mengepung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian beliau memberi kabar gembira para sahabatnya bahwa Syam, Persia dan Yaman akan dikuasai.
    Maka, setelah kita membaca semua kisah ini, bukankah kita harus optimis dan berusaha merealisasikan harapan kita?

    لماذا نتفاءل

    Detail
    0
    747
  • Media Informasi Mengepung Kita
  • Pada hakekatnya, manusia adalah makhluk sosial yang tidak mungkin hidup tanpa berinteraksi dengan sesamanya. Menyelisihi hal ini, berarti dia telah keluar dari hakekat kemanusiaannya. Sepanjang sejarahnya, manusia telah mengenal berbagai jenis dan bentuk sarana komunikasi.
    Umumnya, komunikasi terbangun secara langsung dengan mengenal kepribadian satu dengan lainnya, yang terbentuk dengan sebab kerja sama dalam suatu negara, kabilah (suku), pekerjaan, profesi dan lain sebagainya. Seringkali fenomena tersebut melahirkan munculnya beragam warna dan bentuk komunikasi darurat (instan) yang seseorang tidak mampu untuk menghindari dan menjauh darinya. Ibaratnya, jenis komunikas ini dibenci namun harus diterima.
    ومن نكد الدُّنيا على الحرِّ أن يرى     ***     عدوَّاً له ما من صداقته بدٌّ
    Betapa menjengkelkannya dunia bagi orang merdeka, tatkala ia melihat musuh   
    Namun tetap dia harus menampakkan persahabatan dengannya
    Sungguh, teknologi modern dan revolusi komunikasi telah melahirkan pola komunikasi yang belum pernah diketahui manusia di masa sebelumnya. Teknologi  memberikan kebebasan cara berkomunikasi di dunia bagi setiap orang, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, jenis kelamin serta umur, dan terus menyebar ke seluruh penjuru dunia. Melalui tulisan seperti `twitter` dan `facebook`, atau melalui suara dan gambar seperti aplikasi `keek`, begitu juga melalui gambar fotografi yang dipilih oleh pemilik akun seperti pada aplikasi `instagram`. Dengan ini, media komunikasi sosial telah meliputi segala sisi komunikasi manusia.
    Semua jenis media komunikasi sosial ini telah menciptakan perubahan gaya hidup. Hingga mayoritas manusia  sibuk dengan beragam media sosial  setiap harinya, sesuai perbedaan umur, kepentingan dan jenjang pendidikan. Bahkan, Anda saksikan kesibukan di dunia maya ini mempengaruhi dunia nyata, sampai hampir-hampir mencekiknya.
    Studi dan himbauan senantiasa diberikan dalam rangka mengarahkan untuk mencegah dampak negatif media sosial ini. Sejauh apa kebaikan dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat, juga sejauh mana nilai-nilai yang dapat menyebabkan pergeseran norma-norma dan tergelincirnya langkah kaki. Bukan hanya masalah syahwat semata, namun perkara yang lebih bahaya dari itu, yaitu hembusan syubhat dan aneka macam pemikiran yang menyimpang ke kanan dan kiri.
    Tak dapat dipungkiri, sesungguhnya banyak manusia memanfaatkan media ini tanpa tujuan, visi dan misi. Tujuan mereka menggunakannya hanya untuk kesenangan semata, copy paste, coba-coba atau sekedar `browsing`. Oleh karena itu, termasuk perkara penting: menyebarkan etika berinteraksi melalui media ini serta mengetahui manfaat dan bahayanya, karena orang yang masuk ke dalamnya tanpa bekal ibarat orang yang berlayar dengan sebuah sampan kecil yang sedang dikelilingi derunya ombak, tinggal menunggu tenggelam dan hancurnya sampan itu.
    Lebih penting lagi, perhatian berupa bimbingan bagi para pengguna media ini, dimana kebanyakan mereka adalah anak-anak muda yang kurang pengalaman hidup. Padahal dalam media-media ini, bayak pengintai jahat yang menjadikannya gerbang dan jalan menuju tayangan-tayangan dan pikiran-pikiran yang sulit untuk dicerna mereka secara langsung. Sehingga menuntut ditingkatkannya filter dalam berfikir dan berperilaku, penjagaaan diri, serta kemampuan untuk menyaring dan membedakan antara yang benar dan salah, antara yang baik dan buruk. Dan Allah lah sebaik-baik penjaga dan Dialah Dzat Yang Maha Pengasih.

    شبكات التواصل تحاصرنا

    Ditulis oleh:    
    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih
    Dosen Fiqih di Universitas Al-Qashim
    11/2/1435 H

    Detail
    0
    709
  • Ahli ilmu dan momen-momen strategis
  • Ahli ilmu dan momen-momen strategis

    Segala puji bagi Allah Rab semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada utusan pembawa rahmat bagi seluruh alam, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba’du .

    Sejarah perjalanan hidup NabiShallallahu ‘alaihi wa sallammemberikan pelajaran bagi siapa saja yang mau mengambilnya. Sejak Allah utus dengan firmannya : 

    يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّر `قُمْ فَأَنْذِرْ

     “Wahai orang yang berselimut. Bangun dan berikanlah peringatan” (Q.S. Al Mudatsir 1-2)

    Rasul senantiasa tidak melewatkan kesempatan memberikan wejangan kepada semua lapisan manusia. Segala jalan yang bisa ditempuhdalam rangkamenyampaikan risalah pasti beliau tempuh. Sebagaimana Rasulullah telah berupaya memanfaatkan momen ibadah haji sebagai waktu yang strategis dalam menyampaikan dakwah kepada banyak kabilah dan suku. Beliau datangi kemah-kemahserta tempat berkumpulmerekaseperti pasar Ukazh,Majinnah dan Dzil majaz. Beliau serukan dakwah tauhid dan ibadah kepada Allah semata, walaupun di tempat tersebut ada kesyirikanyang merupakansebesar-besar dosa.

    Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya (15448) dari hadis Rabiah bin Ibad Ad Dily radhiyallahu ‘anhu yang sebelumnya dalam kejahiliyahan kemudian masuk Islam, berkata : “Saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di pasar Dzil Majaz bersabda: “Wahai manusia, katakanlah : "Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah, maka beruntunglah kalian.” bahkan beliau menyeru di sepanjang jalan mereka, sedangkan manusia mengelilinginya, dan tidaklah aku melihat setiap orang bicara sedangkan Rasulullah tidak diam sambil menyeru ((katakanlah Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah, maka beruntunglah kalian))

    Demikian pula ketika Rasulullah sampai di Madinah setelah hijrah, beliau senantiasa menempuh metode ini. Berkumpul di tengah-tengah manusia, mendatangi perkumpulan mereka mengingatkan tentang Allah dan menyeru mereka kepada Allah. Sampai-sampai Abdullah bin Ubay bin Salul pernah berkata kepada Rasul sebelum dominasi Islam di Madinah (Wahai saudara, sesungguhnya aku tidak faham apa yang engkau sampaikan. Jika itu benar maka janganlah engkau perdengarkan di majelis kami. Pulanglah kamu ke tempatmu dan sampaikan ceritamu kepada orang yang datang kepadamu) H.R. Bukhari (5784), Muslim (3356) dari hadis Usamah bin Zaid.

    Maka sudah sepatutnya bagi penerus para Nabi meneladani apa yang beliau bawa. Tidaklah beliau temukan jalan untuk menyeru manusia kepada kebaikan, dan memberi manfaat bagi mereka kecuali beliau ambil kesempatan tersebut. Adapun manusia pada hari ini sangat membutuhkan dakwah dan penyeru yang bisa menunjukan jalan yang benar; di mana para penyeru kesesatan walaupun mereka berbeda aliran tetapi mereka menyampaikan kesesatan itu dengan berbagai macam metode dan cara. Akan tetapi ketetapan Allah dalam menghadapi kebatilan dan orang-orang yang dibelakangnya adalah dengan adanya dakwah kepada petunjuk dan kebenaran. Dan orang-orang yang sesat senantiasa ada dalam setiap kesempatan yang strategis walaupun mereka berbeda aliran. Tidaklah pantas bagi orang yang berada dalam kebenaran merasa berat dalam memanfaatkan momen  strategis  yang memberikan pengaruh lalu mundur teratur ketika melihat kebatilan dan orang-orang yang bersamanya di dalamnya. Bahkan terlambat mengambil kesempatan dalam momen-momen yang strategis merupakan sebab hilangnya kebaikan yang banyak dan munculnya kerusakan yang lebih besar.  Berapa banyak kerugian dakwah akibat keterlambatan yang terlalu banyak dari para ulama  dan da’inya dalam memanfaatkan media massa dan informasi untuk menyampaikan kebenaran kepada manusia.

    Wahai saudaraku, telah nampak peranan yang sangat luar biasa dari media massa, baik cetak maupupun elektronik dalam mempengaruhi pola pikir manusia dan kecenderungan serta keseharian mereka. Sungguh cerdik musuh Islam memanfaatkan media informasi ini untuk merealisasikan tujuan mereka dan menyebarkan kerusakan pada ummat ini.

    Seyogyanya para penyeru kebenaran dan pembawa panji  syariah untuk berusaha memberikan petunjuk kepada manusia dengan memanfaatkan media-media massa yang memungkinkan. Memanfaatkan kantong-kantong yang terbuka sebelum penyeru kesesatan. masuk ke dalamnya.

    Wahai para saudaraku, kita sangat butuh akan pemanfaatan semua media massa dan informasi semaksimal mungkin baik untuk sesama muslim ataupun kepada orang non muslim. Dengan syarat penuh keikhlasan dan penuh keseriusan dan kekuatan dalam menampilkan sebaik-baik penyajian. Sebagaimana Allah berfirman

    ﴿ قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾

    “Katakanlah: “inilah jalan(agama)ku, aku dan orang-orangyang mngikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”(Q.S. Yusuf : 108)

     

    Wahai para penyeru kebenaran, wahai para pembawa panji syariat, wahai para ahli ilmu dan harta. Tidak ada waktu lagi untuk ragu atau menimbang kembali perkara yang maslahahnya belum jelas atau kerusakannya belum nampak. Berapa banyak orang yang menunggu perkataan yang benar, dakwah yang lurus yang bisa mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya kebenaran. Menunjuki mereka kepada kedamaian.  Apakah dapat diterima secara syariat maupun akal sehat jika kita padamkan cahaya lilin ketika sudah pekat kegelapan. Oleh karena itu bersegera dan bersegeralahkepada setiap jalan yang bisa menerangi atau menyelamatkan orang yang tenggelam atau orang yang tersesat. Jikalau engkau sanggup memberikan petunjuk kepada seseorang menujujalan Allah, maka itu lebih baik dari kendaraan yang paling mahal.

    Detail
    0
    495
  • Ibadah dalam senyap
  • Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam di penghujung dunia dengan membawapetunjuk dan agama yang benar,  sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, yang Allah utus untuk membantu manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. “Rasul yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Allah sebagai penjelas, untuk mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal shalih dari kegelapan menuju cahaya, barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir dan senantiasa beramal shalih, maka Allah masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Sungguh Allah adalah sebaik-baik pemberi rizki.” (At-Talaq : 11)
    Tidaklah mengherankan bahwa apa yang datang dari Rasulullah adalah perbaikan perilaku dan akhlak. Imam Ahmad meriwayatkan (No 8939)  dari hadis Abi Hurairah beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Aku diutus semata-semata untuk menyempurnakan akhlak yang baik” dalam riwayat Al Hakim (No 4221) disebutkan pula “Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
    Perbaikan akhlak merupakan hal yang paling jelas yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diketahui oleh siapa saja yang mengenal dakwah beliau. Hal ini merupakan tema besar dalam dakwah Islam. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Sahihnya (No 3861) bahwasanya Abu Dzar sebelum keislamannya mengirim saudaranya untuk mencari tahu kabar tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu disuruhnya untuk meneliti apa yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Maka ketika saudaranya pulang dengan membawa kabar tentang Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menyampaikanseraya berkata : “Ia menyeru kepada akhlak yang mulia.”
    Sesungguhnya Islam dengan akidahnya dan hukum-hukumnya datang mengantarkan manusia dalam tahapan yang luas dengan lompatan yang luar biasa dari kebobrokan moral dengan segala jenisnya ke arah kemuliaan dengan segala cabangnya. Akhlak yang mulia bukanlah ibadah sunah, tetapi merupakan pokok ketaatan. Dia menjadi sandaran kedudukan dalam menempuh jalan kepada Allah. Imam Bukhari meriwayatkan (No 6035) dan Muslim (No 2321) dari hadis Abdulah bin Amr-radhiyallahu ‘anhuma- , bahwasanya Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” Setinggi apakah kadar akhlak mulia yang kamu miliki, maka setingkat itulah kedudukanmu dalam kehidupan beragama yang benar. Agama semuanya adalah akhlak. Siapapun yang berakhlak mulia maka bertambahlah kadar keagamaanya. Menguatkan hal itu  hadis yang diriwayatkan Ahmad dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda : “orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.”  Berkata Fudhail : “siapa yang jelek akhlaknya maka jeleklah agamanya.”
    Tidaklah sempurna agama seseorang sampai ia menyempurnakan akhlak mulia yang dimilikinya. Dia akan senantiasa mengiringinya dalam berinteraksi dengan orang lain. Ia akan berusaha mengerahkan kemampuannya dalam kebaikan untuk orang lain dan ia akan berusaha menghilangkan kejahatan dari mereka, dan bersegera berbuat kebaikan untuk mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan penekanan tentang korelasi  akhlak mulia dengankesempurnaaan beragama yang benar dalam hadis yang sangat banyak. Diantaranya hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad (No 7879) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu “barangsiapa yang tidak berterimakasih kepada manusia, maka tidak akan berterimakasih kepada Allah.” Maka siapapun yang mememilki perangai dan kebiasaan mengingkari nikmat yang berasal dari orang lain lambat laun dia juga orang yang akan mengingkari nikmat Allah. Maka tidaklah mengherankan derajat dan kedudukan orang berakhlak mulia mencapai derajat orang yang berpuasa dan sholat malam, sebagaimana disampaikan  Nabi dalam hadis Aisyah.
    Berkata seorang penyair :
    ولو أني خُيِّرت كل فضيلة ما اخترت غير مكارم الأخلاق
     Seandaiya aku disuruh memilih semua keutamaan * tidaklah aku pilih melainkan akhlak mulia
    Sungguh keindahan akhlak mulia dan keutamaanya tidak berkutat pada banyaknya dan penyebutan keutamaan dan kemuliannya  serta orang-orang yang berakhlak. Akan tetapi keindahan yang hakiki akan akhlak mulia adalah dalam aplikasinya secara nyata yang tampak dalam hubungan antar sesamanya dalam kehidupan.
    Sebagian besar orang senang dengan akhlak yang mulia. Merasa takjub dengan kedermawanan, memuji kesabaran, kelembutan, keberanian, bertetangga yang baik, menjalin silaturahmi, memenuhi janji, jujur dalam berkata dan semua kebaikan. Tetapi sebagian yang lain hanya sekedar terpana dengan hal ini tanpa ada upaya memuwujudkannya dalam dirinya.
    Tidaklah manusia mengetahui bahwa kedermawanan membuat orang terpuji tetapi itu semua datang dengan penuh perjuangan
    Betapa banyak kita dengar pujian tentang kedermawanan dalam kata-kata indah, dan orang yang meninggalkannya dengan mudah, penghormatan atas kemurah hatian,dan orang yang meninggalkannya dengan mudah, serta penghargaan atas akhlak mulia sedangkan ia tinggalkan begitu saja.
    وصدق القائل: الجود يفقر والإقدام قتال.
    Benarlah orang yang berkata  : Kedermawanan membuat kefakiran, dan kepahlawanan membunuh.
    Kita menyeru kepada terealisasinya akhlak yang mulia dalam realita kehidupan. Kita berusaha mengalahkan diri kita dengan berusaha berakhlak mulia dan menyingkirkan aral rintangan. Ini semua membutuhkan keseriusan kita dalam mengoreksi perangai diri dan membutuhkan mata hati yang  jernih dalam interaksi kita. Senantiasa bersungguh-sungguh  dengan penilaian dan perbaikan diri. Serta praktek nyata dalam rangka memperoleh akhlak yang baik.
    وإن هو لم يحمل على النفس ضيمها فليس إلى حسن الثناء سبيل
    Dan jika dia belum bersabar atas keluhan jiwanya * maka tidak akan sampai padajalan kemuliaan.
    العبادة الغائبة.

    Detail
    0
    577
  • Strategi Jitu Mendulang Pahala
  • Strategi Jitu Mendulang Pahala
    Segala puji bagi Allah Rab semesta alam. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada utusan pembawa rahmat bagi seluruh alam Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan semua yang mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.
    Amma ba’du
    Satu hal yang sangat penting untuk diketahui setiap manusia, baik mukmin maupun mukminah yakni hendaknya mengetahui bahwa mereka diciptakan hanya untuk beribadah kepadaNya tanpa menyekutukanNya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepadaKu.” Allah subhanahu wa bihamdih juga berfirman : “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.”
    Inilah dunia, negeri ibadah dan ujian. Allah Ta’ala telah mempercayakan kepada para hambaNya berbagai macam kewajiban dan  kita tidak diciptakan melainkan untuk tujuan yang agung yakni merealisasikan penghambaan dan peribadatan kepadaNya. Oleh karena itu hidup manusia tidak akan menjadi tenang, tidak akan selamat  dunia dan akherat, tidak akan bahagia hati mereka, melainkan apabila merealisasikan  tujuan tersebut yakni penghambaan diri kepada Allah Ta’ala yang merupakan kewajiban seluruh makhluk, tidak hanya kewajiban yang bersifat indiviual. Oleh karenanya, Allah Ta’ala mengutus Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan membawa petunjuk dan agama yang lurus. Petunjuk berupa ilmu yang bermanfaat dan agama yang lurus berupa amal shalih.
    Misi setiap insan adalah merealisasikan penghambaan kepada Allah Ta’ala yang pada dasarnya merupakan ibadah hati yang apabila tidak berkualitas, maka rendah pula nilainya dihadapan Allah Ta’ala sehingga tak ada gunanya seseorang berdiri maupun duduk , datang dan pergi, beramal maupun tidak beramal karena pada hakekatnya mereka beramal tanpa ruh (spirit). Oleh karena itu spirit ibadah adalah penghambaan hati hanya kepada Allah Ta’ala. Dan diantara rahmat Allah Jalla wa ‘Ala atas hambaNya adalah dengan dimudahkannya jalan yang mendukung terealisasinya tujuan penciptaan manusia tersebut.
    Apabila kita perhatikan tujuan utama ini maka akan kita dapati banyak jalan berupa instrumen dan perangkat untuk merealisasikannya, yakni realisasi penghambaan hati dan penghambaan yang sempurna karena Allah semata baik esensi maupun ekspresi, lahir maupun batin sebagaimana yang telah disyariatkan Allah Ta’ala dalam agama yang mulia ini dengan berbagai macam bentuk peribadatan lahir maupun batin yang dengannya tercapailah maksud ilahi atas penciptaan alam ini.
    Sebagai contohnya adalah : pokok dari peribadatan lahiriah adalah shalat yang merupakan wasilah atau penghubung antara hamba dengan Tuhannya. Demikian halnya zakat, puasa,dan haji merupakan pondasi dan rukun tegaknya seluruh ibadah. Apabila kita hendak menyibukkan diri kita dalam ibadah-ibadah ini maka hendaknya kita menyadari bahwa pada hakekatnya kita merealisasikan sebuah visi yaitu penghambaan hati.
    Muncul pertanyaan apabila seseorang merasa malas mendirikan shalat, zakat, puasa, haji, apakah dia tidak disebut sebagai Abdullah (hamba Allah)? Jawabnya adalah mereka tetap hamba Allah, karena hal itu hanyalah merupakan wasilah yang apabila berbeda  tidak menunjukkan bahwa tidak ada tujuan.
    Oleh karena itu hendaknya kita melihat ibadah dengan sudut pandang bahwa metode untuk mengaplikasikan tujuan yang agung adalah dengan penghambaan hati kepada Allah Ta’ala dengan penuh ketundukan yang menjadi kunci utama, dengan mahabbah (penuh kecintaan)yang menjadi tema utama, sehingga ibadah harus mengandung dua rukun ini yakni kecintaan dan ketundukan.
    Tidak diragukan lagi bahwa diantara rahmat Allah kepada kita adalah dengan adanya berbagai macam saranamencapai tujuan tidak hanya berupa shalat, zakat, dan puasa. Namun lebih dari itu semua, seperti apa-apa yang berkait dengan harta, ada pula hal yang berhubungan antara hamba dan Tuhannya, adapula yang berkaitan dengan hak-hak makhluk, dan lain-lain.
    Saat ini kita akan menyambut bulan yang penuh berkah, bulan ramadhan yang didalamnya terdapat berbagai macam ibadah dan ketaatan yang mampu mensuplai jiwa. Dimana seseorang dapat merasakan kenikmatan jiwa dan ketenangan. Inilah musim yang mulia yang membutuhkan persiapan.
    Adapun persiapan ada dua macam yakni
    (1) Persiapan hati , sebagaimana yang dilakukan para salaful ummah sebagaimana yang dikatakan al Ma’la bin al fadhl : “dahulu para salaf berdoa kepada Allah selama enam bulan supaya dipertemukan dengan bulan ramadhan. Inilah yang disebut persiapan hati.
    (2) Persiapan lahiriah. Adapun persiapan yang bersifat lahiriyah adalah dengan melatih diri memperbanyak amal shalih sebelum datangnya bulan ramadhan, hingga seandainya ramadhan datang, fisik mereka telah siap untuk memperbanyak ketaatan dengan memperbanyak membaca al-Qur’an di bukan tersebut. Bahkan sebagian mereka ada yang menutup toko-toko mereka untuk memperbanyak tilawah al-Qur’an di bulan Sya’ban, sehingga apabila datang bulan Ramadhan dirinya telah siap dan bersemangat beramal shalih dengan segala jenis dan bentuknya.
    Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyariatkan puasa dan beliau tidak mencukupkan diri dengan puasa satu bulan saja sebagaimana yang dikatakan Aisyah dalam shahih Bukhari dan Muslim : “Aku tidak pernah melihat Rasulullah lebih banyak puasa melainkan di bulan Sya’ban.” Ini menunjukkan bahwa mempersiapkan diri untuk menyambut bulan ramadhan adalah sesuatu yang wajib.
    Hendaknya kita mempraktekkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa Ramadhan tanpa tujuan dan sebab. Namun itu semua merupakan bentuk persiapan diri.
    Begitu juga dengan sunnah-sunnah rawatib, sebelum subuh, sebelum dhuhur, maupun setelah isya’ merupakan bentuk persiapan dan penyempurnaan. Persiapan dengan sunnah qabliyah dan penyempurnaan dengan sunnah ba’diyah. Hendaknya kita menyibukkan diri kita dengan ibadah, dan mepersiapakan diri menyambut bulan ramadhan dengan latihan ketaatan, dan menghadap Allah dengan segala persiapan berupa amal shalih.
    Semoga Allah menolong kita semua, dan menyampaikan kita pada bulan Ramadhan dan menganugerahi kita dengan amal amal shalih.

    أهمية الاستعداد لاستقبال مواسم الطاعات

    Detail
    0
    570
  • Pembatal Puasa Kontemporer
  • Menyikapi Pembatal Puasa Kontemporer

    Segala puji bagi Allah Rab semesta alam. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du

    Puasa adalah salah satu rukun islam, dan salah satu syiar agung yang Allah wajibkan bagi umat Islam sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an dan sunnah serta ijma (kesepakatan) para ulama.

    Wajib bagi setiap mukmin maupun mukminah untuk memahami hukum-hukum seputar puasa supaya mendapat ridha Allah Ta’ala. Karena sesunggunya Allah tidak menerima suatu amal kecuali amal shalih, dan tidak termasuk amal shalih melainkan apabila dikerjakan dengan penuh keikhlasan karena Allah semata dan sesuai petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan cara mengkaji kitab-kitab para ulama klasik maupun kontemporer yang membahas tentang berbagai permasalahan seputar puasa, hukum yang berkaitan dengannya, sunnah-sunnahnya serta hal-hal yang dianjurkan selama berpuasa. Barangsiapa yang mau mengkaji semua itu maka ia akan memahami hukum-hukum yang berkaitan dengannya. Apabila mendapat kesulitan dan membutuhkan penjelasan lebih lanjut hendaklah bertanya pada ahli ilmu sebagaimana perintah Allah dalam al-Qur’an “Maka tanyakanlah kepada ahlu dzikri(ulama)apabila kamu tidak memahami.”

    Puasa tegak atas dua rukun, yakni yang pertama adalah niat; dan yang ke dua adalah menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkannya. Seorang muslim hendaknya mengetahui apa saja yang termasuk pembatal puasa sehingga ia dapat menahan diri darinya. Allah Ta’ala telah menjelaskan kaidah pembatal puasa dalam firmanNya: “Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (Q.S. al-Baqarah : 187). Kriteria pembatal puasa adalah apa-apa yang Allah perintahkan untuk menahan diri darinya pada saat berpuasa. Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat al-Qur’an seperti jima’ (bersenggama), makan, dan minum, dan yang disebutkan dalam sunnah yang mulia seperti haid dan nifas, muntah dengan disengaja sebagaimana disepakati paraulama. Dengan demikian ada lima pembatal puasa seperti yang telah disebutkan.

    Selain lima hal di atas terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang batal tidaknya puasa seseorang. Adapun sebab perbedaannya kembali pada dalil,atau perbedaan pendapat tentang shahihnya, atau dalam memahami dalil tersebut,  atau kecocokan indikasi hukum yang sesuai dengan peristiwa terkini dan masalah kontemporer.

    Pembaca referensi fikih dan penjelasan buku hadisbanyak mendapati permasalahan yang banyak. Perbedaan pendapat di kalangan ulama  seperti hijamah (bekam), memasukkan obatmelalui hidung, serta memakai celak dan yang sejenisnya. Seiring perkembangan teknologi yang turut andil mengubah gaya hidup manusia juga ditemukan hal-hal yang masuk kategori pembatal puasa meski terjadi perbedaan diantara ulama kontemporer yang sebagian besar berhubungan dengan dunia pengobatan dan kedokteran seperti sprayer (alat semprot) untuk pengobatan dada, serta berbagai jenis pemeriksaan yang dilakukan untuk diagnosa dan operasi, suntikan dengan berbagai jenisnya, obat tetes mata, hidung dan telinga, tranfusi darah, berbagai jenis pencucian ginjal, serta anestesi (bius) dan lain-lain.

    Perlu disebutkan di sini bahwa setiap masalah yang ada terdapat banyak pendapat, dalil-dalil, diskusi, penelitian dari para ahli fiqih dan ilmuwan serta panitia dewan syariat guna memperjelas hukum apakah hal tersebut termasuk pembatal puasa ataukah tidak, yang pada akhirnya melahirkan putusan hukum.

    Dan yang perlu diperhatikan dalam menyikapi perbedaan pendapat ulama tentang pembatal puasa yang bersifat kontemporer adalah tidaklah sesuatu itu dihukumi sebagai pembatal atau tidak kecuali berdasarkan dalil. Ini adalah kaidah yang telah disepakati para ahli ilmu sebagaimana yang telah Allah dan RasulNya jelaskan dalam masalah pembatal puasa. Oleh karenanya tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan sunnah. Apabila seorang muslim mampu mencapai pada pengambilan hukum atas masalah-msalah kontemporer, maka wajib baginya untuk bersungguh-sungguh dalam ijtihadnya. Namun jika dirinya tidak mampu karena tidak memiliki keahlian dalam hal itu, maka wajib baginya untuk kembali kepada para ulamasebagaimana yang telah Allah perintahkan : “maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” Apabila ditemukan perbedaan pendapat tentang apakah sesuatu itu termasuk pembatal puasa atau tidak, maka jika memungkinkan untuk mengambil pendapat yang paling rajih (kuat) maka itulah yang utama, namun jika tidak maka hendaknya ia mengambil pendapat orang yang paling alim diantara mereka. Dan jika mereka memiliki tingkat keilmuan yang sama, maka pendapat mayoritas ulama lebih dekat pada kebenaran. Wallahu a’lam


    مفطرات الصيام المعاصرة
     

    Detail
    0
    622
Official our channel on Instagram
Acara & Kegiatan
Twit
Solat
  • Hukum Mengakhirkan Shalat Isya’ dan Zhuhur Dari Awal Waktunya
  • Syaikh Prof. Dr. Khalid Mushlih -hafidzahullah-, Assalamu’alaikum Warah-matullahi Wabarakatuhu. Amma ba’du. Saya mengharapkan jawaban hukum mengakhirkan shalat Isya’ dan Zhuhur dari awal waktunya, apakah hukumnya boleh atau tidak? Barakallahu fikum wa jazakumullah khairan.

    حكم تأخير صلاتي العشاء والظهر عن أول الوقت

    Syaikh Prof. Dr. Khalid Mushlih -hafidzahullah-, Assalamu’alaikum Warah-matullahi Wabarakatuhu. Amma ba’du. Saya mengharapkan jawaban hukum mengakhirkan shalat Isya’ dan Zhuhur dari awal waktunya, apakah hukumnya boleh atau tidak? Barakallahu fikum wa jazakumullah khairan.
    Jawaban:
    Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya.
    Wa ‘Alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuhu
    Amma ba’du,
    Berkenaan dengan pertanyaan Anda tentang hukum mengakhirkan shalat isya’ dan dhuhur, maka saya jawab bahwa tidak ada perselisihan di kalangan ulama atas sahnya shalat fardhu selama dikerjakan pada waktunya. Baik shalat tersebut dikerjakan pada awal waktu, pertengahan atau pada akhir waktu. Hal ini berdasarkan firman Allah : { إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا }
     “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An Nisa : 103)
    Akan tetapi, yang paling afdhal adalah mengerjakan shalat fardhu di awal waktu. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud dalam Shahihain, ketika Nabi  ditanya: “Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla ?” maka beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Shalat tepat pada waktunya.” (HR. Bukhari no. 527, dan Muslim no. 85).
    Maksud shalat tepat pada waktunya adalah shalat di awal waktunya. Ini berlaku bagi semua shalat fardhu.
    Namun para ulama berselisih pendapat mengenai waktu yang afdhal untuk mengerjakan shalat Isya’. Jumhur ulama dari madzhab Hanafi dan Hanbali serta selain mereka berpendapat, bahwa mengakhirkan shalat isya’ hingga sepertiga malam hukumnya mustahab (dianjurkan), bersandar pada hadits yang tercantum dalam Shahihain dan kitab lainnya, yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat.
    Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan imam Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha: “Pada suatu malam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak keluar dari rumahnya hingga tengah malam. Bahkan orang-orang yang ada di masjid sampai tertidur (menunggu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Kemudian akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar rumah untuk melaksanakan shalat (isya’). Beliau bersabda: “Sesungguhnya waktu ini adalah waktunya (yaitu waktu terbaik shalat Isya’) seandainya hal tersebut tidak menyusahkan ummatku.”
    Hadits yang lain adalah yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu dalam Shahih Bukhari dan Muslim: “Pada suatu malam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak keluar dari rumahnya hingga para sahabatnya tertidur (menunggu beliau). Kemudian akhirnya beliau keluar dari rumahnya, dan bersabda: “Jikalau tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka mengerjakan shalat ‘Isya pada waktu seperti sekarang ini.” (HR. Bukhari no. 571, dan Muslim no. 642).
    Maka, berdasarkan sabda beliau ini, waktu yang paling afdhal untuk mengerjakan shalat isya’ adalah dikerjakan setelah berlalunya sepertiga malam pertama, jika hal ini tidak merepotkan bagi kaum muslimin.
    Adapun mengakhirkan shalat zhuhur hingga sebelum masuk waktu shalat ashar, jumhur ulama berpendapat bahwa yang paling afdhal adalah mengerjakannya di awal waktu. Kecuali di hari yang sangat panas, maka boleh mengerjakannya (mengakhir-kannya) hingga suhu udara agak dingin sebelum masuk waktu ashar.
    Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata : “pada suatu hari, muadzin Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengumandangkan adzan. Kemudian beliau berkata kepadanya : “abrid, abrid (dinginkanlah),” maksudnya: tunggulah, tunggulah. Kemudian beliau bersabda: “Suhu yang sangat panas merupakan hawa panas Jahannam. Maka jika suhu sangat panas, tunggulah hingga agak dingin, lalu kerjakanlah shalat.” (HR. Bukhari no. 535, dan Muslim no. 616).
    Dan masih banyak lagi hadits dengan makna serupa yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudry dan Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhumaa.
    Di antara hal yang harus diperhatikan, bahwa rujukan kita dalam penetapan waktu shalat adalah Kementrian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah dan Irsyad (Kementrian Agama –ed). Karena merekalah yang ahli dalam hal ini, menerapkan sesuai dengan sunnah, dan memahami apa yang menjadi maslahat bagi kaum muslimin, baik itu mengakhirkan waktu shalat atau menetapkannya di awal waktu.
    Sebagaimana yang tercantum dalam hadits riwayat Jabir Radhiyallahu ‘Anhu dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Jabir Radhiyallahu ‘Anhu berkata tentang waktu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam mengerjakan shalat isya’: “Jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat kaum muslimin telah berkumpul, maka shalat isya’ terkadang disegerakan. Namun, jika beliau melihat kaum muslimin belum berkumpul, maka beliau mengakhirkannya.” (HR. Bukhari no. 560, dan Muslim no. 646).
    Inilah ajaran pokok bagaimana mengatur hal-hal yang menjadi maslahat bagi kaum muslimin dan meminimalisir kepayahan yang mereka rasakan.
    Semoga Allah Ta’ala memberikan kita taufik untuk mengerjakan kebaikan.


    Anggota Majelis Fatwa wilayah Qasim
    Prof. Dr. Khalid Al-Muslih

    Detail
    0
    879
  • Tersenyum Ketika Shalat
  • Fadhilatus Syaikh, Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, apa hukum tersenyum ringan ketika shalat?

    التبسم في الصلاة

    Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa ushali wa usallimu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi
    Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh, Amma ba’du
    Jawaban saya terhadap pertanyaan Anda, kami katakan, tersenyum ringan ketika shalat itu tidak mengapa jika memang senyumnya tidak bisa ditahan. Adapun jika sengaja tersenyum maka ini dapat mengurangi pahala shalat atau terkadang dapat membatalkannya.

    Saudara kalian
    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih
    20/3/1427 H

    Detail
    0
    1074
  • Mengenai Hukum Azan Dalam Bentuk Rekaman
  • Syaikh yang mulia, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apa hukum memperdengarkan adzan melalui kaset rekaman dan tidak menggunakan muadzdzin? Apakah disyariatkan menjawabnya? Bagaimana hukum memperdengarkannya di berbagai Rumah Sakit dan lembaga-lembaga pemerintahan untuk memberitahu masuknya waktu shalat, tanpa meninggalkan adzan yang dikumandangkan oleh para muadzdzin di masjid-masjid?

    من أحكام الأذان المسجل

    Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam, dan aku bershalawat dan memberi salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya.
    Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Amma ba’du:
    Rekaman suara pada hakikatnya adalah bentuk suara dari orang yang memiliki suara tersebut di waktu yang telah berlalu, berdasarkan kenyataan ini maka rekaman suara bukan seperti suara yang dikeluarkan pada waktu yang sedang berlangsung. Tidak dari aspek maksud dan niat, begitu pula dari aspek yang sedang terjadi dan hakikatnya.
    Berdasarkan uraian terhadap masalah ini, jelas sudah bahwa mencukupkan adzan dengan memperdengarkannya melalui rekaman suara tidaklah cukup, karena keterbatasan tidak adanya niat yang itu merupakan pondasi sebuah amal. Sebagaimana terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Umar Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya amal tergantung pada niatnya.“
    Juga disebabkan melalui alat rekaman itu, tidak adanya kesibukan para hamba untuk melakukan sesuatu yang dituntut dari mereka, berupa dzikir kepada Allah Ta’ala dengan hati mereka. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila telah masuk waktu shalat hendaknya salah seorang di antara kalian mengumandangkan adzan.” (HR. Bukhari no. 819, dan Muslim no. 674, dari Malik bin Al-Huwairits Radhiyallahu ‘Anhu).
    Berdasarkan hal ini, maka seluruh hukum yang terkait dengan seruan adzan berupa menjawab adzan, memenuhi seruan itu, mendatanginya dan lain sebagainya tidak bisa dilakukan melalui adzan rekaman ini, dan tidak masuk kategori yang disebutkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sabdanya, “Apabila kalian mendengar seruan adzan, maka ucapkanlah seperti ucapan muadzin.” (HR. Bukhari no. 611, dan Muslim no. 383, dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu).
    Dengan demikian, menjawab adzan disyariatkan pada adzan yang disyariatkan (langsung), akan tetapi apabila ada orang yang menjawab azan rekaman maka ia mendapatkan pahala karena dzikir kepada Allah Ta’ala, bukan mendapatkan pahala menjawab adzan rekaman tersebut.
    Adapun menggunakan rekaman suara para muadzin sebagai pengingat tanpa meninggalkan adzan yang disyariatkan, seperti rekaman yang terdapat di beberapa yayasan dan lembaga, maka ini tidak mengapa, karena hanya sekedar untuk mengingatkan, Wallahu a’lam.

    Saudara kalian.
    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih
    27/4/1428 H

    Detail
    0
    1289
  • Wanita Yang Keguguran, Apakah Perlu Solat?
  • Seorang wanita mengalami keguguran ketika usia janinnya dua setengah bulan, bagaimana hukum shalat wanita ini? Kemudian, apakah wanita ini mendapatkan pahala dari keguguran yang dia alami tersebut?

    أسقطت جنينها وعمره شهران ونصف الشهر

    Alhamdulillah, shalawat, salam dan keberkahan semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
    Amma ba’du.
    Dengan mengharap taufik dari Allah Ta’ala, jawaban kami atas pertanyaan tersebut adalah, bahwa setiap musibah yang dialami seorang mukmin kemudian ia dapat bersabar atas musibah itu, maka tidak diragukan lagi ia akan mendapatkan pahala dari musibahnya tersebut. Sesungguhnya Allah Maha Mulia lagi Maha Pemberi.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda dalam sebuah hadits yang shahih, diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, “Tidak ada sesuatu apapun yang menimpa seorang muslim berupa kesedihan, kelelahan, dan kesusahan, bahkan hingga duri yang menyakitinya, kecuali Allah Ta’ala akan memberikan pahala baginya.”  (HR. Bukhari no. 5641).
    Hadits ini menunjukkan bahwa setiap musibah yang diterima seorang muslim, maka Allah Ta’ala akan memberikan pahala baginya, selama ia bersabar dan mengharap pahala atas musibah tersebut.
    Adapun, perihal shalat bagi wanita yang mengalami keguguran, maka ada beberapa keadaan:
    Keadaan pertama, keguguran yang terjadi sebelum janin berbentuk manusia, yaitu sebelum janin mencapai usia 80 hari,  maka tidak ada hukumnya bagi keguguran pada waktu ini, darah yang keluar dari keguguran ini dianggap sebagai darah fasad (darah rusak yang serupa hukumnya dengan darah istihadhah -pent), darah ini tidak menghalangi seorang wanita untuk melakukan shalat atau puasa.
    Apabila keguguran terjadi setelah janin berusia 90 hari, dimana pada usia tersebut janin sudah berbentuk manusia, maka darah yang keluar dari keguguran ini merupakan darah nifas, tidak boleh bagi seorang wanita untuk shalat maupun berpuasa.
    Sedangkan apabila keguguran terjadi pada hari ke-81 sampai ke-89, dimana pada usia tersebut, janin terkadang sudah berbentuk manusia, terkadang juga belum. Maka dalam keadaan ini, kita lihat janin yang keluar karena keguguran ini. Apabila janin yang keluar sudah jelas terlihat berbentuk manusia, maka darah pada keguguran ini merupakan darah nifas. Apabila janin yang keluar hanya berupa gumpalan daging, tidak terlihat bentuk manusia, maka keguguran pada waktu ini dihukumi sama seperti keguguran sebelum janin berusia 80 hari, darah yang keluar dari keguguran ini tidak menghalangi wanita tersebut untuk shalat maupun puasa.
    Dasar dari pembagian di atas berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan tahapan penciptaan makhluk, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya sebagai mani selama 40 hari, kemudian berubah menjadi segumpal darah selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging selama 40 hari.” (HR. Bukhari no. 3208, dan Muslim no. 6893).
    Segumpal daging inilah yang kemudian Allah Ta’ala bagi dalam tahapan penciptaan manusia, yakni  ada yang sudah berbentuk manusia dan ada yang belum. Maka hukum darah seorang wanita yang keguguran didasarkan dari terbentuk atau tidaknya janin ini menjadi bentuk manusia.
    Apabila janin yang keguguran sudah jelas bentuk manusianya, maka darah yang keluar darinya adalah darah nifas. Adapun jika janin belum berbentuk manusia, maka darah dihukumi sebagai darah fasad (rusak), bukan darah nifas, maka tidak menghalanginya untuk melakukan shalat maupun puasa.

    Detail
    0
    1428
  • Hukum Menjamak Shalat Saat Operasi yang Butuh Waktu Lama
  • Syaikh yang saya hormati, Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh. Dalam kondisi operasi yang membutuhkan waktu lama, sementara dokter ahli bedah tidak bisa meninggalkan ruang operasi, hingga menyebabkan terlewatnya waktu shalat, apa yang harus dilakukan dalam kasus seperti ini?

    حكم الجمع بين الصلوات في العمليات الطبية الطويلة

    Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, aku bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi kita Muhammad, para keluarga dan seluruh sahabatnya.
    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Amma ba’du
    Allah Ta’ala mewajibkan kepada orang beriman untuk menegakkan shalat pada wakunya. Allah Ta’ala berfirman :
    إنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَوْقُوتاً
    “Sesungguhnya shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.“ (QS. An Nisa’: 103).
    Wajib bagi setiap mukmin untuk menjaga shalat pada waktunya, sebagaimana yang Allah Ta’ala perintahkan:
    حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
    “Dan jagalah shalat serta shalat wustha (ashar), dan berdirilah kepada Allah (untuk shalat) dalam keadaaan khusyu’.“ (QS. Al Baqarah: 238)
    Untuk merealisasikan shalat pada waktunya, perlu diketahui bahwa waktu shalat ada dua kondisi :
    Kondisi pertama: Kondisi saat mampu (tidak ada udzur). Dalam kondisi ini ada lima waktu shalat, untuk setiap masing-masing shalat ada waktu khusus tersendiri. Hal ini sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam Al Qur’an :
    أَقِمِ الصَّلاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوداً
    “Dirikanlah shalat mulai matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula shalat Shubuh. Sesunggunya shalat fajar (Shubuh) itu dipersaksikan (oleh Malaikat).“(QS. Al Isra: 78).
    Demikian pula dalam firman-Nya yang lain :
    فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيّاً وَحِينَ تُظْهِرُونَ
    “Maka bertasbilah kepada Allah di saat pagi dan petang. Dan hanya milik Allah segala pujian di langit dan di bumi, dan di waktu kamu berada di sore hari dan waktu zhuhur.“  (QS. Ar-Ruum: 17-18).
    Penjelasan tentang batasan awal dan akhir waktu shalat telah dijelaskan dalam sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dalam Shahih Muslim (no. 614), dari riwayat Abu Musa Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa datang seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang waktu-waktu shalat, namun beliau tidak menjawabnya. Abu Musa berkata, “Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan shalat shubuh ketika terbit fajar, sedangkan orang-orang pada waktu itu (saat terbit fajar) hampir tidak dapat melihat satu dengan yang lainnya. Kemudian beliau memerintahkan kepada orang yang bertanya. Lantas beliau melakukan shalat dhuhur ketika matahari mulai bergeser (ke barat).  Ada orang yang berkata, “Waktu siang telah berjalan separuh,” padahal Nabi lebih mengetahui dibanding mereka. Kemudian beliau memerintahkan kepada orang yang bertanya. Kemudian beliau melakukan shalat ‘Ashar sedangkan matahari masih tinggi (belum terbenam). Kemudian beliau memerintahkan kepada orang yang bertanya. Setelah itu Nabi melakukan shalat Maghrib ketika matahari telah terbenam. Kemudian beliau memerintahkan kepada orang yang bertanya. Kemudian beliau melakukan shalat ‘Isya ketika mega merah telah sirna. Pada keesokan harinya, beliau mengakhirkan shalat shubuh sampai ketika selesai shalat ada orang yang berkata bahwa matahari telah terbit, atau hampir terbit. Kemudian beliau mengakhirkan shalat zhuhur hampir mendekati waktu ‘ashar hari sebelumnya. Kemudian beliau mengakhirkan shalat ‘ashar sampai ketika selesai shalat ada orang yang berkata bahwa matahari telah memerah. Kemudian beliau mengakhirkan shalat maghrib sampai mega merah hampir sirna. Kemudian beliau juga mengakhirkan shalat ‘isyâ sampai sepertiga malam pertama. Kemudian saat  memasuki waktu shubuh, beliau memanggil orang yang bertanya. Beliau bersabda. “Waktu shalat adalah diantara dua waktu ini (waktu shalat hari ini dan kemarin).”
    Kondisi kedua: Kondisi ketika ada udzur. Dalam kondisi ini ada tiga waktu. Untuk shalat Subuh satu waktu, Zhuhur dan Ashar satu waktu, serta Maghrib dan Isya’ satu waktu. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menggabungkan (menjamak) antara shalat Zhuhur dan Ashar serta shalat Maghrib dan Isya’. Telah banyak keterangan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang menjama shalat saat kondisi safar dalam banyak hadits. Begitu pula ketetapan dari beliau tentang menjamak shalat saat mukim karena ada udzur dan untuk menghilangkan kesusahan.
    Dalam shahih Muslim (no. 705), dari riwayat Sa’id bin Jabir dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata: “Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamak antara shalat Zhuhur dan Ashar, serta shalat Maghrib dan Isya’ di Madinah dalam keadaan tidak takut dan tidak pula hujan. Aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas, “Mengapa beliau melakukan demikian?” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Agar tidak memberatkan bagi umat beliau.” Dalam riwayat lain Ibnu ‘Abbas berkata, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak ingin menyulitkan umat beliau.”
    Ini merupakan kaidah pokok yang menjadi sandaran hukum tentang disyariatkannya menjamak shalat karena ada kebutuhan. Jumhur ulama dari kalangan Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, dan selainnya telah memberikan penjelasan tentang kaidah ini, meskipun mereka berselisih pendapat tentang batasan kebutuhan yang diperbolehkan untuk menjamak shalat. Batasan yang lebih tepat untuk diperbolehan menjamak shalat adalah: “Segala sesuatu yang menimbulkan rasa susah dan berat bagi seseorang, maka boleh baginya untuk menjamak shalat karena hal tersebut, dengan syarat tidak dijadikan kebiasaan.”
    Inilah pendapat dari para ulama, di antaranya Ibnu Sirrin, Rabi’ah, Ibnu Mundzir, dan selainnya, serta inilah pendapat Syaikh kami Ibnu ‘Utsaimin tentang masalah ini, Oleh karena itu, maka boleh bagi dokter untuk menjamak shalat jika memang diperlukan, baik ketika sedang operasi maupun kondisi lain yang membutuhkan kehadiran dokter.
    Akan tetapi, yang perlu diperhatikan tentang masalah menjamak shalat, bahwa hendaknya berhati-hati dari sikap bermudah-mudahan dalam menjamak shalat. Ulama telah ijma’ (sepakat) bahwa tidak boleh menjamak dua shalat ketika mukim tanpa adanya udzur sama sekali. sebagaimana hal ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Bar dalam At-Tamhid (12/210). Serta dalam riwayat yang shahih dari ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhu, ia berpendapat bahwa perkara tersebut termasuk dosa besar.

    Saudara kalian.
    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih

    Detail
    0
    1146
  • Meletakkan Layar Di Tempat Shalat Wanita Agar Bisa Melihat Imam
  • Syaikh yang saya hormati, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apa hukum meletakkan layar (screen) di tempat shalat wanita untuk menayangkan shalatnya Imam, dimana layar itu diletakkan tergantung di depan mereka, sehingga para wanita melihat Imam dan para jamaah seakan-akan bersama mereka? Dan apa nasehat Anda terhadap hal tersebut?

    حكم وضع شاشات في مصلى النساء لنقل صلاة الإمام

    Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin, saya mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga dan seluruh sahabat beliau.
    Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Amma ba’du.
    لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ رَفْعِهِمْ أَبْصَارَهُمْ عِنْدَ الدُّعَاءِ فِي الصَّلاَةِ إِلَى السَّمَاءِ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُم
    "Hendaklah orang-orang berhenti mengangkat pandangan mereka ke langit ketika berdo’a dalam shalat, atau mata mereka akan tersambar." (HR. Muslim no. 429)
    Oleh karenanya, cukuplah mengikuti Imam dengan mendengar suaranya. Namun, jika meletakkan sesuatu seperti ini karena kebutuhan, maka tidak mengapa.

    Saudaramu,
    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih
    15/10/1427 H

    Detail
    0
    606
Thaharah
  • Apakah Wudhunya Orang Yang Selalu Mengeluarkan Rembesan Air Kencing Dianggap Batal, Ketika Telah Keluar Waktu Shalat?
  • Syaikh yang terhormat, Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuhu. Jika orang yang selalu mengeluarkan rembesan air kencing berwudhu agar dibolehkan melaksanakan thawaf, apakah itu akan berpengaruh ketika waktu shalat telah habis?”

    هل ينتقض وضوء من به سلس بخروج الوقت؟

    Segala puji hanya milik Allah Rabb Semesta Alam, Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya.
    Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuhu, Amma ba'du.
    Menurut pendapat yang mewajibkan wudhu di setiap kali shalat bagi orang yang memiliki hadats permanen, seperti dalam madzhab mayoritas Ulama dari Hanafiyah, Syafi'iyah dan Hanabilah, ketika waktu shalat telah habis atau ketika waktu shalat kedua telah masuk, maka wudhunya dianggap batal. Tidak sah thawaf  yang dilakukan, menurut pendapat yang menjadikan thaharah itu sebagai syarat atau hal wajib dalam thawaf.
    Yang nampaknya benar menurut pandangan saya adalah, bahwa wudhu tidak batal bagi orang yang memiliki hadats permanen, kecuali dengan pembatal yang nyata, bukan dengan penyakit yang selama ini menimpanya. Atas dasar itu, maka dia tetap melaksanakan thawaf meskipun telah keluar waktu, atau telah masuk waktu shalat berikutnya. Ini berdasarkan pendapat yang rajih (kuat), bahwa thawaf itu sah dan boleh dilaksanakan tanpa wudhu. Wallahu A’lam.

    Saudara kalian,
    Prof. Dr. Khalid bin Abdullah Al-Mushlih
            16/12/1424 H

    Detail
    0
    374
  • Fatwa-Fatwa Tentang Masalah Thaharah(Bersuci)
  • Apakah Wudhunya Orang Yang Selalu Mengeluarkan Rembesan Air Kencing Dianggap Batal, Ketika Telah Keluar Waktu Shalat?

    هل ينتقض وضوء من به سلس بخروج الوقت؟

    Syaikh yang terhormat, Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuhu. Jika orang yang selalu mengeluarkan rembesan air kencing berwudhu agardibolehkan melaksanakan thawaf, apakah itu akan berpengaruh ketika waktu shalat telah habis?”

     

    Jawaban:

    Segala puji hanya milik Allah Rabb Semesta Alam,Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan parashahabatnya.

    Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuhu,Amma ba'du.

    Menurut pendapat yang mewajibkan wudhu di setiap kali shalat bagi orang yang memiliki hadats permanen,seperti dalam madzhab mayoritas Ulama dari Hanafiyah, Syafi'iyah dan Hanabilah, ketika waktu shalat telah habis atau ketika waktu shalat kedua telah masuk, maka wudhunyadianggap batal. Tidak sah thawaf  yang dilakukan, menurut pendapat yang menjadikan thaharah itu sebagai syarat atau hal wajib dalam thawaf.

    Yang nampaknya benar menurut pandangan saya adalah, bahwa wudhu tidak batal bagi orang yang memiliki hadats permanen, kecuali dengan pembatal yang nyata, bukan dengan penyakit yang selama ini menimpanya. Atas dasar itu, maka dia tetap melaksanakan thawaf meskipun telah keluar waktu, atau telah masuk waktu shalat berikutnya. Ini berdasarkan pendapat yangrajih(kuat), bahwa thawaf itu sah dan boleh dilaksanakan tanpa wudhu. Wallahu A’lam.

    Saudara kalian,

    Prof. Dr. Khalid bin Abdullah Al-Mushlih

                                                        16/12/1424 H

    Detail
    0
    533
  • Apakah Wudhu Itu Batal Dikarenakan Melepas Alas Kaki, Setelah Mengusapnya
  • Syaikh yang terhormat, Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuhu. jika saya berwudhu lalu mengusap alas kaki, kemudian aku melepasnya, apakah wudhu itu menjadi batal?

    هل ينتقض الوضوء بخلع الشراب بعد المسح عليه؟

    Segala puji hanya milik Allah Rabb Semesta Alam,Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya.

    Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuhu,Amma ba'du.

    Para Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Yang paling benar adalah bahwa wudhu dengan mengusap sepatu tidak batal, ketika sepatu yang diusap itu dilepas. Thaharah tetap ada. Dia bisa tetap shalat selama tidak berhadats, seperti halnya ketika dia tidak melepas sepatu tersebut. Karena pada asalnya thaharah tetap ada, dantidak ada dalil yang menunjukkan batalnya wudhu.

    Jika thaharah yang ada menjadi batal dikarenakan melepas sepatu, niscaya NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskannya. Tidak perlu untuk mengulang bersuci lagi, dan tidak perlu mengulangi mencuci kedua kaki. Inilah pendapat banyak Ulama, diantaranya Al-Hasan Al-Bashri dan Qatadah, dan itulah yang dipilih oleh Ibnu Al-Mundzir, dan itulah pendapat yang dipilih Syaikh kami Muhammad Al-Utsaimin Rahimahullahu. Wallahu A’lam.

    Saudara kalian,

    Prof. Dr. Khalid bin Abdullah Al-Mushlih

    21/9/1424 H

     

    Detail
    0
    395
  • Durasi Waktu Mengusap Sepatu
  • Syaikh yang terhormat, Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. apakah mengusap dua sepatu dan dua kaos kaki itu terikat dengan waktu tertentu?”

    . مدة المسح على الخفين

    Segala puji hanya milik Allah Rabb Semesta Alam,Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya.

    Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuhu,Amma ba'du.

                Dua sepatu dan dua kaos kaki jika dikenakan oleh seseorang dalam kondisi suci, maka diperbolehkan untuk mengusap keduanya selama satu hari satu malam untuk orang yang tidak bepergian (mukim), dan selama tiga hari tiga malam untuk orang yang bepergian (musafir).

    Ini berdasarkan hadits ‘Ali Radhiyallahu Anhu, dimana dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menentukan waktu tiga hari tiga malam untuk orang yang bepergian (musafir), dan waktu sehari semalam untuk orang yang tidak bepergian (mukim).”(HR. Muslim).

     

    Saudara kalian,

    Prof. Dr. Khalid bin Abdullah Al-Mushlih

    29/1/1428 H

    Detail
    0
    302
  • Bagian Sepatu Yang Diusap
  • Syaikh yang terhormat, Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, berkaitan dengan mengusap dua sepatu atau dua kaos kaki, apakah harus diusap bagian atas dan bawahnya, atau cukup bagian atasnya saja?

    ما يمسح من الخف

    Segala puji hanya milik Allah Rabb Semesta Alam,Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya.

    Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuhu,Amma ba'du.

    Sunnah dalam mengusap sepatu adalah dengan mengusap bagian atasnya saja,tanpa mengusap bagian bawahnya. Ini berdasarkan pendapat yang benar dari dua perkataan para Ulama. Sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 162), dan yang lainnya, dari hadits Ali Radhiyallahu Anhu, bahwa dia berkata: “Jika seandainya agama itu berdasarkan atas logika semata, maka mengusap bagian bawah sepatu itu lebih utama daripada mengusap bagian atasnya. Sungguh, aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengusap bagian punggung kedua sepatu beliau.” Maksudnya adalah bagian atas.

    Sebagian Ulama berpendapat bahwa sunnahnya adalah dengan mengusap bagian atas dan bawah sepatu. Mereka berpedoman dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 165) dan yang lainnya, dari hadits Al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘Anhu,“Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengusap bagian atas dan bawah sepatu.”

    Akan tetapi hadits ini memiliki cacat (illah), seperti dijelaskan oleh At-Tirmidzi. Para Imam hadits seperti Al-Bukhari, Abu Zur’ah dan yang lainnya juga melemahkannya. Wallahu A’lam.

    Saudara kalian,

    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih

    17/2/1426 H

    Detail
    0
    407
  • Bulu Bangkai
  • Syaikh yang terhormat, Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, Apakah dalil yang menunjukkan sucinya bulu bangkai?

    شعر الميتة

    Segala puji hanya milik Allah Rabb Semesta Alam,Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya.

    Wa'alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuhu,Amma ba'du.

    Hukum asal segalasesuatu adalah suci. Tidak ada dalil yang menunjukkan kenajisannya. Adapun Firman Allah Ta’ala:

    حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ

    Diharamkan atas kalian bangkai.” (QS. Al-Maidah: 3).

    Maka ini dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa Al-Kubra (1/266): “Tidak masuk di dalamnya bulu dan yang sejenisnya, karena bangkai itu lawan dari sesuatu yang masih hidup. Sedangkan hidup itu ada dua: hidupnya binatang dan hidupnya tumbuhan.”

    Beliau menyebutkan bahwa tumbuhnya rambut itu laksana tumbuhnya tanaman. Dia tumbuh, menyerap gizi dan tidak ada rasa, tidak bergerak sesuai kehendaknya, dan tidak bisa disamakan dengan hidupnya binatang, sampai dia mati karena terpisah dari kehidupan tersebut. Tidak ada alasan yang menunjukkan najisnya bulu. Wallahu A’lam.

    Saudara kalian,

    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih

    28/3/1425 H

    Detail
    0
    250
muamalat
  • Riba karena beli rumah
  • Yang kami muliakan Syaikh Khalid, Assalaamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Apakah dibolehkan bermuamalah dengan riba untuk mendapatkan rumah karena keadaan darurat. Khususnya di Negara yang mayoritas penduduknya non muslim?

    الربا من أجل المسكن

    Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga selalu tersampaikan kepada Nabi Muhamad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya dan para sahabatnya.
    Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
    Amma ba’du,
    Tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan pokok yang tidak mungkin manusia lepas darinya. Sebagaimana ia melindungi dingin dan panas. Dan hal ini sudah disebutkan oleh para ulama tentang pentingnya tempat tinggal. Oleh karena itu, jika seorang belum mendapatkan akomodasi kecuali dengan cara kredit yang terdapat riba di dalamnya maka dibolehkan baginya dengan catatan dalam keadaan darurat. Karena riba tetap termasuk hal yang diharamkan walaupun dibolehkan dalam keadaan darurat. Sebagaimana disebutkan ahli fikih dari madzhab Malik, Syafi’i dan Hambali. Mereka telah menyebutkan beberapa permasalahan yang bisa dipahami bahwa riba dibolehkan dalam keadaan darurat. Dan tidak ada perbedaan baik itu di negara Islam ataupun di negara kafir, karena sebab ditetapkannnya hukum pembolehan itu karena adanya keadaan darurat. Ketika ada sebab maka munculah hukum pembolehan tersebut.
    Tetapi seyogyanya seorang muslim perlu memperhatikan perkara ini dan yang selainnya ketika terdapat pelanggaran sesuatu yang diharamkan karena darurat, wajib baginya benar-benar memastikan keadaan darurat yang dibenarkan ketika membolehkan hal yang diharamkan.  Darurat adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak mungkin hidup kecuali dengannya. Dan yang perlu diperhatikan ada dua syarat di mana suatu keadaan darurat bisa membolehkan hal yang diharamkan, yaitu :
    1. Jelasnya penentuan perbuatan yang dilarang untuk menghilangkan kerugian.
    2. Diyakinkan perbuatan tersebut karena darurat.
    Walaupun demikian, selalu terpatri dalam diri seorang muslim keharaman riba baik riba jual beli maupun riba dalam hutang adalah termasuk dosa besar. Riba merupakan sebab kemurkaan Allah. Riba hanya dibolehkan dalam keadaan darurat. Dan ketika ada ketidakjelasan keadaan yang membolehkan riba dari syarat dan sifatnya, maka hukum kembali kepada asalnya, yaitu haramnya riba. Ya Allah kami mohon kepadamu kepahaman, dan lindungilah kami dari kejelekan diri kami.

    Saudaramu
    Prof. Dr. Khalid al Muslih
    24/11/1428 H.

    Detail
    0
    509
  • Apa yang harus dilakukan ketika mengetahui bahwa saham yang ia beli ternyata dari perusahaan yang menjalankan kegiatan yang diharamkan?
  • Yang kami muliakan Syaikh Khalid, Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Jika kita membeli saham dari sebuah perusahaan, kemudian didapati perusahaan tersebut menjalankan kegiatan yang diharamkan; Apa yang harus kita lakukan? Apakah dia harus menjual sahamnya langsung karena dia tahu tentang keharamannya? Atau apakah dia hanya mengeluarkan beberapa bagian dari saham tersebut?

    كيف يصنع من تورط في شراء أسهم من شركة محرمة

    Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga selalu tersampaikan kepada Nabi Muhamad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya serta para sahabatnya.
    Amma badu,
    Permasalahan ini sebenarnya belum terperinci. Ketentuan tentang sebuah saham itu diharamkan karena mengandung beberapa jenis kegiatan yang diharamkan belum dijelaskan secara terperinci. Saham dikatakan haram jika kegiatan dasar dari perusahaan tersebut adalah sesuatu yang diharamkan. Kemudian kegiatan yang diharamkan akan berputar dalam keharaman saham. Adapun jika kegiatan dasar yang dilakukan perusahaan adalah sesuatu yang dihalalkan seperti jasa, perdagangan ataupun properti, tetapi di kemudian hari terdapat kegiatan yang diharamkan seperti obligasi dan kredit yang terdapat di dalamnya riba, maka sumber keuangan ini bisa mempengaruhi kehalalan perusahaan tersebut jika prosentasenya tinggi. Apabila modal tambahan ini tidak signifikan maka saham perusahaan tersebut tidak berubah hukumnya.
    Dan kita mengajak untuk membersihkan semua transaksi dari sesuatu yang tidak jelas kehalalannya. Apalagi dalam transaksi saham dimana banyak orang yang sudah memberikan kepercayaan kepada perusahaan. Wajib baginya membersihkan dirinya dan orang lain dari syubhat dan ketidakjelasan ini. Dan Sudah selayaknya ia membersihkan hartanya dari syubhat yang ada.
    Adapaun siapa saja yang melakukan transaksi saham yang pada asalnya tidak memiliki masalah, kemudian muncul hal yang diharamkan dari perusahaan yang ia bersaham di dalamnya maka keuntungan yang ia dapat sebelumnya adalah halal. Karena kaidah menunjukkan bahwa barangsiapa yang masuk dalam akad, dan ia menyangka bahwa hal itu dibolehkan dan tidak mengetahui hal yang diharamkan di dalamnya, maka baginya keuntungan dari akad tersebut. Adapun dalil dibolehkannya adalah firman Allah : (Allah memaafkan apa yang sudah berlalu) Q.S. Almaidah : 95. Allah tidak menghukum manusia karena dosa riba sebelum diharamkannya. Tetapi jika sudah mengetahui keharaman hukum, maka wajib baginya untuk meninggalkannya jika jelas transaksi yang ia lakukan terdapat keharaman di dalamnya.
    Tapi jika belum jelas keharamannya, saya nasehatkan untuk menghindari syubhat, sebagaimana ditunjukkan dalam hadis Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi pernah bersabda (Yang halal telah jelas, dan yang haram telah jelas, di antara keduanya ada syubhat (ketidak jelasan) maka barang siapa yang menjaga diri dari syubhat selamatlah agamanya) yaitu : selamatlah dia dari hisab dan perhitungan Allah (dan terjaga kehormatannya), yaitu selamatlah dia dalam menjaga hubungan baik dengan orang lain. Jika ia mau meninggalkannya dengan menjualnya atau memberikannya sebagai hadiah ataupun sejenisnya dalam rangka berlepas diri dari harta syubhat maka dibolehkan baginya. Jika ia meneruskan transaksi tersebut maka saya tidak memastikan keharamannya. Tetapi jika diketahui kadar keharamannya yang sedikit maka wajib baginya membersihkannya.
    Wallahu Alam

    Saudara kalian
    Prof. Dr. Khalid al Mosleh
    5/3/1430 H

    Detail
    0
    263
  • Hukum menggunakan kendaraan kantor untuk urusan pribadi
  • Yang kami hormati Syaikh Khalid, Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, Apakah hukum menggunakan kendaraan kantor untuk urusan pribadi? Apa makna firman Allah :((أو ما ملكتم مفاتحه))“atau di rumah yang yang kamu miliki kunci-kuncinya” Q.S. Annur : 61.

    استعمال السيارات التابعة للعمل

    Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tersampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.
    Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
    Amma ba’du,
     Dengan taufik dari Allah, maka jawaban pertanyaan saudara adalah :
    Adapun makna ayat adalah dalam masalah makanan bukan termasuk kendaraan
     ((و لا على أنفسكم أن تأكلوا من بيوتكم أو بيوت آبائكم))
    “dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri makan (bersama-sama mereka) di rumah bapak-bapakmu...)
    Sampai firman  Allah :((أو ما ملكتم مفاتحه))
    “atau di rumah yang yang kamu miliki kunci-kuncinya”
    Ini terkait dengan keluasan dalam makanan. Karena pemegang  kunci merupakan ijin untuk mengambil apa yang ada di dalam rumah.
    Apakah masalah ini bisa disamakan dengan kendaraan kantor?
    Jawabannya adalah tidak sama. Karena kadang perusahaan memberikan ketentuan penggunaan kendaran seperti hanya boleh dipakai dalam kegiatan resmi, atau hanya boleh digunakan saat jam kantor, atau dalam ketentuan khusus saja. Hal ini mewajibkan penggunanya mematuhi syarat yang sudah ditentukan. Tetapi jika perusahaan memberikan kebebasan dalam penggunaan kendaraan kantor maka dibolehkan digunakan untuk kepentingan pribadi.

    Saudaramu,
    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh.

    Detail
    0
    324
  • Akad Sewa yang diakhiri menjadi hak milik (Ijarah muntahiyah bi Tamlik)
  • Tentang akad sewa yang diakhiri menjadi hak milik

    الإجارة المنتهية بالتمليك

    Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Salawat dan salam semoga tersampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
    Amma ba’du,
    Jawaban atas pertanyaan saudara. Kami sampaikan-dengan taufik dari Allah- :
    Akad sewa yang diakhiri dengan hak kepemilikan barang yang disewa adalah jenis akad baru dalam transaksi keuangan.  Di awal kemunculannya terdapat hal-hal yang dianggap kurang sesuai dengan syariat. Kemudian mulai berkembang dengan ada perbaikan dan ditiadakannya sebab-sebab yang dipermasalahkan sebelumnya. Maka tidak heran banyak fatwa di awal kemunculan transaksi ini mengharamkan akad ini. Dasar keharamannya adalah digabungnya hukum dua akad dalam satu akad. Terlihat ada gabungan akad jual beli dan akad sewa dalam satu akad. Sedangkan ini adalah akad yang tidak mungkin terjadi.
    Perselisihan yang terjadi di antara para ulama adalah dalam hukum dua akad dalam satu akad. Sehingga Haiatul Kibar Ulama pernah mengeluarkan  fatwa haramnya akad ini, dikarenakan menggabungkan dua aakad dalam satu akad.
    Selanjutnya ada pengembangan yang dilakukan beberapa perusahaan dan para ahli serta peneliti dalam rangka memperbaiki akad ini dan mengembangkannya dengan tetap menjaga kesesuaian dengan syariat.  Untuk itulah ada fatwa Lembaga Fikih Dunia yang membolehkan sebagian dari jenis akad ini.
    Maka tidak mungkin kita katakan akad ini haram secara mutlak, ataupun boleh  secara mutlak. Hal ini disebabkan banyaknya macam maupun bentuk akad ini dan tidak hanya satu bentuk saja. Kecuali jika terjadi perselisihan antara kedua belah pihak yang bertransaksi maka perkara tersebut dikembalikan kepada pengadilan. Hakimlah yang memutuskan apakah ini akad sewa, jual beli, boleh ataupun haram. Ini semua pengadilan yang memutuskan.
     Walaupun demikian, akad sewa diakhiri dengan kepemilikan adalah akad terbaik dalam pengembangan keuangan Islam yang selain akad ini banyak yang hanya dijadikan sebagai siasat untuk menghalalkan riba yang telah diharamkan secara jelas. Dan akad-akad yang lain yang belum terbebas dari riba. Ini terkait dengan akad sewa diakhiri dengan kepemilikan. Maka tidak menjadi keraguan bagi siapa saja yang mau bertransaksi dengan semua macam jenis akad ini. Jika terdapat permasalahan dalam satu macam dan bentuk akad ini silakan menanyakan lagi.

    Saudaramu,
    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh.

    Detail
    0
    479
  • Memanfaatkan Harta Riba
  • Yang kami hormati Syaikh Khalid,Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,Apakah boleh mengambil bunga dari riba dan menyedekahkannya untuk fakir miskin? Atau ditinggalkan saja di bank?

    التصرف في المال الربوي

    Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tersampaikan kepada Nabi Muhammad salallahu alaihi wa salam.
    Wa’alaikumusslam warahmatullah wabarakatuh.
    Amma ba’du, Jawaban pertanyaan saudara adalah sebagai berikut :
    Wajib sesuai kemampuan meninggalkan transaksi dengan Bank Konvensional. Adapun dalam keadaan terpaksa yang mengharuskan ia menaruh sejumlah uangnya di bank, kemudian ia mendapatkan bunga tabungannya, maka terdapat dua pendapat para ulama :
    1.   Pendapat pertama : Wajib meninggalkannya dan tidak boleh mengambilnya, sebagaimana ditunjukkan dalam ayat ((maka untuk kalian uang pokok kalian, dan janganlah kalian saling berbuat kedhaliman)). Maka baginya tidak diperbolehkan sama sekali mengambil bunga bank tersebut atau menerimanya.
    2.   Pendapat kedua : Boleh mengambil bunga, dan diwajibkan baginya melepaskan diri darinya dengan mengalokasikannya untuk kemaslahatan kaum muslimin, ataupun selainnya dalam bentuk sumbangan yang bermanfaat. Pendapat ini berdasar pada kenyataan bahwa pemilik rekening tidak mengambil bunga dengan cara yang dhalim. Bank memberikan bunga ini dengan penuh suka rela. Tambahan bunga ini otomatis menjadi milik pemegang rekening. Ketika ia tidak mengambilnya akan tetap menjadi miliknya.
    Dan ini adalah pendapat yang mendekati kebenaran secara jelas. Dan wajib bagi pemilik rekening untuk berusaha bersepakat dengan bank untuk meniadakan bunga dalam tabungannya. Jika tidak memungkinkan maka dia harus berusaha menghilangkannya dari rekeningnya.

    Saudaramu,
    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh.
    13/9/1427 H.

    Detail
    0
    233
  • Hukum mensiasati hutang dan konsekwensinya.
  • Yang kami hormati Syaikh Khalid, Assala’amualaikum warahmatullah wabarakatuh, Seorang pegawai membutuhkan pinjaman. Tidaklah ia bisa meminjam dari bank khusus pensiunan kecuali dia sudah pensiun. Kemudian ketika ia memiliki paman yang sudah pensiun, ia gunakan atas nama pamannya meminjam sejumlah uang. Sampai akhirnya wafatlah pamannya rahimahullah. Apakah perbuatan ini dibolehkan? Dan sudah menjadi kebijakan bank jika peminjam meninggal dunia maka dibebaskan sisa utangnya. Apa yang harus dia lakukan? Apakah ia wajib membayar sisa utangnya?

    حكم التحايل في أخذ القرض و ما يترتب على ذلك

    Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Salawat dan salam semoga tersampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
    Amma ba’du,
    Tidak diragukan lagi bahwa cara ini tidak diperbolehkan; karena pengambilan hutang tersebut tidak memenuhi syarat yang berlaku. Mungkin ada sebagian orang yang mengatakan “ saya akan kembalikan hutangya, apa masalahnya?”
    Jawabannya adalah : seandainya engkau wahai penanya menetapkan persyaratan, kemudian engkau sampaikan “tidaklah aku memberi pinjaman kecuali terpenuhi syarat-syarat”. Kemudian ada orang yang menyiasati hutang sehingga berhasil memperoleh pinjaman, apakah engkau menerimanya? Pasti engkau tidak akan pernah menerima. Jika engkau tidak menerima, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda (Tidaklah beriman seseorang di antara kalian sampai mencintai untuk saudaranya sebagaimana apa yang dicintai untuk dirinya sendiri)
    Adapun keadaan seseorang membutuhkan, tidak menjadikan ia menempuh cara ini. Ini merupakan jenis penipuan. Karena pamannya ketika datang ke bank akan terpaksa bebohong dan mengatakan bahwa dirinya membutuhkan sedangkan dia tidak membutuhkan. Saya ingin memperbaiki rumah, saya ingin membangun rumah, saya ingin menikah. Semua alasan ini tidak terwujud dalam realita.
    Masalah ini asalnya terbangun atas dosa, dan dilakukan dengan cara yang tidak benar. Maka tidak berlaku baginya perlakuan khusus bagi peminjam yang sudah pensiun jika meninggal dunia. Wajib baginya untuk melunasi semua sisa pinjamannya. Dan saya berharap ini bisa melepaskan dirinya dari tanggungan atas apa yang ia perbuat dahulu dari kebohongan. Kita meminta kepada Allah memberikan ampunan untuk kita dan untuknya.
    Wajib bagi seorang mukmin untuk berusaha semaksimal mungkin mencari yang halal. Sebagian berpendapat bahwa  yang halal adalah yapa yang ia usahakan walaupun dengan cara apapun. Ini adalah kesalahan, bahkan menyelisihi Al Quran dan Sunnah dari wajibnya berusaha mendatangkan yang halal dari hartanya. Harta yang datang kepadamu dengan cara yang tidak benar akan sudah menjadi yang paling baik bagi hati dan agamamu untuk berhati-hati di dalamnya. Allah telah menghapus riba dan melipatgandakan sedekah.
    Berapa banyak orang menempuh cara ini, kemudian tidak memperoleh apa yang diinginkan. Bahkan mungkin mendapat apa yang tidak ia inginkan. Bertambah hutangnya, hidupnya sulit. Sungguh suatu musibah dosa jika ia tidak mau bertaubat.
    Untuk itu saya berpesan pada diri saya dan saudaraku untuk berhati-hati dalam perkara ini. Ini merupakan ciri seseorang berpegang teguh kepada sunnah.
    Fudhail bin Iyadh pernah berkata (Ahlu Sunah wal jama’ah adalah mereka yang menjaga dari yang haram dalam makanannya) ini menunjukkan metode yang benar. Bukan saja terbatas pada teori, bahkan dalam praktek. Kadang kita menganggap bahwa manhaj Ahli Sunah adalah terbatas pada permasalahan yang berkaitan dengan Tauhid Uluhiyah, Asma wa Sifat dan sebagainya yang termasuk dalam perkara teori ilmiah walaupun itu semua adalah dasar dan asas. Tetapi justru lebih luas dari hal itu semua, yaitu hal yang berkaitan dengan akhlak dan tingkah laku sehari-hari. Sudah sepatutnya seorang muslim bersemangat dalam hal ini, karena ia merupakan ciri komitmen terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alai wa sallam.

    Saudaramu,
    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh.

    Detail
    0
    271
Puasa
  • Definisi dan Hakikat Puasa
  • Apa itu hakikat puasa?

    ما هي حقيقة الصوم؟

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala,Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

    Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala, kami akan menjawab pertanyaan Anda, kami katakan:

    Puasa, dari sisi definisi syar'i artinya bagaimana seseorang mewujudkan puasa secara syariat? Yaitu menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan dari sejak terbit fajar sampai dengan tenggelam matahari. Perkara-perkara yang membatalkan ada tiga; makan, minum, dan hubungan intim. Allah Subhanahu wa Ta'alaberfirman:

    ﴿فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ﴾

    Artinya: "Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam." (QS. Al-Baqarah: 187).

    Jadi, menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan dinamakan puasa. Akan tetapi disana ada puasa yang dilaksanakan oleh seluruh manusia -yang aku maksud dengan manusia adalah orang-orang yang beriman di antara orang-orang yang berpuasa-, yaitu bahwa mereka menahan diri dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang dapat membatalkan puasa dari sejak terbit fajar sampai dengan tenggelam matahari. Apakah perbuatan itu yang dimaksud atau dia memiliki target dan tujuan yang lebih besar dari sekedar menahan diri dari makan, minum, dan hubungan intim?

    Sesungguhnya hakikat puasa adalah mensucikan jiwa dan mendidiknya dengan tingkatan tarbiyah (pendidikan) dan tazkiyah (pensucian) yang paling tinggi. Itu karena sesungguhnya puasa telah disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mewujudkan ketakwaan, sebagaimana Dia berfirman:

    ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾

    Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).

    Hakikat dan ruh takwa adalah seseorang membuat benteng pelindung antara dirinya dan antara adzab Allah Ta'ala. Dengan itu anda dapat termasukdi antara orang-orang yang bertakwa. Bagaimana anda membuat benteng pelindung antara dirimu dan antara adzab Allah Ta'ala? Yaitu dengan Anda melaksanakan hal-hal yang Allah Ta'ala perintahkan kepadamu, dan meninggalkan hal-hal yang Allah Ta'ala larang terhadapmu dengan mengharap pahala di sisi-Nya dan merasa takut dari hukuman-Nya. Dengan cara itu anda dapat termasuk di antara orang-orang yang bertakwa.

    Pengertian takwa sangat luas. Dimulai pertama kali di dalam hati dengan keshalihan, kebaikan, dan kesucian.

    «أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ»

    "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Apabila dia baik, maka seluruh jasad akan baik. Namun apabila dia rusak, maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati."

    Oleh karena itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda sebagaimana disebutkan di dalam Ash-Shahih dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu:

    «اَلتَّقْوَى هَاهُنَا، اَلتَّقْوَى هَاهُنَا، اَلتَّقْوَى هَاهُنَا»

    "Takwa ada disini. Takwa ada disini. Takwa ada disini." Sambil beliau menunjuk ke dadanya.

    Jadi, tujuan puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum tanpa memberi pengaruh kesucian dalam akhlak, keshalihan dalam amal perbuatan, keistiqamahan dalam muamalah, kebaikan dalam zhahir, dan kesucian, hidayah, dan cahaya dalam batin. Apabila tujuan-tujuan itu hilang, maka sesungguhnya puasa tidak mengantarkan kepada tujuannya, serta tidak membuahkan hasil yang diinginkan dan diharapkan. Oleh karena itu, disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

    «مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»

    "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataandanperbuatan dusta, maka Allah Ta'ala tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya."

    Sabda beliau: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta." maksudnya perkataan yang batil. Perkataan dustabukan hanya persaksian palsu, melainkan setiap perkataan yang batil dan rusak. Barangsiapa yang tidak meninggalkan perbuatan dusta, maksudnya setiap perbuatan yang batil dan diharamkan, baik kecil maupun besar, baik berkenaan dalam hak Allah Ta'ala maupun hak para hamba. Itu semua termasuk di antara hal-hal yang dilarang oleh syariat.

    Seyogyanya bagi seorang mukmin untuk mensucikan perkataan dan perbuatannya dari semua kebatilan, apalagi ketika dia berpuasa. Karena apabila dia telah berbaur dengan kebatilan, kepalsuan, keburukan, dan kejahatan baik dalam perkataan ataupun perbuatan, maka sesungguhnya dia belum merealisasikan tujuan puasa.

    «مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»

    "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataandanperbuatan dusta, maka Allah Ta'ala tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya."

    Perkara puasa sangat mengagumkan. Di dalamnya terdapat pensucian dan pendidikan jiwa. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

    «وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ»

    "Puasa adalah tameng."

    Dalam riwayat lain disebutkan:

    «وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ»

    "Puasa adalah tameng."

    Yaitu pelindung dari neraka dan adzab Allah Ta'ala. Akan tetapi, terdapat pelindung yang harus didahulukan untuk melindungi diri dari siksa neraka, dan perlindungan dari neraka tidak mungkin didapatkan tanpa melindungi dari perbuatan buruk penghuninya. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

    «وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ»

    "Puasa adalah tameng."

    Yaitu pelindung dari perbuatan buruk yang mengantarkan kepada neraka, sebagaimana puasa adalah pelindung dari neraka.

    Saya ingatkan kepada diri pribadi dan saudara-saudara yang berpuasa yang terkadang merasakan kepayahan dalam puasa disebabkan udara yang panas, apalagi orang-orang yang keluar berjihad, dan termasuk di dalam hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim:

    «مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، بَاعَدَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا»

    "Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah Ta'ala, niscaya Allah Ta'ala akan jauhkan antara dirinya dan antara neraka sejarak tujuh puluh tahun."

    Kami memohon kepada Allah Ta'ala agar menjauhkan kami dan kalian semua dari neraka.

    Jika demikian, kita perlu memanfaatkan buah puasa dalam akhlak, muamalah, dan perkataan kita. Puasa dapat mengangkat dan menjunjung tinggi seseorang sampai ke tingkatan-tingkatan tertinggi. Oleh karena itu beberapa penulis mengatakan, "Puasa adalah keinginan yang tertinggi."

    Benar, puasa adalah keinginan yang tertinggi dari setiap hal-hal yang rendah, hina, dan buruk. Oleh karena itu disebutkan di dalam Ash-Shahih, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

    «إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَسْخُطْ وَلاَ يَرْفُثْ، فَإِنْ أَحَدٌ سَابَّهُ أَوْ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ،–في بعض الروايات-فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ»

    "Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah dia marah dan janganlah dia berkata kotor. Jika ada seseorang memakinya, mencelanya, atau memeranginya -di beberapa riwayat-, hendaknya dia mengatakan, "Sesunggunya aku adalah orang yang berpuasa."

    Apakah itu karena ketidakmampuan untuk membalas keburukan dengan semisalnya seperti yang telah Allah Ta'ala izinkan? Tidak, bahkan itu adalah keluhuran yang telah dicapai dan diperoleh oleh orang yang berpuasa, sehingga dia meninggalkan sesuatu yang diizinkan baginya seperti membalas keburukan dengan yang semisalnya:

    ﴿وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا﴾

    Artinya: "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal." (QS. Asy-Syura: 40)

    dan beralih kepada pemaafan dan lapang dada:

    ﴿وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ﴾

    Artinya: "Serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199) dengan dia mengatakan, "Sesungguhnya aku sedang puasa."

    Sehingga dia menyatakan bahwa yang menahannya untuk membalas keburukan dengan keburukan adalah kebaikan dan batin yang sedang dia laksanakan, yaitu puasa dan niatnya. Sehingga itu tercermin pada perkataan, perbuatan, akhlak, dan seluruh urusannya. Dengan cara ini kita dapat mewujudkan puasa yang produktif.

    Saya katakan seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di beberapa atsar:

    «رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ إِلَّا الْجُوعُوَالْعَطَشُ»

    "Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya melainkan hanya lapar dan haus."

    Itu seperti yang beliau jelaskan dalam sabdanya:

    «مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»

    "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataandanperbuatan dusta, maka Allah Ta'ala tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya."

    Kita memohon kepada Allah Ta'ala agar menjadikan puasa kita diterima sesuai dengan keridhaan-Nya, yang dengannya amal hati kita menjadi bersih, akhlak kita menjadi shalih, perjalanan hidup kita menjadi baik, dan amal perbuatan kita menjadi istiqamah. Sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Kuasa mengabulkannya; dan semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

    Detail
    0
    1333
  • Apakah Onani Termasuk Pembatal Puasa?
  • Apakah Onani Termasuk Pembatal Puasa?

    هل الاستمناء من المفطرات؟

    Sebagian ulama memvonis bahwa orang yang onani dan dia dalam keadaan berpuasa, puasanya batal. Mereka berhujjah dengan sebuah hadits:

    "يَدَعُ شَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِيْ"

    "Dia meninggalkan nafsu syahwatnya karena Aku."

    Akan tetapi Allah Ta'ala tidak mengharamkan semua nafsu syahwat (sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah). Jika tidak demikian, pastilah kita akan memvonis batal puasa bagi orang yang bernafsu mencium minyak wangi atau orang yang mengecup atau memeluk istrinya meski tidak ada sesuatu pun yang keluar dari kemaluannya. Itu semua adalah syahwat, namun itu tidak membatalkan.

    Namun yang Allah Ta'ala haramkan kepada orang yang berpuasa adalah sebagian syahwat yang telah Dia tentukan; dan onani tidak saya dapatkan termasuk di antara syahwat-syahwat yang ditentukan keharamannya secara jelas. Sampaipun jika kita katakan bahwa onani itu haram sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama, maka tidak setiap yang haram membatalkan puasa.

    Saya berharap dari kemuliaan hati Anda untuk menjelaskan kepada saya tentang dalil-dalil yang digunakan para ulama untuk membatalkan puasa orang yang melakukan onani. Semoga Allah Ta'ala membalas kebaikan untuk anda.

    Orang-orang yang mengharamkan onani berhujjah dengan sebuah ayat:

    ﴿وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ * إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ﴾

    Artinya: "Dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela." (QS. Al-Mu`minun: 4-5).

    Mereka mengatakan bahwa Allah Ta'ala menafikan(meniadakan)semuanya kecuali istri dan budak sahaya. Atas dasar itu mereka mengharamkan seseorang bersenang-senang dengan selain keduanya,meskipun dengan dirinya sendiri. Akan tetapi ada sesuatu yang aneh yang nampak bagi saya dan setan membisikkan kepada saya bahwa itu dapat membatalkan pendalilan mereka, namun saya tidak membolehkan hal itu terjadi, karena mereka adalah para ulama sementara saya adalah orang jahil di hadapan mereka.

    Maklum adanya bahwa termasuk dalam permasalahan menjaga kemaluan, yaitu menjaganya agar tidak disentuh atau dilihat oleh seorang pun selain istri atau budak sahaya. Bisa jadi, ada seseorang berpendapat bahwa dia diharamkan melihat kemaluannya dikiaskan kepada hal yang tadi disebutkan; dan mungkin pula pendapat itu akan dijawab, bahwa dia boleh melihat kemaluannya sendiri, dan tidak ada nash qath'i (dalil yang pasti) yang mengharamkannya. Maka ketika itu, mungkin ada juga yang berpendapat bahwa tidak ada nash qath'i yang mengharamkan onani, bahkan sebagian shahabat membolehkannya.

    Pendapat yang nampak bagiku -wallahu a'lam- bahwa ayat itu berbicara tentang hubungan seksual antara dua orang. Jadi ayat itu melarang hubungan tersebut kecuali dengan istri dan budak sahaya. Adapun hubungan seksual seseorang dengan dirinya sendiri, maka aku tidak dapatkan ayat tersebut menyinggung tentangnya. Ini hanya sekedar bersitan-bersitan yang bisa jadi datang dari setan. Saya menuliskannya untuk Anda,supaya Anda bersedia untuk menjelaskan kebenaran kepada saya,dan menunjuki saya kepada jalan yang lurus.

    Semoga Allah Ta'ala membalas kebaikan kepada Anda.

    Jawaban:

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

    Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala kami akan menjawab pertanyaanmu, kami katakan:

    HaditsAbu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang Anda sebutkan adalah sandaran para ulama yang berpendapat bahwa onani membatalkan puasa; dan itu adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan ulama fikih dan ulama hadits. Adapun bantahan yang disebutkan bahwa syahwat memiliki pengertian yang luas sehingga harus ditentukan satuan-satuannya, sedangkan kita tidak memiliki nash kecuali tentang jima', sehingga yang selebihnya harus ada dalil.

    Maka jawabannya, adalah bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan syahwat disini adalah syahwat jima' dan hal-hal yang berhubungan dengannya, karena itulah yang dilarang dari orang yang berpuasa. Sehingga tidak termasuk di dalamnya syahwat mencium hal-hal yang harum dan yang lainnya karena memang tidak ada larangan. Adapun masuknya onani dalam kategori syahwat, maka itu nampak dengan mengetahui tujuan dari perjima'an, yaitu menunaikan kebutuhan (nafsu biologis).

    Syariat telah menghukumibahwa orang yang berjima' puasanya batal dengan sekedar memasukkan kemaluan meskipun belum mengeluarkan air mani dan menunaikan kebutuhannya. Jadi barangsiapa yang berhasil menunaikan kebutuhannya tanpa harus memasukkan kemaluan, baik dengan cara berpelukan ataupun onani, maka lebih layak untuk dibatalkan puasanya. Akan tetapi, bagi orang-orang yang memahami dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, yaitu sabda beliau kepada Umar Radhiyallahu Anhu ketika bertanya kepada beliau tentang hukum berciuman bagi orang yang berpuasa, beliau bersabda, "Apa pendapatmu jika kamu kumur-kumur dengan air ketika kamu sedang berpuasa?" Umar Radhiyallahu Anhu berkata, "Itu tidak apa-apa." Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Ya." Apakah termasuk dari fikih menyamakan antara berciuman dan antara mengeluarkan air mani dengan cara onani, yaitu bahwa semuanya tidak membahayakan orang yang berpuasa? Bagaimana mungkin, padahal orang yang beronani telah menunaikan kebutuhannya dan mencapai tujuannya lebih banyak dari yang telah didapatkan oleh orang yang memasukkan kemaluannya tanpa mengeluarkan air mani.

    Demikian juga, jika kita hanya menghukumi batal puasa dengan perjima'an saja, maka konsekuensinya kita tidak menghukumi batal puasa karena sodomi, karena memang tidak ada nash yang menjelaskannya. Tentu pendapat itu sangat jauh dari fikih firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sabda Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam. Wallahu a'lam.

    Sebagian ulama dari kalangan ulama Hanafiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah berkata, "Onani itu haram.”Sedangkan menurut mayoritas ulama bahwa onani itu makruh, tidak haram. Akan tetapi mayoritas mereka tidak membolehkannya karena khawatir kesulitan dan kesusahan; dan mereka tidak membolehkannya tanpa alasan tersebut. Juga telah dinukil dari sekelompok ulama dari kalangan para shahabat dan tabi'in, bahwa mereka memberikan rukhsah (keringanan) untuk beronani karena darurat seperti khawatir perzinaan dan seperti jika syahwatnya bergejolak dan dia tidak menemukan jalan untuk meredamnya kecuali dengan beronani.

    Penulis kitab Adhwa` Al-Bayan ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

    ﴿ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ﴾

    Artinya: "Tetapi barangsiapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Mu`minun: 7), dia mendiskusikan perkataan orang-orang yang mengecualikan onani dari pendalilan ayat tersebut. Dia berkata, "Tidak diragukanlagi,bahwa keumuman itu berasal dari Al-Qur`an dan sunnah."

    Pendapat yang nampak bagi saya, bahwa apa yang telah Anda sebutkan di dalam pertanyaan Anda adalah bantahan kuat, karena onani tidak sama dengan apa yang telah disebutkan di dalam ayat tersebut. Bisa jadi inilah yang membuat para ulama yang memubahkannya (membolehkannya) dari kalangan para salaf tidak berdalil dengan ayat tersebut. Wallahu a'lam.

    Detail
    0
    615
  • Sebagian Darah Masuk Ke Tenggorokan Orang Yang Berpuasa
  • Syaikh yang terhormat,

    Assalamu 'alaikum warahmatullah wabarakatuh...

    Apabila seseorang berpuasa lalu mulutnya terluka dan darah masuk ke tenggorokannya, apakah dia boleh melanjutkan puasanya, atau puasanya telah batal?

    دخول شيئ من الدم لبلعوم الصائم

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

    Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala kami akan menjawab pertanyaanmu, kami katakan:

    Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh...

    Orang yang berpuasa dihukumi batal puasanya dikarenakan perkara-perkara yang membatalkan dengan syarat jika itu semua terjadi dengan sepengetahuan, kehendak hati, dan ingat. Jadi jika ada sesuatu masuk ke tenggorokan tanpa dikehendaki, maka itu tidak membatalkan puasa karena itu memang tidak disengaja dan tidak dikehendaki. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    ﴿وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ﴾

    Artinya: "Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu." (QS. Al-Ahzab: 5).

    Juga disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 2045) dan disepakati bahwa maknanya shahih, dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

    "إِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِيْ الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ."

    "Sesungguhnya Allah Ta'ala telah menggugurkan dari umatku (dosa) ketersalahan, keterlupaan, dan apa yang dipaksakan kepadanya."

    Saudara kalian,

    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih

    19/10/1428 H

    Detail
    0
    355
  • Hukum Suppositoria (Obat Yang Dimasukkan Lewat Dubur) dan Enema (Cairan Yang Disuntikkan Di Dubur)
  • Syaikh yang terhormat, Assalamu 'alaikum warahmatullah wabarakatuh... Apakah menggunakan supositoria dan enema membatalkan puasa?

    حكم التحاميل والحقن الشرجية للصائم

     

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala,Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

    Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala kami akan menjawab pertanyaan Anda, kami katakan:

    Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh...

    Supositoria dan enema pada hakikatnya adalah menyampaikan sesuatu ke dalam perut lewat jalan dubur (atau anus). Jumhur ulama fikih dari madzhab yang berbeda-beda berpendapat bahwa itu dapat membatalkan puasa. Sedangkan sekelompok ulama dari ahli tahqiq (para peneliti) berpendapat bahwa sesuatu yang sampai ke perut dari jalan dubur tidak membatalkan puasa, karena itu bukan makanan dan bukan minuman, dan tidak semakna dengan keduanya.

    Adapun yang disebutkan bahwa ada beberapa enema dapat memberikan gizi, maka itu sangat jarang terjadi. Sebagaimana mengaitkan hukum dengan penggizian bukanlah hal yang pasti dan tidak ada dalil yang jelas untuk hal tersebut. Oleh karena itu Syaikh kami, Ibnu Utsaimin Rahimahullah, berkata setelah memaparkan pendapat yang tidak membatalkan puasa, "Berdasarkan hal itu, kita katakan bahwa enema tidak membatalkan puasa secara mutlak, meskipun tubuh mendapatkan gizi darinya dari jalan usus-usus halus. Sehingga pendapat yang rajih dalam permasalahan ini adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah secara mutlak, dan tidak perlu menoleh kepada pendapat yang dikatakan oleh para ulama kontemporer." Selesai. Wallahu a'lam.

    Saudara kalian,

    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih

    15/8/1428 H

     

    Detail
    0
    1534
  • Transfusi Darah Bagi Orang Yang Berpuasa
  • Syaikh yang terhormat, Assalamu 'alaikum warahmatullah wabarakatuh... Saya terkena penyakit kanker darah, dan saya mengikuti proses kemoterapi. Untuk membersihkan diri dari sisa-sisa bahan yang digunakan, para dokter mengalirkan cairan lewat pembuluh darah dan mereka juga menambahkan darah dan plasma. Apakah proses tersebut membatalkan puasa atau tidak?

    حقن الدم للصائم

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala,Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

    Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala kami akan menjawab pertanyaanmu, kami katakan:

    Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh...

    Tidak diragukan lagi, bahwa penyakit tersebut memubahkan untuk tidak berpuasa; dan yang lebih afdhal adalah Anda tidak menyusahkan dirimu sendiri dengan berpuasa. Jika anda mampu mengqadhanya, maka qadhalah hari-hari yang anda batalkan. Jika tidak mampu mengqadhanya, maka berilah makan satu orang miskin setiap harinya.

    Adapun yang berkaitan dengan transfusi darah, baik pada penyakit sejenis itu ataupun yang lainnya, maka pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama kontemporer adalah bahwa dia membatalkan puasa; karena darah yang masuk ke dalam tubuh itu dapat menguatkan dan menjaga stamina tubuh sama seperti halnya makanan dan minuman.

    Ada juga sekelompok ulama yang berpendapat bahwa transfusi darah tidak membatalkan puasa, karena dia bukan makanan dan bukan minunan, dan tidak semakna dengan makanan dan minuman dari semua sisi. Penguatan dan penggizian tubuh adalah salah satu tujuan dari makanan dan minuman. Jika hal itu didapatkan oleh orang yang berpuasa dengan selain makanan dan minuman, maka itu tidak membatalkan puasa. Mungkin bisa dijadikan sebagai dalil, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 1922) dan Muslim (no. 1102) dari hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma tentang kisah puasa wishal yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau melarangnya terhadap para shahabatnya. Mereka berkata kepada beliau, "Akan tetapi kamu sendiri melakukan puasa wishal?" Maka beliau bersabda, "Aku tidak seperti kalian. Sesungguhnya aku selalu diberi makan dan diberi minum."

    Maklum adanya, bahwa makanan dan minuman itu bukan makanan dan minuman yang membatalkan puasa, melainkan itu adalah kekuatan yang dihasilkan dari ibadah yang Allah Ta'ala anugerahkan kepada Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan dengannya beliau tidak lagi membutuhkan makanan dan minuman. Atau dapat kita katakan bahwa kekuatan yang diperoleh oleh tubuh dan ketidakbutuhannya terhadap makanan dan minuman tanpa proses makan dan minum tidaklah membatalkan puasa.

    Ditambah lagi, bahwa pada asalnya segala sesuatu itu tidaklah membatalkan puasa kecuali dengan dalil; dan disana tidak ada dalil dan qiyas jali yang dapat menetapkan batalnya puasa karena transfusi darah bagi orang yang berpuasa. Atas dasar itu, maka pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran adalah bahwa transfusi darah tidaklah membatalkan puasa. Wallahu ta’ala a'lam.

    Saudara kalian,

    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih

    20/9/1428 H

    Detail
    0
    389
  • Suntikan Pembuluh Darah Bagi Orang Yang Berpuasa
  • Syaikh yang terhormat, Assalamu 'alaikum warahmatullah wabarakatuh... Maklum adanya, bahwa suntikan obat di pembuluh darah diiringi oleh suntikan sedikit kadar air untuk mendorongnya masuk ke dalam tubuh dengan cepat. Apakah itu dapat dianggap termasuk dari perkara-perkara yang membatalkan puasa?

    الحقنة الوريدية للصائم

    Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala,Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

    Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala kami akan menjawab pertanyaan Anda, kami katakan:

    Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh...

    Menurut pendapat jumhur(mayoritas)ulama fikih kontemporer,bahwa menyuntik orang sakit dengan obat-obatan lewat pembuluh darah tidaklah membatalkan puasa. Itu karena menyuntikkan obat di pembuluh darah bukanlah makanan dan bukan minuman, dan tidak semakna dengan makanan dan minuman. Sehingga pada asalnya puasa itu tetap sah sampai ada dalil yang menjelaskankebatalannya, dan tidak ada satu pun dalil yang menunjukkan hal tersebut.

    Adapun yang Anda sebutkan bahwa proses penyuntikan itu memerlukan sedikit air, maka itu juga tidak berpengaruh,karena itu sama seperti yang telah dijelaskan tadi, yaitu dia bukan makanan dan bukan minuman, juga tidak semakna dengan keduanya. Maka,hukum asalnya adalah puasa itu tetap sah. Itu dari satu sisi. Dari sisi yang lain dapat dikatakan,bahwa kadar air yang digunakan sangat sedikit dan tidak membatalkan puasa; dan kadarnya sama seperti air yang tersisa di mulut orang yang berwudhu. Maklum adanya bahwa air yang menempel di mulut orang yang berwudhu tidaklah membatalkan puasa secara kesepakatan,karena itu sedikit dan tidak disengaja.

    Saudara kalian,

    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih

    19/10/1428 H

    Detail
    0
    305
aqeedah
  • Bersumpah dengan selain nama Allah menafikan Tauhid Uluhiyyah
  • Apakah bersumpah dengan selain Allah menafikan tauhid rububiyah atau uluhiyah? Begitu pula dengan berhukum dengan selain hukum Allah? Apakah ada kelaziman bahwa sesuatu yang menafikan tauhid uluhiyah adalah syirik akbar secara mutlak, dan sesuatu yang menafikan tauhid rububiyah adalah syirik ashgar, kecuali jika meyakini atau memandang halal lantas berubah menjadi syirik akbar?

    الحلف بغير الله ينافي توحيد الألوهية.

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan keberkahan atas Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau.  
    Amma ba’du.

    Bersumpah dengan selain Allah termasuk syirik yang berkaitan dengan uluhiyyah, karena bersumpah dengan selain nama Allah Ta’ala terdapat pengagungan kepada sesuatu tersebut, sedangkan mengesakan Allah dalam pengagungan merupakan bagian dari hak uluhiyyah Allah, jika orang yang bersumpah tadi mengagungkan sesuatu yang dibuat sumpah sama seperti dia mengagungkan Allah Ta’ala, maka perbuatan ini termasuk dalam kategori syirik akbar yang dapat mengeluarkannya dari agama, hal ini menurut kesepakatan ulama Islam, adapun jika tidak mengagungkannya seperti dia mengagungkan Allah, maka termasuk dalam kategori syirik ashgar.

    Dalilnya adalah hadits riwayat Ahmad (5352), At-Tirmidzi (1535), dan Abu Dawud (3251), dari hadits Ibnu Umar –semoga Allah meridlainya-, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    ((مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ))

    Artinya: ”Barangsiapa bersumpah dengan selain nama Allah, maka dia telah kafir atau berbuat kesyirikan.”

    Dalam riwayat Abu Dawud:

    ((فَقَدْ أَشْرَكَ))

    Artinya: ”Maka dia telah berbuat kesyirikan.”

    Adapun berhukum dengan selain hukum Allah, maka ada perinciannya; ada yang dapat merusak tauhid rububiyah, dan ada yang dapat merusak tauhid uluhiyah. Yang terkait dengan pembuatan undang-undang dan menetapkan hukum yang menyelisihi hukum Allah, maka masuk kategori kesyirikan dalam tauhid rububiyah, Allah Ta’ala berfirman:

    ﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِنْ دُونِ اللَّهِ﴾ (التوبة: 31).

    Artinya: ”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (QS. At-Taubah: 31).

    Adapun yang terkait dengan mentaati mereka dalam praktek pengamalan undang-undang dan hukum, dimana mereka menyelisihi hukum Allah, maka perbuatan ini masuk kategori syirik dalam tauhid uluhiyah, Allah Ta’ala berfirman:

      ﴿أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ﴾ (الشورى: 21).

    Artinya: ”Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21).

    Adapun yang merusak tauhid rububiyyah dan uluhiyyah, maka terdapat tingkatan pada hukumnya. Ada yang menjadi syirik akbar, semisal meyakini adanya pencipta selain Allah, atau memalingkan jenis peribadatan untuk selain Allah. Dan ada yang menjadi syirik asghar, yaitu perbuatan yang dapat mengantarkan dia kepada syirik akbar. Dan Allah lah pemberi taufik.

     

    Saudaramu,
    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih
    15/02/1425 H

    Detail
    0
    277
  • Apakah kita katakan jari-jari Allah itu yang ada ditangan-Nya ataukah kita tawaqquf
  • Apakah kita katakan jari-jari Allah itu yang ada ditangan-Nya, ataukah kita tawaqquf (tidak memberi pernyataan apapun)?

    هل نقول أصابع الله عز وجل ليده أم نتوقف؟

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan keberkahan atas Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau.  
    Amma ba’du.

    Yang benar adalah bahwa jari-jari yang disandarkan kepada Allah adalah milik tangan-Nya -Jalla wa‘ala-, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (7451) dan Muslim (2786), dari hadits Abdullah bin Mas’ud –semoga Allah meridlainya-, ia berkata: Datang seorang pendeta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata :”Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah meletakkan langit pada satu jari, bumi pada satu jari, gunung pada satu jari, pepohonan dan sungai pada satu jari, dan seluruh makhluk pada satu jari, kemudian Dia menggerakkan tangan-Nya dan berfirman: ”Akulah raja.” Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tertawa, lalu membacakan ayat:

    ﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾ (الزمر: 67)

    Artinya: ”Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67). Wallahu a’lam.

     

    Saudaramu,
    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih
    18/12/1424 H

    Detail
    0
    333
  • Apa hukum menghina agama?
  • Apa hukum menghina agama?

    حكم سب الدين

    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
    Menghina agama adalah bentuk kekufuran kepada Allah yang Maha Agung menurut kesepakatan ahli ilmu, karena firman Allah Ta’ala:

    ﴿وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ﴾ (التوبة:12).

    Artinya: ”Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar mereka berhenti.” (QS. At-Taubah: 12).

    Siapa yang terjerumus dalam perbuatan tersebut, maka dia kafir murtad keluar dari agama, dan cara taubatnya adalah dengan menyesali perbuatannya dan tidak mengulanginya. Semoga Allah Ta'ala menjaga kita dari hal yang menyebabkan kemarahan Allah.

    Saudaramu,
    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih
    11/03/1425 H

    Detail
    0
    266
  • Lima pertanyaan seputar Al-asma was-shifat
  • Pertanyaan pertama: Apakah Allah disifati dengan jamaal (keindahan), dan diberi nama dengannya (Al-Jamiil)?

    Kedua : Apakah Allah disifati dengan ma’rifah (pengetahuan), karena hadits :

    ((تَعَرَّفْ عَلَى اللَّهِ فِيْ الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِيْ الشِّدَّةِ))

    Artinya: ”Ingatlah Allah dalam waktu lenggang, niscaya Dia akan mengenalmu di saat sempit?”

    Ketiga: Apakah pernyataan : [آنَسَكَ اللهُ] (semoga Allah menghilangkan rasa keterasinganmu) dibenarkan? Dan apakah Al-Uns (penghilang rasa keterasingan) merupakan sifat Allah subhanahu?

    Keempat: Apakah pernyataan : [اللهُ يَصُوْنُ وَلَدَكَ] (semoga Allah menjaga anakmu) Dibenarkan?

    Kelima: Apakah Al-Haq termasuk nama-nama Allah?

    خمسة أسئلة في الأسماء والصفات

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan keberkahan atas Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau.  
    Amma ba’du.

    Jawaban pertanyaan pertama: Benar, Allah Ta’ala disifat dengan sifat keindahan, sebagaimana tertuang dalam shahih Muslim (91), dari jalan Ibrahim An-Nakha’i, dari Alqamah, dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    ((إِنَّ اللَّهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ))

    Artinya: “Sesungguhnya Allah itu indah, suka akan keindahan”.
    Dan Al-Jamil termasuk asma`ul husna (nama-nama Allah yang sempurna); telah datang penyebutannya pada hadits yang mencatat asma`ul husna, yaitu hadits yang telah disepakati oleh para ulama bahwasannya tidak sah disandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Ibnul Qayyim memasukkannya kedalam asma`ul husna pada bait syair:

    وَهُوَ الجَمِيْلُ عَلَى الحَقِيْقَةِ كَيْفَ لَا ***  وَجَمَـالُ سَائِرِ هذِهِ الأَكْوَانِ
    مِنْ بَعْضِ آثَـارِ الجَمِـيْلِ فَرَبُّهَا *** أَوْلَى وَأَجْدَرُ عِنْدَ ذِي العِرْفَانِ
    فَجَمَالُهُ باِلذَّاتِ وَالأَوْصَـافِ *** وَالأَفْعَـالِ وَالأَسْمَاءِ بِالبُرْهَانِ

    Artinya :
    Dialah Al-Jamil (Yang Maha indah) dengan sebenarnya, kenapa tidak?
    Sedang keindahan seluruh alam
    Sebagian dari pengaruh Al-Jamil, maka penciptanya
    Berhak dan lebih, menurut ahli pengetahuan
    Karena keindahan-Nya dengan dzat dan sifat-Nya
    Perbuatan dan nama-namanya dengan bukti

    Jawaban pertanyaan kedua: Sebagian ahli ilmu membedakan antara Al-Ilmu (ilmu) dan Al-Ma’rifah (pengetahuan), Al-Ma’rifah adalah menangkap sesuatu melalui proses berfikir dan tadabbur, berbeda dengan ilmu, maka Al-Ma’rifah ini ilmu yang terbatas, sebagian lainnya berkata: Al-Ma’rifah itu ilmu yang didahului oleh lupa atau kebodohan, oleh karenanya Allah Ta’ala tidak disifati dengannya, begitu menurut mereka; sebagian yang lain mengatakan: Bahkan Al-Ma’rifah itu persamaan kata dari ilmu, maka diperkenankan untuk disifati dengannya, atau pernyataan: Allah –Yang Maha agung dan luhur- mengetahui, mereka berdalil dengan hadits riwayat Ahmad dari beberapa jalan, dari Ibnu 'Abbas : Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:    

    ((تَعَرَّفْ عَلَى اللَّهِ فِيْ الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِيْ الشِّدَّةِ))

    Artinya: ”ingatlah Allah dalam waktu lenggang, niscaya Dia akan mengenalmu di saat sempit”.

    Jawaban pertanyaan ketiga: Tidak mengapa pernyataan [آنَسَكَ اللهُ] (semoga Allah menghilangkan rasa keterasinganmu), karena ini adalah doa agar Allah memberi rasa aman, ketenangan dan lapang, sebagaimana permintaan hamba lainnya agar Allah memberi dia kebaikan ini dan itu; adapun mensifati Allah dengan Al-Uns (penghilang rasa keterasingan), maka aku belum tahu, akan tetapi itu merupakan pekerjaan Allah, dan Allah maha berkehendak terhadap segala sesuatu, dan pekerjaan adalah satu jenis sifat pelaku. Wallahu a’lam.
     

    Jawaban pertanyaan keempat: Tidak mengapa dengan pernyataan itu, karena termasuk doa meminta penjagaan dan perlindungan dari keburukan, sebagaimana jawaban pada pertanyaan yang lalu.

    Jawaban pertanyaan kelima : Benar, Al-Haq adalah nama Allah –Yang Maha agung dan Maha tinggi-, terdapat di beberapa tempat dalam kalamullah Al-Qur’an, di antaranya, firman Allah Ta’ala :

    ﴿ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلاهُمُ الْحَقِّ﴾ (الأنعام: 62)

    Artinya: ”Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang (Al-Haq) sebenarnya.” (QS. Al-An’am: 62).
    Dan firman-Nya:

    ﴿فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ﴾ (يونس: 32)

    Artinya: ”Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Yunus: 32).
    Dan firman-Nya:

    ﴿فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ﴾ (طـه: 114)

    Artinya:”Maka Maha Tinggi Allah Raja Al-Haq Yang sebenar-benarnya”. Thahaa : 114.
    Dan firman-Nya:

    ﴿ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ﴾ (الحج: 6)

    Artinya: ”Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq.” (QS. Al-Hajj: 6).
    Dan firman-Nya:

    ﴿وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ﴾ (النور:25)

    Artinya: ”Dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).” (QS. An-Nur: 25). Dan ayat-ayat yang lain. Wallahu a’lam.

     

    Saudaramu,
    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih
    19/06/1425 H

    Detail
    0
    3188
  • Apakah manusia tidak memiliki kehendak (musayyar) ataukah memiliki pilihan (mukhoyyar)?
  • Apakah manusia tidak memiliki kehendak (musayyar), ataukah memiliki pilihan (mukhayyar)?

    هل الإنسان مخير أم مسير؟

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan keberkahan atas Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau.  
    Amma ba’du.

    Menyatakan dua kalimat ini secara mutlak: Tidak memiliki kehendak (musayyar), ataukah memiliki pilihan (mukhoyyar) sebagai sifat manusia merupakan pernyataan yang baru dalam agama, tidak tertera dalam Al-Qur`an maupun As-Sunnah Al-Muthahharah (suci), yang mensifati manusia bahwa dia tidak memiliki kehendak, terpaksa, ataupun sebaliknya memiliki kehendak mutlak sehingga keluar dari ilmu, kemampuan dan kehendak Allah.

    Kalimat yang bersifat mutlak dan bertolak belakang semacam ini tidak pernah dinyatakan oleh salaf dan para imam. Akan tetapi mereka memberi perincian dan mengingkari pernyataan tersebut secara mutlak. Ibnu Taimiyyah berkata dalam Majmu’ Al-Fatawa (8/293): ”Para salaf (pendahulu) umat dan para imam mengingkari penyebutan semacam ini secara mutlak, apalagi jika kedua bagian kalimat positif ataupun yang negatifnya batil, sekalipun ada yang benar. Yang terbaik adalah menyatakan pernyataan yang baik secara mutlak sebagaimana telah diarahkan oleh beberapa nash (Al-Qur`an dan As-Sunnah), dan memberi perincian pada pernyataan yang bersifat umum lagi rancu.”

    Para salaful ummah (dari kalangan sahabat, tabi’in dan atba’ut tabi’in) mengingkari pernyataan secara mutlak bahwa manusia itu bersifat jabr (dikendalikan Allah) ataupun tidak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Al-Fatawa (8/461) berkata: ”Bahkan untuk lafazh al-jabr, mereka mengingkari orang yang menyatakan: jabr (manusia terikat takdir secara mutlak), dan orang yang menyatakan tidak jabr (tidak terikat oleh takdir sama sekali). Riwayat tentang larangan ini populer dari Al-Auza’i, sufyan Ats-Tsauri, Abdurrahman bin Mahdi, Ahmad bin Hanbal dan lainnya dari kalangan salaful-ummah dan para imam mereka.”

    Dalam tempat lain dari Majmu’ Al-Fatawa (16/237), ia berkata: ”Oleh karena itu, para Imam seperti Imam Ahmad dan para imam sebelumnya semisal Al-Auza’i dan lainnya telah menyatakan dengan jelas pengingkaran akan penyebutan secara mutlak pernyataan al-jabr, baik iya ataupun tidak, maka tidak boleh kita katakan bahwa: Allah mengendalikan hamba, ataupun sebaliknya : Allah tidak mengendalikan, karena lafazh ini memiliki banyak makna (ambigu) dan bersifat ijmal (umum).” Jika dikatakan: Allah memaksa mereka, maka seakan-akan bermakna Allah memaksa mereka untuk melakukan kebaikan dan keburukan tanpa kehendak mereka, sebaliknya jika dikatakan: Allah tidak memaksa mereka, maka seakan-akan mereka melakukan segalanya tanpa ada kehendak Allah, dan keduanya salah.”

    Telah disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam Majmu’ Al-Fatawa (7/664) yang semakna dengan pertanyaan ini, beliau berkata: ”Begitu pula lafazh al-jabr, jika dia bertanya: Apakah hamba itu dikendalikan atau tidak? Maka jawabnya adalah: Jika yang dimaksud dengan dikendalikan adalah bahwa hamba tidak memiliki kehendak, kemampuan atau perbuatan maka ini adalah pernyataan yang batil, karena hamba tersebut melakukan aktifitas dengan pilihan, kemampuan dan kehendak dia. Dan jika yang dimaksud dengan dikendalikan adalah Allah menciptakan kehendak, kemampuan dan pekerjaan dia, maka benar Allah Ta’ala yang menciptakannya.”

    Maka pertanyaanmu: Apakah manusia itu memiliki pilihan (mukhayyar) ataukah tidak memiliki kehendak (musayyar)? Dijawab dengan jawaban Syaikhul Islam –semoga Allah merahmatinya- yaitu tidak boleh menyatakan secara mutlak bahwa manusia tidak memiliki kehendak (musayyar) ataupun memiliki pilihan (mukhayyar) keduanya salah, karena nash Al-Qur’an dan As-Sunnah telah memberi petunjuk bahwa manusia memiliki keinginan dan kehendak, dan dia benar-benar bertindak, tetapi semuanya tidak keluar dari ilmu, keinginan dan kehendak Allah, firman Allah berikut menjelaskan:

    ﴿لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ (28) وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴾ (التكوير: 28-29)

    Artinya: ”(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (QS. At-Takwir: 28-29).
    Dan beberapa nash lainnya di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah; dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang paling jelas menggambarkan sifat manusia berkaitan dengan permasalahan ini adalah bahwa manusia itu muyassar (dimudahkan oleh Allah jalannya), di dalam As-Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim) dari hadits 'Ali bin Abi Thalib –semoga Allah meridhainya- dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:  

    ((مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ عُلِمَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَةِ وَالنَارِ)) قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللَهِ، أَفَلاَ نَدَعُ الْعَمَلَ وَنَتَّكِلُ عَلَى الْكِتَابِ؟ قاَلَ: ((اِعْمَلُوْا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لمِاَ خُلِقَ لَهُ))، ثُمَّ قَرَأَ: (فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى) الليل: 5-7.

    Artinya: ”Setiap dari kalian itu telah diketahui tempatnya baik di surga ataupun di neraka.” Beliau ditanya: ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita tinggalkan amalan dan bersandar mengandalkan apa yang sudah tertulis pada Al-kitab (lauhul mahfuzh)?” Beliau menjawab: ”Beramallah, karena setiap manusia akan dimudahkan sesuai dengan takdir penciptaannya”, kemudian beliau membacakan ayat : “(5) Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, (6) dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), (7) maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5-7).

    Wallahu a’lam.

     

    Saudaramu,
    Prof. Dr. Khalid Al-Mushlih
    17/11/1424 H

    Detail
    0
    711
  • Apakah mushaf boleh dipegang oleh orang kafir?
  • Wahai Syaikh yang mulia, Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    Terkadang kita menjenguk orang sakit berkebangsaan arab yang beragama masihi di Rumah sakit, kita melihat mereka membawa Al-Qur’an dan membacanya, sikap apa yang wajib kita perbuat terhadap mereka?

    هل يترك المصحف في يد الكافر؟

    Segala puji hanya milik Allah, aku bershalawat dan salam atas Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau.  
    Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
    Amma ba’du.

    Suatu kewajiban untuk menjaga mushaf dari tangan orang kafir, kecuali jika terdapat kemaslahatan yang jelas, jika mushaf tersebut berada di tangan kafir tanpa ada perantara dari seorang muslim, semisal dia mendapatkannya dengan cara membeli, atau dia mendapatkannya dari seseorang, maka tidaklah berdosa orang yang tidak menjadi perantara.

    Kemudian kita ingatkan bahwa pernyataan yang benar adalah menamakan (orang kristen) dengan sebutan Nashrani, sebagaimana Allah Ta'ala sebut mereka dalam Al-Qur`an.

    Saudaramu,
    Prof. Dr.  Khalid Al-Mushlih
    9/11/1428 H

    Detail
    0
    429
NIKAH HAL
  • Hukum menikahkan puteri yang lebih kecil dahulu sebelum yang lebih besar
  • Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Wahai syaikh yang mulia Khalid bin Abdullah Al-Muslih...semoga Allah menjaganya. Adapun berikutnya. Seorang lelaki telah datang melamar puteriku yang kecil, padahal dia memiliki kakak perempuan, apakah aku berhak untuk menolak lamarannya karena puteriku masih memiliki kakak perempuan, dan aku tidak ingin menikahkan puteri kecilku sebelum kakaknya menikah, untuk menjaga hatinya. Aku mengharap jawaban hukum syar’i atas masalah ini, sebagai pengetahuan sang pelamar menentukan puteri kecilku dengan memberitahukan namanya; apa yang harus kita lakukan dalam keadaan seperti ini, semoga Allah menjaga anda.

    حكم تزويج البنت الصغرى قبل الكبرى

    Wa alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Adapun berikutnya.

    Maksud dari perwalian dalam pernikahan adalah membantu pihak perempuan baik itu puteri, saudari atau selain keduanya untuk memilih lelaki sekufu, yang agama, akhlak dan amanahnya diridlai. Maka kapanpun ada lelaki yang sesuai dengan syarat tersebut maju untuk meminang perempuan, maka wajib bagi sang wali untuk tidak menghalangi dan melarangnya menikah dengan lelaki tersebut, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmizi dan lainnya dari hadits Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- bersabda :

    «إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِلَّا تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ»

    Artinya :”Jika seseorang yang engkau ridlai agama dan akhlaknya datang kepadamu untuk melamar maka nikahkanlah dia, jika tidak kalian lakukan maka akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi ini dan kerusakan yang merajalela”.

    Dan semisal dengannya,hadits yang diriwayatkanolehAbu Hatim Al-Muzani bahwa Nabi shallalahu alaihi wasallam bersabda:

    «إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوْهُ، إِلَّا تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ»

    Artinya :”Jika seseorang yang engkau ridlai agama dan akhlaknya datang kepadamu untuk melamar maka kawinkanlah dia, jika tidak kalian lakukan maka akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi ini dan kerusakan”.

    Difahami dari dalil di atas bahwa menolak lamaran seseorang yang melamar puteri kecil dan tidak menikahkannya jika memang telah datang lelaki yang sekufu dengannya, dengan alasan puteri yang lebih besar belum menikah adalah menyelisihi perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan termasuk kezaliman, khianat terhadap amanah dan keluar dari kewajiban nasehat yang merupakan maksud dari perwalian.

    Maka wajib bagi wali perempuan jika seseorang perempuan telah sampai umur menikah dan seorang lelaki yang sekufu datang melamar, hendaknya ia bersegera untuk menikahkannya, dan tidak mengahalanginya karena terpengaruh oleh puteri yang lebih besar. Karena puteri yang lebih besar tidak memiliki hak untuk mempengaruhi dan tidak meridlai, dan hendaknya sang wali menasehati puteri yang lebih besar bahwa pernikahan adik perempuannya tidak akan menghalangi rezeki yang Allah bagikan untuknya, karena Allah telah menetapkan takdirnya pada setiap sesuatu, mungkin saja pengunduran masa pernikahannya adalah karena suatu kebaikan, maka hendaknya senang dengan qadla dan qadar Allah,  meminta keutamaan Allah, dan hendaknya sang wali menasehatinya bahwa cepat atau lambatnya pernikahan bukan ukuran kesempurnaan karakter perempuan atau kekurangannya, betapa banyak wanita yang memiliki karakter tinggi terlambat menikahnya, wallahul-muwaffiq.

    Anggota dewan fatwa di propinsi Al-Qaseem

    Prof.DR. Khalid binAbdullah Al-Muslih

    3/3/1436 H

    Detail
    0
    402
  • Kaedah menanyakan keadaaan laki-laki yang melamar
  • Wahai syaikh yang mulia Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Apakah seseorang perempuan diperkenankan meminta kepada lelaki yang melamarnya untuk memperlihatkan isi ponselnya? ضابط ما يسأل عنه من حال الخاطب

    Segala puji hanya milik Allah, aku bershalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau. 

    Wa alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

    Amma ba’du.

    Pada dasarnya diperbolehkan bagi seorang lelaki atau perempuan untuk saling menanyakan keadaan masing-masing; untuk memeriksa akhlak dan agamanya, dari Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya-bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

    «إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ، إِلَّا تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ»

    Artinya :”Jika seseorang yang engkau ridlai agama dan akhlaknya datang kepadamu untuk melamar maka nikahkanlah dia, jika tidak kalian lakukan maka akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi ini dan kerusakan yang merajalela”. Hadits riwayat At-Tirmizi (1084).

    Sedangkan ridla dengan agama, akhlak dan amanahnya tidak diketahui melainkan setelah mengetahui keadaannya, maka segala cara yang bisa digunakan untuk mengetahui keadaan tanpa ada unsur pelanggaran, diperbolehkan; akan tetapi tidak digunakan untuk membuka aib, seperti jika keduanya saling menanyakan apakah engkau pernah berbuat dosa ini atau itu?! Maka pertanyaan seperti ini tidak diperkenankan, dan orang yang ditanya tidak wajib untuk menjawabnya, meskipun memang benar dia telah melakukan dosa tersebut,  begitu juga tidak boleh bertanya dengan pertanyaan yang menyebabkan terkoyaknya kehormatan, seperti contoh yang dipaparkan dalam pertanyaan, maka tidak layak bagi satu pasangan meminta untuk diperlihatkan didepan khayalak sesuatu yang menjadi kekhususan pihak lain. Wallahu a’lam.

    Saudaramu

    Prof. DR Khalid Al-Muslih

    14/10/1428H

    Detail
    0
    436
  • Memanfaatkan harta isteri kemudian menceraikannya
  • Wahai syaikh yang mulia Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, aku menikah sejak empat bulan yang lalu, dan ternyata suamiku telah beristri, dan sebelum menikahiku dia bersumpah di atas Al-Qur’an bahwa dia tidak akan menceraikanku jika isteri pertamanya meminta kepada dia untuk menceraikanku, dan aku telah banyak membantu ekonomi dia dalam jumlah yang besar, dan sekarang aku kaget karena dia menceraikanku secara tidak langsung, maka bagaimana hukumnya?

    استغلال الزوج لمال زوجته ثم تطليقه لها

    Segala puji hanya milik Allah, aku bershalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau. 

    Amma ba’du.

    Pada hakikatnya permasalahan ini bukan pada sumpah dia, permasalahannya adalah ada sebagian dari lelaki berusaha menguasai perempuan, dengan cara memakan harta mereka tanpa hak yang dibenarkan, permasalahan ini harus mendapat  perhatian serius dari para pencari ilmu, dai dan orang yang mulia, bahkan aku ajak masyarakat secara umum untuk menegakkan keadilan bagi perempuan dari realita kezaliman yang menimpa mereka dari sebagian lelaki dalam masalah memakan harta perempuan, baik berupa harta warisan, gaji atau lainnya, aku telah mendengar berbagai cerita yang menyayat hati tentang sebagian lelaki yang menguasai harta isterinya.

    Aku ingatkan para lelaki dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

    «مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِيْنٍ وَهُوَ فِيْهَا فَاجِرٌ؛ لِيَقْتَطِعَ بِهَا مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ، لَقِيَ اللهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ»

    Artinya :”Barangsiapa bersumpah kemudian dia mengingkarinya; dengan niat untuk mengambil harta seorang muslim, dia akan menemui Allah dalam keadaan marah padanya”.Muttafaqun alaih. Dan dengan sabda beliau:

    «لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ إِلَّا بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ»

    Artinya:”Tidak dihalalkan harta seseorang kecuali dengan keridlaan jiwanya”. Hadits riwayat Ahmad, Ad-Daraqutni, Al-Baihaqi dan dihasankan (derajat haditsnya hasan). Maka bagaimana pula jika dia mengambil hartadalam jumlahbanyak dari para isteri kemudian tidak mengakuinya?! Bahkan kau temui dia setelah mengambil sejumlah harta,dia gunakan uang tersebut untuk menikah lagi; ini benar-benar penipuan dan kezaliman atas perempuan.

    Adapun yang berkaitan dengan sumpah maka aku tidak akan membahasnya; karena merupakan sesuatu yang berkait khusus dengan lelaki tersebut; akan tetapi yang jadi pertanyaan apakah sumpah menghalangi untuk jatuhnya talak?

    Jawabannya adalah : Tidak menghalangi jatuhnya talak, dan talak tetap berlaku.

    Adapun tentang talak yang dia jatuhkan secara tidak langsung maka tidak berpengaruh, karena talak berlaku baik secara langsung didepanmu maupun tidak langsung, aku harap engkau sabar atas musibah ini, dan aku sarankan engkau untuk meminta kepada yang Maha berkuasa dan berkehendak, yaitu Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia, mintalah keadilan kepada-Nya perihal suamimu.

    Saudaramu

    Prof. DR Khalid Al-Muslih

    5/3/1433 H

     

    Detail
    0
    385
  • Menikah dengan transgender
  • Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah, keluarga, para sahabat, dan orang yang mencintai beliau. Amma ba’du. Seorang lelaki berubah secara sex (jenis kelamin) menjadi seorang perempuan, dan sekarang telah menjadi seorang perempuan secara luar dan dalam, para dokter menambahkan rahim untuknya dan menghilangkan anggota kelamin laki-lakinya serta menggantinya dengan anggota kelamin perempuan, sekarang pertanyaannya adalah : Apakah diperbolehkan menikahinya setelah berubah demikian? Sebagai maklumat bahwa secara kedokteran dia bisa melahirkan, dan orang yang melihatnya tidak mungkin dapat mengetahui bahwa dia dahulunya seorang laki-laki.

    الزواج من متحول جنسيا

    Segala puji hanya milik Allah, aku bershalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau. 

    Amma ba’du.

    Ada dua keadaan pada perubahan jenis kelamin dari laki-laki menjadi perempuan dan sebaliknya, dan hukum dari dua keadaan ini berbeda.

    Keadaan pertama : Jika maksud dari perubahan ini untuk memperjelas orientasi seksual (status jenis kelamin) dan hakikatnya, baik asal jenis kelaminnya perempuan atau sebaliknya, sehingga tampak karakter laki-laki atau karakter perempuannya, karena penghilangan sifat yang tampak ini tidak mengapa, sehingga berlaku hukum jenis kelamin asli, sebagai contoh : Jika jenis asal kelamin perempuan, kemudian tampak padanya sifat laki-laki, maka diperbolehkan baginya untuk menghilangkan sifat ini, dengan yang Allah mudahkan melalui teknik kedokteran, sehingga dia kembali pada asal jenis kelaminnya yaitu perempuan pada contoh ini, berikutnya berlaku baginya segala hukum terkait dengan perempuan, diantaranya boleh dinikahi oleh seorang lelaki.

    Keadaan kedua : Jika perubahan ini dimaksud untuk menyembunyikan karakter asal jenis kelamin yang Allah Ta’ala takdirkan untuknya. Dan menampakkan karakter jenis kelamin lainnya yang didapat dengan melakukan perubahan, maka ini termasuk dosa dan pelanggaran besar, yaitu merubah cipataan Allah Ta’ala yang akan mendatangkan siksaan, termasuk perbuatan sia-sia, karena bermaksud menampakkan karakter perempuan dan menyembunyikan karakter laki-laki atau sebaliknya, bukan mengembalikan hakikat seseorang pada orientasi seks sebenarnya, maka hukumnya tetap pada asal jenis kelamin baik laki-laki atau perempuan, jika seorang laki-laki melakukan operasi perubahan menjadi jenis kelamin perempuan, maka secara hukum dia masih laki-laki, dan tidak boleh seorang laki-laki menikahinya, dan Allah sebagai pemberi petunjuk kejalan yang lurus.

    Saudaramu

    Prof. DR Khalid Al-Muslih

    5/11/1434 H

    Detail
    0
    1789
  • Hukum membaca sesuatu yang ber-tema-kan sex
  • Apakah diperbolehkan bagiku membaca atau melihat gambar-gambar yang bersifat pornografi, untuk lebih membangkitkan nafsu, karena aku tidak menemukan kepuasan dalam bersetubuh kecuali dengan seperti itu?

    حكم قراءة مواضيع جنسية

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan keberkahan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau. 

    Amma ba’du.

    Sebagai jawaban atas pertanyaanmu maka kita katakan dan Allahlah pemberi taufik:

    Tidak boleh menyaksikan tontonan pornografi yang kotor dengn dalih membangkitkan nafsu dan rangsangan untuk bersetubuh; karena termasuk menyaksikan persaksian dusta, melihat aurat, dan melihat perbuatan zina yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam, menonton cuplikan seperti ini dilarang bagaimanapun keadaannya.

    Adapun membaca kisah-kisah sex, maka keburukannya lebih sedikit, akan tetapi termasuk dari mengikuti langkah-langkah  setan, karena tidak lepas dari : Menceritakan kisah para pezina dan hukumnya haram, atau menceritakan kisah pasangan suami isteri tertentu yang menyebarkannya, dan ini termasuk dalam sabda Rasulullah alaihish-shalatu wassalam: 

    "إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ القِيَامَةِ، الرَّجُلُ يُفْضِيْ إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا".

    Artinya :”Seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang bersetubuh dengan isterinya, dan isterinya bersetubuh dengannya kemudian dia menyebarkan rahasia isterinya”. Hadits riwayat Muslim (1437) dari hadits Abu Said Al-Khudri –semoga Allah meridlainya-.

    Pada berbagai sarana di atas juga terdapat sesuatu yang menghilangkan rasa malu, dan menyeret kepada keburukan dan berpengaruh negatif, sehingga akan berimbas kebalikan dari niat asal, isteri menjadi tidak memilik nafsu lagi dengan suami, dan suami tidak memiliki nafsu lagi dengan isteri.

    Detail
    0
    8334
  • Hukum membatasi jumlah keturunan
  • Apa hukum membatasi jumlah keturunan, misal : Sepasang suami isteri bersepakat melahirkan hanya lima (5) anak, atau berhenti untuk melahirkan jika isteri telah berumur 38 tahun misalnya?

    حكم تحديد النسل

    Segala puji hanya milik Allah, shalawat, salam dan keberkahan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabat beliau. 

    Amma ba’du.

    Sebagai jawaban atas pertanyaanmu maka kita katakan dan Allahlah pemberi taufik:

    Memperbanyak keturunan merupakan maksud yang paling agung dari suatu pernikahan, dan termasuk yang dimotivasi oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, dalam riwayat Abu Dawud (2050) dan An-Nasa’i (3227) dari hadits Ma’qil bin Yasar –semoga Allah meridlainya-berkata : Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan berkata : Aku telah menemukan wanita yang memiliki kehormatan dan kecantikan, tapi dia mandul, apakah boleh aku menikahinya? Beliau menjawab : Tidak, kemudian dia datang untuk yang kedua kalinya, kemudian Rasulullah melarangnya, kemudian datang untuk ketiga kalinya, kemudian beliau bersabda :

    "تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ"

    Artinya :”Menikahlah dengan wanita yang banyak memiliki rasa cinta, dan wanita produktif (yang bisa melahirkan), karena aku akan bangga dengan kalian dihadapan seluruh umat”.

    Danpembatasan yang ada pada pertanyaan menyelisihi dari maksud ini, kemudian jika pembatasan keturunan menggunakan media yang dapat menghalangi dari kehamilan selamanya hukumnya haram menurut para ahli ilmu, karena termasuk perbuatan kriminalitas atas jiwa, dan merupakan tindakan penonaktifan manfaat, adapun jika media yang digunakan dalam pembatasan keturunan tidak berdampak pada infertilitas secara mutlak,maka yang tampak bagiku dibolehkan, dan kebanyakan dari ahli ilmu berpendapat seperti itu; karena maksudnya samadengan ‘Azl (mengeluarkan mani diluar rahim), Al-Bukhari (7409) dan Muslim (1438) telah meriwayatkan hadits dari Abu Said Al-Khudri –semoga Allah meridlainya-, bahwa para sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang Azl, kemudian Nabi bersabda :

    "مَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَفْعَلُوْا، فَإِنَّ اللهَ قَدْ كَتَبَ مَن هُوَ خَالِقٌ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ"

    Artinya :”Tidak mengapa, kalian tidak lakukan, karena Allah telah mentakdirkan siapa yang akan Dia cipta hingga hari kiamat”.

    Dalam riwayat Al-Bukhari (2229):

    "فَإِنَّهَا لَيْسَتْ نَسْمَةٌ كَتَبَ اللهُ أَنْ تَخْرُجَ إِلَّا هِيَ خَارِجَةٌ"

    Artinya :”Karena sesungguhnya, tidaklah Allah takdirkan satu jiwa untuk lahir melainkan jiwa tersebut pasti akan lahir”.

    Dalam riwayat Al-Bukhari (5209) dan Muslim (1440) dari hadits Atha bahwa dia mendenga Jabir –semoga Allah meridlainya- berkata:

    "كُنَّا نَعْزِلُ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ"

    Artinya :”Dahulu kita melakukan Azl sedangkan Al-Qur’an turun”.

    Dalam lafaz lain:

    "كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ"

    Artinya :”Dahulu kita pada zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam melakukan Azl dan Al-Qur’an turun”.

    Meskipun demikian, hukumnya menjadi makruh; karena hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (1442) dari Judamah binti wahb saudari ukasyah –semoga Allah meridlainya- berkata: Banyak shabat yang menanyakan Kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam seputar Azl kemudian Nabi bersabda :

    "ذَلِكَ الْوَأْدُ الْخَفِيُّ"

     Artinya :”Itu adalah penguburan anak hidup-hidup secara samar”.

    Jika hadits ini digabung dengan hadits-hadits sebelumnya yang menunjukkan kebolehan akan menunjukkan hukum makruh untukAzl, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam menamakannya dengan  “penguburan anak hidup-hidup”.

    Detail
    0
    623
التفسير
  • TIDAK URUT KETIKA MEMBACA AL QURAN
  • Syaikh yang kami muliakan, Assalaamualaikum warahmatullah wa barakatuh. Apakah dibolehkan membaca Al Quran secara acak tanpa sesuai urutan dalam mushaf? Dan itu diketahui dengan istilah tankis ? التنكيس في قراءة القرآن

    Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam aku sanjungkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

    Waalikumussalaam warahmatullah wa barakatuh.

    Amma ba’du.

    Tankisdalam membaca Al Quran ada tiga macam :

    Pertama           : Tankis surat-surat, yaitu dengan membaca tidak sesuai urutan mushaf. Seperti membaca surat An Nas sebelum surat Al Ikhlas. Yang semacam ini makruh menurut jumhur ulama dari Madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali. Dan hukum (makruh) ini berlaku ketika dibaca dalam satu rakaat. Jika cara membaca seperti di luar shalat maka para ulama Syafi’i berpendapat : hal ini menyelisihi yang lebih utama. Dan apabila tankis dilakukan dalam dua rakaat, seperti membaca di rakaat ke dua surat yang lebih dahulu (dalam urutan) dari rakaat pertama, maka Imam Nawawi berkata : Bahwasanya tidak ada perbedaan pendapat (di kalangan ulama) akan dibolehkannya.

    Ada pendapat lain dari beberapa ulama bahwasanya hal tersebut adalah makruh, dan ini adalah riwayat dari Imam Ahmad.

    Dasar dari hukum makruh adalah perbedaan urutan (dalam membaca) berarti menyelisihi urutan bacaan para sahabat –radiyallahu ‘anhum- yang telah menjadi kesepakatan mereka dalam hal ini.

    Adapun yang membolehkannya menyatakan : ‘urutan surat adalah hasil ijtihad, dan tidak ada perintah dari Nabi – salallahu ‘alaihi wa salam- . Oleh karena itu terdapat perbedaan urutan mushaf yang dimilki sahabat –radiyallahu ‘anhum- sebelum adanya mushaf Usmany. Dan yang benar (di luar shalat) adalah tidak makruh ketika tidak urut surat (dalam membaca). Dan menguatkan hal itu hadis riwayat Muslim (772) dari Hudzzaifah –radiyallahu ‘anhu- tentang shalatnya bersama Nabi –salallahu ‘alaihi wa salam- di suatu malam, ia berkata :

    ((فافتتح سورة البقرة، فقلت: يركع عند المائة، ثم مضى فقلت: يصلي بها في ركعة، فمضى فقلت: يركع بها، ثم افتتح النساء فقرأها، ثم افتتح آل عمران فقرأها((

     (maka mulailah beliau membaca surat Al Baqarah, sampai aku menyangka beliau akan ruku di ayat ke seratus, kemudian beliau ternyata tetap meneruskan bacaaanya, sampai aku menyangka beliau akan membaca di rakaat tersebut, sampai beliau meneruskan bacaaanya dan aku menyangka beliau akan ruku di akhir surat, tetapi beliau meneruskan dan memulai surat An Nisa dan membacanya, kemudian meneruskan dengan surat Ali Imran dan belia membacanya)

    Kedua : Tankis ayat, dan telah sampai ijma’ (kesepakatan) ulama hukum makruhnya cara seperti ini walaupun tidak merusak makna. Jika merubah makna maka hukumnya adalah haram. Dan ada sebagian ulama yang mengharamkannya, karena urutan ayat adalah tauqify (berasal dari Allah). Dan pendapat ini adalah yang paling dekat kebenarannya, jika ayat-ayat yang dibaca saling berhubungan dalam satu bacaan.

    Ketiga : Tankis (merubah urutan) kata-kata, dan ini haram sesuai kesepakatan ulama, karena itu merusak urutan Al Quran.

    Wallahu Alam

    Saudaramu,

    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

    1/8/1428 H

    Detail
    0
    2999
  • MEMBERIKAN UCAPAN SALAM KEPADA ORANG YANG SEDANG MEMBACA AL QURAN ATAU KESIBUKAN YANG LAIN
  • Syaikh yang kami muliakan, Assalaamualaikum warahmatullah wa barakatuh. Apakah saya boleh memberikan salam kepada orang yang sedang sibuk membaca Al Quran, sedangkan hal tersebut memotong bacaannya?

    السلام على مشتغل بقراءة قرآن و نحوه

    Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam aku sanjungkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

    Waalikumussalaam warahmatullah wa barakatuh.

    Amma ba’du.

    Pada dasarnya hukum menjawab salam adalah wajib, sebagaimana yang difirmankan Allah :

    )وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا(

    “dan jika kalian diberikan salam maka balaslah salam tersebut dengan yang lebih baik atau yang semisal dengannya” Q.S. An Nisa : 86.

    Dan telah diriwayatkan dalam hadis hukum bolehnya meninggalkan menjawab salam dalam beberapa keadaan, karena ada hal yang menghalangi dari menjawab salam. Di antara hadis-hadis tersebut adalah hadis yang diriwayatkan Bukhari (1216) dan Muslim (538) dari Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu ‘anhu berkata : Saya pernah mengucapkan salam kepda Nabi salallahu ‘alaihi wa salam dan beliau dalam keadaan shalat, dan beliau membalasnya. Ketika kami kembali – dari Habasyah- aku berikan salam kepada beliau, tetapi beliau tidak membalasnya, dan beliau berssabda : “Sesungguhnya di dalam shalat ada kesibukkan”. Dari hadis ini jumhur ulama menyimpulkan bahwa hukum orang yang sedang sibuk seperti dalam shalat dan membaca Al Quran dan semisalnya, maka baginya diperbolehkan untuk tidak menjawab salam.

    Dalam penyamaan hukum ini ada sedikit koreksi. Shalat dimana Allah melarang bicara di dalamnya terdapat firman Allah :

     )وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ(

    “Dan shalatlah kalian karena Allah dengan penuh kekhusyuan” Q.S. Al Baqarah : 238.

    Dan dalam Sahih Bukhari (1200) dan Muslim (539) dari Abu Amr Asyaibani berkata, berkata kepadaku Zaid bin Arqam radiyallahu’anhu : (sesungguhnya kami dulu saling becakap-cakap di dalam shalat di masa Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam, salah seorang di antara kami mengajak bicara temannya sesuai dengan keperluannya. Sampai turun ayat

    )حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ(

    “dan peliharalah semua shalat itu dan shalat wustho (ashar), dan shalatlah kalian karena Allah dengan penuh kekhusyuan”

    Maka kami diperintahkan untuk diam)

    Sebagaimana Nabi juga menjawab salam dengan isyarat ketika beliau sedang shalat. Sebagaimana ditunjukkan dalam Sahih Muslim (540) dari Jabir Radiyallahu ‘anhu, bahwasanhya dia berkata: Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam pernah mengutusku untuk sebuah keperluan, sampai akau mendapatkannya dengan mudah, dan dalam riwayat : Beliau sedang shalat, maka aku memberikan slam kepadanya, dan beliau memberikan isyarat kepadaku. Setelah beliau selesai, kemudian memanggilku “Sungguh tadi engakau memberikan salam sedangkan aku sedang shalat” sedangkan beliau saat itu mengahdap ke timur.

    Tidaklah hilang hak seseorang untuk memberikan salam secara keseluruhan, sebagaimana beliau tidak melarang memberi salam kepada orang yang sedang shalat, tetapi beliau meminta maaf dengan menyampaikan tidak bisa menjawab dengan kata-kata.

    Dari hadis tersebut mnunjukkan hukum memulai salam tidaklah hilang secara keseluruhan. Adapun membalas salam dengan bagi orang yang sedang sibuk dan merasa terganggu jika membalas dengan kata, atau dan tidak mungkin membalas dengan kata, maka boleh baginya membalas dengan isyarat. Tetapi jika tidak mengganggunya maka kembali ke asal yaitu kewajiban yang harus dijaga (dari menjawab salam) sebagaimana yang difirmankan Allah :

    )وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا(

    “dan jika kalian diberikan salam maka balaslah salam tersebut dengan yang lebih baik atau yang semisal dengannya” Q.S. An Nisa : 86.

    Dan dalil lain yang menunjukkan kewajiban membalas salam dengan yang lebih baik atau yang semisal.

    Adapun hukum salam kepada pembaca Al Quran, telah ditunjukkan dalam hadis yang diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad (16910) dari Uqbah bin Amir radiyallahu ‘anhu, berkata : Kami pernah duduk-duduk di masjid membaca Al Quran, kemudian datanglah Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam, dan beliau memberikan salam kepada kami, maka kami jawab salam beliau, kemudian beliau bersabda : “belajarlah Al Quran, berilah perhatian dan berilah lagu (dalam membaca) dengannya, sunguh demi yang jiwa Muhammad di tanganNya, sesungguhnya ia lebih cepat lepas dari unta yang terlepas dari ikatannya”

    Ini juga merupakan dalil yang menunjukkan hukum memberi salam kepada pembaca Al Quran, dan hukum membalas salam bagi pembaca Al Quran jika memang memaksudkan salam.

    Wallahu Ta’ala A’lam.

    Saudaramu,

    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

    29/11/1428 H

    Detail
    0
    642
  • MENULIS AL QURAN DENGAN EMAS
  • Syaikh yang kami muliakan, Assalaamualaikum warahmatullah wa barakatuh. Saya memiliki ayat Al Quran yang ditulis dengan emas yang disepuh, maka apa hukumnya?

    حكم كتابة القرآن بالذهب

    Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam aku sanjungkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

    Waalikumussalaam warahmatullah wa barakatuh.

    Amma ba’du.

    Ada empat pendapat ulama dalam hukum penulisan Al Quran dengan emas, yaitu :

    Pendapat Pertama       : Boleh, ini adalah pendapat ulama Madzhab Hanafi dan sebagian dari ulama Syafi’i.

    Pendapat Kedua         : Haram, ini adalah pendapat sebagian ulama Madzhab Malik, Syafi’i dan Hambali.

    Pendapat Ketiga         : Makruh, ini adalah pendapat sebagian ulama, dan pendapat yang masyhur di dalam Madzhab Hambali.

    Pendapat Keempat      : Dibedakan antara mushaf laki-laki dan perempuan. Berpendapat sebagian ulama bahwasanya itu dibolehkan utntuk mushaf perempuan dan anak-anak, dan diharamkan untuk mushaf laki-laki.

    Menurut pendapat saya bahwa hukum penulisan ayat (dengan emas) berlaku juga hukum penulisan mushaf (dengan emas) yang terdapat perselisihan pendapat. Dan yang paling dekat hukumnya adalah makruh, karena terdapat di dalamnya israf (berlebihan) dan ke;uar dari maksud Al Quran yang seharusnya dimuliakan dengan membaca dan mengamalkan isinya kepada mengagungkannya sebatas pada tulisannya saja.

    Saudaramu,

    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

    1/3/1428 H.

    Detail
    0
    548
  • MASUK WC MEMBAWA MUSHAF
  • Syaikh yang kami muliakan, Assalaamualaikum warahmatullah wa barakatuh. Apakah diperbolehkan masuk WC dengan membawa mushaf beserta dalilnya?

    دخول الخلاء بالمصحف

    Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam aku sanjungkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

    Waalikumussalaam warahmatullah wa barakatuh.

    Amma ba’du.

    Jumhur ulama ahli fikih dari Hanafiah, Syafi’iah dan Hanabilah melihat keharaman masuk ke dalam WC dengan membawa mushaf kecuali dalam keadaan darurat. Sedangkan para ulama Madzhab Malik hanya melihat makruh. Ada beberapa ulama yang membolehkan, tetapi ia berdosa dengan membawanya ketika tidak keadaan darurat yang membolehkannya.

    Pendapat saya: bahwa jika tidak ada kebutuhan yang memaksanya untuk masuk dengannya, seperti kekawatiran dari pencurian atau hilang atau dihinakannya (mushaf) maka seyogyanya untuk tidak membawanya masuk.

    Wallahu ‘Alam.

     

    Saudaramu,

    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

    28/3/1425 H.

    Detail
    0
    413
  • MASUK WC DENGAN MEMBAWA REKAMAN ALQURAN
  • Syaikh yang kami muliakan, Assalaamualaikum warahmatullah wa barakatuh. Apa hukum membawa masuk rekaman Al Quranke dalam tempat membuang hajat, atau kaset yang yang terdapat di dalamnya penyebutan nama Allah?

    دخول مكان قضاء الحاجة بأشرطة القرآن

    Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam aku sanjungkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

    Waalikumussalaam warahmatullah wa barakatuh.

    Amma ba’du.

    Yang bisa kami jelaskan bahwasanya dibolehkan membawa kaset/rekaman Al Quran ke dalam WC, sebagaimana tidak dilarang dengan membawa kaset yang terdapat di dalamnya penyebutan lafadz Allah Ta’ala.

    Adapun dibolehkannya membawa kaset ke dalam WC dikarenakan kaset bukanlah Mushaf. Maka tidak berlaku hukum-hukum yang terkait dengan Mushaf. Yang lebih menguatkan lagi dalam kaset-kaset tersebut tidak nampak tulisan Al Quran, sehingga ia seperti halnya hafalan yang terdapat di dalam dada dari segi penampakannya.

    Adapun dibolehkannya masuk WC dengan membawa sesuatu yang terdapat penyebutan lafadz Allah dari kaset, dan dari segi tidak masuknya kaset dalam hukum sesuatu yang tertulis ini dalam satu sisi pembahasan saja.

    Dari segi pembahasan yang lain, bahwasanya ada beberapa pendapat ulama yang melihat kemakruhan masuk ke dalam WC dengan membawa sesuatu yang terdapat di dalamnya lafadz Allah, mereka katakan : “Jika seseorang masuk ke dalam WC dengan memakai cincin yang terdapat di dalamnya tulisan Allah, maka ia genggam mata cincinnya ke dalam genggamannya kemudian ia tutup dengan semua jarinya” maka pendapat ini berkaitan dengan hukum sesuatu yang tertulis, dan tidak berlaku untuk sesuatu yang tidak nampak. Hukum yang mirip adalah hukum menyentuh kaset-kaset ini tanpa berwudhu. 

    Saudaramu

    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

    27/4/1428 H

    Detail
    0
    513
  • WANITA MEMBACA QURAN DENGAN MAKSUD MEMINTA FATWA
  • Apakah hukumnya wanita haid membaca Al Quran dengan maksud meminta fatwa? Apa hukum mengkhususkan membaca Surat Al Baqarah setiap hari dengan maksud meminta kesembuhan?

    قراءة الحائض للقرآن بنية الاستشفاء

    Segala puji bagi Allah. Salawat, salam dan keberkahan Allah semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba’du.

    Dengan taufik dari Allah Ta’ala, maka jawaban atas pertanyaan saudara adalah :


    Ada dua pendapat para ulama terkait hukum wanita haid membaca Al Quran :

    1-      Pendapat pertama dari sebagian ulama, bahwa wanita haid tidak diperbolehkan membaca Al Quran baik langsung (dari mushaf) ataupun dengan hafalan. Dalil merka adalah hadis riwayat Ahmad dan Ashabus Sunan dari Abdullah bin Umar –radiyallahu ‘anhuma- bahwasanya Nabi –salallahu ‘alaihi wa salam- bersabda :

    “Tidaklah wanita haid dan orang yang junub membaca Al Quran”

    Hadis ini digunakan argumen dalam pelarangan wanita haid membaca Al Quran, tetapi hadis tersebut adalah hadis lemah dalam sanadnya. Syaikh Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata : (sepakat ulama tentang kelemahan hadis ini). Dengan demikian, jika hadis tersebut lemah berdasarkan kesepakatan ahli hadis maka tidak bisa ditetapkan hukum dengannya. Oleh karena itu para ulama berbeda pendapat dalam mengambil hadis ini sebagai hujjah. Sebagian besar ulama dalam Madzhab-madzhab fikih mengambil hadis ini.

     

     

    2-      Pendapat yang kedua dari Imam Malik, dan riwayat dari Abu Hanifah, dan pendapat yang dipilih Imam Bukhari, dan pendapat Ibnu Taimiyah dan sebagian ulama. Mereka berpendapat bolehnya wanita haid membaca Al Quran tanpa menyentuh mushaf. Artinya ia membaca dengan hafalannya, ataupun dari smartphone, karena perangkat ini tidak masuk di dalamnya hukum Al Quran. Ia membaca dengan melihat. Ataupun dengan memakai penghalang ketika membaca dengan mushaf seperti sarung tangan atau yang semisalnya, maka boleh. Tetapi ia tidak boleh menyentuhnya. Ini sesuai dengan hadis Abu Bakar bin Hazm  dalam hadis tentang surat yang ia tulis untuk keluarganya, bahwasanya Nabi salallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

     

    «لا يمس القرآن إلا طاهر»

    “Tidaklah boleh menyentuh Al Quran kecuali dalam keadaan bersuci”

     

    Hadis ini walaupun dalam sanadnya ada komentar (dari para ahli hadis) sebagaimana yang disampaikan Ibnu Abdil Barr, tetapi umat telah sepakat menerima hadis ini dan menerima hukum yang ada di dalamnya. Ini menunjukkan tidaklah boleh menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan bersuci. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, dan ini adalah pendapat Madzhab yang para Imam yang empat. Sedangkan Imam Dawud Adzahiri berpendapat tidak ada yang menghalangi untuk menyentuh mushaf. Dan ini adalah pendapt kedua dalam permasalahan ini (menyentuh mushaf bagi wanita haid). Mereka berargumen dengan lemahnya hadis. Akan tetapi perkataan Ibnu Abdil Barr tentang menerimanya umat Islam hadis tersebut sudah mencukupkan dari melihat kembali kepada kesahihan  sanad hadisnya sebagiamana yang beliau nyatakan.

    Maka pendapat yang kuat dari dua pendapat di atas adalah : Hendaknya seorang muslim menghindari menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan bersuci. Kecuali jika adak keperluan, ataupun ada hal yang mendesak maka baginya ada hukum khusus. Dan sepantasnya ia tidak menyentuh langsung, tapi mengambil dari pinggir-pinggirnya bukan pada tempat tertulisnya Al Quran.

     

    Adapun hukumyang terkait dengan surat Al Baqarah, membacanya adalah keberkahan. Hal ini sesuai sabda Nabi salallhu ‘alaihi wa salam dari hadis Abu Umamah yang diriwayatkan oleh Muslim :

    «اقرءوا الزهراوين: البقرة وآل عمران، فإنهما يأتيان كالغيايتين أو السحابتين أو الفرقين الصواف تظلان صاحبهما يوم القيامة»

    “Bacalah dua bunga : Al Baqarah dan Ali Imran. Karena keduanya akan datang (di hari kiamat) seperti  dua awan yang tebal yang akan menaungi orang yang membacanya (di dunia)  pada hari kiamat”

    Dalam riwayat yang lain :

    «اقرءوا البقرة، فإن أخذها بركة وتركها حسرة، ولا تستطيعها البطلة»

    “Bacalah surat Al Baqarah, karena membacanya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan tidak akan mampu para penyihir”

    Nabi menyebutkan bahwasanya membacanya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan bagi orang yang meninggalkannya, baik meningglkannya membacanya atau meninggalkan komitmen amalan hukum yang ada di dalamnya. Dan sabda Nabi : «ولا تستطيعها البطلة». Al batholah artinya adalah para penyihir, dan ini karena terkandung di dalamnya ayat-ayat yang bisa menghilangkan sihir.


    Adapun seseorang membacanya setiap hari, maka terserah baginya. Tetapi tidak ada sunah di dalam amalan tersebut. Ada perbedaan ketika kita sampaikan ini adalah sunah dan disyariatkan dengan pernyataan kita ini boleh. Atau kita kata nyatakan “ini bid’ah

    Bid’ahadalah mengadakan sesuatu yang baru dalam perkara agama yang tidak memilki asal. Adapun sunah adalah segala amalan yang bersumber langsung dari Nabi salallahu ‘laihi wa salam baik perkataan, perbuatan, ataupun ketetapan.

    Sedangkan yang dibolehkan adalah semua perbuatan yang ditunjukkan kebolehannya oleh dalil umum dan tidak ada dalil secara khusus.

    Contoh dari yang dibolehkan lafadz talbiyah yang diucapkan para sahabatnya, dan beliau mendengar tanpa mengingkari perbuatan mereka. Di antara mereka ada yang mengucapkan :

    لبيك وسعديك والخير في يديك والرغباء إليك والعمل، لبيك حقاً حقاً تعبداً ورقاً

    “Aku datang memnuhi panggilanMu dengan senang hati, semua kebaikan di tanganMu, segala harapan dan amalan hanyalah untukMu, aku memenuhi panggilanMu dengan penuh kebenaran penghambaan dan kelembutan”

    Dan Nabi salallahu ‘alahi wa salam mendengarnya, dan ini termasuk dzikir yang be;um pernah Nabi mengucapkannya, bahkan Nabi tidak pernah menambah lafadz talbiyah yang beliau ucapkan :

    : «لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك لبيك، إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك»

    “Aku datang memenuhi panggilanMu, Aku datang memenuhi panggilanMutidak sekutu bagiMu, akudatangmemenuhipanggilanMu. Sesungguhnyasegala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalahmilikMu, tidak ada sekutu bagimuMu.”

    Dan dalam riwayat Nasaiy :

    : «لبيك إله الحق»

    “Aku datang memenuhi panggilanMu Ilah yang Haq”

    Dan Nabi pernah mendengar lafadz talbiyah yang lain, dan beliau tidak mengingkarinya. Dan ini menunjukan dibolehkannya. Dan (talbiyah dari sahabat) ini tidak dikatakan sebagai sunah. Karena Nabi belum pernah mengucapkannya dan tidak ada riwayat kalau beliau menetapkannya talbiyah tersebut sesuai yang diucapkan sahabat ataupun dinyatakan : (talbiyah ini ditetapkan Nabi –salallahu ‘alaihi wa salam- maka ia bisa menjadi sunah taqririyah.

    Saudaramu,

    Prof. Dr. Khalid Al Mosleh

    Detail
    0
    523
الزكاة
  • ZAKAT FITRAH DI AWAL RAMADHAN
  • Bolehkah mengeluarkan zakat fitrah di awal bulan Ramadhan? إخراج زكاة الفطر في بداية رمضان

    Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya dan para sahabatnya.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh. Amma ba’du,

    Jawaban atas pertanyaan anda –dengan mengharap taufik dari Allah- :

    Yang diisyaratkan dalam sunnah RasulNya adalah  boleh menyegerakan zakat fitrah satu atau dua hari sebelum hari raya.

    Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari (1511) dan Shahih Muslim (984) dari Ibnu Umar-Radhiyallahu ‘anhuma- Berkata : ( Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah-atau berkata : “Puasa Ramadhan (diwajibkan)  bagi laki-laki dan perempuan, merdeka maupun hamba, diwajibkan pula satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum (beras)  yang mereka keluarkan sehari atau dua hari sebelum Idul fitri). Riwayat tersebut menunjukkan dibolehkannya menyegerakan zakat fitrah karena adanya kebutuhan. Adapun yang membolehkan untuk disegerakannya zakat fitrah di awal bulan adalah madzab Syafi’I dan sebagian ulama. Akan tetapi yang lebih utama dan lebih aman adalah mengeluarkannya pada waktu yang telah ditetapkan. 

    Detail
    0
    1
  • SAYA BERHUTANG APAKAH PERDAGANGAN SAYA WAJIB ZAKAT
  • Bagaimana saya bisa mengeluarkan zakat toko tempat saya berjualan, dimana harta saya belum mencapai haul, dan nilai barang dagangan saya sekitar limu ribu dinar? Apakah wajib bagi saya berzakat jika saya memiliki hutang?

    أنا مديون فهل تجارتي عليها الزكاة؟

    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    Segala puji bagi Allah, salawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba’du,

    Cara memabayar zakat, yaitu dengan menentukan hari di dalam satu tahun, seperti awal Muharram atau Ramadhan. Kemudian pisahkan semua yang kamu miliki di tokomu dari barang yang dijual yaitu dagangan. Kemudian keluarkan zakatnya sesuai dengan nilainya. Jika nilai jual barang daganganmu di toko sebesar 4000 dinar, maka zakatnya seratus dinar. Dan tidak harus lewat satu tahun barang yang dijual di toko. Karena yang dinilai adalah nilai jual semua dagangan bukan bentuk barangnya. Dan jika nilai jual barang daganganmu sudah mencapai nisab, maka wajib bagimu mengeluarkan zakatnya walaupun kamu memiliki hutang. Karena hutang tidak menghalangi wajibnya zakat.

    Detail
    0
    333
  • MENGAKHIRKAN PEMBAGIAN ZAKAT
  • Biasanya saya mengeluarkan zakat hartaku di hari pertama di bulan Dzulhijjah setiap tahun. Ketika masuk di hari tersebut, saya hitung zakat yang harus saya keluarkan dari hartaku dan saya tahu jumlah biayanya. Tetapi saya tidak memberikan zakat saya kepada yang berhak di hari tersebut. Kadang saya memberikan zakat satu pekan atau satu bulan setelah perhitungan. Apakah saya berdosa dengan apa yang saya lakukan?

    تأخير توزيع الزكاة

    Bismillahirrahmanirrahim.

    Segala puji bagi Allah, semoga salam dan salawat  serta keberkahan selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para shabatnya.

    Yang wajib bagimu adalah bersegera mengeluarkan zakat hartamu ketika telah diwajibkan. Tidak diperkenankan mengakhirkannya watu diwajibkannya. Tapi jika diakhirkan tidak terlalu lama untuk kemaslahatan seperti satu pekan atau yang semisal, maka dibolehkan jika diminta orang yang berhak. Tapi jika terlalu lama, maka dia harus memisahkan harta zakat tersebut dari hartanya. Kemudian ia tulis sehingga tidak hilang harta yang harus dikeluarkan.

    Detail
    0
    362
  • ZAKAT UNTUK PENGAJAR AL QURAN
  • Apakah bokeh memberikan zakat kepada pengajar anak- anak Al Quran di halaqoh Quran?

    دفع الزكاة لمن يحفظ التلاميذ في حلقة القرآن

    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    Segala puji bagi Allah, slawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba’du,


    Yang berhak menerima zakat telah ditentukan Allah dalam firmanNya :

    (إنما الصدقات للفقراء والمساكين والعاملين عليها والمؤلفة قلوبهم وفي الرقاب والغارمين وفي سبيل الله وابن السبيل فريضة من الله والله عليم حكيم)

    “zakat hanyalah untuk orang fakir, miskin, amil zakat, orang yang diharapkan keislamannya, budak sahaya, orang yag terlilit hutang, orang yang berjuang di jalan Allah, orang yang dalam perjalanan jauh sebagai kewajiban dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”

    Jika pengajar Al Quran masuk dalam salah satu golongan yang disebutkan, maka boleh memberikan zakat kepadanya, jika tidak masuk maka tidak boleh.

    Detail
    0
    444
  • ZAKAT KAMBING UNTUK PEMBIBITAN
  • Assalaamualaikum warahmatullah wa barakatuh. Saya memiliki sejumlah kambing yang mencapai 100 ekor. Saya memberikan pakan selama satu tahun. Saya memelihara kambing karena ingin memperdagangkannya dan mendapatkan keuntungan materi darinya. Selain itu sebagai penyaluran hobi saya. Saya melakukan pembibitan dari induk produktif dan menjual hasil dari pembibitan tersebut (bibit kambing). Perlu diketahui pembiayaan pakan kambing berasal dari hasil penjualan bibit. Sedangkan induk kambing tidak diperjualbelikan. Tapi jika ada yang mau membeli dengan harga yang bagus, maka saya jual induk kambing tersebut. Saya mengharap petunjuk bagaimana cara mengelurkan zakat kambing jika dilihat dalam keadaan yang saya sampaikan? Apakah kadar harta yang perlu dizakati terkurangi dengan adanya biaya pakan ? Ataukah harus dikeluarkan semua dari semua biaya? Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu.

    زكاة الأغنام التي ليست للتجارة

    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    Segala puji bagi Allah, slawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba’du,

    Waalaikumussalaam warahmatullah wa barakatuh.

    Jenis kambing ini tidak dikeluarkan zakatnya karena anda memberi makan secara khusus. Yang wajib dizakati adalah kambing yang dimaksudkan untuk dijual. Karena itu merupakan harta perniagaan yang wajib dikeluarkan zakatnya menurut mayoritas ulama. Jika sudah mencapai satu tahun, kemudian lihatlah apakah nilai jual kambing sudah mencapai nisab zakat barang niaga. Kemudian keluarkan seperempatpuluh darinya, prosentase dari harta yang perlu dizakati adalah 2,5%. Dan ini tanpa dikurangi dari biaya pakan induk kambing. Adapun induk kambing yang memiliki harga tertentu tidak berlaku zakat atasnya. Karena sesuai penjelasan ini maka tidak perlu dikeluarkan zakatnya.

    Detail
    0
    819
  • ZAKAT JUAL BELI PROPERTI
  • Kami sekelompok orang mendirikan perusahaan kecil secara patungan. Modal kami belikan tanah yang kami jual secara kredit. Harta yang kami kumpulkan tidak mencapai satu tahun, karena setiap terkumpul modal kami belikan tanah yang baru dan seterusnya. Bagaiman cara mengeluarkan zakat harta kami dengan keadaan seperti ini? زكاة المال في تجارة العقار

    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    Segala puji bagi Allah, salawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tersampaikan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba’du,

    Jika harta telah sampai satu tahun zakat maka wajib mengeluarkan zakatnya baik harta itu berupa uang tunai ataupun tanah. Adapun tanah-tanah yang kalian miliki kalian hitung nila jualnya di hari pengeluaran zakat. Jika mencapai semisal 40.000 maka zakatnya 1000 riyal.

    Detail
    0
    480
kurban
  • Mengirim Dana Kurban Ke Negara Lain
  • Apakah diperbolehkan mengirim dana pembelian binatang kurban ke negara-negara Islam seperti Irak, Pakistan dan selainnya. Dan kami di Amerika Serikat memiliki selisih waktu sekitar lebih dari enam jam. Dan sudah diketahui bahwasanya orang yang akan berkurban menahan dirinya dari mencukur rambut dan memotongnya serta larangan lainnya. Jika melihat perbedaan waktu, maka mereka (yang di luar Amerika) akan mendahului kami dalam beribadah. Sedangkan terdapat kebutuhan di negera mereka dengan banyaknya orang miskin dan orang yang sanggup melaksanakan penyembilhan hewan kurban (atas nama penyumbang dari luar negeri)

    .إرسال ثمن الأضحية إلى بلد آخر

    Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah , keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Yang termasuk sunah adalah engkau menyembelih di negaramu dan di keluargamu, karena itu termasuk syiar agama Allah yang disyariatkan untuk mengagungkanNya dengan penyembelihan hewan kurban, atau menyaksikannya, atau memakan dari sembelihannya dan memberi makan darinya. Adapun negara-negara miskin bisa juga dengan mengirimkan sejumlah dana kepada mereka agar tetap ada perayaan syiar yang agung di negara muslim .

    Jika memang terjadi perbedaan waktu, semisal orang yang bekurban di suatu negara dan binatang kurban di negara lain, maka yang menjadi ukuran adalah waktu penyembelihan baik hari Ied lebih dahulu atau terlambat dari negara pemberi kurban. Sebagaimana hadis Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam :

    "Maka tidak boleh dipotong dari rambut dan kulitnya sampai ia menyembelih".

     

    Wallahu A'lam.

    Saudaramu

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    Detail
    0
    214
  • Kurban Kolektif
  • Apakah diperbolehkan melakukan ibadah kurban secara kolektif dengan cara menyembelih satu hewan kurban berupa kambing untuk bersama. Hal ini dikarenakan ada kupon yang dibagikan kepada kami untuk membeli kurban untuk di sembelih di luar negeri. Satu kupon seharga 250 Riyal. Apakah diperbolehkan mengumpulkan dana untuk itu dari saudara-saudara perempuanku? Kalau boleh untuk siapa pahalanya ?

    الاشتراك في الأضحية

    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Jika memang peserta kurban adalah dari satu keluarga maka tidak mengapa. Dan pahala bagi mereka semua. Jika berasal dari keluarga yang berbeda-beda maka tidak bisa. Karena tidaklah boleh secara kolektif untuk satu kambing kecuali untuk satu keluarga.

     

    Saudaramu

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    Detail
    0
    276
  • Berkurban Untuk Orang Yang Sudah Meninggal Dunia
  • Seseorang sudah berkurban semasa hidupnya. Kemudian anaknya menggantikan hajinya ketika beliau sudah meninggal dunia. Dan sejak wafatnya orang tua mereka, disembelih kurban dan sedekah atas namanya. Apa hukum syariat dalam masalah kurbannya ? Apakah boleh ataukah hanya menjadi sedekahnya saja?

    الأضحية عن الميت

    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Yang paling utama bagi orang yang ingin berbuat baik kepada orang yang sudah meninggal dunia dan menyampaikan pahala kebaikan kepada mereka agar senantiasa bersungguh-sungguh dalam mendoakan mereka. Karena dia adalah sebaik-baik upayayang bisa memberikan kemaslahatan bagi orang yang sudah meninggal. Doa ini bisa memberikan manfaat bagi si mayit maupun yang masih hidup. Doa yang diucapkan bisa memberikan pahala bagi yang berdoa, dan dikatakan kepadamu orang yang berdoa "bagimu balasan yang serupa (dengan kebaikan doa yang dipanjatkan)".

    Adapun amalan selain doa, orang yang mendapatkan pahalanya hanyalah mereka yang ditujukan diberikan pahala kebaikan saja.

    Adapun ibadah kurban hanya disyariatkan untuk orang yang masih hidup saja. Adapun orang yang sudah meninggal hanya mengikuti pahala orang hidup yang melakukannya. Kecuali jika si mayit sebelum meninggal mewasiatkan kurban dan telah menyiapkan harta untuk kurban, maka bagi ahli waris harus menunaikan wasiatnya sesuai dengan wasiat dan harta yang ditinggalkannya itu.

    Wallahu A'lam.

    Saudaramu

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    Detail
    0
    298
  • Sedekah Senilai Harga Kurban
  • Kami yang tinggal di negara barat kadang tidak mampu menyembelih kurban. Apakah boleh bagi kami bersedekah saja dengan harganya untuk masjid yang bertanggungjawab mengumpulkannya ?

    التصدق بثمن الأضحية

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Setelah memohon taufik dari Allah, maka jawaban pertanyaan saudara adalah sebagai berikut :

    Jika memang tidak memungkinkan menyembelih kurban, maka kirimkanlah dana tersebut untuk kurban di negara apa saja di negara kaum muslimin. Dan ini adalah lebih utama daripada hanya bersedekah dengan harta saja.

     

    Saudaramu

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    Detail
    0
    250
  • Mewakilkan Penyembelihan Kurban
  • Jika saya ingin mewakilkan seseorang menyembelih kurban saya kepada orang lain di negara Islam yang miskin, agar saya bisa lebih dekat dengan fakir miskin. Apakah wajib bagi saya dan orang yang mewakili saya mentaati ketentuan kurban dengan tidak menghilangkan rambut (sebelum berkurban) ?

    التوكيل في الأضحية

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Setelah memohon taufik dari Allah Ta'ala, maka jawaban pertanyaan saudara adalah sebagai berikut :

    Hukum hanya berlaku untuk orang yang berkurban saja dan tidak berlaku untuk wakil.

    Saudaramu

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    Detail
    0
    260
  • Hukum Kurban Bersama Dengan Niat Berbeda
  • Apakah diperbolehkan tiga orang yang berbeda tempat tinggalnya ikut dalam penyembelihan seekor sapi. Salah seorang dari mereka meniatkannya untuk kurban. Sedangkan dua orang yang lain menyembelih bukan untuk kurban tetapi hanya untuk mendapatkan dagingnya saja ?

    حكم الاشتراك في الذبيحة بنوايا مختلفة

    Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

    Amma ba'du.

    Setelah memohon taufik dari Allah, maka jawaban pertanyaan saudara adalah sebagai berikut :

    Para ulama dalam masalah kurban bersama dalam satu sembelihan sedangkan di antara mereka ada yang meniatkan kurban dan ada yang menginginkan dagingnya saja ada dua pendapat :

    Pendapat pertama :

    Dibolehkannya bergabung dalam satu sembelihan baik ibadah yang wajib ataupun yang sunah.  Boleh baik semuanya meniatkan taqarrub dengan sembelihannya ataupun sebagian meniatkannya hanya ingin mendapatkan dagingnya saja. Dan ini adalah pendapat ulama Syafiiyah dan Hanabilah.

    Mereka berdalil dengan hadis Riwayat Imam Muslim (No 1318) dari Jabir Radhiyallahu 'anhu ia berkata : Kami pergi bersama Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam bertalbiyah untuk haji. Kemudian beliau memerintahkan kami saling bergabung menyembelih dalam satu ekor unta atau sapi. Setiap tujuh orang bergabung dalam satu unta.

    Dalam riwayat yang lain : Kami mengikuti Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam dalam ibadah haji dan umroh, kami menyembelih tujuh orang untuk satu ekor unta.

    Dan hadis ini menunjukan bahwasanya orang yang melakukan ibadah haji umroh ada yang meniatkan haji wajib ataupun sunah sedangkan mereka boleh bergabung dalam satu sembelihan.

    Ketika ada pebedaan niat dalam ibadah mendekatkan diri kepada Allah tidak berpengaruh dalam keabsahan sebuah ibadah, maka bisa juga difahami bolehnya berbeda tujuan dalam sebuah amalan tidak berpengaruh ketika bergabung beberapa orang dalam sahnya satu sembelihan.

    Pendapat kedua :

    Tidak boleh bergabung dalam satu sembelihan  orang-orang yang berbeda niat ibadah mendekatkan diri kepada Allah dengan selainnya. Hal ini dikarenakan sembelihan yang ada satu ekor. Maka tidak boleh sebagian diniatkan ibadah mendekatkan diri kepada Allah dan sebagian yang lain tidak diniatkan ibadah. Ini adalah pendapat ulama Hanafiyah.

    Dan pendapat yang paling dekat yaitu tidak dibolehkannya bergabung beberapa orang dalam satu sembelihan kecuali dengan niatan ibadah mendekatkan diri kepada Allah. Alasannya adalah Izin dari Rasulullah ada dalam jenis ini. Sedangkan niatan yang berbeda dalam jenis ibadah (wajib dengan sunah) tidaklah berpengaruh. Karena semuanya meniatkan ibadah. Sedangkan ketika ada yang hanya menginginkandaging saja, maka berbeda hukumnya.

    Wallahu A'lam.

    Saudaramu

    Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

    Detail
    0
    341
Terbanyak dibaca
  • Hukum membaca sesuatu yang ber-tema-kan sex
  • Apakah diperbolehkan bagiku membaca atau melihat gambar-gambar yang bersifat pornografi, untuk lebih membangkitkan nafsu, karena aku tidak menemukan kepuasan dalam bersetubuh kecuali dengan seperti itu?

    حكم قراءة مواضيع جنسية

    Detail ..
    0
    8334
  • Lima pertanyaan seputar Al-asma was-shifat
  • Pertanyaan pertama: Apakah Allah disifati dengan jamaal (keindahan), dan diberi nama dengannya (Al-Jamiil)?

    Kedua : Apakah Allah disifati dengan ma’rifah (pengetahuan), karena hadits :

    ((تَعَرَّفْ عَلَى اللَّهِ فِيْ الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِيْ الشِّدَّةِ))

    Artinya: ”Ingatlah Allah dalam waktu lenggang, niscaya Dia akan mengenalmu di saat sempit?”

    Ketiga: Apakah pernyataan : [آنَسَكَ اللهُ] (semoga Allah menghilangkan rasa keterasinganmu) dibenarkan? Dan apakah Al-Uns (penghilang rasa keterasingan) merupakan sifat Allah subhanahu?

    Keempat: Apakah pernyataan : [اللهُ يَصُوْنُ وَلَدَكَ] (semoga Allah menjaga anakmu) Dibenarkan?

    Kelima: Apakah Al-Haq termasuk nama-nama Allah?

    خمسة أسئلة في الأسماء والصفات

    Detail ..
    0
    3188
  • TIDAK URUT KETIKA MEMBACA AL QURAN
  • Syaikh yang kami muliakan, Assalaamualaikum warahmatullah wa barakatuh. Apakah dibolehkan membaca Al Quran secara acak tanpa sesuai urutan dalam mushaf? Dan itu diketahui dengan istilah tankis ? التنكيس في قراءة القرآن

    Detail ..
    0
    2999
Terbanyak diunduh
  • Puasa Hari Asyura dan Keutamaannya
  •  

    Puasa Hari Asyura dan Keutamaannya

    صوم يوم عاشوراء وشيء من فضائله

    Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Aku bershalawat kepada utusan yang menjadi rahmat bagi seluruh alam Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kepada keluarganya dan para sahabatnya. Amma ba'du …

    Pertama-tama, hal yang berkaitan tentang keutamaan puasa hari ayura (10 Muharam) adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam :

    «إني لأحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله»

    "Sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lalu."

    Ini merupakan sebuah keutamaan yang agung, pahala yang besar dari sebuah amal yang ringan yakni hanya dengan berpuasa beberapa jam namun mendapatkan gugurnya dosa setahun penuh; yaitu berpuasa sehari di musim ini yang hanya dalam waktu beberapa jam dan sedikit kepayahan. Ini adalah sebuah keutamaan dan sebuah kebaikan di mana hendaknya setiap muslim bersegera melaksanakannya dan memohon balasan di sisi Allah Azza waJalla.

    Keutamaan ini bisa diraih dengan berpuasa pada hari asyura (10 Muharam-saja) menurut pendapat yang benar dari ulama. Adapun menurut ulama yang lain, bahwasanya dibolehkan mengikutkannya dengan puasa pada hari yang lain; dan sebagian ulama yang lain memandang makruh apabila berpuasa pada tanggal 10 muharam saja. Yang benar adalah menyendirikan puasa asyura (10 Muharam saja) tidaklah tercela, bahkan merupakan sunnah, karena demikianlah hari puasa yang dimaksud. Sesungguhnya ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  sampai di kota Madinah menemukan orang-orang Yahudi sedang berpuasa, dan dahulu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga berpuasa sebelum diangkat menjadi Nabi karena hari itu merupakan hari yang diagungkan orang-orang Quraisy yakni hari di mana Ka'bah dipasang kain Kiswah lalu mereka berpuasa dan Nabi-pun berpuasa. Lalu tatkala beliau tiba di Madinah dan melihat orang-orang Yahudi berpuasa, maka beliaupun bertanya kepada mereka seraya berkata: "Hari apa ini?!" Merekapun menjawab: "Ini adalah hari di mana Allah Ta'ala menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari musuhnya Fir'aun, lalu Musa berpuasa". Maka Nabi-pun berkata: أنا أحقُّ بموسى  "Aku lebih berhak atas Musa dari pada kalian" . Dan dalam riwayat yang lain أنا أولى بموسى منكم  "Aku lebih berhak atas Musa dari kalian semua". Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya berpuasa.

     
    Dalam puasa tersebut terdapat keutamaan yang hendaknya seorang mukmin bersegera melaksanakannya. Sebagaimana para sahabat radhiyallahu 'anhum mendapati Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  sangat menganjurkan dan mendorong mereka agar berpuasa pada hari tersebut. Lalu mereka berpuasa dan mengajak anak-anak mereka berpuasa sebagaimana terdapat dalam Shahih al-Bukhari dari jalan Khalid bin Dzakwan dari ar-Rabi' binti Mu'awwidz bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seorang utusan kepada kaum Anshar dan memerintahkan supaya berpuasa Asyura; Lalu ia berkata: Lalu kamipun berpuasa dan mengajak anak-anak kami berpuasa serta membuatkan mereka mainan dari bulu. Apabila salah satu dari mereka menangis karena meminta makanan, maka kami berikan mainan tersebut, seperti itulah sampai datang waktu berbuka. Hal ini menunjukkan tingginya perhatian mereka, di mana puasa tersebut tidak hanya dikerjakan orang dewasa saja, namun anak-anakpun turut berpuasa.  

    Oleh karena itulah aku mengajak diriku dan saudara-saudaraku serta orang-orang bertanggung jawab di rumah masing-masing, supaya mendorong anak-anak mereka berpuasa meskipun mereka belum akil baligh. sebagaimana dalam sebagian riwayat: walaupun mereka belum bisa membedakan baik dan buruk. Demikian pula yang disebutkan al-Hafidz Ibnu Hajar: bahwasanya dahulu mereka juga mengajak anak-anak yang masih menyusu. Namun riwayat ini lemah. Adapun riwayat yang mengatakan bahwa mengajak anak-anak yang telah mampu berpuasa yang sebagaimana hadis Rabi'ah radhiyallahu 'anha, terdapat dalam shahih al-Bukhari.  

    Oleh karena itu hendaknya kita mendorong serta menumbuhkan kecintaan mereka bukan karena paksaan yang merupakan Sunnah namun karena dorongan atas amal shalih, dengan kemudahan berupa waktu siang yang pendek dan udara dingin.  

    Adapun yang berkaitan dengan khilaf-dan bukan waktunya dibahas disini-tentang Asyura, apakah ia senin ataukah selasa? Di sini terdapat perbedaan pendapat yang kuat diantara pakar dan ulama. Bahkan ahli falak dan yang mengikuti perkembangannya berselisih apakah dia hari senin ataukah selasa. Yang pasti untuk negara kita (Saudi), Mahkamah Agung telah memutuskan bahwa ia jatuh pada hari senin disebabkan tidak nampaknya bulan pada malam sabtu; dengan demikian awal bulan jatuh pada hari ahad, yang selanjutnya hari Asyura jatuh pada hari selasa besok, insya Allah Ta'ala.


    Dan saya sampaikan: dalam masalah yang diperselisihkan bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, dan perbedaan pendapat yang ada dalam masyarakat kembali kepada perkataan para ulama, dan hendaknya seseorang tidak mencela orang lain sebelum jelas kebenarannya. Hal itu karena semuanya menuju tujuan yang sama yaitu kebenaran. Adapun kebenaran tidak mengharuskan adanya kesepakatan seluruh manusia dalam permasalahan tertentu, dan untuk mendapatkan sesuatu atau amalan tertentu. Hal itu dikarenakan adakalanya terjadi perbedaan dalam berijtihad dan berpendapat. Dalam hal ini, maka siapa yang mengatakan bahwasanya jatuh pada hari senin sebelum adanya penjelasan dari lembaga khusus tentunya mereka memiliki argumen, dan siapa yang mengatakan jatuh pada hari selasa tentunya mereka juga memiliki argument. Akan tetapi setelah Mahkamah Agung menyampaikan keterangan, maka selesailah permasalahan, dan semuanya menjadi jelas dengan adanya keterangan dari lembaga yang berwenang.  Namun sebelumnya sebagian mereka bersikeras dan berkata: "mengapa”? Disinilah engkau akan dapati Tarik-menarik dan permusuhan dalam banyak hal. Dan ini merupakan contoh bagi kita bagaimana menyikapi perbedaan, kadang kala jika salah seorang dari kita memiliki pendapat, maka ia memaksakan pendapatnya pada dirinya, dan ini adalah sesuatu yang alami dan ia benar dalam hal itu. Namun, jika ia memaksakan pada orang lain maka hal ini menyelisihi jalan yang benar yakni jalannya para ulama. Karena tidak pantas bagi seseorang memaksakan ijtihadnya kepada orang lain dalam masalah yang bersifat ijtihadi. Bahkan seorang mujtahid yang membahas sesuatu dan mencapai hasil tertentu tidak boleh baginya memaksa manusia agar sependapat dengannya; lalu bagaimana halnya dengan orang yang hanya mengikuti suatu pendapat yang ia ambil dari pendapat salah seorang mujtahid memaksakan manusia agar sependapat dengannya?!   

    Para sahabat berbeda pendapat di masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan tidak memaksakan orang yang berbeda pendapat dengannya dalam masalah yang terdapat khilaf yang bisa diterima. Nabi melarang perpecahan dan mencelanya sebagaimana yang terjadi dalam beberapa kesempatan. Namun beliau mengizinkan dalam beberapa kesempatan yang lain. Sebagaimana sabda beliau setelah perang Ahzab dan perginya tentara gabungan kaum kafir: «لا يصلين أحدكم العصر إلا في بني قريظة»

    "Janganlah sekali-kali kalian shalat ashar melainkan setelah sampai pada Bani Quraidhah"

    Maka para sahabat berbeda pendapat dalam memahami perkataan Nabi tersebut. Apakah yang di maksud Nabi shallallahu 'alaihi wasallam supaya para sahabat bersegera dalam berjalan dan jangan sampai terlambat menuju Bani Quraidhah, ataukah yang dimaksud adalah benar-benar jangan melaksanakan shalat ashar melainkan jika telah sampai pada Bani Quraidhah walaupun matahari telah terbenam? Mereka terpecah dalam dua pendapat ini, sehingga di antara mereka ada yang melaksanakan shalat ketika telah masuk waktu shalat dan khawatir keluar dari waktunya. Dan di antara mereka ada yang mengakhirkannya dan tidak melaksanakan shalat melainkan setelah sampai di Bani Quraidhah. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui perbedaan pendapat tersebut. Dan apakah beliau mencela salah satu dari mereka?! Jawabnya adalah 'tidak', bahkan tidak ditemukan beliau mengatakan : kelompok yang melakukan ini benar, atau kelompok yang melakukan itu benar. Adapun apa yang terjadi tidak terdapat penjelasan di dalamnya.

    Di sini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa apa yang terkandung dalam lafadz tersebut masuk dalam masalah ijtihad dan memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Hendaknya seseorang tidak memaksakannya pada orang lain, dan tidak membawa masyarakat pada satu pendapat, apalagi meninggalkan jarak yang jauh terhadap mereka yang berbeda dengannya selama kita berharap kebenaran, walaupun kita berbeda hasilnya, hal itu tidaklah masalah.

    Mereka yang berbeda pendapat dalam hal shalat tersebut terjadi pada zaman Nabi dan semua berharap kebenaran, yakni mereka yang shalat sebelum sampai (di Bani Quraidhah) dan  mereka yang shalat setelah sampai, semua mengharapkan kebenaran. Namun mereka berbeda pendapat dalam mencapai kebenaran tersebut, kebenaran atas apa yang mereka harapkan. Aplikasi atas anjuran Nabi dalam sabda beliau «لا يصلين أحدكم العصر إلا في بني قريظة»

    Demikian pula banyak yang berbeda pendapat dalam penentuan awal bulan. Salah satu kelompok berkata demikian, dan kelompok yang lain berkata demikian, dan tidak akan berhenti –dan setelah berhenti maka selesailah masalah-semuanya menginginkan kebenaran. Dan semuanya berharap keutamaan hari ini dengan puasa, walaupun mereka berbeda pendapat dalam menentukan hari ini. Kondisi perbedaan pendapat dalam penentuan hari ini juga tidak merusak persaudaraan sama sekali.

     

     

    Detail ..
    0
    602
  • Hari Asyura
  • Hari Asyura

    مقال الشهر: اليوم الصالح عاشوراء

     

    Hari Asyura (10 Muharram) adalah hari yang baik, demikianlah Bani Israil mensifati hari tersebut ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada mereka mengapa mereka berpuasa. Mereka menjawab: "Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh-musuh mereka sehingga Musa berpuasa. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: :

    «فأنا أحق  بموسى منكم»

    "Aku lebih berhak atas Musa dari kalian"

    Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari itu.

    Hari Asyura adalah hari yang baik, di mana Allah tampakkan kebenaran dan Allah hilangkan kebatilan sebagaimana firman Allah Ta'ala:

    {فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

    "Maka terbuktilah kebenaran dan segala yang mereka kerjakan jadi sia-sia". Q.S. al-A'raf: 118

    Bagaimana tidak menjadi hari yang baik, padahal telah tampak kebenaran dengan terpeliharanya dunia dan nilai-nilai kemanusiaan.

    Hari Asyura adalah hari yang baik di mana Allah menolong para waliNya. Allah selamatkan Musa beserta kaumnya pada hari itu dan Allah hinakan musuh-musuhnya, hingga Allah  tenggelamkan Fir'aun dan tentaranya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

    :{فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ}

    "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk. Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya kiamat. (Lalu kepada malaikat diperintahkan), "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras."  Q.S. Ghafir: 45-46

    Hari Asyura adalah hari yang baik, di mana pada hari itu orang-orang yang beriman menyebut-nyebut kebaikan yang telah Allah berikan berupa pertolongan bagi saudara-saudara mereka seiman. Demikianlah persaudaraan atas dasar iman mampu melampaui batas ruang dan waktu; sehingga bersatulah ahlul iman meski berbeda bangsa, nabi, nasab, maupun zaman mereka.

    {إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً}

    "Sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu". Q.S. al-Anbiya: 92

    Seorang mukmin bergembira dengan kemenangan saudaranya walau mereka berada pada zaman yang jauh berbeda, dialah yang paling berhak bahagia dibanding siapapun juga karena ikatan iman melebihi ikatan apapun. Demikianlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata "Aku lebih berhak atas Musa dari kalian" kepada Bani Israil atas apa yang mereka katakan kepada beliau tentang hari baik di mana Allah menolong Musa pada hari itu. Ya, demi ayah dan ibuku di tanganNya, beliau lebih berhak atas Musa dari pada orang-orang Yahudi.

    Hari Asyura adalah hari yang baik, barang siapa berpuasa maka akan diampuni dosa-dosanya setahun yang telah lalu. Sebagaimana hadis yang terdapat dalam shahih Muslim dari Abu Qatadah bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

    «وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله» .

    "Adapun puasa hari asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu." H.R. Muslim

    Hari asyura adalah hari yang baik, yang dikenal keutamaannya dengan puasa pada hari ke sepuluh bulan Muharram walaupun hanya berpuasa satu hari saja. Tatkala Nabi sampai di kota Madinah beliau menemukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, lalu beliau bertanya kepada mereka: "Hari apakah ini sehingga kalian berpuasa?" Mereka menjawab: Ini adalah hari yang agung, hari di mana Allah selamatkan Musa beserta kaumnya, dan tenggelamnya Fir'aun beserta kaumnya. Lalu Musa berpuasa sebagai bentuk syukur, dan kamipun berpuasa. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kami lebih berhak atas Musa dari pada kalian." Lalu Rasulullah berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.

    Hari asyura adalah hari yang baik di mana dahulu sebelum hijrah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa bersama kaumnya. Kaum Quraisy sangat mengagungkan hari tersebut dengan berpuasa karena pada hari itu mereka mengganti kain kiswah ka'bah.

    Hari Asyura adalah hari yang baik di mana Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sangat menganjurkan berpuasa pada hari itu, lalu para sahabat berpuasa dan mengajak anak-anak mereka untuk berpuasa sebagaimana hadis yang terdapat dalam Shahih Bukhari dari jalan Khalid bin Dzakwan dari Rabi' binti Muawwadz berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seseorang pada pagi hari di hari Asyura (10 muharam) ke salah satu perkampungan anshar, lalu berkata: 

    «من أصبح مفطرا فليتم بقية يومه، ومن أصبح صائما فليصم»

    "Barangsiapa yang tidak berpuasa di pagi hari, hendaknya ia menyempurnakan sisa hari ini dengan berpuasa. Dan barangsiapa yang berpuasa pada pagi harinya, hendaklah ia tetap berpuasa." Lalu Rabi' berkata: Kemudian kami berpuasa setelah itu, dan kami mengajak anak-anak kami berpuasa, sampai-sampai kami buatkan untuk mereka mainan dari bulu. Apabila salah satu dari mereka menangis karena ingin makan, maka kami berikan mainan itu sampai waktu berbuka tiba. Hari asyura adalah hari yang baik yang sangat berharga dengan pahala yang telah Allah berikan di dalamnya berupa keselamatan Musa beserta kaumnya, dan kebinasaan Fir'aun beserta bala tentaranya. Hari asyura juga merupakan hari istimewa dengan disyariatkannya berpuasa, dan dihapuskannya dosa orang-orang yang berpuasa pada hari itu, dosa satu tahun yang telah lalu. Semoga Allah memperbaiki hari-hari dan amalan kita … amin

     

    Detail ..
    0
    458
  • Meletakkan Kaki di Atas Kaset Agama
  • Apakah berdosa meletakkan kaki di atas kaset yang direkam di dalamnya ayat-ayat dan pelajaran agama?

    وضع القدم على شريط ديني

    Detail ..
    0
    584
Like Facebook
Official our channel on YouTube
Berlangganan milis
Yang sedang online
Jumlah : 9
Pengunjung : 286877